<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5346587717956970287</id><updated>2011-07-30T20:10:37.058-07:00</updated><category term='kritik teater'/><category term='buku'/><category term='esai lepas'/><category term='naskah monolog'/><category term='esai seni'/><category term='naskah teater'/><category term='esai teater'/><title type='text'>teaterapakah</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://teaterapakah.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teaterapakah.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>teaterapakah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14504659433822587521</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R4KW9fwvaJI/AAAAAAAAAAM/4MNOEFdRZSc/S220/giryadi+oke.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>31</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5346587717956970287.post-6101107518588335861</id><published>2009-10-25T18:44:00.000-07:00</published><updated>2009-10-25T18:46:44.795-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='naskah teater'/><title type='text'>Nyai Ontosoroh : Hikayat Perlawanan Sanikem</title><content type='html'>Diadaptasi : R Giryadi&lt;br /&gt;dari novel BUMI MANUSIA karya Pramoedya Ananta Toer&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BABAK I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setting : Dekat Pabrik Gula Tulangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADEGAN 1&lt;br /&gt;Orang-orang sedang bekerja, hilir mudik, membawa karung-karung (gula) dan juga batangan tebu dengan geledekan. Mereka bertelanjang dada. Tubuhnya hitam. Ada yang kekar. Tetapi ada juga yang kurus kering.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADEGAN 2&lt;br /&gt;Seorang Juragan (Mandor), dikawal oleh dua budaknya. Dengan berkacak pinggang, Mandor itu menuding-nuding, bahkan terkadang menendang para budak. Sementara di tempat yang berbeda anak-anak perempuan yang masih remaja, berlarian. Ibunya, mengikuti dengan isak tangisnya. Seorang laki-laki dengan kasar menangkap satu di antara mereka yang melarikan diri. Anak itu meronta-ronta. Tak ada yang berani melawan. Mereka hanya bisa menyaksikan dengan sedih. Laki-laki kasar itu itu menyerahkan anak itu kepada seorang Mandor. Dengan imbalan seketip dua ketip,  mereka melepaskan anak itu dibawa Mandor, entah kemana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADEGAN 3&lt;br /&gt;Upacara menjadi dewasa. Sanikem meronta-ronta, ketika Sastrotomo, menyeretnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sastrotomo&lt;br /&gt;(Menyeret Sanikem) Kamu sekarang sudah dewasa, sudah saatnya nasibmu berubah. Hari ini akan datang orang yang membawa nasibmu lebih baik dari sekarang. Maka bersucilah, agar kemelaratanmu menjadi cambuk masa depanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunya Sanikem hanya bisa tersedu. Ia menggayung air bercampur bunga tujuh macam, dari genthong. Sanikem  diam terpaku ketika air bunga tujuh macam mulai membasahi tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sanikem&lt;br /&gt;Sejak saat itu, nama Sanikem, sedikit-demi sedikit luntur oleh kemauan keras orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua orang datang membawa pakaian dan tikar pandan. Sanikem telah berganti ujud menjadi perawan. Kemudian dia tidur terlentang di atas tikar pandan. Ibunya kemudian melangkahinya tiga kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Istri Sastrotomo&lt;br /&gt;Tabahkan hatimu, Nak. Usiamu sudah 14 tahun. Kau sudah haid. Tidak baik kau dikatakan perawan kaseb. Maka relakan hari mudamu ini.&lt;br /&gt;4. Sanikem&lt;br /&gt;Betul, saya sudah dewasa, tetapi saya punya hak untuk menentukan pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Sastrotomo&lt;br /&gt;Tak ada kata pilihan! Pemuda-pemuda melarat dan kampungan, tak patut untuk dipilih. Yang ada sekarang kau dipilih untuk menjadi istri seorang yang kaya raya. Siapapun orangnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastrotomo  menyeret Sanikem.  Sanikem meronta. Ibunya membuntut dengan hati yang meronta. Ia membawa sekopor pakaian anaknya yang kumal. Sementara di tempat lain para budak menerima upah, Sastrotomo muncul dengan hati riang. Di belakangnya ada Sanikem. Ibunya yang kelihatan renta, hanya bisa tertunduk lesu meratapi nasib anaknya. Di sudut lain, Tuan Besar Mellema berdiri tegak, angkuh dan sombong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Sastrotomo&lt;br /&gt;Betul, saya akan jadi Juru Bayar, Tuan? Ah, saya senang sekali. Juru Bayar adalah pekerjaan yang sudah sayaimpikan bertahun-tahun. Bertahun-tahun! Sebagai penggantinya, terimalah persembahan saya. Ini anak saya, Tuan Besar Mellema. Terimalah. (Kepada Sanikem) Sanikem, mendekatlah, Nak. Dia adalah Tuan Besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Istri Sastrotomo&lt;br /&gt;Jangan, Pak, jangan! Kenapa Ikem, kau serahkan kepada laki-laki raksasa itu? Oh, Pak, Pak. Kenapa kau tega, Pak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Tuan Besar Mellema&lt;br /&gt;Jadi ini anakmu? Bagus, bagus. Kowe, pintar… (Tertawa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Besar Mellema pergi bersama dua pengawalnya, membawa Sanikem tanpa perlawanan. Sementara Istri Sastrotomo, terisak melihat anaknya dibawa Tuan Besar Mellema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Sastrotomo&lt;br /&gt;(Tertawa girang) Akhirnya saya jadi Juru Bayar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Istri Sastrotomo&lt;br /&gt;Sampeyan menjadi Juru Bayar, tetepi sampeyan harus membayar mahal, dengan mengorbankan masa depan Sanikem. Dia darah daging kita. Tetapi sampeyan tega menjual untuk menjadi gundik, demi ambisi sampeyan, Pak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Sastrotomo&lt;br /&gt;Kamu jangan banyak omong. Saya telah memperjuangkan anak saya untuk menjadi wanita terhormat. Istri Tuan Besar. Tuan Besar di Tulangan yang sangat kaya raya dan terhormat. Sanikem akan terhormat. Dan kita akan terhormat, karena Sanikem akan menjadi kaya raya dan tidak menjadi gelandangan bersama pemuda-pemuda kampung yang tidak berpendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Istri Sastrotomo&lt;br /&gt;Buat apa harta benda, kalau hatinya terpenjara. Hidupnya terkerangkeng dalam genggaman, seorang laki-laki. Kita sudah kehilangan segalanya, Pak. Kamu lebih memilih sekeping Golden dan jabatan palsu. Tetapi sampeyan telah mengorbankan segalanya yang telah kita miliki dan telah kita rawat bertahun-tahun.&lt;br /&gt;Anak-anak kampung yang dengan tulus memberikan cintanya, tetapi sampeyan tolak. Sementara dia yang datang dengan membawa segerobak kepalsuan sampeyan terima dengan tangan terbuka. Sampeyan telah mengadu nasib itu menjadi tidak menentu, Pak…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Sastrotomo&lt;br /&gt;Diamlah. Saya punya rencana lain untuk Ikem. Rencana ini pasti akan mengubah hidup kita. Dan tidak ada urusannya dengan lamaran pemuda-pemuda kampung yang pada gudhikan itu. Apa mau kamu hidup melarat, dan hanya mengandalkan dari penghasilan saya sebagai Juru Tulis? Saya ini, sebentar lagi akan naik pangkat jadi Juru Bayar. Kedudukan yang lebih tinggi dari sekedar Juru Tulis. Jabatan lebih tinggi akan lebih memudahkan segala urusan. Apalagi Juru Bayar.&lt;br /&gt;Ikem telah mendapatkan laki-laki yang pantas. Mulai saat ini Sanikem tidak boleh keluar rumah. Tidak boleh memandang ke laki-laki yang berkeliaran dan tidak jelas itu. Ah, saya senang sekali. Juru Bayar adalah pekerjaan yang sudah saya impikan bertahun-tahun. Bertahun-tahun!&lt;br /&gt;Hehe..he..he..Juru Bayar. Saya akan jadi Juru Bayar. Semua orang di Pabrik Gula itu akan tunggu saya berderet-deret. Harus tunggu uang dari tangan saya. He..he…he..Saya akan jadi kasir. Bertumpuk-tumpuk uang di jari-jari saya. Semua orang akan berurusan dengan saya, Si Juru Bayar! Mereka harus datang ke saya. Harus ambil uang dari tangan saya dengan membubuhkan cap jempol. Para buruh, pedagang, akan bungkuk-bungkuk di depan saya. Tuan Totok, Peranakan, akan beri tabik pada saya. Guratan pena saya berarti uang. Saya akan masuk golongan penguasa di pabrik. Mereka harus dengar kata-kata saya : ‘Hei! Tunggu kau, disitu! Tunggu kau, disitu! He..he…Kalian akan berderet antri tunggu uang dari tangan saya…!’&lt;br /&gt;Kemarilah istriku. Kau harus ikut senang, suamimu ini akan jadi Juru Bayar! Berpakaianlah yang pantas, selayaknya istri orang terpandang. Kamu jangan bersedih. Ikem akan lebih terhormat kawin dengan laki-laki kaya. Dia akan menghuni rumah besar. Kita bisa diundang ke sana sewaktu-waktu. Ayo istriku kita songsong kehidupan yang lebih baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri Sastrotomo terpaku. Ligting meremang. Out Stage. Disudut lain, Mellema sedang memandang Sanikem yang bongsor dan kelihatan cantik. Beberapa pembantu jalan jongkok, menyediakan minum dan buah-buahan. Sanikem hanya berdiri terpaku di pojok ruang, Tuan Besar Mellema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Tuan Besar Mellema&lt;br /&gt;Kowe sudah 14. Kowe sudah besar dan cantik, seperti bunga di Tulangan atau seperti mawar dari Surabaya. Kowe jangan takut dengan saya. (Kepada Sastrotomo). Sastrotomo! Ini berisi 25 golden. Kelak, setelah kowe lulus dalam pemagangan selama dua tahun, kowe akan jadi Juru Bayar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Sastrotomo&lt;br /&gt;(On stage) Terimakasih Tuan Besar. Saya jamin Ikem sangat penurut. (Kepada Sanikem) Ikem anggap saja ini rumahmu yang baru. Kau tidak boleh keluar rumah ini tanpa ijin Tuan Besar Kuasa. Kau juga tidak boleh kembali ke rumah tanpa seijin Tuan dan seijin Bapakmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastrotomo meninggalkan panggung. Lighting meremang biru. Tirai menurun pelan-pelan. Percintaan di balik tirai. Dua penari karonsih/tayub menari dengan lembut. Tetapi isak tangis jelas terdengar dari ibu Sanikem. Lighting semakin temaram. Penari karonsih menghilang di balik tirai. Di sudut yang lain, Nyai Ontosoroh berdiri kokoh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Nyai Ontosoroh&lt;br /&gt;Kini, Sanikem telah lenyap. Hilang untuk selama-lamanya. Sekarang, saya adalah Nyai Boerderij Buiternzorg. Orang-orang memanggil saya Nyai Ontosoroh. Hidup menjadi Nyai terlalu sulit. Dia Cuma seorang budak belian yang kewajibannya hanya memuaskan tuannya. Dalam segala hal! Sewaktu-waktu Nyai harus siap dengan kemungkinan Tuannya sudah mersa bosan, untuk dicampakan kembali, menjadi kere, tanpa hak perlawanan sedikitpun. Salah-salah, bisa badan diusir dengan semu anak-anaknya sendiri. Atau bahkan dengan tangan kosong. Ya, mereka telah membikin saya jadi Nyai begini. Maka saya harus jadi Nyai, jadi budak belian yang baik, Nyai yang sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;Mang, Mbok, ke sini kalian semua. (4 pelayan laki-laki dan 3 pelayan perempuan on stage). Dengar mulai saat ini kalian tidak usah kerja di sini. Kalian pasti sudah tahu saya adalah Nyai rumah ini sekarang. Saya tidak ingin ada saksi atas kehidupan saya sebagai Nyai di rumah ini. Kalian lebih berharga dari pada saya. Kalian kerja di sini, sedangkan saya, hina dina tanpa harga, tanpa kemauan sendiri berada di rumah ini.&lt;br /&gt;Semua pekerjaan rumah biar saya kerjakan sendiri. Tetapi jangan kuatir, kalian akan pergi dengan membawa bekal. Lagi pula, di lain tempat pasti kalian akan bisa memburuh atau apa saja, karena kalian merdeka. Kecuali kau Darsam, tetaplah di sini. Jagalah saya!&lt;br /&gt;Baiklah kalian berkemas, beresi barang-barang kalian. Kau Darsam, siapkan bekal secukupnya buat mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka out stage. Tuan Mellema on stage.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. Tuan Besar Mellema&lt;br /&gt;Nyai, kenapa kau mengusir semua Bujang dan Mbok? Pekerja-pekerja itu harus disewa untuk menjalakan usaha susu ternak rumah ini. Mulai saat ini kaupun harus mulai mengurusi semua urusan usaha. Satu hal yang harus kau ingat, majikan mereka adalah penghidupan mereka. Majikan penghidupan mereka adalah kau! Jadi kau harus jadi majikan yang baik, yang tahu bagaimana mengurus pekerjaannya.&lt;br /&gt;Nyai, bacalah majalah-majalah itu selalu. Juga buku-buku itu akan membawamu kepada dunia yang maha luas. Dengan begitupun, bahasa melayu dan Belandamu akan terus maju dan Nyai akan semakin menguasai berbagai bidang dan pengetahuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. Nyai Ontosoroh&lt;br /&gt;Ya, saya akan menjalankan semua tugas sebaik-baiknya. Akan saya kerahkan seluruh tenaga dan perasaan yang ada di diri saya untuk Tuan. Sebaik-baiknya. Karena itulah tugas saya, sebagai Nyai Tuan. Apakah wanita Eropa diajar sebagaimana saya diajar sekarang ini, Tuan? Sudahkan saya seperti wanita Belanda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19. Tuan Besar Mellema &lt;br /&gt;Ha..ha..ha..tak mungkin kau seperti wanita Belanda. Juga tidak perlu. Kau cukup seperti sekarang. Kau lebih mampu dari rata-rata mereka, apalagi yang peranakan. Kau lebih cerdas dan lebih baik dari mereka semua. Tapi kau juga harus selalu kelihatan cantik, Nyai. Muka yang kusut dan pakaian yang berantakan juga pencerminan perusahaan yang kusut dan berantakan….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darsam,  masuk panggung (on stage) bersama Sastrotomo dan Istrinya datang dengan berjalan jongkok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20. Darsam&lt;br /&gt;Tuan, maaf Tuan, ada orang tua Nyai datang, Tuan. Mereka menunggu di depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21. Nyai Ontosoroh&lt;br /&gt;Katakan kepada mereka, bahwa Sanikem tidak ada sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22. Tuan Besar Mellema&lt;br /&gt;Temuilah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23. Nyai Ontosoroh&lt;br /&gt;Kalau saya menemuinya, berarti Tuan telah mengembalikan saya kepada pemiliknya semula. Apakah saya harus pergi dari sini? Bakal jadi apa kalau saya tidak sanggup bersikap keras. Luka terhadap kebanggaan dan harga diri tak jua mau menghilang. Bila teringat kembali bagaimana terhinannya saya dijual kepada Tuan. Saya tak mampu mengampuni kerakusan Ayah saya dan kelemahan Ibu saya. Sekali dalam hidup kita meski menentukan sikap. Sudahlah, biar semua putus sudah terhadap masa lalu. Itu sudah sebaik-baiknya yang saya bisa lakukan. Suruh mereka pulang atau Tuan akan kehilangan sapi-sapi dan pabrik susu itu…?  Saya telah menjadi telor yang jatuh dari petarangan. Pecah. Bukan telor yang salah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24. Tuan Besar Mellema&lt;br /&gt;(Pause) Kau terlalu keras Nyai…Temui Ayahmu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25. Nyai Ontosoroh&lt;br /&gt;Saya memang ada ayah, dulu. Sekarang tidak. Kalau dia bukan tamu Tuan, sudah saya usir!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26. Tuan Besar Mellema&lt;br /&gt;Jangan…!(Memberi kode pada Darsam). Darsam beritahu mereka…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27. Darsam&lt;br /&gt;Nyai bilang…Di rumah ini tidak ada orang bernama Sanikem. Pergilah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana hening. Sastrotomo dan istinya beringsut pergi. Wajahnya penuh duka. Sastrotomo beringsut terus, seperti menapaki nasibnya yang tak berujung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADEGAN 4&lt;br /&gt;Orang-orang sedang mengusung karung. Ada juga yang mengusungnya dengan gledekan. Suasana begitu sibuk. Nyai Ontosoroh, Tuan Besar Mellema, Annelise, Robert Mellema, dan Darsam, seperti bersiap-siap hendak mau pergi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28. Nyai Ontosoroh&lt;br /&gt;Kami harus pindah ke Wonokromo, karena kontrak perusahaan gula tidak memperpanjang jabatan Tuan Besar. Kami pindah ke Surabaya. TB Mellema membeli tanah luas di Wonokromo, penuh semak belukar dan dekat rumpun-rumpun hutan muda. Sapi yang dibeli dari Australia dipindahkan kemari.&lt;br /&gt;Segala yang saya pelajari selama hidup bersama TB Mellema, telah sedikit mengembalikan harga diri saya. Tetapi sikap saya tetap, mempersiapkan diri untuk tidak akan lagi tergantung pada siapapun. Tentu saja sangat berlebihan seorang perempuan Jawa bicara tentang harga diri, apalagi, orang seperti saya yang masih begitu muda untuk berkeluarga.&lt;br /&gt;Begitulah akhirnya saya mengerti, saya tidak tergantung pada TB Mellema. Sebaliknya dia sangat tergantung pada saya. Saya telah bisa mengambil sikap untuk ikut menentukan perkara. Tuan tidak pernah menolak. Bahkan ia sangat memaksa saya untuk terus belajar. Dalam hal ini ia seorang guru yang keras tetapi baik, saya seorang murid yang taat dan juga baik. Saya tahu, apa yang diajarkan oleh TB Mellema kelak akan berguna bagi diri saya dan anak-anak saya, kalau TB pulang ke Nederland.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para buruh bergerak bersama-sama, mengikuti tuan mereka. Mereka membawa barang-barang pindahan. Darsam berjalan di depan. Musik. Lighting fide out.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5346587717956970287-6101107518588335861?l=teaterapakah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teaterapakah.blogspot.com/feeds/6101107518588335861/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5346587717956970287&amp;postID=6101107518588335861' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/6101107518588335861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/6101107518588335861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teaterapakah.blogspot.com/2009/10/nyai-ontosoroh-hikayat-perlawanan.html' title='Nyai Ontosoroh : Hikayat Perlawanan Sanikem'/><author><name>teaterapakah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14504659433822587521</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R4KW9fwvaJI/AAAAAAAAAAM/4MNOEFdRZSc/S220/giryadi+oke.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5346587717956970287.post-7892705915107611135</id><published>2009-10-25T18:16:00.000-07:00</published><updated>2009-10-25T18:18:27.167-07:00</updated><title type='text'>DEWA MABUK</title><content type='html'>Naskah Monolog/Akhudiat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;Peran:  Seorang Dionisian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Dionisian:&lt;br /&gt;Dewa Mabuk, Tuan, Dionisos.&lt;br /&gt;Teruskan, mabukkan, pestakan, sukaria, topeng, rumbai-rumbai, musik, tari, nyanyi.  Rayakan dewa anggur, kesuburan, dan ramalan.  Pesta musim panas, bumi baru, kesuburan setelah membeku.  Kemabukan tiada tara.  Mari terbang,  melayang, jungkir dan balikkan.  Tanpa kemabukan bukan lagi teater namanya, dan tak ada lagi hasrat serta manfaat gunanya.  Bukanlah cinta tanpa mabuk kepayang-payang, barangkali cuma letup sesaat dan tak sengaja kayak kentut.  “Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian,” ujar Chairil Anwar dalam Krawang-Bekasi.   Tanpa kemabukan bagaimana bisa bertahan antara realitas dan mimpi?  &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami Dionisian-dionisian setiamu, dalam kemabukan, kerasukan, cinta, dan bermain. &lt;br /&gt;Dengan kemabukan kami rasuki roh-roh dan mainkan mereka, peran-peran, jadi hidup, bertindak, menjalani takdir lakon.  Dalam lingkaran tari dan koor “nyanyian kambing” kami sembahkan drama Dionisian, bahkan kami perankan Sang Dewa Mabuk, Dionisos Maha Tuan Asal-muasal Drama.  Kami rayakan kambing, pengganti ritus kanibalisme kuno, sesajen sebutir kepala manusia.  Drama mengubah ritus darah dan nyawa menjadi seni.&lt;br /&gt;Dewa Mabuk, Tuan, Dionisos.&lt;br /&gt;Dengan kemabukan dan kesyahidan kami hidupkan Sayidina Husein, cucu kesayangan Nabi, beserta anak-anak, keluarga, dan para pengikutnya, berguguran sehabis perlawanan habis-habisan yang gagah berani dalam Perang Karbala.  Kami hidupkan kembali di arena Teater Takziah, “teater dukacita”, selama hari-hari ritual Asyura di bulan Muharam yang suci.  Kami nyanyikan penderitaan dan kesyahidan Sayidina Husein bin Ali; perlawanan terhadap ketidakadilan dan penindasan dengan keteguhan otoritas moralnya.  Juga kami deklamasikan kebrutalan para penindas, pelibas, pembantai, yang otoritasnya tirani berbendera agama.  Di tangan tiran agama jadi sektarian, eksklusif, pembenaran ideologi.  Agama  bukan lagi sirath-al-mustaqim, jalan lempang, jalan pencerdasan, pembebasan, pencerahan.  Teater menemukan dan membangkitkan penderitaan/catharsis dan kesyahidan/martyrdom.&lt;br /&gt;Dewa Mabuk, Tuan, Dionisos.  &lt;br /&gt;Kami adalah shaman, pawang, bomoh, dukun, “terkun”, “orang pintar”, “orang tua”, “orang aneh”, orang suci, wali, pendeta, peramal, paranormal, “para tidak normal”, atau terserah sapaan apa saja yang kalian pantas-pantaskan.  Dengan kemabukan dan kerasukan dan kesurupan, trance, ekstase, kami tinggalkan tubuh kasar, dan naik ke langit, dunia-atas, berkendara roh kuda atau angsa;  berbahasa langit, mempelajari ilmu langit dan mengambil untuk mengajarkannya kepada dan menyembuhkan orang bumi.  Memohon Penguasa Dunia Atas agar menerima persembahan, dan mendapat petunjuk beerkenaan cuaca yang akan datang, panen, berburu, dan juga sesajen apa yang dibutuhkan.  Atau turun ke dunia-bawah, menemani-membimbing roh ke hunian baru, atau mengambil roh dari kuasa hantu-mambang-danyang.  Kami mediator antara dunia nyata dan dunia lain.&lt;br /&gt;Dengan irama pukulan genderang atau rebana di tangan dan hentakan giring-giring di kaki, jenis musik tonal; mantera, doa, dzikir yang berulang-ulang; mengundang mahluk gaib pembantu, berbicara dengan bahasa rahasia, “bahasa hewan”, menirukan jeritan binatang buas, dan kicauan burung.  Irama kendang, giring-giring, tari, nyanyi, makin lama makin keras, makin liar, konsentrasi penuh ke dunia lain, kami shaman mencapai kesadaran yang lain.&lt;br /&gt;Kami lakukan perjalanan sangat dramatik ke kraton Penguasa Dunia Bawah; kami perankan dewa-dewa dan tokoh-tokoh lainnya; kami berdialog dengan hantu-mambang-danyang dan hewan serta burung.  Dramatisasi tingkat tinggi kehidupan dewa-dewa oleh kami para anggota kultus-misteri.  Kami “mulut para dewa”.&lt;br /&gt;Kami hidupkan suara seorang samurai sebagai saksi di pengadilan, bahwa dia dibunuh oleh tertuduh, si perampok, bukan oleh pedang di tangan isterinya sendiri, dalam tragedi Rashomon.  Kami pawang dalam tari misteri lais atau sintren; kami mendapuk, memerankan, Besut—mbekto maksut/pembawa tujuan—dalam drama ritual Ludruk Besutan; kami di mulut Gandrung Seblang “mewahyukan” apa yang harus dilaksanakan penduduk pada ritus Seblang di tahun mendatang.&lt;br /&gt;Kami senantiasa mempertahankan kehidupan, kesehatan, kesuburan, dan “dunia terang”; melawan kematian, penyakit, kemandulan, malapetaka, dan “dunia gelap”.  “Drama misteri” menyambungkan masa lampau ke masa kini, menelusuri masa kini sampai masa primordial, asal-muasal segala hal.&lt;br /&gt;Dewa Mabuk, Tuan, Dionisos.&lt;br /&gt;Kami Dionisian-dionisian setiamu, mengalami jatuh-bangun, pasang-surut, sedih dan gembira, bahkan menikmatinya.  Tapi kini, aku dalam ketegangan yang menyesakkan, menyebalkan, membosankan, nyaris menjijikkan.  Aku melata, mengenaskan, bagai orong-orong dalam gorong-gorong, tersekap di labirin, di hunian mutakhir:  ruko.  Ukuran:  5X10X10 meter, dua lantai.  Lantai bawah tempat usaha dan kerja apa saja, lantai atas ruang tinggal, makan, minum, tidur, masak, macak, manak dan berak.&lt;br /&gt;Aku turun-naik, naik-turun, entah sudah berapa ribuan kali.  Mirip ritus komedi-kuda-putar, atau bajing-dalam-kerangkeng-pusing, atau kakatua-dengan-gelang-dan-rantai-panjang-keliling-batang-besi-tempat-hinggap-abadinya.  Sudah ribuan meter jalan-lari-terbang masih juga tetap di titik semula.  &lt;br /&gt;Aku manusia ruko.  Nenek-moyang dulu kala manusia gua, zaman berburu dan meramu;  berbicara dengan bahasa uh-uh-uh.  Gua rumah kedua, “rumah pertama” di atas pepohonan, tidak bisa tidur nyenyak, sering terkejut, terjaga, dan tidur-tidur ayam, agar tak jatuh ke tanah dimangsa predator.  Keterkejutan dan keterjagaan primordial itu tertinggal di otak belakang sampai kini, dan sering muncul dalam mimpi “jatuh dari ketinggian”, baik selonjor di ranjang maupun lantai.  Semak belukar adalah perbatasan genting:  yang berbalik ke rimba menjadi orang utan, yang turun ke padang rumput menjadi homo-sapien; berladang, bertanam, bertugal, menabur benih, bertegal, bersawah;  menjadi manusia pertanian, pedalaman, pedesaan, perkampungan, pinggiran.  Ketika migrasi dan tranformasi ke manusia urban terjadi diversifikasi besar-besaran sesuai kelas hunian:  dari manusia istana, menara, kondominium sampai manusia kapsul dan kondom. &lt;br /&gt;Manusia kondom bagian dari MT4:  Manusia Tanpa Tempat Tinggal Tetap, antara lain, berupa kapsul, ujudnya gerobak, cikar, dokar, sepeda, becak, atau bermotor, cukup dilembari gombal atau karton, gampang bongkar-pasang-pindah.  Yang berbentuk kurungan tegak menonjol atau rebah ke samping, sama sekali tertutup plastik putih, mirip kondom gede.&lt;br /&gt;Dan meledak Revolusi Abu-abu.  &lt;br /&gt;O Dewa Mabuk!&lt;br /&gt;Sang pemimpin, pra-revolusi dedengkot demokrasi, pasca-revolusi tersibak watak asli, gila sanjungan dan otoriter, campuran kekanakan, kelatahan dan kepala batu.  Di masa kanak, dia digendong, dikudang, digadang-gadang, ditimang-timang kakeknya dengan senandung sindiran, setengah ramalan:  Putu, putu, abote koyo watu—gede-gede mbentuki watu. Cucuku, cucuku, bobotnya seberat batu—besar nanti menimpuki dengan batu.  Dia canangkan dan terapkan trilogi yang dialektis-dinamis-romantis-nostalgis:  TRISAMARA—sama-rasa, sama-rata-sama-ragam.  Di sektor hunian, segala gedung, segala pencakar langit, segala perumahan, segala gubuk, di-retool:  didinamit, dirontokkan, dihancur-leburkan, diratakan sepermukaan bumi asal,  dan diperintahkan bagi setiap keluarga inti dua lantai ruko.  Pembangunan ruko besar-besaran oleh pabrik ruko-prefab/bongkar-pasang.  Pembangunan semesta rencana revolusioner yang diiringi  semangat lagu lama lirik plesetan:  Dari barat sampai ke timur berjajar ruko-ruko, sambung-menyambung menjadi satu itulah Republik Ruko…   Aku manusia ruko, saksi akhir sejarah arsitektur.&lt;br /&gt;Wajah bumi berubah total.  Tidak ada lagi keaslian lama atau alami.  Pedesaan, perkotaan, pedalaman, pesisiran, bantaran sungai, hutan, huma, gunung, sabana, semak belukar, kebun kangkung, lahan tidur, padang gambut, pulau kosong, delta gosong;  semua dikepung, dijalari, dijajari, digantungi, ditumpuki, digudangi, atau dipersiapkan bagi karya arsitektur agung mutakhir:  ruko.  &lt;br /&gt;Saat bangun pagi, saat belum siap buka mata benar-benar, selalu rona melankolis di langit timur dan pikiran sepi sendiri sepanjang malam, aku berada di ruko sendiri, atau mungkin juga ruko tetangga, asrama, gardu jaga, rumah sakit, penjara, penampungan sementara, kontrakan abadi, guest-house, hotel, motel, losmen, luar kota, kota lain, ibukota, pulau sini, pulau seberang, atau ruko trailer ditarik truk yang bisa kembara ke mana-mana.  Tidak ada bedanya.  Ranjang standar, kamar standar, hunian rakitan.  Keunikan dan kekhasan milik masalalu.  Aku mengais-ais remah-remahnya.  &lt;br /&gt;Pergi, masuk, keluar, pulang, ngendon, ngendok, andok,  minggat, menghindar, terlantar, bertualang, menjauh, mendekat, bahkan menghilang sekalipun:  dalam sekapan ruko.  Mereka tidak hilang, mungkin hanya tersesat, terlalu jauh atau lama di luar ruko sendiri, tak bisa pulang kandang, selalu keliru masuk alamat lain.  Semua ruko sama dan serupa.  Harus ingat betul peta, letak, kawasan, wilayah, susunan, kelompok, ruang, sektor, nomor.  Ruko kehilangan penghuni, bukan penghuni kehilangan ruko, tapi kehilangan akal.&lt;br /&gt;Aktivitas apa pun:  transaksi, negosiasi, janji, kencan, selingkuh, tatap muka, inisiasi, jual-beli-sewa, belanja, ngutil, memborong, memboyong, gotong-royong, tanggung-renteng, menalangi, ngebosi, bersaing, saling-silang, sidang, debat, silat, arisan, ngrumpi, ngantri, pemilu, kampanye;  kebaktian, meditasi, pengajian, salat jamaah, pengakuan dosa, retret, i’tikaf, misa;  kuliah, sekolah, pacaran, bolos, coblosan, tawuran, keluyuran, cangkruk, tenguk-tenguk, mabuk, flai, nyetun;  mandi kembang, mandi susu, mandi kucing, bobok-bobok siang, obok-obok malam, ngamar, “karaoke”, mandi kuyup sekalian ketimbang cincang-cincing, mandi keris setahun sekali, mandi ruwatan, mandi mayat;  hidup, sakit, koma, failit, bangkrut, dipenjara, diamankan, “dipinjam instansi lain”, dipermak, dihilangkan, dipancung, digantung, dihukum mati tak pernah dieksekusi, dikremasi;  segalanya dicukupi oleh Departemen Ruko.  Baju adalah kulit kedua, ruko adalah langit kedua, pengayom dan pengendali apa-dan-siapa saja.&lt;br /&gt;O Dewa Mabuk, Tuan, Dionisos.&lt;br /&gt;Aku melata, menelengkan kuping, menempelkan, mencari, menanggap, menangkap, menyabet udara, meraih-raih suara/bunyi gres, baru, yang tidak baku. Kutunggu, tak terdengar apa pun, sunyi, lama sekali, hampa.  Kebisuan itu menggantung, memadat, serasa akan menyedot atau menimpaku.  Segera kubuka jendela dan seperti rangkaian kereta dan gerbong…lebih sejuta jendela terdengar buka dan bunyi menggerendeng serempak bersama!&lt;br /&gt;Setiap hari, bunyi/suara serentak-segerak, setajam-sepelan, sepanjang- sependek, selengking-seinterval, senada-se-staccato, sesepele-semelompong, segema-segemuruh, seruang-sewaktu:   merongrong/menindih/menghisapku.  Gedoran dinding, getaran kaca, kreotan ranjang, helaan napas, igauan tidur, gemertak gigi-gerigi, sendawa, tapakan kaki naik-turun tangga, tepuk nyamuk, tabokan, tempelengan, siulan mulut, nyanyi kamarmandi, kepakan sayap, meong kucing, cicit tikus, cericit burung, dentingan piring, tarikan kursi, gemerincing kunci, sobekan kertas, goresan/klik korek api, geseran buah catur, krobokan cairan, kibasan handuk, kucuran kencing.  Buka-tutup pintu WC, ngejan dan lepas, telepok berak dan grujukan air; bahkan bentuk-rupa-bau tai pun sepadan-serupa.  Berkat standarisasi teknologi “ma-min”, makanan-minuman, mutakhir:  pentolan bakso.&lt;br /&gt;Bakso, adalah akhir sejarah gastronomi atau seni makan-memakan, diawali oleh diversifikasi ma-min instant.  Segalanya serba instan:  dari mi, nasi, santan, susu, krim, buah, sampai sari buah, air mineral, kolak, degan kopyor, gudeg, gado-gado, rendang, empek-pek, botok, nyamikan, kudapan, snack dan tiwul serta jajanan pasar lainnya.  Departemen Gastronomi perintah hanya boleh satu bentuk dan warna ma-min, maka terciptalah kemasan pentolan daging dan bukan daging, mulai ukuran gotri, kelereng, bola bekel, golf, kasti, tenis, sepak raga/tekong, sampai boling dan basket.  Berisi segala jenis ma-min serba instan, dibikin di pabrik besar Departemen dan dipasok ke seluruh Republik dengan armada truk katering.  Republik pun bertambah julukannya dan menjadi setengah resmi:  Republik Ruko &amp; Bakso.  Sempurna dan lengkap sudah, samarasa-samarata-samaragam merasuk hingga rinci-rinci dan inti prikehidupan.  Mimpi pun mulai dibakukan dengan “paket stimulan”, hasil litbang obat dan jamu, Departemen Sehat dan Waras.&lt;br /&gt;O Dewa Mabuk, Tuan, Dionisos.&lt;br /&gt;Aku dalam ketegangan yang menyesakkan, menyebalkan, membosankan, nyaris menjijikkan.  Melata, mengenaskan, bagai tikus eksperimen di labirin laboratorium.  Jalan, lari, ketabrak dinding,  mundur, berputar, berhenti, jalan, berbalik, lari-lari, ketubruk lorong buntu, mundur, mengendap-endap, berbelok, loncat ke ujung lorong lain, rebut hadiah bakso…&lt;br /&gt;O Dewa Mabuk,&lt;br /&gt;Aku mengangankan, melesat ke awang-awang, berkendara roh puisi Sultan Walad, putra Sufi Agung Jalaluddin Rumi:&lt;br /&gt;Kata-kata adalah tangga ke langit&lt;br /&gt;Sesiapa menaikinya ke atap ia sampai&lt;br /&gt;Bukan langit biru atap itu&lt;br /&gt;Tapi atap di balik segala langit dunia  &lt;br /&gt;Glodak!  Kubuka pintu WC, dan sejuta lebih pintu WC bergelodak, buka-tutup-telepok-grojok serentak!  Masih kupegangi pintu, aku berdiri di ambang, tidak masuk dan tutup, hanya mendengar-nikmati gemuruh sejuta lebih pintu dan lubang tai bernyanyi koor pagi buta.  Aku setengah ngantuk, kemulan sarung, bungkus tidur antik kawasan tropik, tanpa baju dan celana.  WC duduk itu kering dan masih rapi terbungkus kertas cap dagang hotel.  Aku baru sadar, sedang  bermalam di hotel, urusan kondangan di sebuah kota—kecil atau besar apa pula bedanya?—pantai utara.  Ternyata agak berbeda.  Pantai di seberang jalan masih tetap pesisir landai, tanpa ditanami serial ruko-ruko, hanya ditancapi papan pengumuman besar tulisan merah:  DILARANG BERAK.  Sebelum Revolusi pantai utara WC terpanjang sedunia, masuk buku “Rekor Sejagat-Rat”, penerbit pabrik ciu gambar manuk.&lt;br /&gt;Timbul iseng semasa usia pancaroba, mengusili barang atau tempat atau milik umum yang baru.  Kaca mobil atau etalase toko kucorat-coret dengan kata-kata cabul, atau di gedung pencakar langit kupilih lantai puncak, kuludahi westafel, kukencingi urinoir, kuberaki WC wangi, dengan memandangi awan-gemawan, seperti burung terbang sambil crat-cret-crot mengecat udara dan bumi.  &lt;br /&gt;Setengah ngantuk, kemulan sarung, aku keluar hotel, tanpa toleh kanan-kiri lari menyeberangi jalan, sarung berkibar-kibar, niat memberaki Dilarang Berak…&lt;br /&gt;Entah dari kanan entah kiri, truk besar panjang menanduk, aku terpental, jatuh terkapar di aspal, telanjang bulat.  Sarung terbang, tersangkut truk, menutupi kaca depan, sopir kaget, tak bisa lihat jalan, oleng, menabrak tanggul pantai, terguling.  Pintu belakang trailer ma-min terbuka, kaldu dan  ribuan bola-bola bakso tumpah dan banjir ke jalan, bergelindingan, berenang, berlomba, berkejaran.  Bagai tarikan magnet bola-bola daging dan bukan daging mengerubuti dan menempeli tubuhku.  Daging ketemu daging tumbuh daging ketemu daging tumbuh…  Mengerubuti ujung kaki sampai ubun-ubun seperti serbuan ikan piranha.  &lt;br /&gt;Ujung-ujung jari kaki dan tangan ditumbuhi pentilan-pentilan ukuran gotri;  kedua ketiak disangga pentolan boling sehingga dua tangan terangkat siap terbang.  Kedua lutut ditamengi petolan tenis;  kantong pelir ditempeli dua pentolan bekel seperti sepasang roda, menyangga batang zakar tegak seperti meriam mini penangkis serangan udara, di ujungnya pentolan kelereng mirip peluru.  Persis di pusar pentolan golf pada posisi tee, untuk pukulan pertama.  Tiga pentolan mirip “bola raga dari rotan” di bidang dada sebagai perisai, atau “tiga buah dada perempuan Mars”.  Garis mulut didereti pentolan kelereng mirip untaian gigi-gerigi, dari telinga ke telinga.  Kedua telinga tambah melebar oleh sepasang pentolan basket.  Hidung lebih akbar ketimbang Pinokio karena dipanjangkan pentolan tenis+bekel+kelereng  +gotri.  Pada dahi dua pentolan tenis plus jadi sepasang tanduk Viking.  Rambut lebih gimbal ketimbang megabintang Reggae karena segala pentolan segala ukuran melekat-rekat, memilin-plintir, dikeramas kaldu daging, berlemak-peak.&lt;br /&gt;Dewa Mabuk, Tuan, Dionisos,&lt;br /&gt;Di pagi sedang merekah, Dionisian setiamu mempersembahkan instalasi, “Manusia Baru”, pada latar baru, kanvas aspal.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 2008&lt;br /&gt;             &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5346587717956970287-7892705915107611135?l=teaterapakah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teaterapakah.blogspot.com/feeds/7892705915107611135/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5346587717956970287&amp;postID=7892705915107611135' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/7892705915107611135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/7892705915107611135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teaterapakah.blogspot.com/2009/10/dewa-mabuk.html' title='DEWA MABUK'/><author><name>teaterapakah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14504659433822587521</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R4KW9fwvaJI/AAAAAAAAAAM/4MNOEFdRZSc/S220/giryadi+oke.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5346587717956970287.post-7910293898595921550</id><published>2009-10-25T17:43:00.000-07:00</published><updated>2009-10-25T17:47:36.808-07:00</updated><title type='text'>Masalah Naskah Teater di Jawa Timur</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh : R Giryadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawa Timur, mengalami kelangkaan naskah teater. Sejak periode tahun 1970-an, periode Akhudiat, penerbitan naskah teater baru terjadi satu kali. Pada tahun 2001 lalu Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) menerbitkan Tiga Kitab Lakon dari Jawa Timur, yang hanya memuat tiga naskah antara lain, Jaka Tarub (Akhudiat), Sang Tokoh (Anas Yusuf), dan Kuman (Meimura). Namun penerbitan ini juga tidak mampu menjawab kelangkaan naskah di Jawa Timur.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kelangkaan naskah teater bisa jadi disebabkan oleh kesalah pahaman, bahwa naskah teater semata-mata urusan sastra an sich. Begitu juga sebaliknya, sastrawan juga menganggap naskah teater semata-mata hanya urusan teater an sich. Karena itu jarang sekali para sastrawan kita menulis naskah teater. Apalagi sang teatrawan.&lt;br /&gt;Selain itu tidak banyak pemimpin teater, sutradara teater di Jawa Timur, tidak memiliki latar belakang (menulis) sastra. Sementara kita tahu Akhudiat, adalah seorang sastrawan, Anas Yusuf seorang penyair nasional dari Madiun.&lt;br /&gt;Hal ini memang tidak bisa dipermasalahkan. Karena kenyataannya, bila dibandingkan dengan produksi prosa, karya naskah teater yang bisa digolongkan dalam prosa ini, sangat minim. Boen Sri Omariati (1971) mengatakan bahwa sastra di Indonesia hanya baru menghasilkan penyair, novelis dan cerpenis. Sementara penulis naskah teater belum ada. Secara kuantitatif, dalam buku ‘Horison Sastra Indonesia’ (2001) terbitan majalah Horison, mencatat 110 orang penyair, 82 novelis, 71 cerpenis dan hanya 27 orang saja dramawan.&lt;br /&gt;Ini artinya secara jumlah, penulis naskah teater sangat tertinggal jauh dengan penulis sastra lainnya. Tentu memang, persoalannya bukan hanya pada jumlah, namun minat untuk menulis naskah teater di kalangan para pengiat teater sendiri sangat rendah. &lt;br /&gt;Tidak banyaknya penulis yang menekuni naskah drama, agaknya juga disebabkan oleh belum lakunya naskah teater di pasar perbukuan. Lemahnya bangunan pasar ini menyebabkan banyak sastrawan dan teatrawan malas menerbitkan naskah-naskah teaternya. &lt;br /&gt;Faktor lain yang menjadi penyebab adalah belum tingginya frekuensi pementasan grup-grup teater. Hal ini masih ditambah dengan belum mentradisinya masyarakat untuk membaca naskah lakon sebagaimana membaca karya berbentuk prosa lainnya. &lt;br /&gt;Menurut Jakob Sumardjo (1992), kuatnya tradisi teater tradisional Indonesia yang tidak mengenal naskah drama menjadi salah satu penyebab kurang dikenalnya drama sebagai teks (sastra), kecuali sebatas pertunjukan semata. Akibatnya, minat masyarakat untuk membaca naskah drama sangatlah kurang sehingga penerbit harus berpikir untuk mencetak naskah teater.&lt;br /&gt;Situasai yang seperti ini seharusnya tidak perlu terjadi bila disadari keterkaitan antara sastra dan teater. Bahwa antara sastra dan teater disatukan dalam kerangka yang lebih luas yaitu drama. Dalam konteks ini, drama juga memiliki pengertian sebagai teater atau performance, dan drama juga terkandung pengertian karangan berbentuk prosa atau puisi yang direncanakan bagi pertunjukan teater. Bukankah, ada pula drama yang ditulis sebagai bahan bacaan, bukan untuk produksi panggung?. &lt;br /&gt;Situasi krisis naskah, pada zaman keemasan teater tahun 1970-an, justru menjadi pendorong munculnya naskah-naskah lakon yang ditulis oleh para sutradara/pimpinan teater. Pada periode ini, produksi teater sama dengan memproduksi naskah-naskah yang ditulis oleh sang sutradara yang juga bertidak sebagai pimpinan teater.&lt;br /&gt;Kita mengenal para penulis seperti Rendra (Bengkel Teater), Putu Wijaya (Teater Mandiri), Arifin C.Noer (Teater Kecil), Ikranagara (Teater Saja), Nano Riantiarno (Teater Koma), Heru Kesawamurti (Teater Gandrik), Bambang Widoyo Sp (Teater Gapit). &lt;br /&gt;Di Jawa Timur (sekedar menyebut nama) kita mengenal, Basuki Rachmat, Akhudiat, Lutfi Rachman, Anang Hanani, Monor Koeswandono, Harjono WS,  Emil Sanosa, dll.&lt;br /&gt;Namun periode tradisi penulisan naskah di Jawa Timur tidak berlangsung lama. Atau tidak mentradisi sampai sekarang. Karena, setelah periode itu, teater di Jawa Timur lebih banyak didominasi oleh teater yang ‘anti naskah’ atau ‘anti sastra’. &lt;br /&gt;Kalaupun ada naskah hanya menjadi kerangka pertunjukan saja. Hal ini bisa kita lihat pada naskah-naskah karya Brewok AS (Sanggar Suroboyo), Meimura (Teater Ragil), Julfikar M Yunus (Teater Jaguar), Dody Yan Masfa (Teater Tobong). Naskah teater mereka, sekaligus untuk menegaskan konsep teaternya yang anti  plot, anti alur, bahkan anti tokoh. Maka dalam pertunjukannya kita hanya melihat rangkaian situasi.&lt;br /&gt;Pilihan penulisan naskah seperti ini memang cukup beralasan. Hal ini terkait dengan konsep teater mereka yang lebih mengedepankan narasi dan daya ungkap artistik tubuh, daripada mengatur plot, alur, dan perwatakan yang terstruktur sesuai dengan dramaturgi.  Fenomena tubuh dalam dunia teater di Jawa Timur sudah menggejala sejak tahun 1990-an. Teater telah mengubah teks naskah yang diperankan dari teks yang dibaca, menjadi teks yang dinyatakan. Teater mengubah pembaca, menjadi penonton, perubahan ini sangat radikal. Di Surabaya, Teater Api Indonesia (Bambang Ginting, alm) menjadi pintu masuk aliran teater tubuh, yang sebelumnya banyak dikenalkan oleh Teater SAE (Jakarta) dengan tokohnya Afrizal Malna dan Budi S Otong.&lt;br /&gt;Gejala ini terus berlanjut hingga kini. Seiring dengan konsep teater tubuh, kesadaran menulis naskah teater merupakan bagian kegiatan bersastra kurang banyak dilakukan. Bahkan penerbitanpun, hingga kini sangat minim sekali atau boleh dikatakan tidak ada. Banyak kelompok teater yang cenderung menggarap naskah-naskah babon (milik penulis ternama), yang sudah terlalu sering dipentaskan, bahkan tidak kontekstual sekali dengan kondisi saat ini.&lt;br /&gt;Sejak puluhan tahun lalu, akting teater kita lebih banyak memerankan manusia Barat. Kita tidak pernah menyadari, bahwa hal itu karena langkanya naskah. Indonesia memiliki sekitar 400 naskah teater yang sebagian adalah naskah saduran dari Barat. Sementara naskah asing yang telah diterjemahkan dan sebagian besar sangat populer berjumlah sekitar 154 naskah teater dari pengarang-pengarang terkenal. Naskah-naskah ini sampai kini masih menjadi referensi para penggiat teater. &lt;br /&gt;Hematnya, langkah awal untuk membangun kembali gairah pertumbuhan naskah teater di Jawa Timur, menurut saya dengan memunculkan kembali naskah-naskah teater baru yang memiliki élan vital Jawa Timur-an. Dan upaya mewujudkan itu bisa melalui ajang lomba penulisan naskah teater atau juga lewat pendokumentasian naskah-naskah dari seniman teater di Jawa Timur.  Namun semua itu tidak akan berarti kalau para penggiat teater tidak segera menyadari persoalan ini. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah Ketua Komite Teater DKJT&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5346587717956970287-7910293898595921550?l=teaterapakah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teaterapakah.blogspot.com/feeds/7910293898595921550/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5346587717956970287&amp;postID=7910293898595921550' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/7910293898595921550'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/7910293898595921550'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teaterapakah.blogspot.com/2009/10/masalah-naskah-teater-di-jawa-timur.html' title='Masalah Naskah Teater di Jawa Timur'/><author><name>teaterapakah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14504659433822587521</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R4KW9fwvaJI/AAAAAAAAAAM/4MNOEFdRZSc/S220/giryadi+oke.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5346587717956970287.post-1105591445928586311</id><published>2009-02-13T12:54:00.000-08:00</published><updated>2009-02-13T12:57:56.041-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai lepas'/><title type='text'>SEJARAH BLOG</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_FSIlZWBXgNY/SZXeVRj3vDI/AAAAAAAAAJs/4v_-ipy0H98/s1600-h/Jimmy+Wales2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 214px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_FSIlZWBXgNY/SZXeVRj3vDI/AAAAAAAAAJs/4v_-ipy0H98/s320/Jimmy+Wales2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5302388593371102258" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Bagian 1)&lt;br /&gt;Blog pertama kemungkinan besar adalah halaman What’s New pada browser Mosaic yang dibuat oleh Marc Andersen pada tahun 1993. Kalau kita masih ingat, Mosaic adalah browser pertama sebelum adanya Internet Explorer bahkan sebelum Nestcape. Kemudian pada Januari 1994 Justin Hall memulai website pribadinya Justin’s Home Page yang kemudian berubah menjadi Links from the Underground yang mungkin dapat disebut sebagai Blog pertama seperti yang kita kenal sekarang.&lt;br /&gt;Hingga pada tahun 1998, jumlah Blog yang ada diluar sana belumlah seberapa. Hal ini disebabkan karena saat itu diperlukan keahlian dan pengetahuan khusus tentang pembuatan website, HTML, dan web hosting untuk membuat Blog, sehingga hanya mereka yang berkecimpung di bidang Internet, System Administrator atau Web Designer yang kemudian pada waktu luangnya menciptakan Blog-Blog mereka sendiri. Pada Agustus 1999 sebuah perusahaan Silicon Valley bernama Pyra Lab meluncurkan layanan&lt;br /&gt;Blogger.com yang memungkinkan siapapun dengan pengetahuan dasar tentang HTML dapat menciptakan Blog-nya sendiri secara online dan gratis. Walaupun sebelum itu (Juli 1999) layanan membuat Blog online dan gratis yaitu Pitas telah ada dan telah membuat Blogger bertambah hingga ratusan, tapi jumlah Blog tidak pernah bertambah banyak begitu rupa sehingga Blogger.com muncul di dunia per-blog-an. Blogger.com sendiri saat ini telah memiliki hingga 100.000 Blogger yang menggunakan layanan mereka dengan pertumbuhan jumlah sekitar 20% per bulan. Blogger.com dan Pitas tentu tidak sendirian, layanan pembuat blog online diberikan pula oleh Grouksoup, Edit this Page dan juga Velocinews.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu Blog kian hari kian bertambah hingga makin sulit untuk mengikutinya. Eatonweb Portal adalah salah satu daftar Blog terlengkap yang kini ada diantara daftar Blog lainnya. Ribuan Blog kemudian bermunculan dan masing-masing memilih topik bahasannya sendiri, dimulai dari bagaimana menjadi orang tua yang baik, hobi menonton film, topik politik, kesehatan, sex, olahraga, buku komik dan macam-macam lagi. Bahkan Blogger ada Blog tentang barang-barang aneh yang dijual di situs lelang Ebay yang bernama Who Would By That?. Cameron Barret menulis pada Blog-nya essay berjudul Anatomy of a Weblog yang menerangkan tema dari Blog. “Blog seringkali sangat terfokus pada sebuah subjek unik yaitu sebuah topik dasar dan/atau sebuah konsep yang menyatukan tema-tema dalam Blog tersebut.” Secara sederhana topik sebuah Blog adalah daerah kekuasan si Blogger-nya tanpa ada editor atau boss yang ikut campur, tema segila apapun biasanya dapat kita temukan sejalan dengan makin bermunculannya Blog di Internet. Dan ya, ide itu telah terpikirkan, Blogger bahkan sekarang telah membuat Blog dari Blog, dan bahkan Blog dari Blog dari Blog.&lt;br /&gt;Dari sedemikian banyak Blog yang ada, Blog-Blog yang menetapkan standar dari Blog dan terkenal sehingga memiliki penggemarnya sendiri diantaranya adalah Blog milik Jorn Barger, Robot Wisdom yang disebut-sebut merupakan Blog terbesar dan paling berguna dimana dia setiap harinya menyodorkan sekian banyak link yang dibentuk dari ketertarikannya pada seni dan teknologi. Camworld adalah Blog populer milik Cameron Barret seorang Desainer Interaktif dimana dia mengkatagorikan topik-topik Blog-nya pada katagori, Random Thoughts, Web Design dan New Media. Camworld dapat disebut sebagai Blog klasik dalam arti Blog tersebut mengandung dosis tepat dari karakter dan opini pribadi dicampur dengan keselektifan pemilihan link-nya. (bersambung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5346587717956970287-1105591445928586311?l=teaterapakah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teaterapakah.blogspot.com/feeds/1105591445928586311/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5346587717956970287&amp;postID=1105591445928586311' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/1105591445928586311'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/1105591445928586311'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teaterapakah.blogspot.com/2009/02/sejarah-blog.html' title='&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;SEJARAH BLOG&lt;/span&gt;'/><author><name>teaterapakah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14504659433822587521</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R4KW9fwvaJI/AAAAAAAAAAM/4MNOEFdRZSc/S220/giryadi+oke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_FSIlZWBXgNY/SZXeVRj3vDI/AAAAAAAAAJs/4v_-ipy0H98/s72-c/Jimmy+Wales2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5346587717956970287.post-5660198648681447965</id><published>2009-02-13T12:27:00.001-08:00</published><updated>2009-02-13T12:29:10.895-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai teater'/><title type='text'>Para Peletak Dasar Teater Modern</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_FSIlZWBXgNY/SZXX_DYi71I/AAAAAAAAAJk/NblPGAgujc4/s1600-h/wartawan+4.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 133px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_FSIlZWBXgNY/SZXX_DYi71I/AAAAAAAAAJk/NblPGAgujc4/s200/wartawan+4.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5302381614538616658" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Rakhmat Giryadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu ketika kelas borjuasi tidak lagi ingin menonton lakon raja-raja, bangsawan-bangsawan; mereka ingin melihat diri mereka sendiri. Maka tidak sia-sia, George Lillo (1731) menulis lakon tentang magang, pelacur, dan saudagar dalam karyanya Saudagar London. Jelas dalam lakon ini tokoh-tokoh kerajaan tidak hadir seperti yang terjadi dalam teater Elizabethan, yang hanya menampilkan wajah kerajaan.&lt;br /&gt;Kebangkitan kelas borjuasi merupakan salah satu sebab munculnya realisme. Realisme bangkit seiring dengan tumbuh dan berkembang kelas, burjuis di Eropa. Realisme dianggap tonggak kebangkitan teater modern seiring dengan bangkitnya Renaesan, dunia perdaganganpun di Eropa mulai maju. Perlahan-lahan pengaruh dan kekuasan berpindah dari golongan aristokrat pemilik tanah  dan pedagang. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kebangkitan kelas burjuasi merupakan salah satu sebab yang mendukung munculnya realisme. Ada juga kekuatan lain yaitu perkembangan Ilmu pengetahuan. Teori evolusi Darwin, Positivisme Auguste Comnte, serta teori-teori psikologi Freud dan masalah-masalah sosial yang menentang pendekatan secara ilmiah, menimbulkan suatu cara pandang yang khas pada kehidupan. &lt;br /&gt;Dinyatakan oleh Kernodle bahwa realisme menyajikan gagasan untuk menampilkan suatu bagian dari kehidupan. Di atas panggung akan terbayang sepotong kehidupan, sehingga jagad panggung merupakan penyajian kembali kehidupan indrawi. Secara teknis pementasan di atas panggung diusahakan menggambarkan kehidupan  sering mungkin. Pentas dan perlengkapan panggung menggambarkan ruang duduk suatu keluarga, atau ruang kantor dan ruang lain yang paling umum dilihat oleh penonton. &lt;br /&gt;Selain properties,  setting dan kostum yang  secara pasti berkorespondensi dengan realita, realisme konvensional juga menolak gaya akting yang berlebihan. Pencetus utama untuk gaya berperan realis adalah Konstantin   Sergeyevich   Stanislavsky   (1865-1938).   Stanislavsky menekankan arti penting gaya berperan yang wajar, tidak dibuat-buat dan menolak gaya bicara  deklamatoris.  Dasar  dari  pemeranan  ini mengungkapkan tingkah laku manusia sesuai dengan penernuan-penernuan di bidang psikologi.&lt;br /&gt;Pendekatan pemeranan Stanislavsky dengan metode psikologi sangat sesuai untuk menganalisa tokoh-tokoh yang diciptakan dalam lakon realisme. Tokoh-tokoh dalam drama ini hadir sebagai individu-individu yang ada dalam keseharian dengan karakter penuh kontradiksi. &lt;br /&gt;Teater realisme sifatnya  sastrawi (literrer). Bahasa sangat menonjol sehingga terkesan verbal. Hal ini dapat dimengerti karena hanya dengan bahasalah cocok untuk mengungkapkan yang bersifat intelektual dan analitik. Seperti halnya kegiatan masyarakat Eropa. Kecenderungan intelektualitas ini diwakili tokoh realisme dari Inggris, Shaw dimana ia menulis dialog sebagai disksi dan debat. &lt;br /&gt;Gambaran obyektif tentang dunia, kecenderungan menempatkan kedudukan individu pada tempat yang sangat dominan serta kecenderungan memandang hakikat drama sebagai konflik telah menggerakkan suatu proses konvensionalisasi terhadap para penata panggung (stage, propertys dansebagainya), gaya berperan dan cara menulis naskah, proses konvensionalisasi ini mencapai kemapanannya pada pertengahan akhir abad XIX, melalui tokoh-tokoh seperti Ibsen, Chekov dan Stanislavsky (Ferguson, 1956). &lt;br /&gt;Awal abad XX terjadi perkembangan baru dalam kehidupan teater di Eropa. Tokoh seperti Brecht, Antonin Artaud menolak aliran realisme. Aliran realisme tidak sepenuhnya diterima dalam abad XX Pemberontakan terhadap realisme timbul, antara lain oleh Symbolisme, Ekspresionisme dan Teater Epik. Konsepsi seni aliran di atas menentang realisme konvensional secara mendesar. Kaum symbolis beranggapan bahwa intuisi meruapakan dasar yang tepat untuk memahami realitas. &lt;br /&gt;Teater epik, meski dipertimbangkan sebagai gaya yang memberontak realisme, namun bentuk dramanya jika dicermati justru memperluas konsep realisme. Pemrakarsa teater epik ialah Bertolt Brecht (1898-1956). la mulai aktif dalam teater ketika Jerman tengah berada dalam puncak jaman ekspresionisme. &lt;br /&gt;Pandangan Brecht pada fenomena sosial tidak bisa dipisah-kan dari sikap ideologinya sebagai penganut Marxisme. Brecht adalah seorang pengecam kapitalisme. Seperti telah dipaparkan di atas, realisme konvensional di antaranya tumbuh dan berkembang berkat pertumbuhan dan perkembangan masyarakat burjuasi. Sementara Brecht sebagai seorang Marxis beranggapan bahwa kelas pekerja membutuhkan gaya teater yang lain, yaitu yang menyampaikan pesan-pesan yang politis. &lt;br /&gt;Tokoh ekspresionime, Antonin Artaud menekankan drama pada tubuh. Dalam persepsi Artaud, tubuh merupakan instrumen yang liar namun memiliki sifat yang fleksibel yang tetap berada dalam prises untuk ditempa. Tubuh manusia tersebut memendam derita perampokan-perampokan jahat yang dilakukan oleh masyarakat, keluarga, dan agama yang membiarkannya dalam keselitan dan sia-sia yang melancarkannya menunuju titik suatu terminal tanpa koherensi dan tanpa kemampuan untuk berekspresi.&lt;br /&gt;Hidup dan karya Artaud mempertanyakan peran tubuh yang terpecah-pecah tetapi dapat berubah bentuk, dalam kesenian, kesusastraan dan pertunjukan. Artaud menyebut proyeknya ini sebagai Theatre of Cruelty (Teater Kejam). &lt;br /&gt;Keguncangan teater modern terjadi tahun 1957, ketika Samuel Beckett mementaskan drama Waiting For Godot. Drama ini dianggap membingungkan dan sulit dicerna bahkan oleh penbonton drama yang canggih sekalipun. Namun pendapat itu kemudian dimentahkan Martin Esslin, bahwa drama yang sebelumnya dianggap nonsense itu ternyata mempunyai makna dan dapat dimengerti. &lt;br /&gt;Oleh Esslin,  karya-karya drama Samuel Beckett, Eugene Ionesco, Arthur Adamov dan harold Pinter dikatagorikan sebagai drama absurd (the Theatre of The Absurd). Masing-masing dramawan menurut Esslin, merupakan individu yang menganggap dirinya orang luar yang sendiriran, terisolasi dalam dunia pribadinya sehingga mereka mencoba menampilkan realitas subjektif dunia pribadinya.&lt;br /&gt;Visi darmawan absurd sejalan dengan visi kelompok penulis modernisme. Aliran modernisme timbul sebagai rekasi atas alairan realisema (1830-1880) yang dianggap terlarlu sarat dengan kritik sosial dan persan moralnya. Drma Absurd pada umumnya menohok penontonya dengan hal-hal yang membingunghkan. Drama absurd pun penung dengan serangkaian kejadian tidak masuk akal yang melawan konvensi panggung uang sudah di tetapkan. Oleh sebab itu Esslin kemudan menyebutnya drama absurd sebagai drama yang anti-play.&lt;br /&gt;Dalam waktu yang tidak terlalu lama drama absurd yang lahir di Perancis berkembang ke seluruh penjuru dunia, antarlain Finlandia, Jepang, Norwegia, Argentina, dan juga Indonesia. Tokoh drama ini seperti Beckett, Ionesco, Edward Albee. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5346587717956970287-5660198648681447965?l=teaterapakah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teaterapakah.blogspot.com/feeds/5660198648681447965/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5346587717956970287&amp;postID=5660198648681447965' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/5660198648681447965'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/5660198648681447965'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teaterapakah.blogspot.com/2009/02/para-peletak-dasar-teater-modern.html' title='Para Peletak Dasar Teater Modern'/><author><name>teaterapakah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14504659433822587521</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R4KW9fwvaJI/AAAAAAAAAAM/4MNOEFdRZSc/S220/giryadi+oke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_FSIlZWBXgNY/SZXX_DYi71I/AAAAAAAAAJk/NblPGAgujc4/s72-c/wartawan+4.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5346587717956970287.post-3725949205509429619</id><published>2009-02-13T12:20:00.000-08:00</published><updated>2009-02-13T12:23:17.878-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai teater'/><title type='text'>Ketika Burung Garuda Menjadi Emprit</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_FSIlZWBXgNY/SZXWf6KUqAI/AAAAAAAAAJc/HLO3sK2hgV8/s1600-h/Foto+3_pentas+tikungan+iblis.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_FSIlZWBXgNY/SZXWf6KUqAI/AAAAAAAAAJc/HLO3sK2hgV8/s320/Foto+3_pentas+tikungan+iblis.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5302379979975469058" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Teater Dinasti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Sepinya hati Garuda. Dijunjung tanpa jiwa.Menjadi hiasan maya. Oleh hati yang hampa.Dendam tanpa kata.Mendalam luka Garuda.Disayangi tanpa cinta. Dipuja tapi dihina"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sepenggal lagu karya Emha Ainun Nadjib, yang akan dilantunkan oleh Novia Kolopaking dan 6 pemain anak-anak untuk mengawali pertunjukan ‘Tikungan Iblis’ Teater Dinasti Yogyakarta, malam ini. Enam anak-anak itu menanyakan arti pertunjukan teater. Dengan sabar Novia menerangkan arti teater dan drama.&lt;br /&gt;Saat Novia bercerita, pertunjukan teater pun dimulai. Pertunjukan itu dibuka dengan tari remo jugag (sepenggal) dan disusul barisan rampokan (bala tentara) yang bersliweran di atas panggung. Sementara itu dua saudara Khabal  dan Khabil, sedang berkelahi. Namun sesaat kemudian mereka berdamai. Tetapi, perdamaian itu berlangsung sesaat, saat lengah, Khabal dibunuh Khabil dengan batu bersar. Gegerlah para malaekat di akherat.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Setelah pembunuhan itu, muncul para malaekat yang menyesal melihat kejadian itu. Sementara Iblis yang berdiri disisi lain, meledek dengan berbagai celetukan. “Malaekat kok menyesal,” celetuk Iblis.&lt;br /&gt;Memang, pertunjukan yang akan dimulai tepat pukul 20.00 WIB itu bakal dipenuhi dengan celetukan-celetukan segar. Celetukan itu datang dari Iblis atau Smarabhumi (Joko Kamto) yang merasa dikambing hitamkan atas kerusakan sosial yang sedang berlangsung.&lt;br /&gt;Iblis itu tidak sangar layaknya gambaran iblis selama ini. Ketika turun ke bumi ia macak layaknya turis, memakai kaca mata hitam, mencangklong kamera, dan menenteng tas koper. Iblis pulalah yang menebarkan kehebohan di bumi (Indonesia). Ia datang sebagai tamu agung, dengan membawa burung garuda sebagai hadiah kepada Prawiro (Joko Kamto).Namun betapa marahnya Prawiro, karena yang dimaksud garuda ternyata hanya burung emprit di dalam sangkar. “Ini penghinaan!” teriak Prawiro. &lt;br /&gt;Konflik semakin memuncak ketika Iblis protes kepada manusia yang menuduh dirinyalah yang menyebabkan rusaknya moral masyarakat. Tetapi manusia sudah terkadung percaya dengan cerita-cerita, bahwa kejahatan manusia akibat dari bisikan Iblis. Makanya mereka hanya tertawa ketika Iblis protes.&lt;br /&gt;“Sampeyan jangan guyon. Masak nama sampeyan Iblis? Mungkin sampeyan manusia yang bernama Iblis begitu,” tanya salah satu penduduk.&lt;br /&gt;“Tidak sayalah Iblis. Karena Tuhan hanya menciptkan Iblis hanya satu!” seru Iblis.&lt;br /&gt;Dialog-dialog di atas bakal terjadi di pentas nanti malam. Toto Rahardjo salah satu kontributor pertunjukan ini, mengungkapkan, pertunjukan Tikungan Iblis, merupakan respon kepada berbagai situasi yang sedang melanda negeri ini. Tetapi lebih utamanya, pemantasan Tikungan Iblis untuk mengajak manusia merenungkan kembali eksistensinya. “Sasaran utama kita adalah manusia. Kita sedang mengalami degradasi kemanusiaan,” kata Toto, Selasa (18/11).&lt;br /&gt;Ditambahkan Toto bangsa Indonesia telah mengalami degradasi nilai-nilai secara eksistensial dan dignity (martabat) dari bangsa yang dicitrakan sebagai burung Garuda menjadi burung emprit. Tesis itu dituangkan dalam narasi yang mengisahkan perjalanan eksistensial manusia dari awal penciptaan manusia Adam hingga umat manusia berkembang biak dan membangun peradaban. “Hidup manusia hanya berkisar dari tiga kata kunci, yaitu rakus, merusak bumi, dan saling berbunuhan,” kata Toto.&lt;br /&gt;“Lakon ini menginspirasi kita bahwa masih ada peluang bagi bangsa ini untuk menjadi kelas bangsa Burung Garuda yang memiliki martabat, kewibawaan, kemuliaan, dan kebesaran, bukan hanya menjadi bangsa kelas emprit yang tidak diperhitungkan bangsa-bangsa lain,” tambah Toto.&lt;br /&gt;Sementara itu, berbicara proses pembuatan naskah, Toto memaparkan, proses pembuatan naskah Tikungan Iblis itu dari hasil dialog antara Emha Ainun Nadjib, Indra Tranggono, Simon Hate, Toto Rahardjo, dan Fauji Ridjal. Proses pembuatan naskah seiring dengan proses latihan yang dikomandani Jujuk Prabowo dan Fajar Suharno. “Makanya hingga saat ini naskah terus berkembang,” katanya.&lt;br /&gt;Sementara itu, pertunjukan itu sendiri akan dipenuhi berbagai unsur seni. Berbagai media seni seperti, tari, musik, seni rupa, video, animasi akan mewarnai seluruh pertunjukan yang berdurasi 2,5 jam. Tidak kalah pentingnya, pertunjukan juga diperkuat oleh garapan musik Bobiet Santoso dari Kiai Kanjeng.&lt;br /&gt;Pertunjukan ini menurut Novia Kolopaking dipersiapkan selama empat bulan lebih. Ketika digelar di Taman Budaya Yogyakarta, 28 Agustus lalu, Tikungan Iblis mampu memukau lebih dari 2000 penonton. “Namun di Surabaya kita melakukan perubahan. Seperti masuknya tari remo, dan juga muncul tokoh baru, Laserta,” kata istri Emha Ainun Nadjib ini.&lt;br /&gt;Sementara itu Farid Syamlan ketua Bengkel Muda Surabaya (BMS) mengatakan tiket yang disediakan terjual habis, baik kelas vip (Rp 100 ribu) maupun lesehan ( Rp 50 ribu). “Antusias penonton luar biasa. Kita sudah kehabisan tiket. Bahkan ada penonton yang memesan tempat untuk ayahnya yang terkena stroke,” kata Farid. n gir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5346587717956970287-3725949205509429619?l=teaterapakah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teaterapakah.blogspot.com/feeds/3725949205509429619/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5346587717956970287&amp;postID=3725949205509429619' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/3725949205509429619'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/3725949205509429619'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teaterapakah.blogspot.com/2009/02/ketika-burung-garuda-menjadi-emprit.html' title='Ketika Burung Garuda Menjadi Emprit'/><author><name>teaterapakah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14504659433822587521</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R4KW9fwvaJI/AAAAAAAAAAM/4MNOEFdRZSc/S220/giryadi+oke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_FSIlZWBXgNY/SZXWf6KUqAI/AAAAAAAAAJc/HLO3sK2hgV8/s72-c/Foto+3_pentas+tikungan+iblis.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5346587717956970287.post-8629403225769601946</id><published>2009-02-13T12:17:00.000-08:00</published><updated>2009-02-13T12:19:46.870-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai teater'/><title type='text'>Dari ‘Festival Panggung Realis’</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mencari Teater Realis rasa Madura &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Konsep teater realis belum banyak dipahami. Meski demikian Sanggar Lentera STKIP Sumenep menggelar festival teater bergenre realis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serangkaian dengan Pekan Seni Madura, pada 30 Desember lalu, Sanggar Lentera STKIP PGRI Sumenep, mengadakan Festival ‘Panggung Teater Realis’ se Madura. Sebanyak 20 peserta mengikuti festival ini. Panitia memberikan arahan, setiap peserta wajib menampilkan lakon drama realis dengan basik tradisi. Setiap peserta hanya diberi waktu 30 menit lengkap dengan penataan setting dan lightingya. &lt;br /&gt;Hasilnya dapat ditebak, dari 20 peserta tak satupun yang bisa secara total memainkan drama realis. Bahkan hampir semua peserta tidak memainkan drama yang bergenre realis. Hal ini bukan tanpa sebab. Sebab utamanya adalah minimnya informasi tentang konsep drama realis. Sebab ke dua teater di Madura tidak memiliki tradisi realisme seperti di Barat, tempat kelahiran genre drama realis.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Memang, realisme didalam konsep teater Barat tidak terlepas dari dinamika sejarah kebudayaan (filsafat) Barat. Di Inggris, drama realis tumbuh dan berkembang sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan masyarakat Inggris pada abad XII yang dimotori kelas borjuasi.&lt;br /&gt;Di dalam dunia teater, pada suatu ketika kelas borjuasi yang sudah mapan secara ekonomi dan politik, tidak lagi ingin menonton lakon raja-raja, bangsawan-bangsawan, seperti yang terjadi masa Elizabethan. Mereka ingin melihat diri mereka sendiri. Maka tidak sia-sia, George Lillo (1731) menulis lakon tentang magang, pelacur, dan saudagar dalam karyanya Saudagar London. Jelas dalam lakon ini tokoh-tokoh kerajaan tidak hadir.&lt;br /&gt;Kebangkitan kelas borjuasi merupakan salah satu sebab munculnya realisme. Daya lain yakni Ilmu Pengetahuan:    teori Evolusi Darwin, teori psikologi sebelum Sigmund Freud, maupun masalah-masalah sosial yang menantang pendekatan ilmiah pada masa-masa itu mendorong tumbuhnya suatu sikap dan cara memandang kehidupan secara khas.&lt;br /&gt;Sikap dan pandangan ini secara tak langsung menyatakan bahwa kehidupan dan dunia dapat dipahami melalui pengamatan dan penggambaran obyektif. &lt;br /&gt;Kebangkitan borjuasi ternyata juga membangkitkan individualisme. Secara mudah dapat dipahami mengapa dalam realisme individu demikian menonjol; justru individu sebagai protagonis yang dengan tindakannya menimbulkan konflik dengan lingkungannya, dengan masyarakatnya yang melahirkan drama.&lt;br /&gt;Sehingga tidak terlalu berlebihan kalau dikatakan bahwa realisme adalah teater tokoh, teater individu. Realisme berbicara Dr. Stocmann dalam Musuh Masyarakat karya Hendrik Ibsen, Willy Loman dalam Matinya Pedagang Keliling karya Arthur Miller, Jane, Fritz, Corrie, Willem dalam Perhiasan Gelas karya Tennesse William.&lt;br /&gt;Teater realisme sifatnya  sastrawi (literrer). Bahasa sangat menonjol sehingga terkesan verbal. Hal ini dapat dimengerti karena hanya dengan bahasalah cocok untuk mengungkapkan yang bersifat intelektual dan analitik. Seperti halnya kegiatan masyarakat Eropa. Kecenderungan intelektualitas ini diwakili tokoh realisme dari Inggris, Shaw dimana ia menulis dialog sebagai disksi dan debat.&lt;br /&gt;Bagaimana dengan realisme di Indonesia? Lakon Moesoenya Orang Banyak hasil terjemahan Jan-Goan dari lakon Ibsen menurut Bakdi Soemanto (2001:295) secara formal konsep realisme telah menyusup ke dalam jagat teater Indonesia. Hal itu dapat dilihat dalam lakon era Poedjangga Baru yang menunjukkan sikap tanggap kepada jiwa zaman baru. &lt;br /&gt;Jagat pikir realisme Indonesia pun semakin kuat ketika budaya tulis dibawanya. Zaman Jepang (1942-1945) yang membentuk Pusat Kebudayaan Jepang dengan salah satu badannya Poesat Sandiwara mendorong kegiatan teater sekaligus menyensor karya seni dengan ketat memberi makna penting bagi perkembangan teater. Itu semua tampak dalam lakon yang bertemakan masalah hidup sehari-hari denga tokoh-tokoh orang biasa. Masa ini Dr. Aboe Hanifah menulis lakon Taufan di atas Asia, Intelek Istimewa, Dewi Reni, Insan Kamil, Rogaya, Bambang Laut. Oesmar Ismail menulis lakon Tjitra, Liburan Seniman, Api, dll.&lt;br /&gt;Menurut Bakdi Soemanto, titik kulminasi faham realisme di Indonesia terjadi di dua kota, yakni di Yogyakarta  pada tahun 1948 berdiri Cine Drama Institute atas prakarsa Menteri Penerangan. Kemudian tahun 1949 berdirilah Institut Kebudayaan Indonesia (IKI) Jogyakarta yang diprakarsai oleh Prof. Ir. S. Purbodiningrat, Dr. Abu Hanifah, Ny. Suryadarma, Mr. Kuntjoro Purbopranoto, Ny. Ali Sastroamidjojo, King Notowijono, Mtahar, Tubir, dan Sri Murtono. &lt;br /&gt;Dari institusi IKI Jogyakarta pada tanggal 1 Nopember  1951 lahirlah Sekolah Seni Drama dan Film (SSDRAF) dengan pimpinannya Sri Murtono. Kemudian sekolah ini pada tanggal 5 Mei 1955 berubah status menjadi Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (ASDRAFI) Yogyakarta, dengan direktur pertamanya Sri Murtono (Nur Iswantara,2001:172-211). Dan di Jakarta pada tanggal 5 September 1955 berdiri Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI). &lt;br /&gt;Di dua akademi ini , seni teaterdipelajari secara keilmuan, artinya di studi dengan pengamatan kritis, didukung teori dan data serta direfleksikan secar cendekia. Studi akademik seperti ini merupakan pola proses kesadaran teatrawan akan lingkungan, yang kemudian ditiru di sanggar-sanggar. Tentunya termasuk dalam menstudi seni berperan membutuhkan bahasa drama yang mudah dipahami.&lt;br /&gt;Semestinya dalam Festival Panggung Realis itu muncul karya-karya yang diinspirasikan dari kelas sosial tertentu yang ada di Madura. Kalau para penggiat teater memahami bahwa drama realis adalah bagian dari pengamatannya di dunia sekitarnya dan menyampaikannya dengan pola drama realis, maka bisa muncul konsep realis yang dimaksudkan panitia.&lt;br /&gt;Usaha itu memang sudah nampak, seperti pada karya Kadarisman, Teman Bermain dan Matinya Harapan, yang dimainkan teater Pelangi SMAN II Sumenep. Begitu juga pertunjukan dengan lakon Karena Politik Masyarakat Menjerit (Teater Kotemang, An-nuqoyah, Guluk-Guluk), nampak ada upaya untuk ke arah realisme yang menggali dari peristiwa sehari-hari (aktual). Sementara lakon Sakera yang dimainkan Teater Fataria STAIN Pamekasan, meski dimainkan dengan gaya realis, drama ini belum masuk dalam genre realis, karena struktur naskah Sakera masih mengambil dari lakon tradisi lodruk. Kalau Sakera diaktualisasikan menjadi peristiwa kekinian, lain soal. &lt;br /&gt;Yang patut dicatat bagi perkembangan teater di Madura atau Jawa Timur, adalah semangat generasi muda mamainkan teater dengan berbagai genre. Ini artinya mereka telah mencerap berbagai ilmu teater dengan berbagai informasi yang didapatkannya. Ke 20 peserta memiliki keunikan dan kekuatan. Namun sayang banyak peserta yang kurang paham konsep teater realis. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5346587717956970287-8629403225769601946?l=teaterapakah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teaterapakah.blogspot.com/feeds/8629403225769601946/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5346587717956970287&amp;postID=8629403225769601946' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/8629403225769601946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/8629403225769601946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teaterapakah.blogspot.com/2009/02/dari-festival-panggung-realis.html' title='Dari ‘Festival Panggung Realis’'/><author><name>teaterapakah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14504659433822587521</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R4KW9fwvaJI/AAAAAAAAAAM/4MNOEFdRZSc/S220/giryadi+oke.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5346587717956970287.post-3381374170389893548</id><published>2009-02-13T12:10:00.000-08:00</published><updated>2009-02-13T12:16:37.810-08:00</updated><title type='text'>Ponari</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Rakhmat Giryadi&lt;br /&gt;Wartawan Surabaya Post&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ponari anak usia 10 tahun duduk di bangku kelas 3 SD tiba-tiba menjadi bintang. Ia digeruduk massa. Tiga minggu ia harus melayani ribuan orang yang percaya dengan ‘kesaktiannya’. Mereka meminta usada. &lt;br /&gt;Ponari si dukun tiban dari Megaluh, Jombang, pada suatu hari bisa menyembukan tetangganya yang sakit. Padahal ia tidak menyuntiknya. Ia juga tidak memberinya resep obat. Porani juga tidak memberikan keterangan Si pasien sedang sakit apa. Ponari hanya menyelupkan batu –konon turun dari langit yang dibawa oleh halilintar- di gelas berisi air. Kemudian gluk!. Satu tegukan air batu dari Ponari, konon (lagi), penyakit yang diderita tetangganya sembuh.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kabar itu tiba-tiba menyentil bawah sadar ribuan massa dari berbagai daerah. Dalam hitungan hari, ribuan massa menyemut ke rumah Ponari yang reot. Mereka berbondong-bondong demi mendapatkan kesembuhan. Mereka datang dari berbagai kalangan. Mereka juga rela antre berjam-jam, bahkan berhari-hari hanya ingin dapat air batu dari Ponari. Tak kalah dahsyatnya mereka rela meregang nyawa demi itu. &lt;br /&gt;Ini histeria massa. Mereka adalah masyarakat ‘mengambang’ yang tidak memiliki pegangan rasionalitas yang kukuh. Mengapa mereka rela datang dari jauh hanya untuk mendapat air batu dari Ponari. Sementara ada dokter yang bisa menjelaskan secara nalar medis tentang penyakit yang diderita?&lt;br /&gt;Tindakan irasional memang berada diluar nalar. Orang mudah saja mengikuti arus, meski ia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Inilah histeria massa. Histeria massa yang muncul selalu tak memiliki identitas. Karena itu pula histeria tersebut tidak bisa dipertanggung-jawabkan atas segala akibat dan konsekwensi yang ditimbulkannya.&lt;br /&gt;Histeria menimbulkan irasionalitas pada seseorang. Orang atau segerombolan massa akan bertindak apa saja meski tindakannya itu di bawah kemampuannya. Sudah banyak contoh fenomena semacam ini. Ketika booming handphone, banyak orang ingin memilikinya. Tak peduli seberapa perlunya seseorang memiliki handphone. Bahkan, ketika ada hanphone lain yang menawarkan fitur yang lebih canggih, kehendak untuk memilikinya juga besar. Tak jarang seorang bisa memiliki lebih dari 1 hanphone. &lt;br /&gt;Tak kalah menariknya, ketika booming tanaman hias beberapa waktu lalu, orang-orang ramai membeli tanaman hias dengan harga miliaran rupiah. Ketika booming ikan arwana yang konon ikan keberuntungan, orang-orang membeli arwana dengan harga selangit. Ketika booming lukisan, para juragan tembakau di Magelang, misalnya, memborong lukisan dengan harga diluar batas nalar.&lt;br /&gt;Masyarakat tak bisa menjangkaunya hanya bisa bermimpi. Ketika mimpi itu ingin diwujudkan berubahlah menjadi tindakan fisik. Masyarakat atau seseorang mengalami proses perubahan dari gejala psikologis menjadi manifestasi fisiologis. Dalam hal ini Sigmund Freud meyakini gangguan histeria tak hanya disebabkan oleh kelainan organik, namun juga gangguan emosional yang dialaminya. Artinya, orang-orang yang secara kejiwaan sehat bisa saja mengalami histeris.&lt;br /&gt;Histeria massa sebagai pandangan irasional atau perilaku tidak wajar yang menyebar luas pada sejumlah orang sebenarnya bukanlah sebentuk tindakan sosial tiada arti yang diarahkan kepada orang lain sebagaimana tindakan para fans  artis, penyanyi, film, sinetron, dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;Namun bila dicermati histeria massa bisa menjadi sebentuk tindakan sosial bila individu yang dihisteria massa tersebut sudah diketahui ke'penyimpang'annya dalam suatu komunitas masyarakat karena kehumanistisan yang ada melihat individu tersebut yang berusaha untuk mendapatkan status yang diberikan padanya. Remaja-remaja membentuk geng. Orang-orang membentuk aliran sempalan dari agama-agama besar. &lt;br /&gt;Mereka yang merasa senasib akan terjalin solidaritas. Sikap dan wujud solidaritas tersebut akan berakumulasi menjadi sebuah “semangat” namun semangat yang berkadar “massa” yang tak jelas identitasnya. Dia bisa berubah menjadi amuk yang destruktif dan menyesatkan serta akhirnya justru malah merugikan kepentingan orang lain. Demo anarkis menuntut pemekaran provinsi di Medan salah satu contohnya.&lt;br /&gt;Dan hal ini sedang dialami pada Ponari. Massa yang tidak ingin pratik Ponari ditutup, memaksa dibuka. Massa tidak peduli Ponari sakit. Begitulah, histeria menimbulkan irasionalitas. Irasionalitas bisa menggiring orang betindak ‘aneh tetapi nyata.’ Dan hal itu dibawah kontrol rasionalitas. Jadi harap maklum!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5346587717956970287-3381374170389893548?l=teaterapakah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teaterapakah.blogspot.com/feeds/3381374170389893548/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5346587717956970287&amp;postID=3381374170389893548' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/3381374170389893548'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/3381374170389893548'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teaterapakah.blogspot.com/2009/02/ponari.html' title='Ponari'/><author><name>teaterapakah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14504659433822587521</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R4KW9fwvaJI/AAAAAAAAAAM/4MNOEFdRZSc/S220/giryadi+oke.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5346587717956970287.post-461560672959953827</id><published>2008-09-08T21:27:00.000-07:00</published><updated>2008-09-08T21:46:30.193-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai teater'/><title type='text'>Dari Melawan Ayah sampai Derita Masyarakat Urban</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_FSIlZWBXgNY/SMX94GakYqI/AAAAAAAAAGs/7d4_qjuT8oo/s1600-h/teater+hari+pertama.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_FSIlZWBXgNY/SMX94GakYqI/AAAAAAAAAGs/7d4_qjuT8oo/s320/teater+hari+pertama.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5243876481379361442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hari Ke Dua Jambore Teater Remaja 2008&lt;br /&gt;(Hasil Pengamatan 3 Agustus 2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jambore Teater Remaja 2008 hari kedua semakin asyik. Kali ini giliran Teater Saxxi SMAN 21 Surabaya mementaskan Aku VS Ayahku (karya Budi Ros). Teater Hitam Putih SMAN 1 Tuban, mementaskan Pulang. Teater Kedok SMAN 6 Surabaya, mementaskan Lapar (karya Muhammad Ali). Teater AS SMAN 1 Papar, Kediri, mementaskan Trauma. Teater Lab 56 SMAN 1 Kalisat Jember, mementaskan Satu Sisi di Ibukota (karya Abdul Azis).&lt;br /&gt;Di hari kedua tidak ada grup yang menonjol, tetapi tidak juga ada yang lemah. Permainan kelima grub cukup konsisten dalam mempertahankan irama permainannya. Sayang, banyak penonton yang tertidur pulas. (Ssst, sampai mendengkur).&lt;br /&gt;Tetapi tak apalah, mungkin penonton yang terdiri dari pelajar itu sedang kelelahan atau kedinginan AC. Meski demikian, mari kita kritisi satu persatu, persoalan yang muncul dari semua grup yang pentas di hari kedua itu.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih Masalah Naskah&lt;br /&gt;Tidak berbeda jauh dengan kendala pada hari sebelumnya, penampil pada hari kedua ini rata-rata lemah dalam memahami naskah. Kecenderungan tekstual masih terjadi. Hal ini terjadi pada teater Kedok SMAN 6 Surabaya yang mementaskan Lapar, karya Muhammad Ali. Begitu juga yang terjadi dengan Teater AS SMAN 1 Papar Kediri. &lt;br /&gt;Sementara pada kelompok Teater Saxxi SMAN 21 Surabaya, Teter Hitam Putih SMAN 1 Tuban, sudah ada upaya penggalian naskah secara maksimal. Hal ini terbukti, mereka bisa memainkan tokoh-tokohnya dengan baik. Karakteristik tokoh tergambarkan dengan baik. dan masing-masing menunjukan status dan peranannya masing-masing.&lt;br /&gt;Seperti yang terlihat pada permainan Ibu (Teater Hitam Putih), Ayah (Teater Saxxi), berhasilkan memainkan peran dengan natural, tidak meledak-ledak seperti yang terjadi di pemain dari Teater Kedok dan Teater AS.&lt;br /&gt;Hal berbeda dipentaskan Teater Lab 56 SMAN 1 Kalisat. Naskah Satu Sisi di Ibukota, hanya meggambarkan klip-klip atau rangkaian peristiwa-peristiwa yang terjadi di ibukota. Dari rangkaian peristiwa-peristiwa itu,  penulis naskah ingin membebaskan penonton menentukan temanya.&lt;br /&gt;Seperti diketahui, pada dasarnya naskah drama adalah karya sastra. Sebagai karya sastra, naskah drama adalah karya seni dengan media bahasa kata. Mementaskan drama berdasarkan naskah drama berarti memindahkan karya seni dari bahasa kata ke dalam media bahasa pentas.&lt;br /&gt;Pentas harus menampakan sesuatu yang tidak ada dalam anaskah itu. itu artinya pemain harus bisa ‘menghidupkan’ naskah tersebut atau menampakan sesuatu yang tidak tampak dalam naskah drama itu. Misalnya, bagaimana anda menghidupkan orang gembel yang hidup di pinggir rel kereta api dan menderita kelaparan? Apa cukup dengan koreng-koreng di tubuh?&lt;br /&gt;Misalnya lagi, bagaimana bisa menyakinkan penonton bahawa peran yang sedang bawakan adalah orang yang trauma? Apakah hanya dengan berbicara berteriak-teriak dengan intonasi yang tinggi? &lt;br /&gt;Persoalan pokoknya adalah memindahkan gagasan atau ide dari naskah drama ke pentas. Bahwa setiap acting harus punya alas an. alasan itulah yang menghidpkan acting, sehingga acting bernas dan berbobot. Jelasnya, alasan mendorong perbuatan. Kemudian perbuatan itu menjadi alasan untuk peristiwa berikutnya yang lebih besar. &lt;br /&gt;Soal yang masih menjadi kendala besar adalah menafsirkan naskah. Menafsirkan naskah yang masih berbentuk kata-kata itu kedalam bentuk pentas. Penafsiran ini penting, karena ini akan berdampak pada laku pentas. Apakah pentas akan di buat realis atau absurd tergantung penafsiran. &lt;br /&gt;Jelasnya, sekaimpilihan dijatuhkan dengan penafsiran realis (misalnya), maka seluruh laku dan wujud pentas adalah dunia yang realistic. Ini artinya kecermatan dan perhtaian secara detail dibutuhkan untuk menyajikan pementasan yang sempurna. &lt;br /&gt;Tetapi hal ini tidak terlihat pada Teater Kedok yang mementaskan Lapar, karya Muhammad Ali. Upaya yang baik memindahkan ide naskah ke bentuk pentas terlihat dari teater Hitam Putih yang mementaskan naskah Pulang. Begitu juga Teater Saxxi,  yang mementaskan Aku VS Ayahku.&lt;br /&gt;Sebagai karya sastra naskah drama menawarkan kemungkinan tekanan atau pusat perhatian. Misalnya, naskah Lapar, menonjolkan kemiskinan ditengah melimpah ruahnya kekayaan bangsa. Pilihan tekanan ini akan membawa konsekwensi penafsiran peran dan bagimana mengembangkan permainan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah Sutradara&lt;br /&gt;Sekali lagi pada hari kedua masalah penyutradaraan masih menjadi problimnya, meski ada beberap grub yang sudah cukup mapan dalam penyutradaraan, seperti Teater Hitam Putih, dan Teater Saxxi.&lt;br /&gt;Di Indonesia masalah penyutradaraan tidak berbadan dengan kata directing (inggris). Tetapi di Indonesia, kalau seorang guru (misalnya) menyutradarai, dia tidak hanya mengorganesai sebuah pertunjukan tetapi juga mengajar (i) bagaimana cara bermain. Karena itu menyutradai sebenarnya juga proses belajar dalam bentuk yang lain.&lt;br /&gt;Pendeknya tugas sutradara harus bisa mengontrol seluruh elemen pementasan, mulai dari kostum sampai pada actor.&lt;br /&gt;Dalam dunia tetar, sutradara menjadi seorang pemimpin  tertinggi dalam pelaksanaan pementasan di bidang artistic. Sutradara merupakan seorang seniman yang mewujudkan gagasan naskah drama ke dalam kenyataan teater secara visual dan utuh.&lt;br /&gt;Dalam mewujudkan ini, tentu seorang sutradara akan dibantu oleh actor dan penata artistic lainnya.&lt;br /&gt;Yang perlu menjadi catatan adalah, selain berkemampuan mengorganisir, seorang sutradara setidaknya mempunyai kapasitas lebih dibandingkan dengan yang lain. Karena sutradara harus bisa menjelaskan keinginannya baik secara teknis maupun artistic.&lt;br /&gt;Ketika hal ini gagal disampaikan, maka pementasan akan berjalan tidak utuh, karena masing-masing peran akan berekspresi sesuai dengan kapasitasnya. Hal ini terlihat dari pementasan Teater Kedok dan Teater As. Kapasitas pemain tidak diatur sedemikian rupa, sehingga pertunjukan menjadi utuh, karena tidak bermain dengan gayanya sendiri-sendiri.&lt;br /&gt;Hal ini berbeda dengan yang terjadi di Teater Hitam Putih, Teater Saxxi, dan Teater Lab 56. Ketiga kelompok ini sudah bisa memfungsikan sutradara dengan baik. Tugas dan fungsi sutradara tampak teraplikasi pada masing-masing penanggung jawab artistic dan actor. Seperti di Teater Hitam Putih, sutradara mampu mengorganisir seluruh elemen pertunjukan secara utuh. &lt;br /&gt;Karena itu untuk mendapatkan hasil yang maksimal seorang sutradara perlu mengetahui proses atau urut-urutan kerja sutradara. Yaitu seperti, memilih naskah, memilih pemain, staf artistic, dan menentukan jadwal latihan.&lt;br /&gt;Pada tahap pemilihan naskah, sutradara memulai dengan mendiskusikan naskah dan menjelaskan keinginan-keinginannya baik dari segi artistic, visual, maupun gaya yang akan digunakan. Misalnya, Teater Lab 56 memilih teknik visual gruping dan komposisi bloking sehingga membentuk komposis panggung yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah Keaktoran&lt;br /&gt;Yang menjadi kendala utama dalam setiap pertunjukan adalah kempuan actor untuk memerankan tokoh. Banyak actor yang gagal memerankan tokoh dengan baik. Kegagalan ini lebih disebabkan lemahnya penguasaan teknik.&lt;br /&gt;Untuk menciptakan tokoh itu hidup, seorang pemeran atau actor harus mempunyai modal di dalam dirinya, yaitu unsure kreativitas, unsure penguasaan teknik bermain, intelektualitas, yang ketiganya harus terjalin dan saling menopang.&lt;br /&gt;Penguasaan teknis acting berarti penguasaan terhadap peralatan ekspresi baik yang bersifat kejiwaan maupun yang bersifat kejasmanian. Yang bersifat kejiwaan seperti 1.) imajinasi, 2.) emosi, 3.) kemauan, 4.) daya ingat, 5.) intelektual, 6.) perasaan, dan 7.) pikiran. Sementara itu hal yang bersifat kejasmanian seperti 1.) pancaindra, 2.) anggota tubuh, 3.) vocal (suara).&lt;br /&gt;Seorang actor yang baik harus bisa mendayagunakan alat ekspresi ini dengan baik. Watak atau tokoh peran yang akan dimainkan dapat dikembangkan dan dihidupkan dalam diri pemeran dengan pertolongan alat ekspresi miliknya sendiri.&lt;br /&gt;Tokoh Ibu (Pulang) dan Ayah (Aku VS Ayahku) contoh yang baik, pemeran yang mampu mendayagunakan alat ekspresinya. Sementara actor-aktor lain masih kurang menguasai alat ekspresinya dengan baik, terutama actor Teater As dan Teater Kedok.&lt;br /&gt;Aktor teater AS misalnya, kurang mampu menakar emosi, sehingga selama dalam pertunjukan vokalnya merintih-rintih penuh emosi. Begitu juga yang terjadi di Teater Kedok, actor-aktornya kurang mampu menakar emosi. Emosinya meledak-ledak sehingga irama permainan sangat monoton. &lt;br /&gt;Teknis berperan itu merupakan ketrampilan menggunakan segala alat ekspresi yang dimiliki, yaitu penggunaan tubuh, kelentukan tubuh, kewajaran berlaku, kemahiran menggunakan vocal, kekayaan imajinasi yang ditunagkan dalam tingkah laku manusia, dan lain sebagainya untuk menambah kekayaan bentuk ungkapan baik secara batiniah maupun secara lahiriah.&lt;br /&gt;Misalnya saja bagaimana membedakan antara roh dan manusia seperti yang terjadi di Teater As? Apakah roh harus berakting sama dengan manusia biasa atau yang lainnya? hal ini bisa terjawab kalau actor punya kreatifitas dan intelektual. Tetapi kalau tidak actor hanya memfungsikan alat ekspresinya apa adanya, seperti kehidupannya sehari-hari. Padahal arti acting sendiri bergaya. Artinya menyetilir laku dari kehidupan biasa. Dasana ada pengayaan, imajinasi, kreativitas, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Begitu juga yang terjadi pada Teater Kedok. Apakah seorang yang lapar dan sedang menghadapi sakaratulmaut harus berbicara dengan emosi yang meledak (layaknya orang sehat?). Kalau pemain memiliki kemampuan menggali pengalaman batin tentang kelaparan, hal tersebut di atas tidak akan terjadi.&lt;br /&gt;Bagi seorang pemain, sebenarnya latihan menghidupkan peran dengan segala teknik acting yang sudah dipelajari merupakan prakik dari apa yang sudah dipelajari. Bagaimana dia menggunakan kemampuan olah tubuh, olah suara, dan oleh sukma. Semua dicoba diramu dalam prakik yaitu dengan latihan-latihan memainkan tokoh yang diperankan.&lt;br /&gt;Sedangkan tugas sutradara mengarahkan para pemain sesuai dengan keinginannya, sekaligus mengkoordinasi akasi dan reaksi dai pemain satu dengan pemain lainnya, dan melihat baaimana tanggapan pemain satu dengan lainnya.&lt;br /&gt;Akting yang hanya bersumber dari kekuatan ekspresi luar disebut bermain secara wadak (tampak luarnya saja). antara peran dan tokoh yang dimainkan terdapat jarak. Pemeran disinia hanya berpura-pura merasakan apa yang sedang dirasakan tokoh. Dan itulah yang terjadi pada Teater Kedok dan Teater As.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah Artistik&lt;br /&gt;Seniman yang menata pentas, menata setting, sering disebut penata artistic. Akan tetapi sebenarnya penata artistic mempunya jangkauan yang lebih luas, tidak saja mengurusi tata pentas saja, tetapi juga tata cahaya, tata busana, tat arias, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Sementara itu tata pentas dalam kegiatan pementasan merupakan sarana pendukung yang bersifat penataan artistic di atas pentas. Tata penas menggambarkan wujud visual di atas pentas tentang lokasi kejadian dalam lakon, lengkap dengan tafsiran tentang ruang, waktu, dan suasana.&lt;br /&gt;Istilah lain untuk setting adalah dekor yang dapat disaksikan di atas panggung yang merupakan gambaran secara visual tentang tempat kejadian dalam cerita. Misalnya, dalam ruang tamu dalam Pulang dan Aku VS Ayahku (Teater Hitam Putih dan teater Saxxi), dalam suatau kota (Teater Lab 56), pinggiran rel kereta api (Teater Kedok).&lt;br /&gt;Kemudian dekor juga menggambarkan suasana apa yang ada dalam cerita. Misalnya, seram, menekan, penuh kesedihan, dan sebagainya. Penata pentas akan memilih warna sesuai dengan yang dikehendaki cerita menurut tafsiran sang seniman, yang sejalan dengan keinginan sutradara. Karena itu, seorang penata artisitik harus menguasai pengetahuan tentang seni rupa, disamping harus mengerti masalah teater.&lt;br /&gt;Sayang, kelima grup yang pentas di hari kedua, kurang memaksimalkan tata pentas. Hal initerlihat dari Teater Kedok, Teater Lab 56, dan Teater As. Komposisi level, kursi, dan bangku panjang, kurang memberikan gambaran yang pas tempat, waktu, dan suasana yang dimaksud dalam cerita. &lt;br /&gt;Sementara Teater Hitam Putih dan Tater Saxxi hanya gagal dalam membuat komposisi baik komposisi benda-benda (property), dan juga komposisi warna. Misalnya Teater Hitam Putih, komposisi ruangnya tidak teratur. Teruma soal penggunaan warna biru, yang kurang bersesuai dengan suasana batin, sang ibu yang risau menunggu pulang anaknya. Begitu pula, lukisan yang dipajang di Teater Saxxi juga kurang proporsi dengan suasana dan setting cerita. Lukisan yang dipajang lebih cocok dipajang di museum bukan di ruang tamu dari keluarga sederhana.&lt;br /&gt;Sementara persoalan musik, tata cahaya, masih menjadi kendala yang sama. Tetapi penataan musik dari Teater Hitam Putih cukup menarik. Dengan menggunakan musik etnik Jawa (gamelan) ilustrasinya bisa membentuk suasana pementasan. Begitu juga teater Saxxi juga berhasil mengaransemen musik pendukung suasana yang baik. Teater Kedok berhasil menggunakan sound effect kereta juga dengan baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Masalah yang masih tampak dalam dua ahari pengamatan kemarin adalah, lemahnya penyutradaraan, dan pemahaman tentang tata artistic. Padahal kalau kita melihat potensi keaktoran, banyak pelajar yang berbakat. Tetapi banyak sutradara/Pembina yang kurang menguasai bidangnya, sehingga banyak pertunjukan yang kedodoran karena factor ini.&lt;br /&gt;Karena itu saran dan harapan dari Pembina Teater AS SMAN 1 Papar, Kediri, untuk mengadakan pelatihan bagi pelatih teater di daerah, sangatlah relevan.&lt;br /&gt;Kita berharap Taman Budaya Jawa Timur, sebagai intitusi yang sudah konsisten 8 tahun berturut-turut mengadakan festival teater remaja, mau melakukan pemberdaya, terhadap sumber daya, pelatih-pelatih teater remaja yang tersebar di Jawa Timur. &lt;br /&gt;Pemberdayaan itu, bisa melalui workshop penyutradaraan, dan tata artisitik (musik, tata pentas, dan lighting). Rata-rata para sutradara belum banyak yang tahu tentang fungsi lighting sebagai pembentuk ruang dalam suatu pentas. Bahkan mereka tidak tahu, bagaimana lighting itu difungsikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, Agustus 2008&lt;br /&gt;R Giryadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5346587717956970287-461560672959953827?l=teaterapakah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teaterapakah.blogspot.com/feeds/461560672959953827/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5346587717956970287&amp;postID=461560672959953827' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/461560672959953827'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/461560672959953827'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teaterapakah.blogspot.com/2008/09/dari-melawan-ayah-sampai-derita.html' title='Dari Melawan Ayah sampai Derita Masyarakat Urban'/><author><name>teaterapakah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14504659433822587521</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R4KW9fwvaJI/AAAAAAAAAAM/4MNOEFdRZSc/S220/giryadi+oke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_FSIlZWBXgNY/SMX94GakYqI/AAAAAAAAAGs/7d4_qjuT8oo/s72-c/teater+hari+pertama.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5346587717956970287.post-3013198620931140671</id><published>2008-09-08T21:03:00.000-07:00</published><updated>2008-09-08T21:22:37.147-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai teater'/><title type='text'>Dari Orang Kasar sampai Cari Mati</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_FSIlZWBXgNY/SMX5e-XjYkI/AAAAAAAAAGk/SKQGzZy3nJI/s1600-h/teater+remaja+2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_FSIlZWBXgNY/SMX5e-XjYkI/AAAAAAAAAGk/SKQGzZy3nJI/s320/teater+remaja+2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5243871651675988546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hari Pertama Jambore Teater Remaja 2008&lt;br /&gt;(Resume diskusi dan hasil pengamatan, 2 Agustus 2008)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Asyik juga!’ Begitulah kira-kira celetukan seorang peserta usai melihat pementasan hari pertama Jambore Teater Remaja 2008. Hari pertama, 2 Agustus 2008 yang mendapat giliran pentas, Teater Asap SMAN 3 Madiun, mementaskan Orang Kasar (Anton P Chekov), Teater Jingga SMAN 1 Puri Mojokerto, juga mementaskan Orang Kasar (Anton P Chekov), Teater Angin SMAN 2 Tuban mementaskan Pinokio Van Java (J. Satupa P.L). Kemudian pada sesi malam hari dilanjutkan dengan pementasan dari Teater Pandhan Room SMAN 2 Bangkalan, mementaskan Sandal Jepit ( Herlina Syarifudin), dan yang terakhir dari The Nine Theatrevision SMKN 9 Surabaya, mementaskan Cari Mati (Petikan naskah Orkes Madun 5 : Ozon karya Arifin C Noor).&lt;br /&gt;Namun apa yang dimaksud asyik dari celetukan salah seorang penonton tersebut di atas. Bahasa gaul untuk menyatakan baik atau atau menggambarkan situasi yang bisa diterima itu memiliki banyak pengertian, karena pada dasarnya asyik penonton satu dengan penonton lain punya pertimbagan yang berbeda. &lt;br /&gt;Nah, nah disinilah letak makna asyik itu tadi. Keasyikannya terletak dimana dan ketidak asyikannya juga terletak dimana. Karena itu di bawah ini akan dipaparkan hasil pengamatan dan juga resume diskusi pementasan hari pertama tersebut, agar lebih asyik.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah Naskah&lt;br /&gt;Kebetulan sekali, pada malam itu ada pertanyaan dari peserta Teater Lab 56 SMAN 1 Kalisat Jember tentang naskah. Peserta ini menanyakan alasan memilih naskah tertentu untuk dipentaskan dalam ajang Jambore Teater Remaja 2008.&lt;br /&gt;Gayung bersambut, meski agak malas-malasan, beberapa peserta menjawab. Dari beberapa jawaban dapat disimpulkan bahwa memilih naskah karena 1.) Pengaruh dari pendahulunya, 2.) Menyesuaikan dengan sumber daya, 3.) menyesuaikan dengan waktu, 4.) menyesuaikan dengan biaya.&lt;br /&gt;Pemilihan naskah pengaruh dari pendahulunya atau istilah kerennya gethok tular menjadi sebab yang pertama alasan memilih naskah yang dipentaskan. Hal ini disebabkan informasi tentang naskah sangat minim, sehingga beberapa teater SMA mengandalkan arsip yang sudah dimiliki. Biasanya naskah yang diarsipkan itu pernah dipentaskan oleh ‘seniornya.’ &lt;br /&gt;Menyesuaikan dengan sumber daya yang dimaksudkan lebih berorientasi pada jumlah pemain. Kalau jumlah anggotanya sedikit maka akan serta merta memilih naskah yang jumlah pemainnya sedikit. Katakanlah seperti karya Anthon P Chekov, Pinangan, Orang Kasar, Nyanyian Angsa, hanya membutuhkan 2-5 pemain.&lt;br /&gt;Hal tersebut di atas juga artinya juga bisa menghemat waktu latihan. Dengan naskah pendek berdurasi 1 jam dengan pemain yang sedikit akan mepermudah koordinasi dan tidak membutuhkan waktu (menghafal) yang lama. Dengan demikian waktu latihan juga tidak perlu lama-lama (kira-kira begitu). Nah, ketika jumlah pemain juga sedikit, tentu akan menekan biaya produksi.  Alasan ini mungkin juga logis, mengingat  biaya produksi teater sekolah sangat minim.&lt;br /&gt;Namun pada dasarnya alasan tersebut di atas hanya sebuah permakluman saja. Karena itu Eko Ompong Santoso, menekankan bahwa saat memilih naskah itu sudah mengandung risiko-risiko yang harus ditanggung kemudian. Maksudnya, bahwa dalam pemilihan naskah perlu mempertimbangkan banyak hal.&lt;br /&gt;Menurutnya hal pertama dalam memilih naskah harus didorong oleh rasa senang. Setelah merasa senang dengan naskah yang dipilih, perlu dimengerti dan dibedah isi naskahnya. Kemudian setelah memahami naskah, harus ada tekat, keseriusan, untuk mementaskan naskah itu sesulit apapun keadaannya.&lt;br /&gt;Jadi menurut Eko, ketika sebuah kelompok teater memilih naskah, disana risiko sudah menghadang. Karena itu tidak ada alasan untuk mengelak. Kalau ada kendala-kendala hal tersebut menurut Eko sudah menjadi risiko yang harus dicari solusi-solusinya. Eko mencontohkan, kalau tidak punya pemain laki-laki, mengapa tidak dilakukan pemain perempuan menggantikan menjadi pemain laki-laki.&lt;br /&gt;Untuk sementara, sebagian besar peserta jambore tidak berani menempuh risiko yang dimaksudkan di atas. Contohnya apa yang terjadi dengan teater Pandhan Room SMAN 2 Bangkalan. Naskah yang dipentaskan sangat kedodoran. Pemain masih hanya sekedar menghafal naskah, menurut Eko maupun Mas Aji, masih tekstual. &lt;br /&gt;Kecenderungan ini juga terjadi di hampir semua grup. Seperti yang terjadi di Teater Asap dan Teater Jingga. Dalam hal memahami naskah juga masih tekstual. Artinya kalau disana disebutkan tokoh Bilal sang penagih hutang, mengapa tidak digambarkan seseorang yang berwatak penagih hutang yang khas (misalnya berlatar budaya Batak, atau Arab). Begitu juga karakter Istri Marlopo, mengapa tidak berusaha di-medhokan (berdialek jawa), mengingat Marlopo berlatar belakang ‘ningrat’ jawa. Hal ini terbukti, mereka mempunyai kuda, salah satu ciri ‘ningrat’ jawa, memelihara kuda.&lt;br /&gt;Karena ningrat mengapa hubungan pembantu dengan juragan Marlopo begitu dekat. Bukankah budaya Jawa sangat memberikan sekat hubungan antar jongos dan majikan. Mengapa pembantu berani berbicara keras dan lantang dengan wajah mendongak? Padahal dalam hubungan ini, berbicara keras dengan wajah menatap adalah tabu.&lt;br /&gt;Begitu juga saat penagih hutang (Bilal) menyatakan jatuh cinta, mengapa pada peristiwa-peristiwa awal tidak ditampakkan suasana batin yang ‘berharap sesuatu’ di balik harapan menagih hutang? &lt;br /&gt;Kecenderungan pemahaman naskah secara tekstual itu mengakibatkan sutradara, pemain, dan elemen artistic lainnya mengabaikan hubungan naskah dengan yang lain-lainnya. Karena itu sangat tepat bila Eko menyarankan agar sebelum memulai menggarap naskah lakon harus ada pertanyaan, ‘Apa?’ Ini artinya, dalam proses pembedahan naskah perlu di pahami hubungan dengan hal-hal lain di luar naskah (interteksutal).&lt;br /&gt;Hal ini juga terjadi pada Pinokio Van Java, Sandal Jepit, dan juga Cari Mati. Kelemahan dalam membedah naskah, menyebabkan pertunjukan berjalan sangat kering, tanpa ada gregret. Aktor cenderung menyampaikan apa yang ada dalam naskah tanpa ada upaya mengungkapkan sesuatu yang tidak tampak. Pinokio Van Java dan Sandal Jepit mempunyai kelemahan seperti ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah Penyutradaraan&lt;br /&gt;Pada siang hari sebelum pementasan berlangsung ada Pembina yang curhat. Intinya mereka kebingungan dalam mencari metode yang tepat untuk diterapkan. Peserta dari SMAN 1 Papar Kediri ini kebingungan memilih pendekatan yang otoriter atau yang demokratis, padahal keduanya memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing.&lt;br /&gt;Semestinya hal ini tidak perlu terjadi. Sebagai Pembina atau pelatih harus mempunyai sikap yang tegas. Keragu-raguan akan membawa dampak pada pertunjukannya. Mengingat fungsi sutradara begitu penting, maka pembina yang berposisi sebagai sutradara harus punya pilihan yang tegas. Kalau keduanya memiliki kelemahan dan kelebihan, jelas pilihannya cuman satu, otoriter atau demokratis. Selanjutnya, harus berani menanggung risiko.&lt;br /&gt;Keragu-raguan inilah yang tampak terjadi dalam penyutradaraan dari lima pertunjukan kemarin. Kebanyakan sutradara kurang mampu mengorganesasi seluruh elemen pertunjukan. Kecenderungan ini tampak kurang utuhnya (unity) seluruh bagian untuk membangun sebuah peristiwa. Sebut saja pertunjukan Teater Pandhan Room, Teater Jingga, dan Teater Angin. &lt;br /&gt;Ketiga teater ini sutradara kurang berhasil mengorganesasi elemen artisitik lainnya. Seperti lighting, musik, setting, costum, mike up. Hubungan antara pemeran dengan elemen artistic tersebut di atas sering kurang terorganisir dan cenderung berjalan sendiri-sendiri atau tidak mendukung antar elemen. &lt;br /&gt;Mengingat sutradara mempunyai peran mengorganisir, atau meramu seluruh elemen, maka mau tidak mau sutradara harus memberikan takaran-takaran yang sesuai sehingga pertunjukan punya arah, punya value, punya nuansa, punya irama, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Lemahnya otoritas sutradara, mengakibatkan pertunjukan berjalan apa adanya, seperti yang terjadi pada Teater Pandhan Room, Teater Jingga.&lt;br /&gt;Pengorganesasian yang baik terjadi pada Teater Asap dan The Nine Theatrevision. Kedua teater ini nyaris menampilkan pertunjukan dengan organesasi elemen artisitik yang utuh. Mulai dari musik, seting, costum, mike up, dan didukung pemeranan yang lumayan, mampu memberikan nuansa pertunjukan yang terorganisir. Menurut istilah yang keren pertunjakannya punya ‘atmosfir,’ sehingga mampu menyedot perhatian penonton.&lt;br /&gt;Sekali lagi, sebagai sutradara tidak boleh punya keragu-raguan. Sebagai sutradara harus sudah menentukan pilihan metode untuk mengorganisir seluruh element yang dipimpinya. Sutradara (director) punya kewenangan mengambil keputusan agar seluruh elemen berjalan sesuai dengan harapan. Sutradara punya tanggungjawab yang besar terhadap berlangsungnya proses penggarapan naskah. Karena itu tidak boleh ada keragu-raguan. Sebagai pemimpin harus tegas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah Keaktoran&lt;br /&gt;Kebetulan sekali, hari pertama juga ada pertanyaan bagaimana bermain yang baik? Pertanyaan yang mengarah ke teknis bermain itu, oleh mas Eko langsung disanggah, tidak ada pertanyaan bagaimana. Karena pertanyaan bagaimana cenderung instant. Pertanyaan yang tidak bisa dijawab karena aktor tidak akan berusaha mencari. Karena itu pertanyaan bagaimana harus dirubah menjadi ‘apa?’&lt;br /&gt;Seperti, apa atau siapa Pinokio? Apa atau siapa Nyonya Marlopo, Waska, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Pertanyaan itu sangat penting diungkapkan dalam rangka menggali ‘latar belakang’ tokoh yang akan diperankan. Apakah status mereka?  Berapa usianya?, Bagaimana ciri fisiknya, bungkuk, tegap, atau lemah. Apa hubungannya dengan tokoh yang lain. Berkedudukan sebagai apa dalam lakon tersebut, antagonis, protagonis, pembantu, atau sekedar comeo saja. Dan masih banyak selaki pertanyaan yang harus digali terkait dengan persiapan seorang actor.&lt;br /&gt;Selain bermodal hal-hal yang fisik, dan teknis, seperti kelenturan tubuh, vocal yang baik, pernapasan, juga seorang actor harus bermodal hal-hal yang tidak berbahu teknis dan fisik tersebut. Seperti olah sukma, olah rasa, olah panca indra, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Namun hampir seluruh pemain memiliki modal yang pas-pasan, meskipun ada beberapa pemain yang menunjukan kemampuan yang baik. Pemain yang bermodal pas-pasan akan sangat lemah dalam memerankan tokoh yang dibebankan. Hal ini terlihat sekali secara kasat mata. Artinya secara penguasaan tubuh masih banyak pemain yang kurang menguasai. Misalnya bagaimana memainkan gesture dan bisnis untuk memberikan kesan yang lebih detail tokoh yang diperankan. Misalnya tokoh Bilal, sang penagih hutang, bagaimana ia memainkan gesturnya sehingga mengesankan orang yang gagah, angkuh, dan kasar, tetapi menyimpan jiwa yang romantis? &lt;br /&gt;Apakah dengan membuka tangan kekiri dan kekanan lebar-lebar setiap berdialog merupakan penekanan acting, atau tidak tepatnya fungsi gesture atau bisnis? Seorang actor yang sudah bermodal mendalami latar belakang tokoh, pasti akan menakarnya.&lt;br /&gt;Begitu juga, apakah dengan ‘memberatkan’ vocal merupakan upaya identifikasi tokoh (Bilal) yang diperankan? Mengapa seorang Nyonya Marlopo yang punya beban psikis berdialog dengan nada tinggi dan keras? Bagaimana kualitas vocalnya berhubungan dengan status yang disandangnya? Mengapa tokoh Waska, Ranggong, Borok, yang berkostum ala anime (sebutan film animasi Jepang), atau lebih mirip kostum dari dunia antah berantah, dengan potongan rambut mirip ‘mowhak’, menggunakan vocal (dialog) realis. Mengapa karakter vokalnya tidak disesuaikan dengan keadaan fisik tokoh?&lt;br /&gt;Vokal tidak hanya alat untuk menyampaikan pesan dari naskah yang diucapkan sang actor. Tetapi kalau mau digali lebih jauh, vocal memiliki korelasi dengan beban batin, status social, kondisi fisik, dan lain sebagainya. Vokal juga menunjukan ciri-ciri umum seseorang, misalnya vocal tua, muda, remaja, dan anak-anak. Karena itu memfungsikan vocal harus disesuakan dengan hasil identifikasi peran yang akan dibawakan.&lt;br /&gt;Ini masih soal vocal. Belum lagi, lemahnya pemeran dalam menafsirkan tokoh yang sedang diperankan. Penafsiran memang tidak tunggal.  Bisa bermacam-macam. Buktiknya tokoh Bilal dari Teater Asap berbeda dengan tokoh Bilal dari Teater Jingga. Cara memerankan sangat berbeda, meski masih dalam takaran yang sama, meledak, berintonasi tinggi, temperamental, dan mengidentifikasikan Bilal sebagai tokoh yang jahat.&lt;br /&gt;Perbedaan yang sangat mencolok hanya terletak pada pemeran pembantu. Dari teater Asap lebih berkarakter pembantu apada umumnya (Jawa) dengan ciri, membawa sapu, sulak, dan serbet kecil di pundak (stereotip pembantu pertunjukan lodruk dan Srimulat). Sementara dari Teater Jingga mengesankan pembantu golongan menengah (Barat), dengan ciri berseragam, mengenakan rompi, dan punya hubungan yang setara dengan majikannya.&lt;br /&gt;Penafsiran memang tidak harus mendekati kebenaran. Penafsir yang baik, ia mampu bersinggungan dengan tafsiran-tafsiran yang lain, sehingga tokoh yang diperankan seolah-olah hidup meski kwalitasnya berbeda-beda. &lt;br /&gt;Mengapa Teater Pandhan Room ‘gagal’. Karena actor gagal menafsirkan tokoh yang diperankan sehingga gagal juga meyakinkan penonton. Kegagalan Pandhan Room, juga akibat dari tidak berfungsinya hal-hal teknis lainnya, seperti penguasaan bloking, moving,  gesture, bisnis, vocal, dan lainnya. Kegagalan penguasaan teknis ini menyebabkan kakunya pertunjukan. Bahkan interaksi antar pemain juga terkesan ‘malu-malu.’ Pola bloking yang tidak teratur (baku), mengakibatkan pemain terus moving (bergerak) tanpa ada motif apapun.&lt;br /&gt;Namun memang ada pemain yang mampu memerankan tokoh dengan baik. Sebut saja, tokoh pembantu dan Nyonya Marlopo (Teater Asap), Tokoh Bilal dari (Teater Jingga), Tokoh Pinokio, Wanita/Ibu/Orang Gila, Tuan George (Teater Angin), Waska, Borok, Ranggong, (The Nine Theatrevision). &lt;br /&gt;Pemain ini mampu menghidupkan permainan sesuai dengan takarannya. Mereka rata-rata sudah menguasai hal-hal teknis seperti vocal, gesture dan bisnis yang fungsional, dan bisa menghayati tokoh yang diperankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah Artistik &lt;br /&gt;1. Setting dan lighting &lt;br /&gt;Ibarat keluarga, rata-rata, kelompok teater gagal membangun rumah, sebelum mereka berinteraksi. Padahal di dalam rumah inilah interaksi antar anggota keluarga terjadi. akibat gagal membangun rumah untuk tempat interaksi, maka keluarga itu juga gagal membina keluarga dengan baik.&lt;br /&gt;Ini kalau kita ibaratkan, panggung sebagai rumah, maka kebanyakan kelompok teater gagal membangun rumah, atau tempat berinteraksi itu. Kegagalan itu terletak pada kelemahan dalam menata benda-benda (setting) sehingga membentuk ruang (rumah) sebagai tempat kejadian yang dimaksudkan dalam naskah. &lt;br /&gt;Kegagalan mengkomposisikan benda-benda dalam ruang itu mengakibatkan ruang interaksi tidak memberikan makna apapun bagi pertunjukan. Hal ini terlihat, hampir semua kelompok lebih mementingkan terjadinya peristiwa. Pertanyaannya bagaimana peristiwa itu bisa terjadi tanpa ada tempat, ruang, dan waktu?&lt;br /&gt;Memang setting tidak harus berupa benda-benda. Bisa saja kita mengidentifikasi tempat peristiwa itu dari teks naskah dan dialog pemain. Tetapi setting sebagai bagian peristiwa terkadang sangat dibutuhkan. Misalnya, setting dalam pertunjukan Orang Kasar. Keduanya kelompok teater, megesankan peristiwa terjadi di ruang tamu. Mengapa tidak di beranda atau teras rumah. &lt;br /&gt;Tentu, keduanya kelompok teater ini mempunyai alas an tertentu dalam menempatkan peristiwa itu di dalam ruang tamu, ruang tengah, dekat kamar rias. Tetapi yang terpenting peletakan peristiwa ini harus didukung dengan property, warna, kualitas bahan, komposisi, ukuran yang seimbang.&lt;br /&gt;Misalnya dari Teater Asap. Dalam ruangan itu cenderung memakai warna gelap (cokelat dan hitam) seperti, kursi, dinding, lukisan, tempat rias, bahkan kostum hitam sebagai tanda berkabung. Hanya bunga yang berwarna kuning. &lt;br /&gt;Dengan komposisi seperti ini, ruang menjadi terasa berat dan menekan. Apalagi, dinding dibuat cukup pendek (setengah dari dinding backstage) sementara penataan jarak property satu dengan yang lainnya sangat rapat, mengakibatkan gerak pemain terbatas. &lt;br /&gt;Yang mempersempit lagi, komposisi ruang ditata center (terfokus di titik tengah stage) mengakibatkan prespektif  panggung juga menjadi sempit. Padahal stage sangat luas 10 X 12 m.&lt;br /&gt;Akibat dari komposisi semacam ini, setting hampir-hampir tidak berfungsi, karena selalu ada di belakang pemain. Hal ini juga terjadi pada Teater Jingga. Meski Teater Jingga lebih minim dalam penggunaan setting, namun penataan kursi yang center, mengakibatkan hal yang sama. Setting dan property tidak berfungsi maksimal.&lt;br /&gt;Teater Angin, hanya menata lavel di back stage, dan dua property di sisi kanan kiri panggung. Lavel belakang digunakan untuk menonjolkan beberapa pemain yang diibaratkan sebagai setting patung. Namun sitting yang simbolik ini kurang mendukung dengan peristiwa yang terjadi. karena pada dasarnya peristiwa yang terjadi bukan peristiwa absurd, tetapi realis. Jadi mengapa tidak menggunakan seting realis? Penataan level dibelakangpun akhirnya juga tidak berfungsi maksimal, karena hanya digunukan beberapa kali saja.&lt;br /&gt;Teater Pandhan Room malah gagal membangun setting. Setting yang minimalis dengan komposisi warna dan kwalitas bahan yang kurang baik, mengakibatkan ruang pertunjukan menjadi hampa. Padahal didalamnya terjadi pergulatan, perdebatan ideologis antara pemain satu dengan pemain lainnya. Hal ini diperparah juga tidak mampunya pemain menciptakan ruang permainannya sendiri. &lt;br /&gt;Setting panggung yang menarik ada pada kelompok The Nine Theatrevision. Kelompok ini berhasil menciptakan rumahnya sendiri sebagai tempat berinteraksi, tempat berlangsungnya peristiwa. Apa yang terjadi dalam naskah terwadahi dalam rumah/ruang yang tepat. &lt;br /&gt;Komposisi warna memberikan kesan waktu yang sudah purba. Aksen diagonal di atas stage, memperkuat harmonisasi ruang. Demikian juga tumpukan-tumpukan reruntuhan menggambarkan tempat yang sudah porak poranda (fana) akibat perang. &lt;br /&gt;Lighting satu bagian dari artisitik panggung juga kurang mampu difungsikan secara maksimal. Bahkan banyak kelompok yang kurang tahu fungsi lighting. Akibatnya lighting hanya sekedar menjadi penerang. &lt;br /&gt;Hanya The Nine Theatrevision yang sedikit memfungsikan lighting tidak hanya sebagai penerang, tetapi juga difungsikan sebagai pembentuk ruang, dan pemanis suasana. Pada kelompok ini bisa memfungsikan lighting sesuai waktu yang dibutuhkan. &lt;br /&gt;Tidak berfungsinya lighting secara maksimal mengakibatkan ruang menjadi flat (menempel) atau tidak bervolume. Frontlight (lampu depan) sering tidak didukung dengang lampu wing, dan juga backlight. Akibatnya ruang permainan tidak memiliki volime alias flat (seperti gambar tampak depan). &lt;br /&gt;Untuk masalah lighting ini tidak bisa dikomentari banyak karena banyak kelompok yang tidak memiliki peralatan yang dimaksud di atas. Minimnya peralatan ini menjadi kendala utama sebuah kelompok mendesain tata lampu. Atau jangan-jangan lighting tidak dipikirkan dan hanya terfokus pada pemeranan. &lt;br /&gt;Sekali lagi ibarat keluarga, rumah dan segala kebutuhannya adalam tempa utama untuk berinteraksi antar anggota keluarga. Harmonisasi hubungan mereka tergantung bagaimana mereka mempersiapkan tempat hidupnya. Kebaikan pertunjukan ternyata juga bergantung dengan setting (tempat, ruang, waktu) yang sudah dipersiapkan sebelumnya dengan baik. &lt;br /&gt;2. Musik&lt;br /&gt;Masalah musik ini ada yang menanyakan. Dari kelompok Teater Asap menayakan apa perbedaan antara musik live (ada player) dengan musik record (kaset, cd, digital computer)? Apa pengaruhnya terhadap pertunjukan?&lt;br /&gt;Untuk menjawab ini bisa kita lihat anatar penampilan Teater Asap dan Teater Jingga. Teater Asap menggunakan musik live sementara Teater Jingga menggunakan musik record digital computer. Namun bisa dirasakan hasilnya sangat berbeda jauh.&lt;br /&gt;Perbedaannya terletak dimana? Mas Antok Agusta yang kebetulan paham tentag musik menerangkan, perbedaan itu terletak pada kesesuain emosi. Dengan menggunakan musik live takaran emosi akan mampu beradaptasi dengan peristiwa yang sedang diiringi. Sementara musik record tidak mampu. Iringan ini cenderung mekanis karena sudah deprogram dan tidak mampu menyesuaikan dengan kadar emosi yang terjadi di atas panggung.&lt;br /&gt;Karena itu Mas Antok mengingatkan, musik live lebih memiliki kelebihan daripada musik record. Antok juga mempertegas fungsi musik teater. Ia berdiri sebagai musik illustrasi, bukan sebagai musik pengiring seperti dalam pertunjukan tari.&lt;br /&gt;Musik teater memberikan kesan dan memperkuat suasana. Karena itu kehadiran musik teater hanya pada bagian-bagian tertentu sesuai dengan kebutuhannya. Seperti musik opening (awal pertunjukan), musik slas (mempertegas gesture atau gerak-gerak tajam lain seperti memukul, menendang, menampar, dll), musik illustrasi untuk mempertegas suasana sedih,  marah, gembira, romantis, atau suasana lain, musik clousing (penutup adegan).&lt;br /&gt;Teater Asap, Teater Angin, The Nine Theatrevision, mampu memfungsikan peran musik untuk mendukung pertunjukannya. Ketiga kelompok ini berhasil menciptakan musik illustrasi yang baik. Hanya saja, persoalan irama, intensitas, dan pilihan bunyi/alat masih menjadi persoalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Waduh asyik juga membicarakan teater remaja. Saking asyiknya sampai tidak bisa direm, karena masih banyak hal yang perlu disampaikan. Tetapi beberapa persoalan di atas sudah cukup memberikan masukan yang berharga pada pertemuan hari pertama Jambore Teater Remaja 2008. Semoga bermanfaat! Selamat berlatih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, Agustus 2008&lt;br /&gt;R Giryadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5346587717956970287-3013198620931140671?l=teaterapakah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teaterapakah.blogspot.com/feeds/3013198620931140671/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5346587717956970287&amp;postID=3013198620931140671' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/3013198620931140671'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/3013198620931140671'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teaterapakah.blogspot.com/2008/09/dari-orang-kasar-sampai-cari-mati.html' title='Dari Orang Kasar sampai Cari Mati'/><author><name>teaterapakah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14504659433822587521</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R4KW9fwvaJI/AAAAAAAAAAM/4MNOEFdRZSc/S220/giryadi+oke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_FSIlZWBXgNY/SMX5e-XjYkI/AAAAAAAAAGk/SKQGzZy3nJI/s72-c/teater+remaja+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5346587717956970287.post-2354900978972222410</id><published>2008-09-08T20:48:00.000-07:00</published><updated>2008-09-08T21:00:01.939-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai teater'/><title type='text'>Problematik Teater Remaja (SMA)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_FSIlZWBXgNY/SMX0V_u4s3I/AAAAAAAAAGM/l_9k6nKzMec/s1600-h/teater+remaja.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_FSIlZWBXgNY/SMX0V_u4s3I/AAAAAAAAAGM/l_9k6nKzMec/s320/teater+remaja.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5243865999865328498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;(Dialog Jambore Teater Remaja 2008)&lt;br /&gt;Pendopo TBJT, 2 Agustus 2008&lt;br /&gt;Pemateri :&lt;br /&gt;Eko ‘Ompong’ Santoso (Yogjakarta)&lt;br /&gt;AGS Arya Dwipayana (Jakarta).&lt;br /&gt;Pemandu :&lt;br /&gt;R Giryadi (Surabaya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendala Aktualisasi&lt;br /&gt;Kendala utama yang banyak ditanyakan dalam forum dialog oleh para peserta Jambore Teater Remaja 2008, adalah sulitnya mengaktualisasi diri. Aktualisasi diri ini disebabkan kesalahan persepsi orang tua terhadap kegiatan teater. Rata-rata orang tua menganggap kegiatan teater tidak bermanfaat. &lt;br /&gt;Hal ini seperti diungkapkan peserta dari Teater Lab 56 SMAN 1 Kalisat Jember. Dikatakannya bahwa problem utama berteater adalah tidak adanya kepercayaan orang tua terhadap kegiatan ini. Padahal menurutnya teater banyak manfaatnya. “Saya kesulitan mendapatkan ijin dari orang tua. Bagaimana bisa menjelaskannya?” katanya,&lt;br /&gt;Dipihak lain ada juga yang menanyakan manfaat teater. Penanya dari teater Hitam Putih SMAN 1 Tuban ini lebih detail ingin menanyakan manfaat teater. “Kata Pembina saaya teater itu manfaatnya sangat luas. Apa yang dimaksud dengan luas?” tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mendapat dua pertanyaan itu, dua narasumber secara bergantian memberikan ilustrasi tentang manfaat teater dan mengapa teater selalu disalah artikan oleh orang tua. Eko Ompong Santoso memaparkan, bahwa semua kegiatan yang dilakukan pada dasarnya bermanfaat, asal semua dilakukan secara bersungguh-sungguh. Karena pada dasarnya berteater itu juga belajar memahami kehidupan. “Segala sesuatu yang kita lakoni dalam hidup ini bisa direfleksikan dalam teater,” kata Eko.&lt;br /&gt;Lebih lanjut Eko Ompong memaparkan, bahwa sebenarnya teater merupakan bentuk terkecil dari kehidupan. Berteater pada dasarnya mencontoh segala hal yang terjadi dalam kehidupan. Kalau ada perbedaan persepsi dengan orang tua, Eko menyarankan hal tersebut jangan dijadikan beban tatapi sebagai tantangan.&lt;br /&gt;Sementara itu, AGS Arya Dwipayana atau yang biasa disapa Mas Aji ini mempertegas pernyataan Eko Ompong. Menurutnya, tujuan teater tidak hanya sekedar panggung atau pentas saja. kalau orientasinya ke panggung, makna teater menjadi sempit. Teater terkait dengan proses yang sangat panjang.  “Teater merupakan tempat untuk berlatih bermasyarakat dalam bentuk yang paling sederhana,” tegas Mas Aji.&lt;br /&gt;Dipaparkannya, bahwa berteater itu didalamnya terdapat pelajaran bekerjasama, menghormati orang lain, tanggungjawab, disiplin, dan lain sebagainya. Drama atau teater juga bisa untuk dimanfaatkan untuk pembangunan karakter. Karena didalam teater juga dipelajari tentang olah rasa. Dia menconto beberpa sekolah di luar negeri mewajibkan pelajaran drama. Hal ini terkait dengan pembangunan karakter siswa. “Jadi kalau berbicara manfaat, manfaatnya sangat banyak,” kata Mas Aji.&lt;br /&gt;Namun Mas Aji, memaklumi kalau banyak orang tua yang kurang memberikan perhatian pada kegiatan teater. Hal ini disebabkan pemerintah sendiri tidak mempunyai goodwill tentang kebudayaan. Menurutnya pembangunan bangsa hanya melalui pendekatan ekonomi. “Hampir-hampir semua pembangunan diorientasikan pada ekonomi,” katanya.&lt;br /&gt;Tak salah kalau akhirnya banyak orang tua yang cari selamat. Mereka banyak mengarahkan anaknya untuk berkegiatan yang punya nilai ekonomi.  karena itu untuk meyakinkan orang tua, Aji menyarankan agar para siswa giat berlatih, untuk membuktikan bahwa berteater juga ada manfaatnya. “Anggap saja larangan orang tua sebagai bagian dari proses berteater,” tegasnya.&lt;br /&gt;Problim Teknis&lt;br /&gt;Pertanyaan yang tidakkalah menariknya adalah tentang seluk beluk teater. Seluk beluk teater ini banyak ditanyakan oleh peserta dialog. Yang pertama ada yang menanyakan tentang perbedaan antar teater dan drama. Kedua ada juga yang menanyakan bagaimana cara berakting yang baik dan ketiga bagaimana metode menyutradarai yang baik.&lt;br /&gt;Pertanyaan pertama disampaikan oleh peserta dari Teater Angin SMAN 2 Tuban. Dia mengaku masih bigung membedakan antara teater dan drama. Menurutnya selama ini dirinya tidak bisa membedakan apa yang dimaksud drama maupun teater.&lt;br /&gt;Pertanyaan kedua disampaikan oleh peserta dari Teater Pandhan Room dari SMAN 2 Bangkalan dan juga dari teater Angin SMAN 2 Tuban. Kedua penanya ini mempertanyakan bagaimana tekni berakting yang baik. Penannya dari Teater Angin Tuban mengatakan, kalau dirinya sering terbawa dengan karekater yang pernah diperankan. Ia mencontohkan, pada penampilan pertama ia memerankan tokoh berkarakter garang seperti penjahat. Pada penampilan ke dua ia memerankan orang yang alaim. “Tetapi kendalanya saya sering terbawa dengan karakter peran saya yang pertama,” katanya.&lt;br /&gt;Sementara penanya ketiga menanyakan tentang pendekatan penyutradaraan. Peserta dari SMAN 1 Papar, Kediri ini mengaku terkendala memilih pendekatan penyutradaraan. Menurutnya dengan metode otoriter (ditakor) ada kelemahanya, begitu juga dengan pendekatan (demokratis) juga punya kelemahan. “Kalau ditaktor, siswa cenderung melawan. Sementara kalau demokratis tidak akan memenuhi target,” katanya.&lt;br /&gt;Mendapat pertanyaan ini Mas Aji tidak menjawab banyak, mengingat waktu yang sangat terbatas. Mas Aji mengatakan masalah perbedaan teater dan drama akan dijawab secara akademis oleh Eko Ompong Santoso. Tetapi dia memaparkan, pada dasarnya Indonesia punya sejarah yang panjang tentang pemahaman teater. Dia mengilustrasikan, kata teater tidak popular bagi sebagian orang misalnya orang betawi. Mereka menyebutnya Tonil. Hal ini menurut mas Aji karena factor sejarah. Di betawa misalnya menyebut tonil, karena dulu kebudayaan yang dibawa oleh penjajah Belanda disebut tonil, oleh Suryadi Suryadiningrat (KI Hajar Dewantara) disebut sandiwara. “Orang betawi tidak mengerti teater, tetapi tonil,” katanya.&lt;br /&gt;Sutradara teater tetas ini menegaskan, kalau teater pasti berhubungan dengan panggung. Segala sesuatu yang dipentaskan di atas panggung disebut teater. Apakah disana ada konfliknya atau tidak, selama dipentaskan dalam panggung pertunjukan dinamakan teater. “Arti teater pada dasarya gedung pertunjukan,” katanya.&lt;br /&gt;Sementara Eko Ompong lebih mempertegas pernyataan dari Mas Aji. Menurutnya drama berkaitan dengan sastra. Yang dimaksud drama adalah naskah lakon. Selum dipertontonkan naskah itu disebut drama (karya sastra). Kalau sudah dipertontonkan dinamakan teater. &lt;br /&gt;Drama berkaitan dengan penulisan dan analisis naskah, seperti didalamnya ada konflik, latar (setting), penolohan, plot, alur, dan tema. Karena drama juga disebut cerita tentang kehidupan. “Kalau naskah itu kemudian dipentaskan dinamakan teater,” katanya.&lt;br /&gt;Sementara itu menjawab pertanyaan lainnya, seperti bagaimana berakting yang baik dan bagaimana menyutradarai yang baik, Eko menegaskan hal itu tidak bisa dijawab sebelum ada pertanyaan apa? “Pertanyaan bagaimana hanya bisa dijawab kalau anda tahu dulu ‘Apa’?” kata Eko, bertanya balik.&lt;br /&gt;Dipaparkan Eko, untuk mengetahui berakting yang baik, pertanyaannya bukan bagaimana, tetapi apa. Apa yang ada dalam naskah tersebut, apa tokoh, apa karakter, dan apa yang lainnya. “Kalau tidak tahu apa, tidak bisa menjawab bagaimana,” katanya.&lt;br /&gt;Begitu juga dalam menyutradarai tidak bagaimananya yang ditanyakan, apa itu sutradara, baru bagaimana menyutradarai,, Seorang sutradara harus tahu apa itu sutradara berikut tugas dan fungsinya. Kalau pertanyaan ini tidak bisa terjawab, maka tidak mungkin seseorang bisa menyutradarai dengan baik. &lt;br /&gt;“Jangan menjadi generasi ‘bagaimana’ atau piye. Tetapi jadilah generasi apa,” tegasnya.&lt;br /&gt;Saran-Saran&lt;br /&gt;Selain pertanyaan tersebut di atas, juga ada saran-saran yang disampaikan oleh Pembina teater di SMA. Saran petama hadir dari Harwi Mardianto, guru tetar dari SMKN 9 Surabaya. Ia menyarankan agar kegiatan jambore dimanfaatkan seoptimal mungkin, terutama untuk menjalin komunikasi. &lt;br /&gt;Menurut Harwi, para peserta sebaiknya saling saring kepada peserta yang lain sehingga tahu kelebihan dan kelemahan masing-masing sekolah. “Orang teater harus kreatif. Jangan malas, orang teater tidak malas,” katanya.&lt;br /&gt;Sementara dari Pembina SMAN 1 Papar, Kediri, menyarankan agar Taman Budaya Jawa Timur juga mengadakan festival teater remaja di daerah-daerah. Menurutnya agar panitia tahu persoalan teater di daerah yang sebenarnya. Begitu juga ia menyarankan agar panitia juga mengadalan pelatihan bagi pembina teater di daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, Agustus 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5346587717956970287-2354900978972222410?l=teaterapakah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teaterapakah.blogspot.com/feeds/2354900978972222410/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5346587717956970287&amp;postID=2354900978972222410' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/2354900978972222410'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/2354900978972222410'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teaterapakah.blogspot.com/2008/09/problematik-teater-remaja-sma.html' title='Problematik Teater Remaja (SMA)'/><author><name>teaterapakah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14504659433822587521</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R4KW9fwvaJI/AAAAAAAAAAM/4MNOEFdRZSc/S220/giryadi+oke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_FSIlZWBXgNY/SMX0V_u4s3I/AAAAAAAAAGM/l_9k6nKzMec/s72-c/teater+remaja.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5346587717956970287.post-5615821673270623383</id><published>2008-09-07T20:14:00.003-07:00</published><updated>2008-09-07T20:19:15.402-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='naskah teater'/><title type='text'>SEBELUM DEWA-DEWI TIDUR</title><content type='html'>Oleh : R Giryadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan : naskah ini pernah diikutkan lomba naskah teater (bukan drama?) remaja Taman Budaya Jawa Timur 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEWI MASUK DENGAN WAJAH DITEKUK. IA MELEMPARKAN TUBUHNYA DI TEMPAT TIDUR. IA MENGGELEPAR SEPERTI IKAN DALAM KULKAS. DEWI MENGHIDUPKAN TV. DARI LUAR TERDENGAR SUARA IBU, MENGOMEL. ENTAH APA YANG DIOMELKAN. DEWI MENUTUP KUPING DENGAN BANTAL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TETAPI SUARA IBU MALAH SEMAKIN KERAS. IBU BERBICARA DENGAN PENGERAS SUARA. DEWI SEMBUNYI DI KOLONG TEMPAT TIDUR. SUARA IBU MALAH SEMAKIN MENEROR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIBA-TIBA TERDENGAR PINTU DI KETUK. DEWI BERGEMING. KETUKAN SEMAKIN KERAS. SEIRING DENGAN SUARA KETUKAN, HP DEWI BERBUNYI. &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. DEWI &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Mengangkat HP) Dewa, kenapa kamu telpon  malam-malam. Ibuku sedang marah besar! (Pause) Tidak bisa tidur? Aku juga nggak bisa tidur. Pintuku digedor-gedor Ibu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. IBU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dari speaker yang dipasang dekat pintu kamar suara ibu terdengar keras) Dewi! Apakah kamu tidak dengar ibumu berbicara. Hari ini kamu sudah membaca koran atau belum! Kalau sudah halaman berapa? Apakah halaman satu yang hanya melulu berbicara politik. Seolah-olah negeri ini hanya urusan politik yang paling penting. Atau kamu hanya membolak-baliknya, kemudian mencampakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu sudah baca belum! Kalau sudah halaman berapa? Apakah halaman hiburan, yang hanya menyajikan gosip, gosip, dan gosip, seakan-akan artis-artis itu tidak punya harga diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halaman berapa? Apakah kamu membaca halaman olah raga, yang hanya menyajikan tawuran supporter dan pemain. Sungguh keterlaluan negeri ini. Tidak ada yang layak dikonsumsi. Jadi kamu tadi baca halaman berapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ibu menggedor pintu). Dewi, apakah kamu tidak punya telinga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Punya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. IBU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu jawab pertanyaan ibu? (Pause) Apakah kamu tidak punya mulut!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Punya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. IBU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kenapa kamu tidak menjawabnya. Buka pintunya! (Ibu menggedor pintu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak mengerti pertanyaan Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. IBU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa? Jadi aku berbicara panjang lebar itu kamu tidak mengerti. Lalu kamu punya otak atau tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Punya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. IBU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu mengapa kamu tidak mengerti!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara Ibu terlalu keras. Kamar ini menjadi bising sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. IBU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dari speaker) Kalau begitu keluarlah. Ibu mau bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak penting besuk saja. Aku akan tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. IBU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dari speaker) Ini sangat penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentingnya Ibu tidak sama dengan kepentingan aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. IBU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Mendobrak pintu) Anak durhaka! Jadi seperti ini anak muda sekarang. Tidak ada salahnya kalau koran-koran memberitakan seperti ini. Baca ini! (Melempar koran, tabloid, dan majalah ke Dewi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEWI MEMBACA KORAN. TIBA-TIBA SUARA SIRINE MERAUNG-RAUNG. GEROMBOLAN PETUGAS KEAMANAN SEDANG MELAKUKAN RASIA. ANAK-ANAK PEREMPUAN SEUSIA DEWI BERLARIAN.  ANAK-ANAK ITU AKHIRNYA TERPERANGKAP JARING PETUGAS. KEMUDIAN DIINTROGRASI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lighting fade out-fade in&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. PETUGAS GENDUT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalian semua ditangkap karena telah melanggar jam belajar. Sudah jam segini keluyuran, apa tidak belajar kalian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. KOOR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bekerja, Pak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19. PETUGAS GENDUT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekerja kok malam-malam?. Kamu bekerja apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20. KOOR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi ‘ayam abu-abu.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21. PETUGAS GENDUT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kamu jualan ayam. Mana ayamnya? Di sini dilarang jualan. Kamu tahu tidak larangan itu. (Menunjuk tanda larangan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22. REMAJA 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tidak peduli larangan. Jangankan larangan itu, larangan agama saja sudah kami terabas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23. PETUGAS GENDUT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Larangan agama? Apa ayamu hasil curian? (Tidak ada jawaban) Berformalin atau terkena flue burung? Kalau terkena flue burung harus dimusnahkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24. REMAJA 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak Pak, ayam saya sehat walafiat. Bahkan masih kinyis-kinyis. Dagangan ini yang disukai, Om-Om…Kalau tidak percaya silahkan dicoba…(Merayu petugas). Short time Rp. 500 ribu, long time Rp. 1 juta. Any time, how much? Sejuta, dua juta…tak terhingga…(Tertawa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25. PETUGAS GENDUT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waduh mahal amat. Ayam jenis apa yang kamu jual?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26. REMAJA 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asli ayam dalam negeri, anti flue burung. Karena kami sudah menyediakan ini….(Menunjukan bungkusan kondom).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27. PETUGAS GENDUT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sontoloyo! Jadi ayamu kamu beri makan kondom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28. REMAJA 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dikasih kondom…’burungnya’ Om… (Tertawa malu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29. PETUGAS GENDUT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waduh (Menutup burung) Baru mudheng saya! Jadi kamu melacur!? Usiamu berapa? Rumahmu di mana? Sekolahmu di mana? Apa kamu tidak berusia. Tidak punya rumah dan sekolah. Jadi kalian besar belum waktunya? Kalian gembel yang tidak bersekolah. Remaja macam apa kamu ini?. Seusia kamu semestinya belajar. Kok malah kalayapan. Jadi kamu memang melacur?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan! Alasan, kalau faktor ekonomi itu tidak masuk akal. Kamu yang masih muda dan punya keahlian, seharusnya bisa bekerja. Ya, bekerja apa saja. Pokoknya jangan menjual diri. Ini sungguh keterlaluan. Apakah sekolahmu tidak mengajari tentang ketrampilan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu, sekolah memang tidak mengajarkan ketrampilan. Tetapi sekolah memberikan ilmu. Dengan ilmu diharap kalian ini semua bisa memanfaatkan ilmu sehingga terampil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kalian kan punya keluarga. Apakah keluargamu tidak mendidik. Tidak memperhatikan kalian yang terlahir sebagai anak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(ANAK-ANAK MENUNDUK. KEMUDIAN MENANGIS PERSAMA-SAMA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa? Kalian memang sengaja dibuang oleh orang tua. Sungguh teganya orang tua kalian. Ini tidak benar. Tidak ada orang tua yang tega mentelantarkan anak-anaknya. Kalian saja yang bandel dan keras kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30. KOOR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya! Kami memang bandel dan keras kepala. Tetapi orang orang tua lebih buuuuuaaannnndeeeellllll dan kuuuuuueraaaasssss keeeeepppppaaaalllaa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31. PETUGAS GENDUT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar anak nakal! Petugas, seret mereka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PETUGAS MENYERET JARING. BEBERAPA WARTAWAN TV MENGABADIKAN PERISTIWA ITU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;32. WARTAWAN TV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemirsa TV Sensasi, dilaporkan dari jalan raya, telah terjadi penangkapan besar-besaran beberapa pelajar yang sedang berjualan. Menurut petugas, para pelajar tersebut sedang menjajakan ayam. Kata petugas pula, karena melanggar aturan larangan berjualan di tempat ini, para remaja yang masih duduk di bangku SMA ini dijaring. Pengamatan di lapangan, para pelajar memang terjaring dengan jaring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEDAGANG AYAM KELILING ON STAGE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemirsa, di samping saya ada seorang pedagang ayam keliling yang akan menjajakan dagangannya. Saya akan mewawancarai ibu yang setiap jelang subuh menjual ayam keliling. Ibu, tadi anak-anak yang jualan ayam ditangkap, tetapi ibu kok tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;33. PENJUAL AYAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak tahu, mungkin ayamnya lain. Atau mungkin karena saya sudah terlalu tua…. (Berlalu sambil diikuti cameramen. Out stage)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;34. WARTAWAN TV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemirsa, kata ibu tadi, dia tidak ditangkap karena sudah terlalu tua. Kami berharap, kalian yang masih muda tidak menjual ayam agar tidak ditangkap petugas. Demikian dilaporkan dari TKP, saya….. lo, mana cameramen saya…! (Ngacir. Out stage)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lighting break out—break in&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI KAMAR DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;35. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memuakan! Berita TV dan koran tidak ada bedanya….(Melempar koran)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;36. IBU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu memang anak keras kepala. Disuruh baca malah mencampakan koran. Apa kamu tidak peduli dengan Ibumu yang sudah melahirkanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;37. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berguna. Lagian, itu kan hanya berita. Kenapa harus dipusingi. Teman-teman aku semua baik. Mereka anak-anak yang pintar. Mereka anak-anak orang kaya. Ngapain harus dirisaukan dengan berita-berita itu. Berita kan hanya cari sensasi agar dibaca orang. Coba kalau yang dimuat anak-anak ‘ibu’ seperti aku yang setiap hari kerjaannya hanya di rumah seperti putri raja yang dipingit, menunggu sang pangeran datang. Ndak akan terjadi. Ini kan normal-normal saja. Tidak ada sensasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;38. IBU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O….jadi kamu mengira Ibu, telah memingitmu. Telah merampas hak-hakmu sebagai anak. Apa kamu tidak melihat di halaman berikutnya. Apa kamu tidak membaca di halaman tiga koran itu. Coba baca! Baca…..! (Mengambil koran dan melemparkan ke Dewi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;39. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah tahu. Itu kan gara-gara orang tua salah didik. Seharusnya itu Ibu yang membacanya. Mereka menjadi geng, karena di rumah tidak ada yang mau diajak bicara. Di rumah hanya dijadikan obyek. Mereka di sana bebas. Mereka memang anak orang-orang kaya. Tetapi hanya kaya materi. Tidak kaya cinta. Seperti Ibu dan Bapak yang egois.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;40. IBU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O..ooo..jadi kamu kira, Ibu marah-marah ini karena tidak cinta kamu. Ibu dan Bapakmu kerja siang malam itu bukan cinta kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TERDENGAR PINTU DIKETUK KERAS. SUARA BAPAK MEMANGGIL-MANGGIL. SUARANYA SANGAT KERAS. LEBIH KERAS DARI SUARA IBU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;41. BAPAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu! Aku datang! Kenapa sudah jam sembilan lebih pintu rumah belum dikunci. Lampu tidak dimatikan. Rumah berantakan tidak karuan. Apa dikira, negeri ini aman. Apa dikira tidak ada penjahat yang mengincar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuuuuuu……! Apa kamu tidak mendengar suaraku. Siapkan handuk dan air hangat. Bapak mau mandi. Jangan lupa teh hangatnya sekalian di letakan di dekat meja baca. Bapak belum baca koran hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IBU KELUAR DARI KAMAR DEWI. DEWI MENGHEMPASKAN TUBUHNYA KE TEMPAT TIDUR. IA MEMENCET CENEL TELEVISI MENCARI ACARA KESAYANGAN, SINETRON.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI TEMPAT LAIN BAPAK BERKACAK PINGGANG DENGAN ANGKUH. IBU MENUNDUK. BAPAK TERLIHAT MEMARAHI IBU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;42. BAPAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemana saja, jam segini rumah tidak terkunci? Listrik depan tidak dihidupkan. Rumah berantakan. Apa dikira aku diluaran hanya main-main? Kemana Dewi? Apakah dia tadi sekolah atau malah keluyuran di mal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang dia sedang apa? Belajar atau malah nonton sinetron cengeng, tidak mendidik, dan hanya menumbuhkan sikap manja pada anak-anak? Suruh dia mematikan TV, kalau TV tidak mendidiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEWI MENANGIS MELIHAT SINETRON YANG MENGHARUKAN. TIBA-TIBA, TERDENGAR SUARA BAPAK MENGGELEGAR DARI SPEAKER. DEWI MENGERASKAN SUARA TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;43. BAPAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi, Bapak tau, kalau jarang sekali bertemu denganmu. Tetapi Ibumu telah menjagamu, agar kamu tidak terpengaruh dunia luar. Sebagai remaja kamu harus tahu mana yang baik dan yang buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kamu sedang ngapain. (Pause) Apa nonton sinetron? Apa tidak ada acara yang lebih baik. Coba cari cenel yang lain? Cari yang agak bermutu. Cari, terus cari….masak tidak ada. Carilah, mungkin kamu belum menemukan. Ada berapa cenel TV di negeri ini kok tidak ada yang menyajikan acara yang mendidik anak remaja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua hanya sinetron, infotainment, berita-berita politik, bincang-bincang politik, parodi politik. Iklan politik. Politikus malah mirip bintang sinetron. Iklan, iklan, dan iklan. Hanya janji-janji dan pamer gaya hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak ada matikan saja. Cari hiburan yang lain saja. Atau lebih baik kamu belajar. Belajar. Belajarlah dengan baik, Bapak payah sekali, seharian bekerja. Huaaaah…! (Ia menguap. Kemudian terlelap. Ibu menutupnya dengan selimut, kemudian meninggalkannya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI KAMAR DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;44. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Berjingkrak). Yes! Akhirnya KO sendiri. ‘Aku melangkah lagi, lewat jalan yang sunyi. Mengikuti alun melodi…hasrat kini terungkap lewat kata-kata yang terucap. Aku.. melangkah lagi dengan pasti.’ (1) Waduh jadul (jaman dulu) sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yes! Merdeka, merdeka! ‘Aku, kalau sampai waktuku, kumau tak seorang kan merayu. Tidak juga kau. Aku ini binatang jalang, dari kumpulan yang terbuang…’ (2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lighting fade out-fade in biru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI TEMPAT LAIN DEWA BERLATAR CAHAYA BULAN SEDANG MEMAINKAN GITAR, MENYANYIKAN LAGU CINTA. DEWI MEMBUKA JENDELA, MEMANDANGI DEWA SEPERTI PANGERAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;45. DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Kau begitu sempurna…di mataku kau ada cinta….’ (3) Hai permaisuriku, kenapa engkau tampak gundah gulana. Apakah laguku tidak menghiburmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;46. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai…pangeranku, kamu datang pada saat yang tepat. Emang, permaisuri sedang be-te. Habis, Bapa Raja dan Bunda Ratu marah terus. Permaisuri, dipingit di kamar ini. Apakah sang Pangeran bisa menolongnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;47. DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu Permaisuri. Sang Pangeran akan menolong belahan jiwanya. Ulurkan tanganmu, Permaisuri. Kamu akan aku bawa ke bulan. Di sana kita akan bermain-main dengan bintang. ‘Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Seperti api….’ (4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BACKSOUND ‘Kau Tercipta Untukku’ (Ungu) (5). KEDUA REMAJA YANG SEDANG JATUH CINTA ITU MENARI-NARI DI ANTARA BULAN DAN BINTANG-BINTANG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;48. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewa, apakah kamu benar-benar mencintaiku. Apakah ini bukan mimpi. Cubitlah pipiku biar aku percaya ini bukan mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;49. DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malu ah, dilihat orang. Semoga ini bukan mimpi Dewi. Aku lari dari rumah, karena orang tuaku, begitu jahat. Mereka melarang aku ini-itu. Jadinya aku juga be-te. Temani aku Permaisuri. Malam ini kita adalah pasangan Permaisuri dan Pangeran dengan seribu kurcaci yang menjaganya…!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;50. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu begitu sempurna Pangeranku. Akupun ingin bersamu sepanjang waktu, meski cobaan datang menjelang. Dekaplah aku pangeran…..!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BULAN MEREDUP. KARENA AWAN TENGAH MENUTUPINYA. TAK LAMA KEMUDIAN TERDENGAR SUARA GADUH. BEBERAPA WARTAWAN TV MENGHAMPIRI DEWA-DEWI. SUASANA TERANG BENDERANG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;51. WARTAWAN TV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi, kabarnya cinta anda tidak direstui, ortu. Katanya Dewi masih belum cukup umur untuk berpacaran. Apa komentar, Dewi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;52. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sih, jalan terus. Sementara ini kita enjoi aja. Nggak ada masalah dengan ortu aku. Hanya masalah komunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;53. DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita komitmen untuk tidak terburu-buru. Lagian kita masih remaja. Perjalanan masih panjang. Nanti pasti dapat ijin ortu, kalau kita mau bicara baik-baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;54. WARTAWAN TV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabarnya kalian akan dijodohkan oleh ortu masing-masing?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;55. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata siapa? Itu gosip. Ndak bener.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;56. DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu belum pasti. Pokoknya sampai saat ini kita happy aja. Ngak mikirin yang nggak-nggak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIBA-TIBA SPEAKER MENYALAK. TERDENGAR SUARA MEMANGGIL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;57. SUARA BAPAK/IBU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewiiiii! Apakah kamu sudah tidur! Sudah larut malam. Matikan TV. Besuk terlambat bangun. Apa kamu tidak belajar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GEROMBOLAN WARTAWAN TV MEMBUBARKAN DIRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;58. SUARA BAPAK/IBU DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewaaaa! Apakah kamu sudah tidur! Sudah larut malam. Matikan TV mu. Besuk terlambat bangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;59. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kamu tidak mendengar suara ortumu memanggil Dewa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;60. DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya aku mendengarnya. Tetapi sering aku menutupi telingaku. Terkadang suara ortu kita bagai suara dari dalam gelap. Aku terkadang takut mendengarnya. Mereka melihat kita seperti bayang-bayang masa lalunya yang penuh trauma. Suara itu begitu menakutkan. Aku terkadang tak sanggup mendengarnya. Aku takut. Semakin banyak mendengar suara-suara itu, aku semakin takut melangkah. Aku takut Dewi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;61. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kamu rasakan juga aku rasakan Dewa. Tetapi bukankah kita punya hati nurani. Penerang jalan yang paling terang? Dewa kamu harus berani. Tuntunlah aku, kita pasti akan menemukan jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEWA-DEWI BERJALAN JALAN. MEREKA SEPERTI MENYUSURI LABIRIN. SOSOK-SOSOK BESAR SEPERTI BAYANGAN ORANG TUA MEREKA MEMBUNTUTI SEPANJANG PERJALANAN. SUARANYA MENGGEMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;62. SUARA BAPAK/IBU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi, Dewa, terkadang kata-kata orang tua adalah benar. Suaranya menggema dari lubuk hati paling dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak, mereka tidak akan menjerumaskanmu. Ucapanya keluar dari lorong masa lalunya. Ia memang seperti suara-suara gelap. Menakutkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi jalan di depanmu akan lebih menakutkan dari yang disuarakan orang tuamu. Kamu jangan salah melangkah, Dewa-Dewi. Kehidupan di depanmu tidak mudah diramalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;63. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih seperti diikuti suara Ibu dan Bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;64. DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga. Suara itu semakin keras, memanggil-manggilku. Tetapi kemudian menghilang begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HENING.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;65. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewa, kata guru kita, pengalaman adalah harta yang paling berharga. Apakah kita akan terus lakoni perjalanan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;66. DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi, kita ibaratnya burung yang sedang mencoba menaklukan awan. Kita akan terbang jauh. Tetapi kata-kata bijak berbicara ‘sejauh-jauh burung terbang, pasti akan kembali ke sarangnya.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SILUET BURUNG-BURUNG BERTERBANGAN DI AWAN JINGGA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;67. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, tapi kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di tengah perjalanan. Kita tidak tahu, di bawah sana, seorang pemburu sedang mengincar sayap kita. Kita tidak akan kembali, ketika peluru sang pemburu menembus sayap kita. Dewa, apakah kamu sudah siap? (Dewi merajuk)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;68. DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa depan tidak bisa hanya diperdebatkan. Tetapi harus kita songsong dengan percaya diri. Burung diberi naluri dan insting. Kita dibekali akal dan budi. Dengan insting burung-burung tahu akan mara bahaya. Dengan akal budi, kita bisa mempersiapkan masa depan kita. Dengan akal budinya manusia mempertahankan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;69. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita punya akal budi sendiri, kenapa ortu kita meski takut, ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SILUET BURUNG-BURUNG MENGHILANG. SUASANA KEMBALI TEMARAM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;70. DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasalah, ketika burung itu belum bisa mengepakan sayap, sang induk akan mengajarinya sampai sang anak bisa mengepakan sayapnya. Mengajari berburu, mempertahankan diri, dan membuat sarang. Tapi, kita bukan burung kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI SISI YANG LAIN, IBU DAN BAPAK SEDANG MENGINTIP DEWA-DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;71. BAPAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Berbisik kepada Ibu). Apakah mereka menyindir kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;72. IBU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka belum merasakan jadi orang tua. Kalau tahu, rasain! Sekarang mereka masih bersenang-senang. Entar tahu rasa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENGENDAP-NGENDAP PERGI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;73. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu gimana lanjutnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;74. DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya? Ya kita lakoni saja perjalanan ini. Ayo kita jalan!  Semakin kita jauh berjalan, semakin banyak kita mendapat pengalaman. Ini seperti kata pepatah. Carilah ilmu sampai ke negeri China!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;75. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, tapi tidak banyak orang-orang pandai yang sekolah ke China. Mereka malah memilih ke Belanda, Inggris, Amerika, dan Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;76. DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini hanya kata kiasan, Dewi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;77. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ya. Kok aku bego.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;78. DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lemot. Alias ‘lemah otak.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;79. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uh, dasar kamu. Ngatain saya, lemot! (Mencubit Dewa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEWA CEPAT MENGHINDAR. DEWA BERLARI. DEWI MENGEJAR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;80. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu curang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;81. DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betul, di depan tidak ada jurang! He he he he…!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;82. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awas kamu! (Dewi mengejar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;83. DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yap, aku memang pintar seperti, Abu Nawas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEWI TERUS MENGEJAR DEWA. DI BELAKANG MEREKA KEDUA ORANG TUANYA MENGUNTIT. DEWA-DEWI BERKEJAR-KEJARAN SAMBIL BERCENGKERAMA (out stage). ORANG TUA MEREKA YANG SEJAK TADI MENGUNTIT KEWALAHAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;84. BAPAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Napasnya ngos-ngosan) Saya kuwalahan Bu. Anak-anak jaman sekarang larinya kencang sekali. Maklum susunya sudah berformula. Dulu kita kan hanya tajin. (air limpahan menanak nasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;85. IBU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah siapa! Tadi kan sudah saya bilang, waktunya istirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;86. BAPAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu kan yang minta memperhatikan Dewi. Tadi dimarah-marahi ngak perhatikan anak. Sekarang diperhatikan juga dimarahi. Repot…!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;87. IBU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya maksud saya, memperhatikan itu tidak mengikuti segala gerak-geriknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini berlebihan namanya. Sekarang kalau sudah encok kumat begini siapa yang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMIJIT PUNGUNG BAPAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;88. BAPAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus gimana lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;89. IBU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suruh mereka pulang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;90. BAPAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Teriak) Dewi….pulang! Jangan kau ikuti anak nakal itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;91. BAPAKNYA DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dari sisi yang lain. On stage) Enak saja ngatain anak orang! Dewa, kamu pulang, jangan ikut-ikutan anak orang lain. Perempuan itu penggoda. Ingat masa depanmu Dewa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;92. IBUNYA DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang ajar mereka, Pak. Anak kita dikira perempuan penggoda. He, peot! Anakmu yang ganjen kejar-kejar anak saya. Bukan anak saya yang kejar! Masak ada babon kejar jago…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;93. BAPAKNYA DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaman sekarang tidak ada yang tidak mungkin. Tidak ada beda laki-laki sama perempuan. Semua berhak mencintai dan dicintai!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;94. IBUNYA DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa salah anak saya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;95. BAPAKNYA DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eihh..sok tidak tahu. Sebagai perempuan, Ibu harus punya perasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gimana kalau anaknya sering kelayapan malam hari?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;96. IBUNYA DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak Anda yang mengajak Dewi kelayapan malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;97. BAPAKNYA DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buktinya apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;98. IBUNYA DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gampang sekali, lihat lari mereka. Dewa berada di depan. Itu artinya Dewa yang mengajak. Tidak mungkin orang yang mengajak berada di belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;99. BAPAKNYA DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai laki-laki memang harus di depan. Harus! Tidak boleh kalah dengan perempuan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;100. IBUNYA DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu Dewi tidak mungkin mendahului Dewa. Pasti Dewa akan malu, kalau Dewi menyatakan cintanya lebih dulu. Pasti itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;101. BAPAKNYA DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini persoalannya lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;102. IBUNYA DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang anak Bapak lain dari pada yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;103. BAPAKNYA DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Hendak memukul)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;104. BAPAKNYA DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eit..kalau ini urusan laki-laki dengan laki-laki. (Ambil posisi kuda-kuda) E…tetapi jangan ada kekerasan di atas panggung. Nanti dimarahi ‘Komisi Perteateran Indonesia’ atau KPI. Anak kita sudah dididik kekerasan di mana-mana kita malah memberi contoh lagi. Anarkis! (Kepada Ibu) Ayo Bu, kita cari Dewi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;105. IBUNYA DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi……pulang nak! Hari sudah larut malam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;106. BAPAKNYA DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewa….pulang nak! Hari sudah larut malam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;107. IBUNYA DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisanya mencontoh. Tidak kreatif. Cari kata yang lain!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;108. BAPAKNYA DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Camon baby, go home! Camon..camon…camon….baby. Go…go…go home. Yeah….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MUSIK RAP. BAPAKNYA DEWA MELAFALKAN KALIMAT ITU SEPERTI SEDANG ‘NGERAP’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Out stage. Di sudut lain, Dewa-Dewi on stage.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;109. DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Membaca sajak Chairil Anwar dengan gaya ngerap) Aku. Kalau sampai waktuku. 'Ku mau tak seorang kan merayu. Tidak juga kau. Tak perlu sedu sedan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;110. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ini binatang jalang. Dari kumpulannya terbuang. Biar peluru menembus kulitku. Aku tetap meradang menerjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;111. DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luka dan bisa kubawa berlari. Berlari. Hingga hilang pedih peri. Dan aku akan lebih tidak perduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;112. KOOR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mau hidup 1000 tahun lagi! Yeah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUARA SIRINE BERBUNYI KERAS. PULUHAN PETUGAS BERGERAK SEPERTI ROBOT. MUSIK RAP BERDERAP-DERAP. MEREKA MENJARING DEWA-DEWI DI DEKAT BULAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;113. PETUGAS GENDUT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ngerap) O, o…Ini lagi, malam-malam kelayapan. Apa kalian juga jualan ayam. Yaa.. ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;114. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bukan anak jalang! Dari pada tidur malam-malam, Om! Om..om..om yeah..!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;115. PETUGAS GENDUT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Terkejut) Kalian panggil saya Om. Itu tandanya kamu anak nakal! Ayo petugas, gelandang mereka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BELUM SEMPAT MENYERET MEREKA, BEBERAPA WARTAWAN TV MENGERUBUT PETUGAS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;116. WARTAWAN TV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gimana Pak, dapat mangsa lagi? Tampaknya kali ini pasangan mesum?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;117. PETUGAS GENDUT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar sekali, berkat kesigapkan anakbuah saya. Kami menjaring pasangan mesum. ABG-ABG nakal. Mereka harus dikasih pelajaran biar nyahok!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;118. WARTAWAN TV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Kepada Dewa Dewi) Kenapa kalian berbuat demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;119. DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tidak punya orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;120. WARTAWAN TV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua sudah meninggal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;121. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sibuk dengan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;122. WARTAWAN TV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi berbuat mesum di tempat umum kan dilarang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;123. DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu opini Petugas dan Anda amini. Kami tidak berbuat apa-apa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;124. PETUGAS GENDUT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bohong! Pepatah mengatakan, jika ada pasangan yang satu laki-laki dan satunya perempuan di tempat gelap yang ketiganya pasti setan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;125. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kalian semua setannya….he…he…he…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;126. PETUGAS GENDUT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setan gundhulmu amoh! Petugas seret mereka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;127. WARTAWAN TV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E…sebentar, Pak! Biar saya dapat momen penangkapan, bagaimana kalau adegan tadi di ulang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;128. PETUGAS GENDUT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau harganya cocok, boleh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;129. WARTAWAN TV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik! Akan kami siarkan langsung, biar TV kami dapat berita yang paling bagus! (Wartawan TV mengatur adegan) Oke, kita mulai dari Bapak dan anak buah berlari, kami nanti akan membuntut di belakang. Jadi biar lebih tampak nyata dan dramatis. Oke, siap Pak! Kamera siap! Action!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADEGAN PENANGKAPAN DIMULAI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permirsa TV Sensasi! Kami siarkan secara langsung, penangkapan pasangan mesum di taman kota yang marak terjadi diseluruh taman yang ada di kota ini. Saat ini kami bersama petugas ketertiban menggrebeg pasangan yang sedang berbuat mesum di tempat umum…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PETUGAS BERLARI, MENGEJAR DEWA DAN DEWI. WARTAWAN TV MEMBUNTUT. MEREKA BERKEJAR-KEJARAN ENTAH SAMPAI KEMANA. NYATANYA MEREKA TIDAK PERNAH SALING BERTEMU. MEREKA HILANG SENDIRI-SENDIRI. (Out stage)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI RUANG LAIN BAPAK TERTIDUR DENGAN DENGKUR YANG MENGGEMA. SUARA HP DEWI BERDERING. HAMPIR PAGI, TV DEWI MASIH MENYALA. DEWI TERJAGA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;130. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Mengangkat HP) Aku terlelap sebentar. Besuk ada ujian. Tugas-tugas juga belum aku kerjakan. Pusing aku, Dewa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI KAMAR DEWA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;131. DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga nggak bisa tidur. Tadi sempat sedetik terlelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi mimpi buruk membayangi tidur. Apakah ortumu ada di rumah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;132. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru selesai bertengkar dengan Ibu. Tapi sekarang sudah mendengkur. Kamu sedang ngapain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;133. DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngelamun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;134. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngelamun? Kayak nggak punya kerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;135. DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emang nggak ada kerjaan. Daripada nggak ada kerjaan ayo kita lari dari rumah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;136. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewa, apakah kamu serius?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;137. DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat serius. Apakah kamu tidak percaya dengan aku. Ini pasti seru! Aku jemput ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;138. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Pause) E..e..e..kamu tidak takut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;139. DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pikirin belakangan aja deh. (Telpon terputus)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEWI BERGEGAS BERKEMAS. SESAAT KEMUDIAN TERDENGAR PINTU DIKETUK. DEWI MENGERUBUTI BANTAL DENGAN SELIMUT. DEWI SEGERA MENYELINAP, MELOMPAT JENDELA. DEWA TAMPAK SEPERTI PANGERAN, BERDIRI GAGAH DI PINGGIR BULAN. MEREKA MENARI-NARI, KEMUDIAN MENGHILANG DITELAN MALAM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;140. IBU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi, bangun. Sudah hampir subuh. Apakah kamu tidak salat. Berdoalah agar hari ini sekolahmu lancar. Jangan lupa doakan Bapak dan Ibumu ini. Anak yang sholeh, mendoakan Bapak dan Ibunya. Bangun, Dewi. Waktunya salat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(On stage) Mumpung masih muda, perbanyaklah berdoa. Jangan seperti Ibumu, setelah tua menyesal. Baru mengerti betapa pentingnya berdoa. Apalagi kalau ingat masa remaja yang tidak karuan nakalnya. (Duduk di dekat dipan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hi…hi..hi..Ibu jadi malu. Saat remaja dulu Ibu persis seperti kamu, malas sekali belajar, apalagi salat. Keluarga kita memang tidak pernah mengajarkan untuk disiplin beribadah. Tetapi Ibu selalu ingat petuah guru agama. Salatlah seakan hari ini kamu akan mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat kata-kata itu saya jadi merinding sendiri. Mengingat dosa apalagi. Wuih, menumpuk sekali. Terkadang Ibu juga sangat kasihan sama kamu. Sebenarnya Ibu tidak memberikan contoh yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kamu sekarang bandel, karena Ibu tidak memberimu contoh. Ibu hanya menuntut. Menuntut kamu agar menjadi anak sebaik mungkin. Sesempurna mungkin. Malu sama tetangga, kalau anaknya tidak berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi, Ibu sangat merisaukanmu. Risau sekali. Kehidupan begitu keras. Kamu harus dididik sangat keras. Pengaruh di luar begitu liar tak terkendali. Kehidupan seperti tidak ada aturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI LAYAR TERGAMBAR KLIP KENAKALAN REMAJA, KEHIDUPAN MALAM, DAN KRIMINALITAS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ingin menindas, menindaslah. Yang ingin membunuh membunuhlah. Yang ingin berjingkrak-jingkrak di diskotik sambil mabuk, silahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak yang tidak tahu jalan hidup diperosokan ke lembah nista. Mereka dijual. Yang tidak berpendidikan dibuang keluar negeri oleh suami mereka yang pemalas. Mereka dipekerjakan seperti sapi perah. Kalau nasib sial, bukan uang yang dikirim tetapi berita duka cita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di TV-TV remaja-remaja didandani. Mereka dijadikan maneqin dipajang di etalase-etalase. Mereka hanya boleh bermimpi, tetapi tidak boleh memiliki. Anak-anak remaja telah dikubur dalam dunia kepalsuan. Sudah banyak korbannya. Ibu sangat risau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi, bangun. Apakah kamu tidak mendengar cerita Ibu. Sudah hampir subuh. (Membuka selimut. Terkejut) Kurang ajar, anak tidak tahu diuntung. Tiwas tadi tak serius-seriuskan. Malah sekarang minggat tidak pamit. Bapak……….! Dewi minggat….!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAPAK TERPERANJAT BANGUN. IA TERGOPOH-GOPOH MENGHAMPIRI IBU YANG HISTERIS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;141. BAPAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa, Dewi minggat? Dasar anak bandel. Dikasih hati, malah ngrogoh rempelo. Ini namanya air susu dibalas dengan air tuba. (Kepada Ibu) Ini akibat salah didik. Apa yang kamu kerjakan selama ini? Mengawasi anak saja tidak becus!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;142. IBU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu sendiri sudah melakukan apa terhadap anak kita? Tidak ada kan? Hanya kerja, kerja, dan kerja. Pulang marah-marah. Kalau udah payah, tidur mendengkur. Apakah itu tanggungjawab! Apakah masalah mendidik anak harus dibebankan ke saya? Ini juga akibat kesalahanmu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAPAK HANYA DIAM. IA MEMANDANGI PHOTO DEWI. MENGELUS, KEMUDIAN MENDEKAPKAN KE DADANYA. SOUND EFECT LAGU. ‘ANDAIKAN KAU DATANG’ KOES PLUS (RUTH SAHANAYA). (6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lighting fade out-fade in.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI TEMPAT LAIN, DEWA TAMPAK MONDAR-MANDIRI, GELISAH. IA MEMBUKA KORAN. MENELITI HALAMAN DEMI HALAMAN. TETAPI KEMUDIAN MENCAMPAKANNYA. IA MENGULANG YANG DILAKUKAN, SAMPAI BEBERAPA KALI. TETAPI GAGAL! DEWI DUDUK DISEBELAHNYA PERUTNYA MEMBUNCIT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;143. DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit, sulit sekali! Aku tidak menyangka sesulit ini! Tidak ada yang cocok….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;144. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah aku bilang. Kita sudah jauh melangkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;145. DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada penyesalan. Kita harus terus berusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;146. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kapan? Kandungan saya butuh biaya perawatan. Kalau tidak bayi kita bisa lahir tidak normal. Kita akan butuh banyak biaya. Apakah kamu tidak tahu itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;147. DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau nggak sanggup biayai ya kita gugurkan saja. Atau kalau sudah lahir kita buang di kali, tempat sampah, kita tinggal di rumah sakit atau taksi. Beres…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;148. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak Dewa, kamu harus bertanggung jawab. Ini benih anak kita. Kita harus merawatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;149. DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, tapi duit dari mana. Kerjaan nggak dapat. Uang nggak punya…Apa kamu pingin anak kita mati kelaparan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;150. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak bisa Dewa, anak kita harus lahir. Kamu tidak boleh begitu. Itu Dosa..!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;151. DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosa? Hah…kenapa tiba-tiba kamu jadi sok suci. Bukankah kita lari dari rumah,  menikah di bawah tangan, kamu aku buntingi, sudah dosa? Dosa yang sangat besar! Kenapa kamu tidak berani membuang buah dosa kita? Kenapa? Kamu harus ngerti Dewi, ini akan menyulitkan kita!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;152. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewa, kenapa tiba-tiba mulutmu seperti ular yang menyemburkan bisa? Kenapa kata-kata romantismu tiba-tiba berubah jadi racun. Kenapa puisi yang kau bacakan, lagu-lagu yang kau dendangkan menjadi terasa getir. Kenapa kau yang aku anggap dewa, tiba-tiba jadi setan pencabut nyawa? Kenapa kamu lakukan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;153. DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kamu tidak mau melakukan. Aku yang melakukan sekarang….!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yang akan melakukan Dewi….Kita bunuh saja janinnya, sebelum ia hidup terlunta-lunta karena bapaknya tak bisa menghidupi…Kemari Dewi. Kamu akan menyesal. Karena Bapak Ibu kita pasti tidak akan mengakui perkawinan kita. Kamu harus tahu Dewi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIBA-TIBA DEWA SEPERTI KERASUKAN. IA MENERKAM DEWI. DEWI BERLARI. DEWA MENGEJAR DEWI. SEMENTARA DI LANGIT, TAMPAK BAYANGAN RAKSASA SEDANG MENENDANG-NENDANG BULAN DAN KEMUDIAN MEMAKANNYA. BULAN PECAH. DEWI MENJERIT. DEWA TERTAWA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI KAMAR DEWI: DEWI TERPERANJAT BANGUN. NAPASNYA TERSENGAL-SENGAL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI KAMAR DEWA : DEWA TERPERANJAT BANGUN. NAPASNYA TERSENGAL-SENGAL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TERDENGAR TELPON BERDERING. DEWI SEGERA MENGANGKAT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;154. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terlelap lagi. mimpi buruk lagi. Aku kesiangan. Sekarang udah jam 7 lebih. Pekerjaan rumah belum aku kerjakan. Ibu dan Bapakku udah pergi. Entah kemana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI KAMAR DEWA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;155. DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga kesiangan. Pekerjaan rumahku (PR) belum aku kerjakan. Aku di rumah hanya dengan pembantu. Ortuku malah dah seminggu nggak di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;156. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mimpi buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;157. DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga mimpi buruk. Buruk sekali. Lebih buruk dari pada dimarahi guru kita!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIBA-TIBA SUARA IBU/BAPAK GURU MENGGELEGAR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;158. GURU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewa, Dewi, kenapa kalian terlambat masuk sekolah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEWA DAN DEWI KALANGKABUT. IA SEGERA MENGENAKAN SERAGAM SEKOLAH. SEKENANYA. BUKU-BUKU YANG BERSERAKAN DIMASUKAN KE DALAM TAS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;159. GURU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu pasti belum mengerjakan PR. Alasanmu pasti di rumah tidak ada orang tua. Tidak ada pembantu. Emangnya yang sekolah orang tuamu dan pembantumu. Kamu mau alasan apa lagi, kalau sudah puluhan kali kalian terlambat, dan sudah puluhan kali kalian membuat alasan. Apakah kamu anak alasan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEWA DAN DEWI BERLARI SECEPAT MUNGKIN AGAR SEGERA SAMPAI DI SEKOLAH. SUARA GURU SEMAKIN MENGGELEGAR!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;160. GURU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kamu tidak mengerjakan PR lebih baik kamu tidak masuk saja. Saya tidak mau mengajar anak pemalas. Di sekolah dilarang malas. Kalau tidak sanggup mengikuti aturan di sekolah ini, lebih baik pindah sekolah. Banyak sekolah yang menampung anak-anak brandal seperti kalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Kepada murid-murid) Kepada kalian semua juga saya peringatkan. Sekolah ini tidak mencetak anak pemalas seperti Dewa dan Dewi. Kalian harus patuh selama berada di sekolah. Kalian disekolahkan di sini oleh orang tua kalian, untuk menjadi anak pintar. Tidak untuk menjadi anak nakal. Mengerti?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;161. MURID-MURID&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengertiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;162. GURU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mengerti coba sekarang keluarkan PR kalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MURID-MURID BERGEMING.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;163. GURU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lo, kok tidak ada yang mengeluarkan PR-nya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;164. MURID&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Takut-takut) E…e..e..e..mohon maaf yang sebesar-besarnya, Guru salah masuk kelas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAKA MELEDAKLAH TAWA MURID-MURID. GURU SEGERA KELUAR KELAS. DI AMBANG PINTU GURU BERPAPASAN DENGAN DEWA DAN DEWI. MEREKA TERPAKU BEBERAPA DETIK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;165. GURU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu yang namanya Dewa dan Dewi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;166. MURID&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Memberi isyarat tangan) Bukan…!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;167. DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu..bu..bukan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;168. GURU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu yang mana Dewa dan Dewi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;169. MURID&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Memberi isyarat tangan) Tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;170. DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ti..ti..dak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;171. GURU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, sudah. Kalau begitu, nanti kalau ke temu Dewa dan Dewi serahkan ini (Memberikan sepucuk surat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GURU OUT STAGE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;172. DEWA-DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Koor) Surat pangilan orang tua!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;173. KEPALA SEKOLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Break in) Ya. Surat panggilan orang tua! Emangnya kita tidak tahu kalian tipu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kamu mau alasan apalagi. Katakan pada orang tua kalian. Surat panggilan itu bersifat mengikat. Wajib didatangi. Tidak ada alasan apapun, kecuali kalian mau dikeluarkan dari sekolah ini. Tahu!?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEWA DAN DEWI TERPAKU. KEPALA SEKOLAH MENGAMBIL POSISI. SIDANG SISWA NAKAL DIGELAR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;174. KEPALA SEKOLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Memukul bangku dengan palu) Baiklah, hari ini kita mendapatkan dua murid bandel. Sudah berkali-kali diperingtakan tetapi telinganya seperti tanduk. Tidak ada perubahan. Sekolah sudah ‘angkat tangan.’ Karena itu hari ini kita menghadirkan kedua orang tua mereka. Silahkan masuk orang tuanya Dewa dan Dewi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAPAK-IBU DEWA DAN DEWI MASUK DENGAN WAJAH KUYU. DIIKUTI GURU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;175. KEPALA SEKOLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ini adalah hari terakhir Dewa dan Dewi berada di sekolah ini. Bagaimana komentar Bapak, Ibu? Silahkan dijawab apa adanya jangan melakukan pembelaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAPAK DEWA DAN BAPAK DEWI MAJU BERSAMAAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;176. BAPAK DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yang lebih dulu maju. Anda belakangan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;177. BAPAK DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yang lebih dulu. Tadi terlihat kaki saya yang melangkah lebih dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;178. BAPAK DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukan masalah kaki, tetapi kenyataannya saya yang lebih dahulu di depan Guru. Anda mau apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;179. BAPAK DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi anak saya nakal gara-gara terseret-seret oleh kenakalan anak Anda. Yang kurang ajar anak Anda!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;180. BAPAK DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda jangan ngomong sembarangan. Ini belum dibuktikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;181. KEPALA SEKOLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stoooooooooooooooooooooooopppp! Disini bukan untuk bertengkar. Apakah Bapak anggota dewan? Polisi? Tentara?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Keduanya menggeleng) Kalau begitu jangan anarkis. Ini sekolahan, tempat mendidik anak-anak untuk menjadi manusia berbudi pekerti luhur. Beri contoh berdebad dan menyampaikan pendapat yang baik. Sidang ini saya yang mengatur. Jadi semua harus menurut dengan saya. Kalau tidak kita bubarkan saja acara ini. Mengerti!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KOOR : Mengerti!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik kalau mengerti, kesempatan pertama saya berikan pada Bapak Dewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;182. BAPAK DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak bisa. Saya yang harus duluan. Tidak mung….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;183. KEPALA SEKOLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapaknya Dewi, tolong hormati ruang sidang. Silahkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;184. BAPAK DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kami hormati, bapak-ibu sekalian. Yang kami hormati anak-anak sekalian. Juga tak lupa saya sampaikan terimakasih yang setinggi-tingginya….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;185. KEPALA SEKOLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stop…! To the point saja. Tidak perlu terimakasih-terimakasih. Ini bukan rapat RT?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;186. BAPAK DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar udik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;187. BAPAK DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emangnya gue pikirin! E…e…jadi sebenarnya kami maklum dengan kenakalan anak kami. Terus terang, kenakalannya bukan kehendak dirinya, tetapi kehendak jaman. Sepertinya tidak pantas, anak seusianya tidak nakal. E…masud saya. Seusia anak saya memang waktunya nakal. Karena itu orang tua harus aktif mengawasinya. Sementara kami akui, kami lengah untuk persoalan ini. Jadi jangan dihukum anak saya. Hukumlah kami!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;188. KEPALA SEKOLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak menerima pengakuan dosa. Tetapi hanya ingin tahu penyebabnya. Silahkan dilanjutkan Bapaknya Dewi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;189. IBU DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Menyerobot maju) Sebaiknya dari pihak perempuan yang mewakili ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasanya yang bisa memahami perasaan perempuan adalah perempaun juga. Jadi pada dasarnya kami tahu, bahwa apa yang sedang dirasakan anak kami Dewi, seperti yang saya rasakan saat seusianya. Saya tahu, Dewi sangat terkejut dengan kondisi tubuhnya. Tetapi saya yakin, ketidak seriusan Dewi dalam bersekolah bukan masalah baban dalam dirinya, tetapi beban di luar dirinya yang begitu menyiksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mengakui disaat seperti itu, tekanan demi tekanan membuat jiwa anak menjadi labil. Kami menyadari, tetapi masa lalu kami selalu membayangi. Kami melihat perjalanan anak-anak seperti perjalanan kami dulu, begitu berat. Jadi kamu harus terus memantaunya setiap saat. Kami kira pada mulanya untuk meringankan bebannya. Eh…ternyata malah memberatkan beban hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ini murni kesalahan kami. Kalau boleh kami memohon, jangan hukum anak kami. Hukumlah kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAPAK DEWA DAN DEWI BEREBUT MAJU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;190. KOOR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sayalah yang wajib dihukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;191. BAPAK DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teledor dan egois.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;192. BAPAK DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mementingkan diri sendiri. Tak pernah hiraukan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;193. BAPAK DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai kepala keluarga, kami hanya memenuhi kewajiban memberikan makan. Yang lainnya terabaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;194. BAPAK DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak pernah membagikan cinta pada anak dan istri. Sayalah yang wajib dihukum. Saya terlalu takut menghadapi masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;195. KEPALA SEKOLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tepuk tangan) Bagus sekali acting kalian. Orang tua macam apa cengeng sekali. Ini sekolahan, bukan tempat pengakuan dosa. Anak-anak jangan diberi tontonan yang kurang mendidik seperti ini. Memalukan. Kami tidak akan menghukum siapa-siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolahan hanya akan memberlakukan aturan main. Hukuman memang perlu, tetapi kalau tidak merubah sikap kalian, sungguh sia-sia. Jadi sekarang saatnya mendengar suara siswa. Silahkan Dewa dan Dewi kalian memberikan komentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;196. DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tidak akan melakukan pembelaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;197. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, kami sepakat tidak akan membela diri. Kalau salah kita rela dihukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;198. KEPALA SEKOLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu siapa yang salah? Saya kok malah bingung sendiri. Ini tidak adil, yang punya masalah kalian, kok malah saya yang bingung cari jawabannya. (Kepada murid) Hei, kalian jangan bengong saja. Beri saya solusi. (Murid diam) Hei, mengapa kalian diam saja? Kenapa semua dibebankan kepada saya. Hei, jangan tinggalakan saya sendirian!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEMUA MURID MENJAUHI KEPALA SEKOLAH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;199. KEPALA SEKOLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai, tolong jangan tinggalkan saya sendirian. Beri saya solusi. Hai, tolong!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;200. BAPAK DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau penjaga kebenaran dan keadilan saja tidak bisa memberikan jawaban, apa lagi saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;201. BAPAK DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya apa lagi….?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;202. KOOR MURID&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami malah tidak tahu apa-apa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;203. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarlah waktu yang memberikan jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;204. DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setuju, biar waktu yang memberikan jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;205.  KEPALA SEKOLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalian salah. Masa depanmu ditentukan hari ini. Kalau hari ini kalian tidak menemukan jawaban, masa depanmu akan menjadi gelap. Tolong carikan jawaban! Kalau tidak….!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;206. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;207. KEPALA SEKOLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak drama ini tidak akan berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIBA-TIBA WARTAWAN TV MENYEROBOT MAJU MENGHAMPIRI KEPALA SEKOLAH. PARA WARTAWAN MENGAJUKAN PERTANYAAN. TETAPI KEPALA SEKOLAH TIDAK MAU MEMBERIKAN KOMENTAR. KEPALA SEKOLAH OUT STAGE DENGAN MEMEGANGI KEPALA DIIKUTI GURU. WARTAWAN TV BERALIH MENGERUBUT DEWA DAN DEWI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;208. WARTAWAN TV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa komentar Dewa dan Dewi atas peristiwa ini? Mengapa sekolah tidak bisa memberikan jawaban atas kenakalan anak didiknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;209. DEWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak tahu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;210. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;211. WARTAWAN TV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Kepada orang tua Dewa-Dewi) Pendapat Bapak atau Ibu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ORANG TUA DEWA-DEWI HANYA GELENG KEPALA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;212. WARTAWAN TV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu bagaimana mengakhiri semua ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;213. DEWI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tiba-tiba, merangkul orang tuanya, menjawab pertanyaan Wartawan TV) Ah, gampang sekali jawabannya? Penonton, atau pemirsa TV di rumah, drama ini anggap saja sudah berakhir. Untuk mendapatkan jawabannya, bertanyalah pada diri-sendiri. Ndak perlu kita jelas-jelaskan bukan? Yang jadi guru, jadilah guru sesuai tugasnya. Yang jadi orang tua, jadilah bapak dan ibu sesuai tanggungjawabnya. Yang jadi anak, jadilah anak sesuai dengan tugas dan kewajiban sebagai anak. Yang jadi murid belajarlah dengan baik. Yang jadi wartawan, jadilah wartawan yang adil dan bijaksana. Mudah bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Kepada penata lampu) Penata lampu, tolong lampunya, fade out. Fade out itu padam pelan-pelan, penuh perasaan. (Kepada pemusik) Kepada penata musik, tolong diberi lagu yang melegakan batin. Lakukan dengan penuh perasaan, karena ini seni drama. Seni melakonkan kehidupan. (Kepada kru panggung) Tolong layarnya ditutup pelan-pelan. Dengan demikian, berakhirlah drama ini. Kita kembali ke kamar tidur. Kini tidurlah dengan nyenyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEWA MENYAMBUT DEWI. MEREKA BERPELUKAN. ORANG TUA MEREKA HANYA BENGONG DI SUDUT KELAS. SEBELUM LAYAR TURUN, WARTAWAN TV MENGABADIKAN ADEGAN TERAKHIR ITU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidoarjo, Juli  2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAMPIRAN : 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku Melangkah Lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Vina Panduwinata)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melangkah lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat jalanan sepi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan tapi pasti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikuti ayun melodi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah silih berganti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui hari yang sunyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melangkah lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pasti!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reff:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah semakin cepat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kar'na citaku semakin dekap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasrat kini terungkap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kata-kata yang terucap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terus melaju&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seirama alunan lagu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melangkah lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pasti!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liku-liku yang dulu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah dulu bagiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kuyakinkan diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi yang terjadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kembali reff (2x)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liku-liku yang dulu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah dulu bagiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kuyakinkan diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi yang terjadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melangkah lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat jalanan sepi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan tapi pasti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikuti ayun melodi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah silih berganti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui hari yang sunyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melangkah lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pasti!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan yang ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kan ku sia-sia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenangan yang lama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hirna seiring nada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku tinggal kan bayang-bayang semu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu memulai cerita baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melangkah lagi! (3x)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAMPIRAN : 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak Chairil Anwar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKU&lt;br /&gt;Kalau sampai waktuku&lt;br /&gt;'Ku mau tak seorang kan merayu&lt;br /&gt;Tidak juga kau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu sedu sedan itu&lt;br /&gt;Aku ini binatang jalang&lt;br /&gt;Dari kumpulannya terbuang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar peluru menembus kulitku&lt;br /&gt;Aku tetap meradang menerjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luka dan bisa kubawa berlari&lt;br /&gt;Berlari&lt;br /&gt;Hingga hilang pedih peri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku akan lebih tidak perduli&lt;br /&gt;Aku mau hidup seribu tahun lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maret 1943&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAMPIRAN : 3&lt;br /&gt;Sempurna&lt;br /&gt;(Andra &amp;amp; The BackBone)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau begitu sempurna&lt;br /&gt;Dimataku kau begitu indah&lt;br /&gt;kau membuat diriku akan slalu memujamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disetiap langkahku&lt;br /&gt;Kukan slalu memikirkan dirimu&lt;br /&gt;Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah kau tinggalkan diriku&lt;br /&gt;Takkan mampu menghadapi semua&lt;br /&gt;Hanya bersamamu ku akan bisa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau adalah darahku&lt;br /&gt;Kau adalah jantungku&lt;br /&gt;Kau adalah hidupku&lt;br /&gt;Lengkapi diriku&lt;br /&gt;Oh sayangku, kau begitu&lt;br /&gt;Sempurna.. Sempurna..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau genggam tanganku&lt;br /&gt;Saat diriku lemah dan terjatuh&lt;br /&gt;Kau bisikkan kata dan hapus semua sesalku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah kau tinggalkan diriku&lt;br /&gt;Takkan mampu menghadapi semua&lt;br /&gt;Hanya bersamamu ku akan bisa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau adalah darahku&lt;br /&gt;Kau adalah jantungku&lt;br /&gt;Kau adalah hidupku&lt;br /&gt;Lengkapi diriku&lt;br /&gt;Oh sayangku, kau begitu&lt;br /&gt;Sempurna.. Sempurna..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAMPIRAN : 4&lt;br /&gt;Sajak Sapardi Djoko Damono&lt;br /&gt;KU INGIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin mencintaimu dengan sederhana&lt;br /&gt;dengan kata yang tak sempat diucapkan&lt;br /&gt;kayu kepada api yang menjadikannya abu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin mencintaimu dengan sederhana&lt;br /&gt;dengan isyarat yang tak sempat disampaikan&lt;br /&gt;awan kepada hujan yang menjadikannya tiada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAMPIRAN : 5&lt;br /&gt;Tercipta Untukku&lt;br /&gt;(Ungu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menatap indahnya senyuman di wajahmu&lt;br /&gt;membuat ku terdiam dan terpaku&lt;br /&gt;mengerti akan hadirnya cinta terindah&lt;br /&gt;saat kau peluk mesra tubuhku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;banyak kata&lt;br /&gt;yang tak mampu kuungkapkan&lt;br /&gt;kepada dirimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chorus:&lt;br /&gt;aku ingin engkau slalu&lt;br /&gt;hadir dan temani aku&lt;br /&gt;disetiap langkah&lt;br /&gt;yang meyakiniku&lt;br /&gt;kau tercipta untukku&lt;br /&gt;sepanjang hidupku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku ingin engkau slalu&lt;br /&gt;hadir dan temani aku&lt;br /&gt;disetiap langkah&lt;br /&gt;yang meyakiniku&lt;br /&gt;kau tercipta untukku&lt;br /&gt;meski waktu akan mampu&lt;br /&gt;memanggil seluruh ragaku&lt;br /&gt;ku ingin kau tau&lt;br /&gt;kuslalu milikmu&lt;br /&gt;yang mencintaimu&lt;br /&gt;sepanjang hidupku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku ingin engkau slalu&lt;br /&gt;hadir dan temani aku&lt;br /&gt;disetiap langkah&lt;br /&gt;yang meyakiniku&lt;br /&gt;kau tercipta untukku&lt;br /&gt;meski waktu akan mampu&lt;br /&gt;memanggil seluruh ragaku&lt;br /&gt;ku ingin kau tau&lt;br /&gt;kuslalu milikmu&lt;br /&gt;yang mencintaimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAMPIRAN : 6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Andai Kau Datang’&lt;br /&gt;Koes Plus (Ruth Sahanaya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hm…hm…hm…&lt;br /&gt;Terlalu indah dilupakan&lt;br /&gt;Terlalu sedih dikenangkan&lt;br /&gt;Setelah aku jauh berjalan&lt;br /&gt;Dan kau ku tinggalkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa hatiku bersedih&lt;br /&gt;Mengenang kasih dan sayangmu&lt;br /&gt;Setulus pesanmu kepadaku&lt;br /&gt;Engkau kan menunggu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikan kau datang kembali&lt;br /&gt;Jawaban apa yang kan ku beri&lt;br /&gt;Adakah cara yang kau temui&lt;br /&gt;Untuk kita kembali lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersinarlah bulan purnama&lt;br /&gt;Seindah serta tulus cintanya&lt;br /&gt;Bersinarlah terus sampai nanti&lt;br /&gt;Lagu ini…ku…akhiri&lt;br /&gt;Na…na…na…&lt;br /&gt;Na…na…na…&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5346587717956970287-5615821673270623383?l=teaterapakah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teaterapakah.blogspot.com/feeds/5615821673270623383/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5346587717956970287&amp;postID=5615821673270623383' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/5615821673270623383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/5615821673270623383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teaterapakah.blogspot.com/2008/09/sebelum-dewa-dewi-tidur.html' title='SEBELUM DEWA-DEWI TIDUR'/><author><name>teaterapakah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14504659433822587521</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R4KW9fwvaJI/AAAAAAAAAAM/4MNOEFdRZSc/S220/giryadi+oke.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5346587717956970287.post-2177838558518845678</id><published>2008-04-13T17:08:00.000-07:00</published><updated>2008-04-13T19:09:19.019-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai seni'/><title type='text'>Memimpikan Gedung Kesenian di Surabaya</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/SAK8ptOIBII/AAAAAAAAAFg/6uy42iOE0_c/s1600-h/blog-tbjt.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/SAK8ptOIBII/AAAAAAAAAFg/6uy42iOE0_c/s320/blog-tbjt.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5188917145383732354" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : R Giryadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh luar biasa, kota sebesar Surabaya tidak punya gedung kesenian (gedung pertunjukan dan ruang pamer)? Sebagai pusat pemerintahan provinsi sungguh aneh kalau Surabaya tidak punya gedung kesenian. Lalu di mana tempat ekspresi masyarakat dan seniman digelar? Kemana kita akan menggelar konser musik dengan akustik gedung yang memadai? Kemana kita menemukan tempat pertunjukan ludruk modern? Kemana kita bisa menggelar pameran seni rupa? Tidak ada?&lt;br /&gt;Kalaupun ada kondisinya memprihatinkan dan pengelolaannya terkesan apa adanya (untuk tidak mengatakan asal-asalan). Kalau tidak percaya datanglah ke Balai Pemuda Surabaya. Untuk sementara gedung itu dikatakan sebagai tempat representatif bagi kegiatan kesenian. Di sana ada panggung prosenium, tetapi kondisinya tidak terawat. Begitu juga dengan peralatan panggungnya, seperti lighting, soundsystem, juga tidak ada. Meski kondisinya serba minim, gedung itu paling diminati. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tempat lain yang agak lumayan berstandar gedung pertunjukan, gedung Cak Durasim di Taman Budaya Jawa Timur. Gedung itu, sedikit memadai, karena telah didukung, panggung prosenium, akustik, lighting, soundsystem, dan alat pendingin ruangan. Selain itu kapasitasnya cukup untuk menampung 600-an penonton. &lt;br /&gt;Kondisi mengenaskan terlihat di gedung pertunjukan Taman Hiburan Rakyat  (THR). Gedung Srimulat dan gedung Wayang Orang, sama sekali tidak layak. Kondisi panggung, dan perlengkapan panggungnya tidak memadai (kurang modern). Begitu juga akustiknya amburadul. Suara-suara dari luar bisa masuk ke dalam gedung, sehingga mengganggu kejenakan penonton.&lt;br /&gt;Sudah puluhan tahun, Surabaya tidak memiliki gedung kesenian. Kita perlu mengaca pada Jakarta. Sejak berdiri Taman Ismail Marzuki tahun 1968 lalu hingga kini telah menjadi ruang ekspresi seniman yang menyajikan karya-karya inovatif. TIM menjadi ruang berfikir dan berkreasi para seniman. Ini ditandai oleh sejumlah kreator seni yang sempat membuka peta baru seni pertunjukan kala itu. Bahkan kini TIM terus berbenah diri agar fasilitas gedungnya bisa menampung pertunjukan berscala internasional.&lt;br /&gt;Sebenarnya kita punya gedung pertunjukan seperti yang saya sebutkan di atas. Tetapi kondisinya sudah tidak mampu lagi mewadahi ekspresi seniman yang terus beradaptasi dengan perkembangan seni modern. Citra estetika pertunjukan saat ini membutuhkan alat-alat pertunjukan modern. Mulai dari manajemen, sampai ruang ganti, gedung pertunjukan harus mampu mewadahi citra modernitas masyarakat kota. Kalau tidak kita terus ketinggalan.&lt;br /&gt;Kebutuhan akan gedung pertunjukan adalah bagian dari berkembangnya ekspresi masyarakat modern. Ketika masyarakat modern membutuhkan pencanggihan-pencanggihan ide, mau tidak mau memang harus ada fasilitas untuk mewadahinya.&lt;br /&gt;Sebenarnya, tidak hanya gedung pertunjukan yang minim. Gedung-gedung pameran –seni rupa- di Surabaya sangat minim bahkan boleh dikatakan tidak punya. Gedung Merah Putih dan Gallery Surabaya masih menjadi harapan satu-satunya seniman perupa. Padahal gedung itu juga banyak kelemahan-kelemahan.&lt;br /&gt;Seorang kurator seni rupa dari Bandung, (alm) Mamanoor, pernah bilang kalau kesulitan menaklukan gedung Merah Putih di komplek Balai Pemuda untuk penataan lukisan yang telah dikuratorinya. Menurut almarhum, untuk kegiatan pameran seni rupa, gedung Merah Putih terlalu banyak ornamen yang mengganggu keberadaan lukisan.&lt;br /&gt;Sementara itu, untuk menaklukan gedung Balai Pemuda, agar memiliki kualitas yang sedikit memadai, harus melalui perjuangan keras dan butuh biaya banyak. Panitia Festival Seni Surabaya (FSS) misalnya, harus mengeluarkan biaya ekstra untuk sewa kerangka lighting, trap tempat duduk, dan soundsytem, untuk menyulap gedung itu sekedar menyerupai Teater Kecil di TIM, Jakarta.&lt;br /&gt;Hemat saya, kebutuhan gedung pertunjukan sangat mendesak dan perlu segera direalisasi. Namun kalau gedung telah siap, pertanyaan berikutnya muncul. Sudah punya sumberdaya manusiakah kita untuk mengelola gedung itu?&lt;br /&gt;Saya kira kesiapan sumber daya dan profesionalisme manajemen sebuah kelompok kesenian akan sangat mendorong gedung kesenian itu ada. Ketika manajemen kesenian tertata baik dan mampu menjadi bagian dari ekspresi masyarakat modern, maka mau tidak mau gedung kesenian itu ada. &lt;br /&gt;Hadirnya gedung kesenian harus didorong oleh tiga factor yang tidak bisa diputus mata rantainya. Pertama kebijakan pemerintah kota/provinsi tentang politik kebudayaan sebagai salah satu bagian dari strategi pembangunan. Kedua kebutuhan masyarakat modern terhadap ekspresi seni. Dan ketiga, kesiapan sumberdaya manusia. &lt;br /&gt;Harus diakui, hadirnya gedung kesenian yang representatif  sangat diperlukan bila ketiga factor itu menjadi pendoronganya. Gedung kesenian yang representatif  tidak bisa hadir secara instant. Namun harus diakui, masyarakat seni Surabaya telah menunggunya sejak duapuluh tahun terakhir ini. Meski kekurangan gedung yang berkualitas, dengan aksi ‘boneknya’ para pekerja seni tetap nekat membuat berbagai ivent kesenian yang berskala lokal sampai internasional. &lt;br /&gt;Setiap tahun di Surabaya berlangsung Festival Seni Surabaya (FSS), Festival Cak Durasim (FCD), Surabaya Full Music (SFM), Surabaya Dance Festival (SDF), Biennale Seni Rupa Jawa Timur, Pameran Akbar, Festival Teater Remaja (FTR), dan lain-lain.  Tidak hanya itu, Surabaya kerap disinggahi kelompok kesenian dari luar Jatim dan bahkan kelompok kesenian dari mancanegara. Mungkin ini adalah salah satu indikasi, Surabaya butuh gedung kesenian yang representatif. Semoga ini bukan mimpi? &lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5346587717956970287-2177838558518845678?l=teaterapakah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teaterapakah.blogspot.com/feeds/2177838558518845678/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5346587717956970287&amp;postID=2177838558518845678' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/2177838558518845678'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/2177838558518845678'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teaterapakah.blogspot.com/2008/04/memimpikan-gedung-kesenian-di-surabaya.html' title='&lt;strong&gt;Memimpikan Gedung Kesenian di Surabaya&lt;/strong&gt;'/><author><name>teaterapakah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14504659433822587521</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R4KW9fwvaJI/AAAAAAAAAAM/4MNOEFdRZSc/S220/giryadi+oke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/SAK8ptOIBII/AAAAAAAAAFg/6uy42iOE0_c/s72-c/blog-tbjt.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5346587717956970287.post-6862037784638055158</id><published>2008-04-13T16:13:00.000-07:00</published><updated>2008-04-13T16:30:46.740-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai teater'/><title type='text'>Teater Realis (di) Surabaya</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/SAKXjdOIBFI/AAAAAAAAAFE/OnS-vL0chXk/s1600-h/blog-monumen+(7).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/SAKXjdOIBFI/AAAAAAAAAFE/OnS-vL0chXk/s320/blog-monumen+(7).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5188876356079322194" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Oleh : Rakhmat Giryadi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjawab ‘tantangan’ Dheny Jadmiko (Kompas, Kamis 10 April 2008), agar teater Surabaya kembali ke (genre) realis, sungguh tidak mudah. Untuk menjawab tantangan itu perlu dirumuskan pengertian antara teater realis di Surabaya dan teater realis Surabaya. Kedua rumusan ini memiliki makna yang berbeda dan konsekwensi yang berbeda pula.&lt;br /&gt;Teater realis di Surabaya, memiliki ruang yang lebih fleksibel. Karena yang dimaksud teater realis di Surabaya (bisa) berarti peristiwa teater bergaya realis di Surabaya. Peristiwanya bisa kapan saja, dimana saja, dan tentunya tanpa merujuk pada fenomena tertentu yang terjadi di Surabaya. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Teater realis di Surabaya juga berarti sebuah kelompok teater sedang memainkan naskah-naskah realis misalnya dari Hendrik Ibsen, Anton P Chekov, dan Eugene O`Neill, Abu Hanifah, Armijn Pane, Usmar Ismail, Utuy Tatang Sontani, Trisno Sumardjo, Motinggo Busje, B Sularto, WS Rendra, Putu Wijaya, dll, bertempat di Surabaya. &lt;br /&gt;Dalam hal ini sebuah kelompok teater hanya merekontruksi (peristiwa) naskah yang sudah ada dalam satu pertunjukan. Kelompok teater hanya mempresentasikan naskah dengan sedikit aktualisasi tema di dalamnya. Dalam peristiwa ini penonton hanya menyaksikan, kehebatan pemeranan, penyutradaraan, dan tentu kehebatan well made play-nya. &lt;br /&gt;Sementara itu teater realis Surabaya, memiliki pengertian yang lebih khusus. Secara ontologis realis bisa merujuk pada pemahaman filsafat realisme atau konsep drama realis, atau juga merujuk suatu fenomena sosial. Sementara Surabaya, bisa merujuk pada pemahaman ruang sosial, dan entitas budaya. Teater realis Surabaya memiliki kekhasan dalam konsep teaternya. &lt;br /&gt;Surabaya, bukan saja dipahami sebagai letak geografis tetapi juga sebuah medan sosial yang menjadi bagian dari proses (obyek) pertunjukan teater itu sendiri. Surabaya menjadi `laboratorium` penelitian atas pertunjuakan yang akan disajikan. Surabaya menjadi entitas budaya yang tak terpisahkan dengan pertunjukan. &lt;br /&gt;Pada bagian yang kedua ini jelas teater tidak saja sebuah peristiwa di atas panggung belaka, tetapi telah menuklik pada pemahaman atas realitas sosial. Kerja teater tidak hanya merekontruksi naskah yang sudah tersedia, tetapi merekontruksi peristiwa sosial menjadi sebuah tema pertunjukan. &lt;br /&gt;Seperti diketahui lahirnya teater realis di Barat dilatari semangat studi ilmu pengetahuan dan eksperimen terhadap dunia aktual. Semangat ilmu pengetahuan mendorong dramawan realis menjadi pengamat yang obyektif. Kelompok teater dituntut jujur, obyektif, teliti, rinci dalam menampilkan seluruh kejadian kehidupan, termasuk kebobrokan yang terjadi dan dialami pengarang maupun sebuah kelompok kerja teater.  Secara sadar mereka menyajikan fakta-fakta dan mendorong penonton untuk berpikir kritis.&lt;br /&gt;Realisme merupakan cara pengamatan yang khas terhadap apa yang tampak sebagai realitas. Titik beratnya drama ini terletak pada bahasa yang digunakan, pola gesture, situasi, dan adegan-adegan yang dapat dijumpai di dunia nyata. Menurut Kernodle, drama realis bertujuan menciptakan ilusi realitas. Di sini penonton dapat lupa, bahwa dunia nyata yang ada di atas pentas sesungguhnya hanyalah drama.&lt;br /&gt;Sekarang pertanyaannya, apakah para pekerja teater di Surabaya memiliki tradisi seperti saya sebutkan di atas?&lt;br /&gt;Tantangan Dheny, membawa konsekwensi yang sangat luas. Karena mau tidak mau, harus berani membongkar `tradisi` teater di Surabaya yang menurut Dheny lebih banyak mengadobsi teater eksperimennya Grotowsky. Begitu juga teater di Surabaya sendiri tidak memiliki tradisi menulis. Padahal kelahiran teater realis di Barat diiringi dengan tradisi menulis dan cara berpikir empiris.&lt;br /&gt;Hemat saya, teater kita punya cara pandang sendiri dalam menyampaikan pandangannya terhadap masalah fenomena sosial maupun fenomena-fenomena lainnya. Cara pandang itu bisa kita lihat pada seni pertunjukan tradisi kita.&lt;br /&gt;Kita punya seni pertunjukan, kentrung, jaranan, tayuban, wayang, ketoprak, ludruk, Srimulat yang dalam seni pertunjukan ini, realitas sosial tidak lagi menjadi teks verbal, tetapi bisa menjadi kidungan, tembang, dongeng, dan lain sebagainya yang lebih mirip dengan konsep realisme epiknya, Bertolt Brecht.&lt;br /&gt;Puncak dari realisme adalah teater epiknya Bertolt Brecht. Dalam teater epik penonton mendapat konsep realisme yang diperluas, sehingga mereka berpikir tidak hanya satu realisme saja.  Dalam epik teater yang paling menonjol adalah setting-decoration yang lebih ringkas, bahkan simbolik, dan memiliki fleksibilitas ruang yang tak terbatas. &lt;br /&gt;Dalam pementasannya, kadang tokoh menggunakan topeng, nyanyian, pidato, berdialog dengan penonton. Tidak jarang teater epik juga memanfaatkan teknologi, seperti slide-proyektor, film, dan komputer grafis. &lt;br /&gt;Teater epik mampu menampilkan hubungan yang lebih luas, historik, politik, dan ekonomi, berbeda dengan realisme yang konvensional. Dalam hal ini kita bisa melihat teater karya, Putu Wijaya (Mandiri), N Riantiarno (Koma), WS Rendra (Bengkel Teater), Arifin C Noer (Kecil). Sementara realisme konvensional kita bisa melihat karya-karya Teguh Karya (Populer).&lt;br /&gt;Inti dari jawaban tantangan Dheny adalah, kita perlu kembali pada akar budaya sendiri sebagai bagian dari proses penciptaan teater. Hemat saya, tidak menariknya teater di Surabaya bukan masalah genre teater yang digunakan, tetapi masalah lemahnya ‘baca-tulis’ yang belum mentradisi pada pekerja teater di Surabaya. Disinilah, kita sering melihat pertunjukan yang tanpa rujukan yang jelas. ‘Co gito ergo sum, Rek!’&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5346587717956970287-6862037784638055158?l=teaterapakah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teaterapakah.blogspot.com/feeds/6862037784638055158/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5346587717956970287&amp;postID=6862037784638055158' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/6862037784638055158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/6862037784638055158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teaterapakah.blogspot.com/2008/04/teater-realis-di-surabaya.html' title='&lt;strong&gt;Teater Realis (di) Surabaya&lt;/strong&gt;'/><author><name>teaterapakah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14504659433822587521</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R4KW9fwvaJI/AAAAAAAAAAM/4MNOEFdRZSc/S220/giryadi+oke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/SAKXjdOIBFI/AAAAAAAAAFE/OnS-vL0chXk/s72-c/blog-monumen+(7).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5346587717956970287.post-4986753215317154798</id><published>2008-03-21T20:01:00.001-07:00</published><updated>2008-03-21T20:23:28.391-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai teater'/><title type='text'>Teater Jatim, Seperti Gelas di Bibir Meja</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R-R5i-ux2mI/AAAAAAAAAE8/PE9d9KZqpJw/s1600-h/blog-aeng+plentis+3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R-R5i-ux2mI/AAAAAAAAAE8/PE9d9KZqpJw/s320/blog-aeng+plentis+3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5180399113244629602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Oleh : R Giryadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Melihat perkembangan teater  di Jatim, seperti melihat gelas di bibir meja, saat keramaian sebuah pesta. Kita dibuat was-was, tetapi kita sendiri malas meletakan gelas itu pada posisi yang aman. Dan memang teater Jatim, sedang berada dalam bibir meja, yang pada suatu saat bila tidak segera sadar ruang, maka gelas itu akan jatuh juga ke lantai dan pecah berkeping-keping.&lt;br /&gt;Ini kenyataan. Tetapi terkadang para aktivis teater sendiri merasakan bahwa kondisi teater di Jatim aman-aman saja. “Katanya siapa di Jatim tidak ada teater. Itu pengamatan yang salah kaprah,” kata salah aktivis teater di Surabaya.&lt;br /&gt;Saya kira persoalannya bukan pada ada atau tidaknya teater di Jatim. Tetapi sejauh mana posisi teater itu, tidak terlihat membuat was-was karena keberadaannya tidak pada posisi yang baik? &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Adanya teater tidak bisa dihitung jumlahnya saja apalagi hanya menghitung dari adanya pentas belaka. Teater  akan lebih bermakna (eksis) ketika bisa mempoisisikan diri menjadi sebuah nilai, pada ruang yang lebih luas, dan bukan dalam sebentuk ruang pertunjukan yang sempit dan pengab.&lt;br /&gt;Memang benar ada kelompok yang berpentas dan ditulis oleh media massa. Tetapi apakah dengan demikian, gelas yang terlanjur di pinggir meja itu terselamatkan? Persoalan teater di Jatim tidak bisa dipandang dari sudut peristiwa teater belaka sementara persoalan dibalik peristiwa itu cukup mengkawatirkan bila dibandingkan dengan kuantitas peristiwa teater yang terjadi di Jatim.&lt;br /&gt;Dengan menyebut peristiwa teater saja, di Jatim ada puluhan peristiwa teater. Tahun ini saja, paling tidak sudah ada lima tontonan teater yang tergelar di Jatim. Tetapi sejauh mana teater itu memikirkan dirinya berposisi pada tempat yang tidak mengkawatirkan? Sekali lagi, di Jatim memang ada teater, tetapi sejauh ini, mereka tidak sedang bekerja demi teater itu, tetapi berteater demi yang bukan teater. Ini benar-benar mengkawatirkan.&lt;br /&gt;Posisi yang mengkawatirkan itu, sebenarnya disebabkan teater di Jatim tidak punya akar wacana yang kuat. Sementara itu, pembacaan terhadap wacana arus besar semacam ideologi-ideologi, dan fenomena teater, tidak tuntas. Akibatnya, dalam praktiknya, banyak menemui kegagalan karena akar yang dimiliki rapuh. Sehingga ketika fenomena itu kehabisan napas, teater Jatim mendekati ajalnya.&lt;br /&gt;Saya kira para penggiat teater tahu, sebuah peristiwa teater itu bukan hanya sebuah peristiwa di dalam panggung, tetapi peristiwa-peristiwa yang mengikutinya, menjadi bagian dari pengayaan teater itu sendiri. Sehingga keberadaan sebuah teater tidak dinilai kapan teater itu pentas, tetapi sejauh mana pentas teater memiliki tawaran wacana, ideology, isu, diskusi, bahkan kehadirannya menumbuhkan keberjamakaan ruang yang bisa dibaca dari berbagai disiplin ilmu, dan tidak un sich teater.&lt;br /&gt;Teater modern di Jatim, secara umum adalah teater dadagan, bukan sebuah proses yang berkesinambungan atau teater yang lahir dari sebuah akar yang kuat, tetapi seperti teater yang hidup di atas angin. Teater belum menjadi sebuah pilihan profesi, karena kehidupan kelompok teater di Jatim masih diwarnai oleh relasi longgar yang ikatan keanggotaannya lebih ditentukan oleh mood dan tidak terbentuk dari kesuntukan sebuah proses. Teater Jatim, hanya sebentuk pengalaman sensasi ephemeral teater dari sebuah rumah yang dihuni oleh para martir.&lt;br /&gt;Kemiskinan teater di Jatim terletak cara menjiwai kemiskinannya itu. Sublimasitas kemiskinan di Jatim, dieksploitir sedemikian rupa menjadi kemiskinan materi dalam arti sebenarnnya. Pertaruhan terhadap perjuangan untuk mempoisisikan menjadi martir, menjadi terbebani oleh kekalutan atas kemiskianan materi itu. Dan inilah yang menyebakan teater di Jatim menjadi meskin dalam pengertian yang sebenarnya.&lt;br /&gt;Menyedihkan sekali memang. Tetapi anehnya masih saja ada yang berkacak pinggang: ‘Jatim masih ada teater, Bung!’ Meski hutang demi hutang menumpuk, tambal sulam untuk proses produksi berikutnya dan berikutnmya lagi. Dan memang hanya sang martir yang mau menghidupinya. Tetapi dampaknya, teater (hanya) menjadi pertaruhan semangat, dan bukan pertaruhan ideologis dalam ruang dialog budaya!&lt;br /&gt;Barangkali, ini sudah menjadi jamak terhadap aura kehidupan teater Jatim, yang menafikan kata sublimasi. Sehingga tataran orisinalitas pencapaian teater, bukan menjadi taruhan yang ideologis, tetapi masih artificial. Kecenderungan ini tampak pada produksi teater akhir-akhir ini, yang hanya menekankan pada performance-nya. Untuk itu ada upaya, kolaborasi, multimedia, kemudian juga adaptasi, dan inovasi. Semuannya itu hanya demi bentuk-bentuknya saja, yang dibungkus oleh kalimat-kalimat yang belum dimaknai betul keperuntukannya dalam pertunjukannnya. &lt;br /&gt;Sehingga dengan demikian kita hanya tinggal menunggu waktu, sampai kapan gelas itu berada pada posisi yang menggelisahkan? Sementara kita sibuk terhadap kemiskinan demi kemiskinan. Dan membiarkan galas itu suatu waktu jatuh berkeping-keping. Dan kita bersorak, sembari berteriak; ‘Itulah teater!’&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;R.Giryadi, Penggiat teater tinggal di Sidoarjo&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5346587717956970287-4986753215317154798?l=teaterapakah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teaterapakah.blogspot.com/feeds/4986753215317154798/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5346587717956970287&amp;postID=4986753215317154798' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/4986753215317154798'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/4986753215317154798'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teaterapakah.blogspot.com/2008/03/teater-jatim-seperti-gelas-di-bibir.html' title='Teater Jatim, Seperti Gelas di Bibir Meja'/><author><name>teaterapakah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14504659433822587521</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R4KW9fwvaJI/AAAAAAAAAAM/4MNOEFdRZSc/S220/giryadi+oke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R-R5i-ux2mI/AAAAAAAAAE8/PE9d9KZqpJw/s72-c/blog-aeng+plentis+3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5346587717956970287.post-2206594853321361236</id><published>2008-03-21T19:26:00.000-07:00</published><updated>2008-04-13T16:41:34.640-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='naskah monolog'/><title type='text'>coming soon</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/SAKZeNOIBGI/AAAAAAAAAFM/fpQ1a2772uw/s1600-h/blog-monolog+retorika.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/SAKZeNOIBGI/AAAAAAAAAFM/fpQ1a2772uw/s320/blog-monolog+retorika.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5188878464908264546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Retorika Lelaki Senja&lt;br /&gt;R. Giryadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBUAH LEMARI TUA BERDIRI KOKOH. DI SEKITARNYA BEBERAPA INTERIOR TUA DAN KELIHATAN TAK TERAWAT. BEBERAPA EKOR TIKUS BERSLIWERAN, SIBUK MENGUSUNG BENDA-BENDA  CURIANNYA. MEREKA SALING BEREBUT. DISAAT KEGADUHAN MEMUNCAK, TIBA-TIBA PINTU LEMARI TUA ITU MEMBUKA PERLAHAN-LAHAN. BEBERAPA TIKUS ITU SEGERA MELESAT, MENINGGALKAN BENDA-BENDA ITU TERGELETAK BEGITU SAJA. SEMENTARA PINTU LEMARI TUA ITU MENUTUP DENGAN CEPATNYA SEHINGGA MENIMBULKAN BUNYI : “Brak!!”&lt;br /&gt;BEBERAPA SAAT KEADAAN SEPI. PINTU LEMARI KEMBALI MEMBUKA SECARA PERLAHAN. DARI BALIK PINTU ITU MUNCUL WAJAH SESEORANG. SOROT MATANYA MENYELIDIK. SETELAH DIRASA AMAN, SESEORANG ITU KELUAR DARI LEMARI.. SESEORANG ITU MENENTENG KOPER (ATAU BUKUSAN KAIN). TIBA-TIBA BEBERAPA TIKUS MELINTAS SEPERTI FORMULA-1. SESEORANG ITU SEGERA MELONCAT KE TEMPAT YANG LEBIH TINGGI. TIKUS-TIKUS BERPUTAR-PUTAR. MELONCAT KESANA KEMARI.  DI TEMPAT YANG TINGGI ITU, SESEORANG YANG KELIHATAN RAPUH, MENYAPA SIAPA SAJA, DIWAKTU KAPAN SAJA.&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selamat apa saja dan selamat kapan saja. (Clingukan melihat situasi sekitarnya)  Baiklah, dalam kesempatan ini, sebelum drama ini berlangsung, ijinkan saya mengutip sebuah kalimat yang cukup terkesan dihati saya. “Kalau saya bunuh diri, sandiwara ini tidak akan pernah ada!” (1) Pasti anda ingat dengan kalimat itu. Nah, kalau diperkenankan kalimat itu akan saya kutip menjadi, “Kalau saya mati, saya tidak bisa kurupsi!” Hiiiii.  Makanya sekalian masih hidup sandiwara kurupsi ini harus saya jalani dengan cara seksama dan dalam tempo (kalau bisa ) selama-lamanya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;TERTAWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Kepada para tikus) Sudah, pergilah! Tugasmu sudah berakhir! Terlalu verbal! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SETELAH TIKUS BERLALU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkurupsi sudah menjadi garis nasib saya. Karena itu dalam melakukannya tidak boleh setengah-setengah. Meski banyak dicaci-maki orang, saya harus jalankan amanat nasib ini dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;Ya, memang terpaksa harus saya jalani. Sebagaimana Mas Jumena Martawangsa, saya harus menerima nasib sebagai aktor (dalam tanda petik) untuk menjalankan peran yang meskipun berat, harus menerimanya dengan iklas, dengan lapang dada.&lt;br /&gt;Saudara-saudara, banyak ajaran yang mengajarkan pada kita, bahwa kita harus iklas menerima nasib. Saya memang tidak bisa mengelak untuk berkelakuan seperti ini. Saya tidak ingin munafik dalam hal ini. Ketika saya harus melakukan sesuatu, selagi ada kesempatan semua akan saya lakukan dengan sebaik-baiknya, tanpa menunggu-nunggu dan melewatkan kesempatan itu berlalu begitu saja.&lt;br /&gt;Sampulung pernah berkata, “Menjadi tokoh nasib sama sekali tidak ada enaknya karena selalu dicemooh oleh hati, namun berlangsungnya lakon tak dapat dihalangi. Silahkan menyaksikan dan mencemooh diri saya, sudah tentu setelah sudara-sudara memuja dan menjilat-jilatnya.” (2)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;MELETAKAN TAS (KOPER) ATAU APA SAJA YANG TERKESAN BUNGKUSAN UANG. KEMUDIAN MEMBUKANYA. DI DALAMNYA ADA PULUHAN TOPENG DAN DASI. SETELAH MENYERINGAI, SESEORANG MEMBETULKAN DASI. MEMAKAI TOPENG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampulung, saya menghargai pendapat panjenengan. Nyatanya menjadi tokoh nasib memang tidak enak, apalagi peran yang harus dijalani tidak baik di mata orang lain. Saya harus menerima nasib seperti ini dengan iklas dan tulus untuk menjadi bajingan sebagai jalan hidup. Ini kenyataan yang tidak bisa dihindarkan, seperti sampeyan tahu, berapa nomer lotre yang sedang dalam genggaman sampeyan. Sementara orang-orang blingsatan, menduga-duga, dan menghargai nasibnya sendiri dalam jumlah sekian rupiah. Hmmmm, kok murah betul nasib itu? &lt;br /&gt;Mas Jumena, saya pingin tahu, apakah yang sampeyan rasakan saat itu? Apa yang terjadi dalam diri Mas, ketika melihat disekeliling sampeyan semua menjadi pecundang, sementara maut telah menjelang? Saya kira jawaban Mas, pasti tidak berbeda jauh dengan yang saya pikirkan, dan juga sampeyan pikirkan.&lt;br /&gt;Kesetiaan hanya omong kosong. Itu hanya akal bulus, agar kita menjadi terlena dan tidak tahu, sebenarnya di sekeliling kita dunia gelap gulita. Dunia para pencoleng memerankan sebagai manusia suci. Dan manusia suci memerankan sebagai pencoleng. Dunia sudah jungkir balik. Dan memang dunia diciptakan jungkir balik, agar manusia mempunyai keputusan yang tegas. Kalau hitam, hitam. Kalau putih ya putih. Itu saja prinsipnya. Sekarang, yang putih bisa berubah jadi kelabu. Begitu juga yang hitam, bisa berubah jadi abu-abu. Semua tidak hitam dan tidak putih. Inilah yang mengacaukan dunia. Tidak jujur!&lt;br /&gt;Maka dalam hal ini saya saya sangat setuju dengan Turah isteri Korep yang sangat benci dengan kemiskinan. Karena tidak iklasnya miskin, ia berkali-kali mencari pesugihan dengan jalan berjudi, meski berkali-kali pula jantungnya dibuat berdebar-debar dan hasilnya kosong mlompong, bahkan harus rela menjual kehormatannya demi memperjuangkan nasibnya. (3)&lt;br /&gt;Ini pilihan yang jujur. Dari pada setengah setengah, apa jadinya? Emangnya hidup hanya dijejali mimpi-mimpi. Hidup diawang-awang. Kalau mau kaya lakukan apa saja. Jangan kemiskinan jadi alasan untuk tidak berbuat sesuatu. &lt;br /&gt;Sampulung, sampeyan memang harus disikapi lain dan lain. Tidak hanya dengan kata-kata iklas dan tulus. Terkadang harus melawan sampai titik darah penghabisan. Tergantung sampeyan datang sebagai apa. Kalau sampeyan datang dalam bentuk kemiskinan, maka tidak heran kalau Turah menggadaikan kehormatannya, dan juga Euis berani mencederai kesetiaan Mas Jumena yang sudah buyuten itu. (4)&lt;br /&gt;Ini sangat realistis. Dari pada menjadi pecundang semacam Korep suaminya yang takut menjadi kaya, sehingga ia berlaku sok jujur dan sok relegius. Sok menerima nasib apa adanya. Namun sebenarnya dihatinya yang sok suci itu tersimpan niat licik, selicik Bandar (5) yang bisa memainkan keluarnya nomer lotre. Jangan munafik, ketika ketidakberdayaan menjerat. Ini untuk memperteguh iman. Agar tidak takut bertindak.&lt;br /&gt;Kenapa Turah tidak takut menjadi lonthe? Karena Korep sendiri tidak takut mencederai rumah tangganya dengan membabi buta. Kenapa Euis rela bermesraan dengan Juki, Marjuki maksud saya, di depan Jumena Martawangsa yang otaknya sudah digergaji ketakutan dan ketidakpercayaan pada orang-orang disekelilingnya? (6)&lt;br /&gt;Saya kira terkadang kejujuran bisa menjadi buah simalakama. Mengapa kita harus mengantarkan nasib pada ketidak pastian. Kalau kita ingin melakukan sesuatu, lakukan. Kenapa harus ditutup-tutupi?&lt;br /&gt;Mas Jumena, saya sangat setuju dengan ketegasan sampeyan, mempertanyakan cinta Eusi. Karena hati manusia selalu berbeda dengan mulutnya. Kadang dihatinya berkata tidak tetapi dimulutnya berkata ya.&lt;br /&gt;Lihat saja sekarang? Siapa yang tidak menjadi pecundang bagi dirinya sendiri. Semua telah menjadi pecundang. Namun mereka hanya lihai menutupi kebusukannya. Siapa sih yang tidak suka duit? Siapa yang mau hidup melarat? Siapa yang mau anak turunnya juga menjadi gembel? Siapa yang kuat ujian menjadi manusia miskin, hidup dikolong-kolong jembatan, memakan makanan dari hasil mengorek-ngorek tong sampah, penghasilan hanya dari mengemis. Kalau kepepet sedikit mencopet atau menodong.?&lt;br /&gt;Sekarang baik buruk itu bukan sesuatu yang penting. Yang terpenting bisa membuat semua itu meyakinkan. Kalau Anda merasa berbuat buruk maka Anda harus meyakinkan bahwa yang sedang Anda kerjakan itu baik. Harus yakin! Dengan demikian semua pasti yakin, meski yang Anda perbuat adalah sesuatu yang buruk.&lt;br /&gt;Tidak boleh malu. Betul ini. Tidak boleh malu. Kalau malu maka misi Anda untuk meyakinkan itu tidak berhasil. Sampeyan pasti ingat, bagaimana dengan tidak malunya Emak, mengatakan pada Abu, anaknya yang korengan dengan sebutan Pangeran yang rupawan. Dan karena Emak meyakinkan, sang anakpun merasa sebagai pangeran. Padahal mereka adalah gembel yang diperbudak mimpi. Pangeran edan! (7) Tetapi, mereka sungguh meyakinkan. Sehingga kemiskinan yang telah dihadapinya selama hidup tak terasa sebagai penderitaan. Huh…hebat betul.&lt;br /&gt;Nah begitu juga, ketika Anda mencopet, menipu, mencuri, merampok, atau berbuat apapun, harus meyakinkan. Sekali lagi harus mayakinkan! Kalau tidak meyakinkan, maka celakalah hidup Anda.&lt;br /&gt;Saya kira, saya sendiri tidak mau hidup dalam kubangan kemiskinan. Makanya dengan sangat meyakinkan, saya harus macak bukan sebagai orang miskin. Saya tidak sudi diperbudak kemiskinan. Kemiskinan?  Yu Turah, kamu benar, bahwa menjadi miskin itu siksaan. Maka jalan terbaik harus membebaskan diri dari siksaan kemiskinan itu. Sampeyan sangat berani menclathu Korep, suami sampeyan yang sok suci itu. Kemiskinan memang tidak bisa ditolelir. Harus dilawan dengan cara apapun. Kalau sampeyan hanya bisa tombok lotre, ya tombok saja. Dari pada hanya pasrah, menunggu perubahan! Lemah betul kelihatannya. &lt;br /&gt;Orang pasrah itu hanya mengandalkan perasaan. Otaknya sendiri tidak main. Karena perasaan yang berperan, bisanya hanya menduga-duga, tanpa mau bicara apa yang menjadi keresahannya. Terus kalau nasib tidak segera berubah, mulutnya nyinyir menyalahkan orang lain dan sok dirinya suci. Ini tidak adil! Kemiskinan hanya mencetak ketidakadilan. Orang nyinyir karena lapar. Karena dirinya tidak bisa berbuat. Karena dirinya telah dibelenggu oleh dirinya sendiri yang sok sudah bagaimana begitu. Untuk memberantas itu, lawan kemiskinan!&lt;br /&gt;Manusia tidak boleh miskin dalam berbagai hal. Ini penyakit. Kalau sudah menjadi penyakit, logikanya harus pergi kedokter. Jadi siapa yang tidak suka kekayaan, lebih baik sekarang juga tinggalkan gedung ini. Pergilah ke dokter. (Kepada penonton) Siapa yang suka miskin, angkat tangan! Berarti semuanya sehat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;TERTAWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yu Turah, Kang Masmu itu seperti ketika saya masih idialis dulu. Sok idialis. Sok suci semuci. Sok tidak butuh kesejahteraan. Sok malu. Padahal dalam hatinya tidak begitu. Betul? Saya mengalami sendiri. Saya tahu, sebenarnya dalam hatinya ingin sekali hidup itu enak, tidak kedumpyangan mencari utangan. Tetapi ketika masih idialis, hmmm…kayaknya hidup itu harus begitu. Biar sengsara asal hatinya tenteram.&lt;br /&gt;Cuiih! Bagaimana mau tenteram kalau perutnya melilit-lilit. Hatinya gundah gulana karena selalu dicerca oleh istrinya dan dirinya sendiri? Apa tidak tambah ngenes, terus akhirnya mati kaku?&lt;br /&gt;Mbok yang realistis. Yang jujur pada diri sendiri. Kalau bisanya nyopet, mengapa tidak nyopet? Kalau bisanya ngutil (mencuri), kenapa tidak ngutil? Kalau bisanya korupsi, mengapa tidak korupsi? Semua itu tergantung niatnya. Kenapa harus menggantungkan hidup pada mimpi-mimpi? Kenapa harus menggantungkan hidup pada ketidakjujuran pada diri sendiri?&lt;br /&gt;Yu Turah, kamu memang benar-benar hebat. Saya terkesan sekali ketika sampeyan nuturi Korep yang sekali lagi lelaki yang sok suci itu.&lt;br /&gt;Ya begitu itu orang yang terbiasa hidup miskin. Mereka takut kaya. Mereka sudah merasa cukup puas dengan yang diberikan oleh Tuhan, meski sediiiikiiiittt.&lt;br /&gt;“Korep! Kecaplah sedikit kekayaan niscaya kamu akan ketagihan dan kamu  segera akan bisa merasakan bagaimana kekayaan melecut darah sehingga wajahmu berwarna merah." (8)&lt;br /&gt;Kalian tahu, Korep masih bisa membantah dengan berkata tidak jujur. “Saya tidak pernah lapar.” (9)&lt;br /&gt;Huh..!!! Sungguh munafik! Bagaimana mau merasa kenyang kalau setiap hari memang tidak pernah makan, karena bisanya hanya mimpi? Itu mah, kebal. Tuh lihat para petinju itu. Setiap hari dipukuli, semakin hari-semakin tahan pukul. Kelihatannya betul ia kebal pukul. Ototnya kuat. Tulang wajahnya kuat. Tetapi yang tidak pernah ketahuan, otaknya jadi lumer, organ tubuhnya remuk. Baru terasa kalu sudah tua.&lt;br /&gt;Orang yang kebal miskin, kelihatan  sehat-sehat saja, tetapi hatinya hancur. Dan ini lebih berbahaya, karena mereka tidak punya hati. Ingat, “Kelaparan adalah burung gagak yang licik dan hitam.” (10) &lt;br /&gt;Saya kira memang benar. Bahwa nasib tidak akan berpihak pada kebanyakan orang yang merasa dirinya hidup bersama nasib. Padahal nasib adalah satu kekuatan yang tak terkendali bahkan oleh dirinya sendiri. Nasib tidak pernah berpihak pada kebanyakan orang. Nasib tidak mengenal SARA. (11) Karena nasib tidak mengenal SARA, maka kita harus tegas, kepada siapa kita berpihak!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;MENGENAKAN DASI. MENGGANTI TOPENG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenakan dasi, tampaknya mudah sekali. Ini tidak gampang, kalau dasi sebagai simbul keberhasilan. Tetapi kalau sebagai tampang saja, seribu dasipun begitu mudahnya kita mengenakannya.&lt;br /&gt;Saya sudah terbiasa dengan kehidupan seperti ini. Jadi saya sangat mudah sekali mengenakan dasi. Berapa kalipun menginginkannya, saya begitu mudahnya menggantikan dasi. Ini tergantung dari dan untuk apa saya mengenakan dasi.&lt;br /&gt;Anda perlu tahu, satu dasi yang saya kenakan, sama dengan satu kemungkinan saya mendapatkan hasil sebanyak-banyaknya. Setiap saya mengenakan dasi saya menjadi percaya diri dengan apa yang saya kerjakan dan saya tidak pernah menjadi ragu-ragu. Bahkan orang-orang yang mempercayai saya, juga tidak merasa ragu-ragu, karena kami memang didukung oleh saling percaya dan tahu sama tahu.&lt;br /&gt;Ini sudah berlaku dimana-mana. Saya tidak perlu menutup-nutupi dengan dalih apapun. Saya harus jujur. Karena kejujuran kunci utama kesusksesan. Saya memang jujur. Ketika mereka memberi isyarat untuk diberi uang pelicin, apa beratnya memberinya kalau memang membuat urusan menjadi licin. Jangan berbelit-belit kalau tidak ingin menemui jalan buntu.&lt;br /&gt;Saya sudah mengalami hal itu, ketika masih kuper dulu. Pasti hal ini tidak perlu saya ceritakan lagi, karena untuk urusan ini sudah menjadi jamak. Sudah terjadi dimana-mana dan tidak perlu ditutup-tutupi. Dari presiden, sampai pengurus RT, kalau tidak memakai pelicin urusan pasti jadi seret.&lt;br /&gt;Kalau tidak pecaya silahkan coba. Apa? Ya kalau ada itu pengecualian. Kalau saya bandingkan, seribu banding satu. Satu itu orang yang bernasib malang, karena telah menyia-nyiakan kesempatan. Lo, betul lo ini? Ini kesempatan. Kapan lagi berbuat? Wong sebenarnya sistem itu ada, tetapi kan berlaku di bawah tangan dengan undang-undangnya saling percaya. Kenapa takut melakukan? Meski lima ribu sepuluh ribu kalau kali sekian orang, berapa jumlahnya? Hitunglah sendiri dan pikirkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;TIBA-TIBA SEEKOR TIKUS BERLALU SAMBIL MENGGONDOL SESUATU.&lt;br /&gt;MELOMPAT KE TEMPAT YANG LEBIH TINGGI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat! Tikus yang tidak mengerti apa-apa saja  bisa berbuat untuk dirinya. Dia tidak takut dengan yang dilakukannya, meski ia tahu resikonya. Ia tahu hidup di dunia itu harus survival (kata guru-guru kita). Kalau tidak, kita bisa menjadi makluk minoritas dan terjajah. Apakah ini lebih baik? Cobalah beranikan diri. Saya sudah ribuan kali untuk mencoba hidup idialis. Tetapi ketemunya saya harus realistis. Saya harus mengaca pada kemampuan dan kesempatan yang saya dapat. Sekali lagi kesempatan!&lt;br /&gt;Ndilalah saya selalu mendapat kesempatan. Tikus itupun ketika mengusung barang-barang curiannya (dalam tanda petik) pasti menunggu kesempatan. Ketika ada kesempatan melesatlah dia. Apalagi saya. Sebagai manusia yang memiliki akal budi, dalam bertindak pasti berbeda dengan para tikus itu. Saya harus menggunakan dasi, sepatu, rambut klemis, dan make up seperti ini. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;MEMAKAI TOPENG DENGAN HIDUNG SEPERTI  KELAMIN  LAKI-LAKI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lo, kenapa tertawa? Apa ada yang lucu? Memang ini kelihatan naif. Ini salah satu bentuk akal budi untuk mengelabuhi orang agar mereka tidak merasa kecewa. Saya harus meyakinkan. Dengan topeng keyakinan ini, insya’allah, semua akan berjalan dengan lancar.&lt;br /&gt;Masih tertawa? Cara saya ini manjur lo. Kalau lawaran seperti tikus-tikus itu pasti segera mampus. Kalau saya mau, tikus-tikus itu sudah mampus sejak dulu. Apa sih susahnya memberantas tikus? Cukup dengan lem tikus kan? Itu sudah beres. Tikus itu kan tidak bisa membedakan mana makanan dan mana lem. Nah kalau manusia dengan akal budinya pasti tahu, mana makanan enak dan mana yang sudah basi. Mana uang yang enak dienthit (dicuri sedikit),  mana yang uang panas.&lt;br /&gt;Ya dengan topeng ini, dasi ini, saya bisa mendapatkan kesempatan. Dan ternyata semua saya lakukan dengan mudah, ketika saya menggunakan akal budi saya. Kalian pingin tahu rahasianya? Ternyata semua pegawai dalam perusahaan saya bahkan di kantor-kantor intansi terkait dengan perusahaan tempat saya berkerja, semua mengenakan akal budinya dengan memakai dasi dan topeng seperti saya ini.&lt;br /&gt;Begitulah cara kerjanya. Kelihatannya mudah. Kalau tidak meyakinkan, wah berat. Sulit! Seperti saya katakan di depan, kalau lawaran, hasilnya cuman sedikit. Cobalah pakai akal budi, biar lebih canggih dan kelihatan manusiawi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;SEEKOR TIKUS MENGERANG-NGERANG. TUBUHNYA TERGENCET  PERANGKAP TIKUS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah akibatnya kalau ‘bermain’ tidak canggih. Tradisional sekali. Ia tidak bisa mengelabuhi. Ia bekerja atas dasar insting saja. Padahal kalau pakai otak sedikit saja, manusia itu mudah dikelabuhi. Mudah ditipu. Seperti yang anda saksikan ini sebenarnya cara saya untuk mengelabuhi orang-orang. Agar orang-orang tidak pernah mempersoalkan kekayaan saya.&lt;br /&gt;Bayangkan kalau mereka tahu kekayaan saya yang sebenarnya, pasti hidup saya sudah berakhir. Tetapi dengan akal budi saya, saya bisa mengelabuhi para petugas yang akan memeriksa kekayaan saya. Ya, terus terang dengan sedikit uang, agar mereka bisa sedikit merubah jumlah kekayaan saya. Hasilnya sangat efisien. Dengan mengeluarkan beberapa lembar ratusan ribu, hasilnya bisa Anda lihat. Harta benda saya selamat, dan sayapun masih dengan lancar menumpuk kekayaan demi kekayaan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;LEMARI YANG BERDIRI KOKOH TADI, DIBARINGKAN SEDEMIKIAN RUPA, SEHINGGA SESEORANG BISA BERDIRI DI ATASNYA. DI BALIK LEMARI TADI ADA TIRAI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah katakan tadi, gunakan akal budi. Dan inilah salahsatu bentuk akal budi saya. &lt;br /&gt;TIRAI MEMBUKA SEDIKIT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah bertahun-tahun saya memikirkan bagaimana menyelamatkan kekayaan saya  dan keluarga saya. Barangkali ini contoh yang tidak gampang dilakukan. Terus terang, saya harus rela harta benda yang saya miliki, saya biarkan menumpuk seperti ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIRAI MEMBUKA AGAK LEBAR, SEHINGGA KELIHATAN SEBAGIAN ‘INTERIORNYA’ YANG BERISI KARDUS-KARDUS BEKAS PEMBUNGKUS KULKAS, AC, TV, TAPE, HP, DLL YANG BERGANTUNGAN. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga, barang-barang itu tidak pernah saya sentuh sedikitpun, demi keawetan harta benda itu. Bahkan, anak dan istri saya tidak pernah boleh menyentuhnya. Apalagi menggunakannya. Mereka tahu, bagaimana sulitnya mendapatkan harta benda itu. Oleh sebab itu, demi menjaga semua harta benda saya itu, saya harus mengelabuhi berbagai pihak. Termasuk keluarga saya. Berapa tikus itu pun  tertipu. Inilah hasil kerja saya yang sebenarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIRAI MEMBUKA LEBAR. TAMPAK ‘INTERIOR MEWAH’ DAN SEBUAH POTO (GAMBAR) KELUARGA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampeyan tidak perlu kaget. Yang dipojok sana (Menunjuk kardus bekas perlengkapan dapur. Kemudian mengenakan dasi dan mengganti topeng), semuanya saya peroleh pada lima tahun awal ketika saya mulai bekerja. Kunci untuk mendapatkan itu tidak  mudah. Dengan telaten, saya mengumpulkan serupiah demi serupiah. Saya harus sedikit pandai bermain sandiwara. Melaporkan hal-hal yang tidak sebenarnya. Sering saya melebih-lebihkan laporan, sehingga pimpinan perusahaan saya senang. Pernah juga saya katakan, perusahaan kita dalam krisis, sehingga perusahaan kalangkabut dan melakukan rasionalisasi. Pada saat itu, saya bisa curi kesempatan. Orang-orang yang sok suci saya sikat. Tentu, sebelumnya saya sudah menjilati pantat direktur saya, agar dia percaya dengan apa yang saya omongkan. Berikutnya, orang yang sok suci itu tersingkir, saya memasukan orang-orang yang bisa diajak kerja sama, biar pada lima tahun ke dua, saya bisa bekerja dengan baik.&lt;br /&gt;Yang disebelah sana (Menunjuk kardus bekas pembungkus perangkat elekronik dan gambar sofa. Kemudian mengenakan dasi dan mengganti topeng), adalah kerja saya pada lima tahun kedua. Tentu, dengan sangat mudah sekali saya bisa mengatur apa yang saya maui. Terus terang kami berlomba-lomba, manipulasi, korupsi, dan kolusi. Bagi kami, kapan lagi tidak melakukan KKN, kalau tidak saat ada kesempatan. Kami tidak mau ketinggalan jaman. Rasanya malu tidak ikut korupsi. Bahkan kalau tidak ikut-ikutan korupsi, dikatakan manusia langka. Mulai Satpam, sampai pegawai bawahan saya, semua pandai berbohong. Pada lima tahun kedua itu, saya menyebarkan paham, “Kalau ingin kaya, jangan bekerja dengan hati nurani. Bekerjalah dengan akal budimu. Kalau engkau bekerja berdasar hati nurani, maka kamu akan pulang dengan tangan hampa, sehampa hatimu yang sok bagaimana begitu.” Itulah racun yang selalu saya berikan pada anak buah saya. Hasilnya, meski mereka sedikit malu-malu, dia mau bekerja dengan ‘akalnya’.&lt;br /&gt;Setelah mereka sadar akan kedudukannya, yang Satpam sering tidur diwaktu malam. Meskipun ia sering tahu ada kepala gudang mencuri sesuatu, ia pura-pura tidak tahu, karena besok paginya ia akan mendapat salam tempel dari kepala gudang. Yang sedikit susah itu, tukang sapu. Ia hanya bisa mengkorupsi serbet. Sementara para pekerja wanita, kalau tidak ada pekerjaan atau ada pekerjaan, kesukaannya nonton sinetron di TV yang sengaja saya letakan disitu, sambil menunggu jam kantor berakhir. Sementara saya sendiri, sibuk merubah angka-angka laporan, biar kelihatan realistis, kemudian pada akhir tahun  saya melaporkan keuangan dengan wajah seperti ini! &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;MEMAKAI TOPENG SEDIH. HIDUNGNYA MANCUNG SEPERTI KELAMIN LAKI-LAKI YANG ‘TEGANG’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya laporkan, pada perusahaan bahwa perusahaan kita sedang pailit. Oleh sebab itu deviden tidak bisa dibagikan pada para pemegang saham, apalagi THR. Meski bisa, tidak sebanyak tahun sebelumnya. Tentu semua itu sudah dimaklumi oleh semua pegawai. Mereka tidak bisa memaksa, karena mereka telah mengkorupnya terlebih dahulu. Tentu, drama ini telah diatur sebelumnya. Paling tidak saya sudah menyusun laporan itu terdiri dari beberapa bagian. Pertama untuk auditur dan petugas pajak, kedua untuk pimpinan, ketiga untuk para pegawai lain. Tentu semua itu atas setahu pimpinan. Dia sendiri, tidak ingin perusahaannya kena pajak. Hanya itu.&lt;br /&gt;Nah, yang sebelah sana (Menunjuk gambar rumah mewah dan mobil mewah kemudian mengenakan dasi lagi) adalah kekayaan saya pada lima tahun ke tiga. Pada saat itu, saya sudah menjabat jadi direktur eksekutif. Jabatan yang strategis. Saya bisa melakukan apa saja. Bahkan semakin bisa menumpuk kekayaan dengan mudah, karena sebagian kerja sama-kerja sama yang ditawarkan ke perusahaan saya, bisa saya eksekusi sendiri, dan hasilnya untuk saya sendiri. Dalam tempo kurang dari dua tahun, saya bisa mendirikan perusahaan sendiri. Seperti yang Anda tahu, saya pun menjadi kaya raya. Lihatlah, betapa semua ini merupakan hasil akal budi saya yang cemerlang. Dalam tempo lima belas tahun, mulai dari pegawai rendahan sampai saya punya perusahaan sendiri adalah kerja yang gemilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TERDIAM. BEBERAPA TIKUS MELINTAS, DENGAN GERAKAN SANGAT LAMBAT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kegemilangan itu hanya berlalu sekejab saja. Lihat poto yang di sebelah sana itu! Kekayaan yang berharga itu, tak bisa saya selamatkan. Ketika karir saya sedikit demi sedikit naik, saya bekerja siang malam, tanpa mempedulikan keluarga saya. Saya seperti diuber-uber hantu kemiskinan. Sepanjang hari saya harus bekerja keras, memeras akal, agar kehidupan kami tidak terpuruk pada kemelaratan.&lt;br /&gt;Namun, nyatanya, apa yang saya lakukan bertahun-tahun, justru membuat salah paham diantara keluarga saya. Istri saya bilang, saya adalah orang gila. Orang yang tidak punya hati nurani. Sementara anak-anak saya menjadi remaja yang binal. Keluyuran setiap malam dan pulang dengan aroma alkohol di mulutnya sembari mendamprat saya habis-habisan, kemudian ndlosor begitu saja di sofa.&lt;br /&gt;Pada saat itu saya pingin menampar anak saya. Tetapi dasar brandal, ia malah nerocos, memaki saya, telah sdiperbudak oleh setan. Bahkan membiarkan istrinya menjadi ‘lonthe’ yang keluar setiap malam dengan berbagai lelaki yang bisa memberinya rasa puas di ranjang.&lt;br /&gt;Mas Korep, sebenarnya kita hanya putus asa, karena menganggap hidup sederhana lebih kaya dari hidup kaya (harta benda). Memang, semua orang pasti punya angan-angan mewah, memiliki rumah mewah, pakaian mewah, pangan mewah, kendaraan, kesempatan rekreasi dan segala aneka kesenangan badan, seperti umumnya orang. (12) &lt;br /&gt;Saya kira semua itu wajar. Saya telah melakoninya dengan terang-terangan. Hidup di suatu negeri yang korup, hidup di tengah masyarakat yang anti akal waras, lebih baik bersikap masa bodoh atau menjadi pemberontak sama sekali. (13)&lt;br /&gt;Saya hidup bagai batu yang punya mata. Memang benar, saya telah membuat nurani saya menjadi batu. Selama hidup, saya mengabdi pada nafsu yang menyala-nyala. Impian tentang kemewahan tidak pernah luntur. Dan ketika harapan itu terwujud, terus terang kami tergagap menerimanya. Ternyata sampeyan benar, Korep. Hidup kaya itu menakutkan. (14)&lt;br /&gt;Mas Korep. Saya dulu juga orang yang lugu. Saya takut miskin, seperti Yu Turah. Saya takut tidak bisa membahagiakan istri dan anak-anak. Makanya saya berusaha banting tulang dengan cara apapun, asalkan saya dan keluarga saya tidak kelaparan. Saya menghalalkan korupsi, kolusi, dan nepotisme, karena saya takut pada suatu hari nanti kehidupan saya jadi bangkrut. Anak-anak saya yang lahir dari rahim istri saya menjadi gelandangan, dan pada akhirnya mati di bawah kolong jembatan.&lt;br /&gt;Oh, ternyata menjadi kaya menakutkan dan menjadi miskin juga menakutkan. Saya selalu dihantui oleh kedua-duanya. Saya pingin kaya, karena saya tidak ingin jatuh miskin yang teramat sangat. Ketika anak istri saya pergi, kekayaan itu tiba-tiba raib. Seluruh harta benda yang bertahun-tahun saya tumpuk menjadi tidak berguna. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;MELEPAS TOPENG DAN DASI-DASI. BEBERAPA TIKUS MELINTAS DENGAN MENGUSUNG BERBAGAI HARTA BENDA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambilah! Semua tidak berguna. Ambilah, saya tidak membutuhkan lagi. Kalau perlu ambilah jantung hatiku. Semua sudah tidak berguna.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;SEEKOR TIKUS NYRONDOL, HENDAK MENGAMBIL HARTA YANG DI BALIK TIRAI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stop! Stoooop! Kalian jangan main-main dengan harta benda saya. Jangankan kamu. Istri saya saja tidak pernah menyentuhnya. Pergilah! (Mengusir dengan melempar sandal) Huh, dikira hidup itu gratisan. Dasar otak tikus. Silahkan ambil barang-barang saya, tetapi harus ada jaminannya. Apakah kalian  bisa menjamin kehidupan saya yang sudah hampir berakhir ini, bisa selamat. Harta benda itu tidak ada artinya bagi keselamatan saya sendiri. Saya pingin mati dengan tenang. Saya pingin mengakiri hidup seperti ketika saya lahir dulu. Apakah ada yang bisa menjamin, bahwa saya bisa selamat tanpa harta benda di sekitar saya? Kalau ada, silahkan ambil seluruh kekayaan saya ini. Bagi saya, keutuhan keluarga saya lebih membahagiakan saya, meski semuanya sudah terlambat.&lt;br /&gt;Sampulung, apa sampeyan tidak dengar suara saya? Mas Korep, Mas Jumena Martawangsa, Yu Turah, Make, apa sampeyan semua sudah bahagia?  Saya sekarang sendirian, menjaga berhala-berhala yang saya sembah bertahun-tahun. Benda-benda itu pada mulanya bisa menyelamatkan dari ketakutan-ketakutan yang menyelimuti benak saya. Nyatanya berhala-berhala itu malah menikam saya dari belakang. Mereka hanya diam seribu bahasa. Mereka sama sekali tidak berharga, ketika tuannya butuh perlindungan. &lt;br /&gt;Ternyata kerja keras saya hanya untuk mengubur saya dengan cara yang sangat menyakitkan. Benda-benda yang saya kumpulkan itu, malah menjadi hantu-hantu yang setiap saat mengancam jiwa saya. Setiap detik, ia selalu membuat sikap saya berubah. Saya tidak bisa tidur. Benda-benda itu, selalu menghantarkan saya pada mimpi-mimpi buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIKUS-TIKUS BERGERAK, HENDAK MENCURI  BENDA-BENDA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai jangan sentuh barang-barang itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIKUS-TIKUS DIAM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang malam, saya menunggui barang-barang yang saya peroleh sejak saya hanya mempunyai lemari butut, dan kursi-kursi tua peninggalan mertua saya. Sementara orang tua saya hanya meningalkan, rasa takut akan kelaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIKUS-TIKUS HENDAK BERGERAK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah aku bilang, kalau kalian menyentuh benda-benda itu, maka hidupmu akan berakhir. Kalau mau hidup, cari diluar sana. Basih banyak yang bisa kamu miliki!&lt;br /&gt;Saya sudah sering mengatakan pada anak-anak dan istri saya. Semua harta benda yang kita miliki ini bukan milik kita. Tetapi semua ini untuk masa depan cucu dan cicit-cicit kita. Harta benda itu pondasi sejarah yang kukuh, agar keturunan kita langgeng sepanjang masa. &lt;br /&gt;Mereka tampak masa bodoh dengan yang saya katakan. Meski mulut saya nerocos. Anak-anak saya, pulang menjelang pagi dengan mata merah, rambut acak-acakan, jalannya sempoyongan, dan pasti mobilnya terluka, untuk kebut-kebutan dangan anak-anak brandal yang sok kaya itu.&lt;br /&gt;Sementara istri saya selalu memilih tidur di vila dan membiarkan saya mendekap guling sendiri, sembari membayangkan istri saya yang dipeluk lelaki lain yang sengaja dibawanya dari plasa-plasa atau hasil arisan dengan perempuan-perempuan malang yang merasa dibuang suaminya karena sibuk mengurusi harta bendanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;TIKUS-TIKUS HAMPIR MENYENTUH KARDUS-KARDUS BEKAS. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu tahu, harta benda itu saya dapatkan dengan mengorbankan segala-galanya. Untuk mendapatkan itu, kamu harus menghadapi saya, meski saya menganggapnya harta itu tidak ternilai lagi selain rasa bahagia. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;MENGAMBIL BENDA APA SAJA DAN SIAP BERPERANG DENGAN TIKUS-TIKUS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini saatnya kita beradu nasib kawan. Siapa yang menang dialah penguasa kerajaan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMBURU TIKUS. TIKUS-TIKUS BERHAMBURAN DAN HILANG ENTAH KEMANA. SEMENTARA SESEORANG ITU TERUS MEMBURUNYA SAMBIL MEMUKUL-MUKUL SEKENANYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mampuslah engkau! Mampuslah engkau! Mampuslah engkau!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERHENTI. BERLARI LAGI DAN MEMUKUL LAGI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mampuslah engkau! Enyahlah engkau!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;TERUS BERLARI SAMBIL MEMUKUL-MUKUL HINGGA HARTA BENDA ITU BERANTAKAN TAK BERSISA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habis. Ludes. Saya kira ini lebih adil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIBA-TIBA SEBUAH BENDA ATAU APA SAJA JATUH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hussssaaa….dimana…kamu..pengecut! Habis. Ludes. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENGEMASI KARDUS-KARDUS DAN MEMASUKAN  KE DALAM LEMARI YANG TERBARING.  SESEORANG MASUK KE DALAM LEMARI.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya kira ini lebih adil. Inilah cita-cita saya. Lahir tanpa membawa apa-apa, pulangpun tanpa membawa apa-apa bahkan tanpa siapa-siapa, meskipun saya tetap mencintai mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEPI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kang Korep, saya titip nomer togelnya. ( Hendak berbaring dalam lemari dan tumpukan kardus-kardus ) Kayaknya saya dapat pulung hari ini. Tolong belikan nomer berapa saja. Tampaknya semua nomer akan jadi nomer keberuntungan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEEKOR TIKUS MELINTAS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hah itu dia. Nomer tikus. Berapa nomer tikus? Ya, lima belas! Belikan nomer tikus saja! Apa? Uang? Nanti kalau tembus saya ganti. Pokoknya belikan nomer tikus. Saya pusing sekali dengan ulah mereka. Berapapun sampeyan punya uang. Kalau tembus, uang itu akan saya buat mbakar tikus kurang ajar itu. Mengganggu orang tidur saja sepanjang hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIKUS MELESAT SEPERTI FORMULA-1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jancuk, apa lagi yang kamu ambil? Oya, Kang Korep, kalau nanti tembus, sampeyan pingin apa? Apa? Tidak punya keinginan? Bodoh sekali. Apa sampeyan tidak pingin bir, paloma, toak, atau nglonthe di stasiun? Siapa tahu sampeyan ketemu Turah dan saya ketemu istri saya. Tidak semuanya? Terus sampeyan pingin apa? Mati? Sampeyan pingin mati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DIAM. SEPI. SESEORANG MELEPAS CELANANYA, SEHINGGA TELANJANG BULAT. TERNYATA SESEORANG ITU TIDAK PUNYA ALAT KELAMIN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas, keinginan sampeyan itu sudah lama saya idamkan. Saya sebenarnya sudah mati, ketika rasa kemaluan saya hilang. Sebenarnya saya bukan manusia lagi. Sekarang, saya hanya sebagai mayat hidup yang bergentayangan menunggu malaikat maut menjemput saya dan menyeretnya ke neraka, tanpa pengadilan di depan Tuhan. Namun sampai sekarang, ketika satu demi satu keluarga meninggalkan saya sendiri, malaikat itu tak kunjung menjemput saya. Sampai kapanpun, Beliau akan saya tunggu.&lt;br /&gt;Mas Korep, sepulang beli togel. Kalau masih punya uang tolong belikan peti mati. Kalau togel itu mbleset, kuburlah peti mati itu, anggaplah saya sudah mati. Buatkan upacara kecil dan berita duka cita. Tancapkan nisan di atasnya,  dan tulis : Telah meninggal dunia, nama saya, lahir tanggal sekian, bulan sekian, tahun sekian, mati tanggal sekian, bulan sekian, tahun sekian. Ingat gunakan kata mati, jangan wafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HENDAK BERBARING DI TENGAH TUMPUKAN KARDUS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya! Siapa? Apa? Nomer saya tembus? Dapat jutaan rupiah? Mas Korep, kalau begitu tolong beritahu malaikat, tunda dulu kematian saya. Kalau perlu undang mereka, kita berpesta bersama-sama! Kita mabuk-mabukan! Kita nglonthe! Kita kawin lagi, Mas. Merdeka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SESEORANG ITU SEGERA MEMAKAI CELANA, DASI, DAN TOPENG, KEMUDIAN BERJOGET SEKENANYA. TIKUS-TIKUS BERGEMBIRA RIA. MEREKA BERJOGET. KEMENANGAN KEMBALI MEREBAK. RUMAH YANG MURAM ITU MENYALA-NYALA MERAYAKAN KEMENANGANNYA. TIRAI PERLAHAN-LAHAN MENUTUP.  DUA EKOR TIKUS MUNCUL DARI BALIK TIRAI.  MEREKA MEMBENTANGKAN POSTER BERTULISKAN : “Kalau ingin berantas korupsi, do’akan tokoh kita ini segera mati!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 2004&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dalam naskah drama, Sumur Tanpa Dasar, karya Arifin C Noor, pada babak awal tokoh Jumena Martawangsa mengucapkan kalimat ini, “Kalau saya bunuh diri, sandiwara ini tidak akan pernah ada.” Saya sangat terkesan dengan kalimat ini. Menurut saya, kalimat ini mencerminkan, bahwa sebuah peristiwa pasti melibatkan ‘tokoh’. Dari tokoh inilah  peristiwa apapun bisa diselesaikan.&lt;br /&gt;2. Dalam naskah drama Tengul, karya Arifin C Noor, pada babak awal tokoh Sampulung mengucapkan kalimat ini, “Menjadi tokoh nasib sama sekali tidak ada enaknya karena selalu dicemooh oleh hati, namun berlangsungnya lakon tak dapat dihalangi. Silahkan menyaksikan dan mencemooh diri saya, sudah tentu setelah saudara-saudara memuja dan menjilat-jilatnya.” Barangkali para koruptor kita berpikiran demikian.&lt;br /&gt;3. Pada adegan penarikan lotre dalam naskah Tengul, karya Arifin C Noor, nomer yang  ditomboki (dibeli) Turah istri Korep ternyata meleset lagi. Padahal ia telah menjual seluruh harta bendanya. Karena harta satu-satunya tinggal kehormatan, maka Turah menjualnya seperti menjual jajanan : “Kehormatan! Kehormatan! Kehormatan!”  Oleh karena krisis ekonomi telah melanda Indonesa dengan begitu hebat dan hutang luar negeri terus melambung, maka jalan satu-satunya (secara tidak sadar) bangsa yang besar ini telah menempuh jalan, seperti yang dilakukan Turah.&lt;br /&gt;4. Euis dan Marjuki, dicurigai Jumena Martawangsa, telah menjalin hubungan afair. Kecurigaan ini memang didasari ketakutan-ketakuatan Jumena sendiri. Tetapi sebenarnya dibalik itu, Euis dan Marjuki bisa dibilang menjalin asmara, meski ia selalu berdusta di depan Jumena. Demi sesuatu yang diyakini, manusia (menurut saya) pasti berdusta, baik pada diri sendiri maupun pada orang lain.&lt;br /&gt;5. Dalam setiap perjudian, Bandar (Salah satu tokoh di Tengul, karya Arifin C Noor) tidak pernah mengenal filosofi jujur. Ditangannyalah pendulum nasib dikuasai. Oleh sebab itu ia bebas memainkan, selicik apapun. Dan memang bandar judi jarang kalah karena harta benda mereka jelas lebih banyak dari penombok.&lt;br /&gt;6. Kecurigaan Jumena terhadap Euis (istri mudanya) dengan Juki (adik angkat Jumena) memang berdasar  ketidak percayaan akan cinta Euis. Pada babak awal Jumena  bertanya pada Euis : “Apa yang diharapkan perempuan sebenarnya?” Euis menjawab, “Seorang suami yang mencintainya.”  Dan dengan tangkas Jumena menjawab pula, “Saya sangsi…”&lt;br /&gt;7. Dalam naskah Kapai-Kapai, karya Arifin C Noor, Emak menyamakan tokoh Abu (anak Emak) yang pegawai rendahan itu, sebagai Pangeran yang rupawan dan hidup bahagia. Kemiskinan memang selalu menggiring orang pada mimpi-mimpi. Karena mimpi-mimpi inilah terkadang manusia berbuat nekat. Termasuk korupsi. Manusia berkorupsi bisa jadi akibat dari rasa takut akan kemiskinan dan keinginan realisasi mimpi-mimpinya akan kemewahan.&lt;br /&gt;8. Kerna jengah menghadapi Korep yang merasa sudah bahagia meski hidup sederhana (miskin), Turah (istri Korep) merasa perlu meyakinkan, bahwa kekayaan akan merubah segalanya.&lt;br /&gt;9. Namun sayang, ajakan istrinya itu, tak pernah membuat surut Korep untuk tetap memilih hidup sederhana dan Korep menyatakan dalam kemiskinannya itu ia merasa tidak pernah lapar.&lt;br /&gt;10. Baca sajak WS. Rendra, Kelaparan. Saya menulisnya diluar kepala.&lt;br /&gt;11. Perihal nasib, Bandar (salah satu tokoh dalam naskah Tengul, karya Arifin C Noor) percaya, bahwa nasib tidak pernah berpihak pada kebanyakan orang. Tetapi pada segelintir orang, karena nasib adalah kekuatan yang tak terkendalikan dia tak pernah memihak atas golongan, suku, ras, bahkan agama. Nasib tidak ada hubungannya dengan kesalehan seseorang. Maka Bandar berujar, “Inilah kekeliruan terbesar. Nasib tidak pernah tahu, apa itu agama.”&lt;br /&gt;12. Kesederhanaan Korep sebenarnya didasari oleh rasa putus asa. Karena pada dasarnya secara manusiawi manusia punya angan-angan tentang kekayaan harta benda dan hidup tenang.&lt;br /&gt;13, 14.  Periksa dialog Korep dengan tokoh Si Tuli.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5346587717956970287-2206594853321361236?l=teaterapakah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teaterapakah.blogspot.com/feeds/2206594853321361236/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5346587717956970287&amp;postID=2206594853321361236' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/2206594853321361236'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/2206594853321361236'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teaterapakah.blogspot.com/2008/03/coming-soon.html' title='coming soon'/><author><name>teaterapakah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14504659433822587521</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R4KW9fwvaJI/AAAAAAAAAAM/4MNOEFdRZSc/S220/giryadi+oke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/SAKZeNOIBGI/AAAAAAAAAFM/fpQ1a2772uw/s72-c/blog-monolog+retorika.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5346587717956970287.post-7269809278552469439</id><published>2008-02-27T12:06:00.000-08:00</published><updated>2008-03-21T19:57:54.057-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai teater'/><title type='text'>Kondisi teater di Jawa Timur</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R-R1j-ux2lI/AAAAAAAAAE0/r5SqRzb_ZmQ/s1600-h/blog-rashomon+oke.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R-R1j-ux2lI/AAAAAAAAAE0/r5SqRzb_ZmQ/s320/blog-rashomon+oke.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5180394732377987666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tengoklah teater SMA dan teater kampus&lt;br /&gt;Oleh : R.Giryadi&lt;br /&gt;Ada yang sering mempertanyakan eksistensi teater di Jawa Timur. Pertanyaan itu selalu dikaitkan dengan tidak munculnya teater Jawa Timur di forum-forum baik local maupun nasional. Bahkan ada yang berasumsi, setelah generasi Akhudiat berlalu, maka berlalu pula masa kejayaan teater di Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Asumsi yang -tentu bisa salah juga bisa benar- ini sebenarnya bisa diantisipasi sejak sepuluh tahun terakhir ini. Sebenarnya sejak masa-masa paceklik generasi teater yang dimulai pertengahan tahun 1990-an itu dan mulai banyak munculnya teater-teater kampus, orientasi pembinaan terhadap teater segera bergeser. Kalau pada masa 1980-1990 banyak diwarnai dengan kekuatan teater amatir semacam teater Ragil, Sanggar Suroboyo, teater Dua Lima, teater Rajawali, teater Patria, teater Pavita, teater Jaguar, teater Nol, teater Bengkel Muda Surabaya, dan masih banyak lagi, maka sejak pertengahan dasawarsa 90-an, kekuatan itu bergeser pada aktivitas teater kampus. Diliputi gegap-gempitanya musim reformasi, banyak teater amatir yang ‘mengundurkan diri’ dari dunia sosial politik yang hiruk pikuk. Sementara dikampus-kampus yang menggejala dengan teater performance art-nya, sedikit demi sedikit mencoba memperkuat barisan teaternya.&lt;br /&gt;Dalam masa tahun 1997, bermunculan teater-teater kampus yang memiliki spirit kuat dan bisa diprediksi memiliki napas panjang. Mereka tidak saja mendesakan wacana ‘kontemporer’ tetapi juga etos kerja yang tinggi. Hal ini bisa terlihat dari komunitas-komunitas yang ada dan andilnya cukup besar terhadap perkembangan teater di Surabaya maupun di Jatim. Boleh dicatat dalam hal ini, teater Kusuma (Universitas 17 Agustus Surabaya), teater Chrystal (UPN Veteran Surabaya), teater Puska (FISIP Unair), teater Institut (Universitas Negeri Surabaya), teater Hampa (Universitas Malang), teater Tiang (Universitas Jember), dan lain sebagainya. Kelompok teater ini sampai sekarang masih menunjukan eksistensinya. Bahkan saat seleksi daerah Pekan Seni Mahasiswa Regional Jawa Timur tangkai teater, beberapa perguruan tinggi swasta di Jatim banyak yang mendaftarkan teaternya. Salah satunya teater dari Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Secara kualitas cukup menarik dan bahkan berhasil menjadi juara III.&lt;br /&gt;Tak kalah menariknya, perkembangan teater SMA di Jatim pada tahun-tahun menjelang 2000-an bermunculan begitu banyak. Setiap diadakan festival teater untuk SMA atau whorkshop teater, bermunculan puluhan teater SMA yang sampai sekarang menunjukan eksisttensinya. Dalam catatan terakhir yang diperoleh oleh Taman Budaya Jawa Timur (TBJT) dalam Festival Teater Remaja (2004) lalu, terdapat lebih 40 teater yang ada di Jawa Timur. Begitu juga dalam Festival Teater SMA di IAIN beberapa waktu lalu, juga mendapatkan data sama dari jumlah yang didapat TBJT.&lt;br /&gt;Kalau kita berbicara teater amatir baik itu yang berada di Jawa Timur maupun di Surabaya, bisa dihitung dengan jari. Beberapa teater amatir yang pernah ada di Surabaya kini tak tahu rimbanya. Meski beberapa kali mereka mengadakan pementasan tetapi sebentar kemudian menghilang baik itu secara kelompok maupun personal. Kalau kita hitung di Surabaya hanya ada teater Tobong, teater BMS, Teater Api Indonesia, dan teater Ragil. Sedangkan di Jawa Timur, kita harus gigit jari. Sementaran teater profesional baik di Surabaya maupun di Jawa Timur pada umumnya tak ada satu grupun yang eksis.&lt;br /&gt;Keadaan seperti ini semestinya tidak perlu terjadi bila ada semacam ‘regenerasi’ untuk pencapaian puncak sebuah generasi teater. Katakanlah, ada pilar-pilar yang kuat seperti teater SMA dan teater kampus. Mereka adalah generasi yang butuh muara di teater amatir maupun teater profesional. Karena kedua kekuatan ada pada teater SMA dan kampus, maka proses pembinaan harus diutamakan pada kedua pilar ini. Karena mau tidak mau kedua pilar inilah yang pada kemudian hari akan meneruskan ke muaranya yang terakhir yaitu teater amatir maupun teater profesional.&lt;br /&gt;Persoalannya sekarang, apakah dalam hal ini intansi terkait, kelompok teater amatir dan profesional (kalau ada), menyadari hal ini? Mau tidak mau Surabaya dan Jawa Timur harus menyadari keadaan ini. Jawa Timur butuh peremajaan teater. Sekarang telah terjadi pergeseran, teater Jawa Timur telah banyak tumbuh di SMA-SMA dan kampus-kampus. Mau tidak mau, keberadaan ini harus dimanageman dengan baik, agar  generasi teater di Jawa Timur tidak hanya mengandalkan segelintir teater yang ada.&lt;br /&gt;Akhir Februari 2006 gallery Surabaya Dewan Kesenian Surabaya, mengadakan Festival Teater Pelajar dan Pertemuan Teater Kampus pada akhir April 2006 mendatang. Peristiwa ini perlu direspon secara positif agar keberlangsungan teater di Jawa Timur, tidak hanya menggantungkan pada nasib saja. Proses regenerasi secepatnya mulai dipikirkan strateginya sedini mungkin.&lt;br /&gt;Kalau kita lihat Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), mampu memunculkan tokoh-tokoh yang lahir dari Festival Teater Remaja (sekarang berubah, Festival Teater Jakarta) dan bisa mentasbihkan sebuah kelompok teater remaja menjadi kelompok teater amatir, mengapa di Surabaya tidak bisa? Dengan kegetolan DKJ mengadakan festival terbukti mampu melahirkan tokoh-tokoh yang pada akhirnya menjadi ‘pendekar’ teater Indonesia. Semestinya, festival yang diadakan di Surabaya juga mampu memunculkan generasi-generasi baru, kalau festival itu memang bertujuan begitu. &lt;br /&gt;Sekali lagi, persoalan teater di Jatim masih seputar regenerasi, proses pembinaan, dan tradisi kritik teater yang sampai hari ini di Surabaya belum ada kritikus teater. Memang pada dasarnya persoalan munculnya generasi adalah persoalan jaman. Tetapi kini jamannya sudah berubah. Mengapa sikap kita belum juga berubah?**&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5346587717956970287-7269809278552469439?l=teaterapakah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teaterapakah.blogspot.com/feeds/7269809278552469439/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5346587717956970287&amp;postID=7269809278552469439' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/7269809278552469439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/7269809278552469439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teaterapakah.blogspot.com/2008/02/kondisi-teater-di-jawa-timur.html' title='Kondisi teater di Jawa Timur'/><author><name>teaterapakah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14504659433822587521</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R4KW9fwvaJI/AAAAAAAAAAM/4MNOEFdRZSc/S220/giryadi+oke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R-R1j-ux2lI/AAAAAAAAAE0/r5SqRzb_ZmQ/s72-c/blog-rashomon+oke.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5346587717956970287.post-1238203306622194218</id><published>2008-02-27T11:56:00.000-08:00</published><updated>2008-02-27T12:02:18.762-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai teater'/><title type='text'>Teater Kampus (Belum) Kehabisan Napas</title><content type='html'>Oleh : R. Giryadi&lt;br /&gt;Di Surabaya –Jawa Timur- teater kampus memiliki potensi yang tidak kalah dengan teater amatir (luar kampus, red). Ambil contoh Teater Institut Unesa (IKIP Surabaya) yang sampai sekarang sudah berusia 27 tahun, hamper tanpa menemui kevakuman. Begitu juga, di kampus-kampus Surabaya, IAIN, Untag, UPN, Ubaya, Unitomo, Unair, UWP, ITS, UK Petra, aktivitas teaternya juga tak pernah berhenti.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bahkan di Malang satu kampus bisa memiliki puluhan teater, seperti Unmuh, Unisma, UNM, dan Uniga. Namun memang teater tidak hanya berhenti pada kwantitas saja. Tetapi sepanjang amatan saya, produksi teman-teman teater kampus, tak pernah ada yang mengecewakan.&lt;br /&gt;Hal ini bisa kita lihat dalam event dua tahunan yang diselenggarakan Badan Seni Mahasiswa Indonesia-Regional Jawa Timur, terlihat sekali keseriusan mereka dalam penggarapan. Tentu saja, orientasi mereka tadak saja kalah menang dalam event itu, tetapi kesadaran mereka benar-benar didasari oleh kesadaran kreatif.&lt;br /&gt;Sepanjang tahun 1997 sampai 2002 misalnya, dari teater kampus, justru memunculkan, Dialog Kamar Mandi, Tanah Mati, Caligula, (teater Kusuma Untag), yang tidak saja mewujudkan keinginan pentas, tetapi benar-benar menunjukan totalitas proses kreatif yang melelahkan. &lt;br /&gt;Begitu juga Teater Institut Unesa, juga melahirkan Jalan Pencuri, Ode untuk Ibu, Pohon dalam Piring Tanah, Rashomon. Teater Cengkir UWP melahirkan, Kurcaci-Kurcaci, dan Blak Kotang. Bahkan Blak Kotang, pernah dipentaskan di acara teatronik TVRI Jakarta.&lt;br /&gt;Ketika diadakan seleksi regional bidang teater oleh BSMI dengan merujuk pada lomba teater realis, kekuatan kreatif teater kampus begitu tampak. masing-masing kelompok teater tetap menunjukan kekhasannya masing-masing yang telah digeluti selama ini. &lt;br /&gt;Sebut saja, teater Hampa, Universitas Negeri Malang, tetap saja mengusung realis gaya teater Melaratnya (alm) Hasim Amir. Teater Kusuma, Universitas 17 Agustus, juga tetap mengandalkan ekplorasi pendalaman karakter dan keliaran tubuh aktor. Teater Institut tetap mengedepankan kekuatan suasana pertunjukan dengan didukung visualisasi artistik yang simbolik. &lt;br /&gt;Selain itu masih banyak kelompok teater kampus yang tak pernah kehabisan napas. Komunitas teater IAIN Sunan Ampel, hampir setiap bulan mengadakan kegiatan, baik diskusi, workshop, dan juga pentas teater. Bahkan saat ini teater kampus di Surabaya memiliki ‘Jendela’ wadah untuk menjalin komunikasi antar teater. Untuk mewadahi apresiasi, Jendela menerbitkan buletin Jitaks, yang dikomandoi teman-teman teater Kusuma. &lt;br /&gt;Diakui memang sepanjang tahun 2002-2007 kegiatan teater kampus hamper-hampir ‘kehabisan’ napas. Selain tidak adanya kegiatan secara personal, dalam ajang dua tahunan BSMI teater kampus kurang meresponya dengan serius. Sepanjang tahun itu, di Surabaya hanya beberapa pertunjukan teatr kampus. Bahkan saat diadakan Parade Teater Kampus 2005 lalu, tampak sekali greget keseriusan mereka berkurang.&lt;br /&gt;Meski demikian kalau kita tengok ke luar Surabaya misalnya, masih ada geliat yang cukup berarti bagi perkembangan teater kampus. Sebut saja teater Tiang Unej, sejumlah komunitas teater di Malang, dan juga teater Lentera STKIP Sumenep, masih memasang kuda-kuda untuk tetap unjuk gigi. &lt;br /&gt;Hal ini terlihat dalam keseriusan penyelenggaraan Temu Teman Teater se Indonesia di Universitas Islam Negeri Malang pertengahan bulan Mei ini oleh komunitas Teater K2 (Komedi Kontemporer, red) UIN Malang. Keseriusan mereka dalam membangkitkan teater di kampus perlu mendapatkan nilai. Dan teater kampus memang akan tetap hidup salama penggiat-penggiatnya mampu dan mau bekerja keras. **&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5346587717956970287-1238203306622194218?l=teaterapakah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teaterapakah.blogspot.com/feeds/1238203306622194218/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5346587717956970287&amp;postID=1238203306622194218' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/1238203306622194218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/1238203306622194218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teaterapakah.blogspot.com/2008/02/teater-kampus-belum-kehabisan-napas.html' title='Teater Kampus (Belum) Kehabisan Napas'/><author><name>teaterapakah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14504659433822587521</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R4KW9fwvaJI/AAAAAAAAAAM/4MNOEFdRZSc/S220/giryadi+oke.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5346587717956970287.post-2871920745830898836</id><published>2008-02-20T16:35:00.000-08:00</published><updated>2008-02-20T17:57:25.100-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai teater'/><title type='text'>Membangun Pusat Kesenian dengan Daya Sentripetal</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R7zXbqy25wI/AAAAAAAAADg/HFl23IO93DI/s1600-h/blog-robohnya+surai+kami.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R7zXbqy25wI/AAAAAAAAADg/HFl23IO93DI/s320/blog-robohnya+surai+kami.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5169243342658529026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Rakhmat Giryadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika masyarakat menolak dominasi pusat, dalam berbagai segi kehidupan, di Surabaya muncul ide, membangun pusat kesenian. Agar tidak menjadi kontraproduktif, perlu segera diperjelas, apa yang dinginkan oleh sebagian ‘pekerja seni’ Surabaya, tentang pusat kesenian itu? Meski ini ide yang sangat bertentangan dengan semangat jaman, pusat kesenian di Surabaya, harus tetap dipikirkan sebagai alat bertelornya tata nilai  modern. Jadi pusat kesenian yang dimaksudkan sebagian seniman, saya harapkan bukan tempat yang representatif teknis saja, tetapi bisa menjadi semacam, pusaran yang dibangun atas daya sentripetal (bergerak menuju pusat)), dari ‘pusat-pusat’ kesenian yang berada di Jawa Timur.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya pusat kesenian di Jawa Timur (baca : Surabaya), sudah harus ada sejak Taman Budaya Jawa Timur dan lembaga (kesenian) terkait itu ada. Bila lembaga kesenian ini sejak awal bekerja dengan baik (lebih mengedepankan sintem nilai dari pada juklak dan juknis), maka meributkan fungsi Balai Pemuda, sebagai pusat kesenian tidak lagi mencuat. Kenyataan ini telah menjadi perjalanan sejarah di Jawa Timur, dimana lembaga-lembaga terkait tidak bisa menjadi bagian terpenting bagi perkembangan kesenian di Jawa Timur.&lt;br /&gt;Hal ini penting. Karena bila pusat (baca : gedung) kesenian  itu hanya untuk mengatasi kendala teknis, pada akhirnya nanti, pusat itu hanya untuk menampung kemalasan-kemalasan bekerja secara menyeluruh, terhadap berbagai hal yang harus dihadapi oleh pekerja seni pertunjukan. Bila pusat kesenian hanya untuk kepentingan itu, bisa jadi, gerakan itu akan mengadirkan ketergantungan pekerja seni untuk berorientasi  pada pusat (sentrifugal). Akibatnya, pusat malah menjadi kendala bagi penyebaran, nilai-nilai kesenian itu sendiri. Bahkan bisa jadi daerah akan tetap menjadi subordinasi pusat.&lt;br /&gt;Pusat kesenian modern, bila salah menafsirkan makna pusat itu sendiri, bisa menjadi bumerang bagi kesenian modern itu sendiri. Pusat kesenian itu tidak bisa hanya menjadi jembatan antara masyarakat (apresian) dengan seniman. Tetapi, pusat kesenian itu, setidaknya berorientasi kepada lembaga riset bagi perkembangan seni modern. Dalam pusat itu, kesenian bukan lagi sebagai sekedar tontonan, tetapi sebagai wacana.&lt;br /&gt;Ingat, ketika ketoprak dilembagakan (dipusatkan/ditobongkan) ketoprak bukan lagi alat komunikasi dialogis atara masyarakat tradisionil dengan ‘seniman’. Tetapi menjadi semacam legitimasi kekuasaan atas raja-raja. Ketoprak bukan lagi ideomatik kesenian rakyat, tetapi menjadi kental kedudukannya sebagai kesenian keraton. Ini contoh yang menarik untuk dikaji. Apakah benar, dengan hadirnya pusat kesenian, seni (apapun) akan menjadi bagian dari ekspresi masyarakatnya?&lt;br /&gt;Saya lebih cenderung berharap, pusat kesenian itu dibangun oleh berbagai komunitas masyarakat. Biarkan pusat kenian itu, dibangun oleh daya pusar berbagai komunitas sehingga menimbulkan daya sentripetal (memusat). Dari sini akibat ketergantungan dari pusat bisa dikurangi, sehingga suara masyarakat bawah, akan terdengar ke pusat oleh usaha kreatifnya, bukan karena daya pusaran dari pusat.&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, yang perlu dibangun (sebelum menjadi pusat kesenian itu) adalah, sumberdaya manusia, infrasutruktur yang memadai, manajeman yang tangguh, dan kepercayaan pemerintah terhadap kemandirian seniman. Sumber daya manusia itu, bisa diambil dari para stakeholder-stakeholder dari berbagai komunitas. &lt;br /&gt;Stakeholder inilah yang akan menjadi energi daya sentripetal. Merekalah orang-orang yang memiliki spirit dan tahu akar-akar persoalan dari pada orang-orang (penentu kebijakan) yang hanya tahu angka-angka saja. Memberdayakan stakeholder menjadi sesuatu yang penting, bila keinginan pusat kesenian itu, bukan sebagai orientasi teknis, tetapi untuk meningkatkan nilai kultural yang benar-benar dibangun dari lapisan masyarakat. &lt;br /&gt;Pusat kesenian Jawa Timur (dimanapun tempatnya), memang sesuatu yang penting. Tetapi bagaimana kepentingan itu, bukan hanya menjanjikan kemudahan-kemudahan teknis ( berkreatif tanpa susah payah memasang, sewa, pinjam, berbagai perlengkapan pentas), melainkan menjadi bertemunya sebuah sitem nilai kebudayaan, yang bisa diwacanakan kepada berbagai pihak yang berkepentingan dengan pembangunan kebudayaan. Sistem nilai itulah yang harus diperjuangkan oleh seniman dan tidak hanya memberikan kemudahan teknis saja ke pada seniman. ***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5346587717956970287-2871920745830898836?l=teaterapakah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teaterapakah.blogspot.com/feeds/2871920745830898836/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5346587717956970287&amp;postID=2871920745830898836' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/2871920745830898836'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/2871920745830898836'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teaterapakah.blogspot.com/2008/02/membangun-pusat-kesenian-dengan-daya.html' title='Membangun Pusat Kesenian dengan Daya Sentripetal'/><author><name>teaterapakah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14504659433822587521</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R4KW9fwvaJI/AAAAAAAAAAM/4MNOEFdRZSc/S220/giryadi+oke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R7zXbqy25wI/AAAAAAAAADg/HFl23IO93DI/s72-c/blog-robohnya+surai+kami.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5346587717956970287.post-1325886801825476957</id><published>2008-02-10T16:42:00.000-08:00</published><updated>2008-02-10T16:46:52.745-08:00</updated><title type='text'>TEATER SURABAYA DI TENGAH KRISIS PENGAMATAN</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R6-a4ay25uI/AAAAAAAAADQ/bWZkaIL57Bg/s1600-h/blog-provokator.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R6-a4ay25uI/AAAAAAAAADQ/bWZkaIL57Bg/s320/blog-provokator.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5165517591673235170" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh : R Girydi&lt;br /&gt;Kalau kita hitung, berapa jumlah teater nonkampus –untuk tidak menyebut profesional- di Surabaya? Kalau kita hitung-hitung tak melebihi jumlah jari tangan. Sementara yang masih eksis ‘berproses’ barangkali cuma berjumlah separuhnya. Beberapa bisa kita sebut, Teater Tobong, Teater Api Indonesia (TAI), Teater Jaguar, dan –mungkin- Bengkel Muda Surabaya, Teater Ragil. Untuk sementara kelompok-kelompok inilah yang masih memiliki greget menggairahkan perteateran di Surabaya. Bahkan mereka bisa diklaim sebagai rujukan eksistensi teater Surabaya di tingkat nasional.&lt;br /&gt;Namun beberapa kelompok yang saya sebut di atas, menurut pengamatan saya, dalam periode awal tahun 2000-an hanya TAI dan teater Tobong yang memiliki vitalitas yang tinggi  untuk berproses. Bahkan mereka juga menciptakan pengaruh -wacana teater- yang berorientasi pada eksperimen dan ekplorasi tubuh aktor.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dua kelompok teater tersebut di atas terdiri dari anak-anak muda yang tidak berorientasi pada formaliseme teater yang hanya berkutat pada tontonan. Mereka lebih mengedepankan proses yang berkesinambungan sambil menebarkan ‘virus’ kepada sesama generasi. Barangkali kalau boleh saya simpulkan, ideologi mereka adalah ideologi proses. Jadi, untuk sementara proses bagi generasi teater paska generasi Akhudiat adalah persoalan yang mengedepan. Meski demikian demi pencapaian ideologi artistik, kelompok teater ini juga menawarakan berbagai gagasan yang diwujudkan dalam beberapa pagelarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang Dialog&lt;br /&gt;Bila dibandingkan dengan generasi Akhudiat, pencapaian-pencapaian artistik dan unsur pertunjukan lainnya, oleh generasi saat ini bisa dinomer duakan. Artinya perwujudan gagasan mereka tidak hanya berhenti saat pertunjukan itu digelar, tetapi pada tahapan pencapaian berikutanya yang semua itu berada di luar pertunjukan.&lt;br /&gt;Inilah yang harus dicermati. Sebenarnya sebuah gagasan teater tidak berhenti pada saat pertunjukan itu digelar atau bagaimana sebuah kelompok teater mengorganesasi sebuah ivent. Tetapi seberapa jauh gagasan itu membuat ruang dialog  teater menjadi terbuka sehingga memungkinkan gagasan-gagasan lain tumbuh. &lt;br /&gt;Inilah yang bisa membuat peluang teater –di Surabaya- tumbuh dengan sehat. Jadi tidak hanya sekedar membuat dikotomi, siapa yang bodoh dan siapa yang pintar, seperti dicontohkan Akhudiat dalam Kompas (29/12/03), untuk menggambarkan betapa sulitnya memahami teater modern.&lt;br /&gt;Kalau ruang dialog terbuka, barangkali dikotomi siapa bodoh dan siapa pintar menjadi bisa dinetralisir dan menjadikan batas antara penonton dan pelaku semakin nisbi (baca : tidak terbatas). Namun demikian keterbukaan ini tidak longgar, tentu dalam hal ini ada etika-etika atau bentuk pertanggungjawaban oleh sebuah kelompok atas gagasan yang telah ditawarkan.&lt;br /&gt;Kebingungan penonton untuk menangkap –makna- teater modern tidak sepenuhnya salah di antara ke duanya (penonton dan pelaku). Tetapi bisa jadi unsur lain yang tak kalah penting adalah tidak adanya pengamat yang bisa menjembatani kerentanan ini. Saya membayangkan, bila seandainya pra pentas sebuah kelompok teater ada semacam pra wacana yang diaktualisasikan oleh pengamat dalam bentuk diskusi atau tulisan-tulisan di media massa, barangkali pertunjukan akan lebih menarik dan merangsang untuk tidak sekedar menjadi penonton yang dibutakan matanya tetapi penonton yang dihidupkan otaknya –multi tafsir-, oleh berbagai unsur yang telah menjembataninya. Sehingga dikotomi (yang kadaluwarsa) seperti dicontohkan Akhudiat tidak terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesionalisme&lt;br /&gt;Kalau kita berbicara profesioanalisme atau amatiran, seperti yang terungkap dalam wawancara Kompas (29/12/03 ) dengan Akhudiat –salah seorang yang telah menjadi bagian dari sejarah teater di Surabaya- ketika mengomentari pertunjukan Laboratorium Gila oleh Teater Api Indonesia (27-28/12/03), tidak sesederhana yang diungkapkan Akhudiat dengan mencontohkan  profesional ala Bengkel Muda Surabaya yang telah –berhasil- mengeksplorasi besutan, pontomim, ataupun penggabungan bentuk drama-musik.&lt;br /&gt;Saya kira Akhudiat hanya menyederhanakan persoalan. Bahwa memaknai profesional hanya sebatas pencapaian artistik sebuah kelompok saja. Ada berbagai sebab kalau teater  di Surabaya disebut tidak profesional dan masih bersifat amatiran. Ada ruang lain yang tidak tergarap, ketika teater membutuhkan ruang profesional. Berbagai ruang itu masih nampak kosong melompong dan tidak merangsang orang-orang yang berkecimpung di teater menjadikan teater sebagai ruang profesi, tetapi bisa jadi hanya sekedar menjadi tempat numpang lewat.&lt;br /&gt;Salah satu ruang yang teramat longgar dan tampak sudah banyak dilupakan adalah ruang pengamat yang serius dan utun untuk mempresentasikan gagasan-gagasan baru di jagad teater baik itu pra pentas maupun paska pentas. Unsur ini penting ketika profesionalisme dituntut. Kehadiran seorang pengamat sekaliber Akhudiat misalnya, dibutuhkan untuk membedah secara obyektif gagasan-gagasan yang ditawarkan teater –modern- di Surabaya.&lt;br /&gt;Unsur lain adalah keterlibatan media massa yang membuka ruang promosi dengan tidak sekedar mencatat tanggal dan jam pentas  saja, tetapi juga mengaktualisasikan  gagasan teater melalui wawancara khusus dengan pelaku teater yang bersangkutan. Ketika dua ruang ini tergarap, saya kira kesenjangan sedikit diminimalisir dan kerja teater bisa dipertanggungjawabkan secara profesional pula.&lt;br /&gt;Tentu persolan di atas sangat sederhana. Yang menjadi persoalan sekarang, sudahkah kerja di luar panggung itu maksimal? Saya kira, kita –Surabaya- perlu introspeksi. Teater Surabaya sedang dalam krisis pengamatan. Tampaknya teater Surabaya membutuhkan ruang dialog –masyarakat, pengamat, media massa, pelaku- yang obyektif agar ruang profesional itu terbuka. Bagaimana, profesionalisme dituntut bila unsur yang lain tidak sejalan, bahkan cenderung menutup dan kontraproduktif?&lt;br /&gt;Untuk menjadikan teater Surabaya profesional memang tidak kerja sederhana, karena butuh dukungan berbagai pihak yang bisa mewadahi teater ini bisa profesional. Bagaimana bisa profesional kalau pengamat sendiri memandang sinis –terlalu subyektif-sebuah pertunjukan ketika masyarakat –penonton- membutuhkan keterangan diluar subyektifitas pengamatan?&lt;br /&gt;Pengamat yang kita butuhkan saat ini adalah pengamat yang tidak hanya sekedar mang-amini sejarah. Masyarakat teater –modern- di Surabaya membutuhkan pemikiran-pemikiran segar yang membuka jalan (avant gard). &lt;br /&gt;Namun demikian pekerja-pekerja teater memang tidak bisa berpangku tangan ketika teater sedang terjadi krisis pengamatan. Teater tidak hanya sekedar melontarkan gagasan pertunjukan tetapi artikulasi gagasan dalam bentuk kerja intelektual –riset, menulis, dan yang lainnya- diperlukan. Sehingga ketika terjadi gesekan antara penonton, pengamat, media massa, dan pelaku masih terjembatani. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(R. Giryadi, Sutradara Teater Institut Unesa, tinggal di Sidoarjo)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5346587717956970287-1325886801825476957?l=teaterapakah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teaterapakah.blogspot.com/feeds/1325886801825476957/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5346587717956970287&amp;postID=1325886801825476957' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/1325886801825476957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/1325886801825476957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teaterapakah.blogspot.com/2008/02/teater-surabaya-di-tengah-krisis.html' title='TEATER SURABAYA DI TENGAH KRISIS PENGAMATAN'/><author><name>teaterapakah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14504659433822587521</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R4KW9fwvaJI/AAAAAAAAAAM/4MNOEFdRZSc/S220/giryadi+oke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R6-a4ay25uI/AAAAAAAAADQ/bWZkaIL57Bg/s72-c/blog-provokator.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5346587717956970287.post-6922125992685995370</id><published>2008-02-04T20:35:00.000-08:00</published><updated>2008-02-10T15:41:27.610-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai teater'/><title type='text'>KOTA TANPA TEATER</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R6-LiKy25sI/AAAAAAAAADA/rrsJ7o_DtPE/s1600-h/blog-jalan+pencuri.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R6-LiKy25sI/AAAAAAAAADA/rrsJ7o_DtPE/s320/blog-jalan+pencuri.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5165500716746729154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : R Giryadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 90-an, bersama karang taruna tempat tinggal saya di Blitar, mencoba membuat kelompok teater. Namanya teater Gumyek. Hampir satu tahun dua kali, Teater Gumyek melakukan pergelaran. Naskah yang digarap, ada yang ditulis sendiri, adaptasi dari cerita rakyat, dan naskah jadi seperti karya WS.Rendra dan Emil Sanosa.&lt;br /&gt;Kurang lebih selama tiga tahun, teater Gumyek hadir di tengah-tengah masyarakat desa yang tradisional. Selama itu pula, masyarakat yang sudah mulai mendapat jejalan informasi modern, -karena tv swasta sudah mulai ada- sangat kagum melihat cerita Suto Mencari Bapa, karya WS.Rendra. Atau cerita tentang, pemberontakan Ken Arok yang diadaptasi dalam teater modern. &lt;br /&gt; Hal yang patut dicatat adalah, kegairahan akan kehidupan sangat terasa selama kami melakukan proses teater. Masyarakat yang tadinya hanya berdiam diri di rumah sambil menikmati, -hiburan satu-satunya TVRI- seakan terhenyak. Ada semacam alternatif hiburan yang tak kalah menariknya, yaitu teater. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; Kami saling berdialog. Berinteraksi secara terbuka, melalui proses itu. masyarakat yang biasanya tidur –menutup pintu rumah- jam 19.00, menjadi molor sampai tengah malam, karena menyaksikan anak-anak berlatih teater. Mereka antusias, tidak hanya ingin melihat sanak saudaranya ikut terlibat, tetapi, benar-benar ingin mendapatkan sesuatu yang baru –pencerahan- di luar cara-acara TVRI yang menjemukan dan didominasi ‘doktrin’ rezim yang masif. Dan memang mereka merasakan, betapa teater –untuk menyebut tidak berlebihan- memberikan sesuatu yang baru, dari pada keterangan Menteri Penerangan yang syarat dengan retorika, usai rapat kabinet di Bina Graha.&lt;br /&gt;Namun, zaman memang terus bergerak. Satu persatu personil teater Gumyek beranjak dewasa, dan dituntut untuk mengembangkan pemikiran yang pragmatis. Maka mereka pada meninggalkan desa, menguber harta benda. Saya sendiripun akhirnya memilih bergelut dengan kehidupan pragmatis, sekolah, dan kerja di Surabaya –walaupun saya masih aktif di teater. Akhirnya seperti yang bisa ditebak, keberlangsungan teater pun berhenti total. Dan orang-orang kembali menutup pintu rapat-rapat pada pukul 19.00 WIB.&lt;br /&gt;Kota yang Sepi&lt;br /&gt;Surabaya, tahun 90-an yang saya kenal, pada tahun-tahun itu terasa sekali denyut kehidupan teater. Bahkan ada puluhan teater yang aktif, menghidupkan iklim perteateran Surabaya.&lt;br /&gt;Boleh diingat, pada waktu itu, ada teater Jaguar, Dua Lima, Pavita, Rajawali, Nol, Ragil, Sanggar Soeroboyo, Teater Api Indonesia, Bengkel Muda Surabaya, di tambah dengan aktivitas teater di kampus-kampus dan SMU-SMU, yang aktif berpentas. &lt;br /&gt;Pada masa itu, kegitan teater di Surabaya, begitu marak, apalagi di tambah dengan adanya festival-festival yang representatif. Ditambah dengan ‘kritikus’ yang memberikan iklim teater tidak hanya sekedar ramai di panggung-panggung tetapi juga pada tingkat wacana di media massa, boleh disebut pada waktu itu ada Akhudiat, Marx Arifin, H. Bambang Ginting, Autar Abddilah, Zeinuri.&lt;br /&gt;Hampir semua kelompok teater dan ‘kritikus’ mendesakkan gagasan-gagasannya masing-masing. Mereka memiliki spirit yang begitu kuat, seakan kehidupan teater di Surabaya memiliki masa depan yang cerah.&lt;br /&gt;Namun apa mau dikata. Jaman yang berbicara. Usai gegap gempita ‘revolusi’ pelengseran rezim Orde Baru, itu teater Surabaya justru seperti menemukan titik baliknya. Aura kebebasan, seakan menyilaukan mata hingga banyak para pekerja seni menjadi ‘buta’. Tidak tahu harus berbuat apa? Bahkan seakan-akan banyak pekerja seni di Surabaya, terbengong-bengong dengan keterbukaan yang teramat sangat. &lt;br /&gt;Barangkali kalau digambarkan, mereka yang memiliki spirit teater realis, terbengong-bengong melihat realitas di depan matanya yang mengharu-biru. Sementara itu, mereka yang memiliki spirit absurd, juga tak kalah bengongnya ketika melihat, manusia tanpa kepala diseret-seret keliling kota. Dan Surabaya, tergagap-gagap menerima ‘arus deras’ pertikaian budaya (baca : politik, ekonomi, agama, dan ras) negeri ini.&lt;br /&gt;Akhirnya apa yang terjadi? Sedikit demi sedikit, mereka yang tidak bisa melihat kenyataan, mengundurkan diri dari dunia teater. Intensitas pertunjukan menjadi berkurang. Bahkan, lebih ironis lagi, Surabaya lebih banyak dikunjungi oleh ‘tamu’ dari luar Surabaya dan Jawa Timur, dan tanpa bisa menyuguhi apapun, selalin rasa iri.&lt;br /&gt;Dan rujukan untuk menyebut teater Surabaya, menjadi kesulitan. Karena tak ada kelompok yang benar-benar fenomenal, macam teater Koma (Riantiarno) dan teater Kubur (Dindon WS) di Jakarta, teater Payung Hitam (Rahman Sabur) dan Studiclub Teater Bandung (Suyatna Anirun), Gandrik (Heru Kesawamurti dan Butet Kertarejasa) dan Garasi (Yudi Ahmad Tajudin), Jogjakarta, Gapit (Bambang Widoyo HS) dan Gidak-Gidik (Hanindawan) Solo. Mereka yang berada di balik nama-nama teater itu, telah menjadi ‘juru bicara’ bagi kelompoknya masing-masing, untuk menciptakan sejarah dan menciptakan ideologi, bagi perkembangan teater modern Indonesia. Sementara itu, Surabaya malah seperti kehilangan sejarah. Surabaya seperti tidak punya apa-apa dan siapa-siapa.&lt;br /&gt;Kegagahan dalam Kemiskinan&lt;br /&gt;Meminjam istilah WS.Rendra, kegagahan dalam kemiskinan, tampaknya itulah yang sedang dihadapi teater Surabaya. Secara ringkas, wajah teater Surabaya, memiliki kendala yang sering diartikulasikan baik lewat tulisan, diskusi, dan pembicaraan sambil lalu adalah masalah miskin gedung yang representatif, stok aktor yang sedikit, sutradara yang langka, penata artistik yang langka, regenerasi yang terputus, masyarakat penonton yang semu.&lt;br /&gt;Sebagaimana telah diramaikan di media massa beberpa waktu lalu, bahwa Surabaya butuh gedung yang representatif untuk pertunjukan teater. Sementara ini, teater Surabaya tidak memiliki gedung yang jadi rujukan untuk pentas. Misal kalau di Jakarta ada Gedung Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Teater Untan Kayu, paling tidak Surabaya harus memiliki satu atau dua gedung yang memiliki arti representatif tersebut. dan memang Surabaya ‘tidak memiliki’ gedung yang representatif.&lt;br /&gt;Belum lagi persoalan aktor yang konon tidak mudah menciptakan. Di Surabaya, meskipun antara tahun 70-90-an secara periodik dalam Lomba Drama Lima Kota (LDLK), telah memilih aktor dan aktris terbaik, juga tak memunculkan aktor yang kuat bertahan berteater. Kemanakah mereka yang pernah mendapat penghargaan aktor dan aktris terbaik LDLK?&lt;br /&gt;Sutradara dalam arti yang sebenarnya, tampaknya Surabaya sangat miskin. Bahkan kalau boleh ekstrim, Surabaya tidak memiliki sutradara, pasca generasi Akhudiat –hanya sekedar menyebut nama. Sejak digulirkanya LDLK-pun juga tidak memunculkan sutradara yang mewakili zamannya. Di Surabaya, sutradara hanya berlaku sebagai pemimpin arstistik dan pelatih. Merekalah yang memberikan intruksi keseluruhan artistik dan bentuk-bentuk latihan yang akan di pentaskan. Sutradara yang memiliki kemampuan liteler, boleh jadi Surabaya tidak memiliki.&lt;br /&gt;Persoalan keterputusan generasi, seperti telah menjadi jamak, bahwa kelemahan negeri ini adalah keterputusan generasi. Surabaya dalam kasus perkembangan teaternya seperti a-historis. Dari generasi ke generasi seperti tidak memiliki benang merah. Apakah ini satu usaha kreatif? Memberontok dari para suhunya, untuk tidak hanya sekadar perpanjangan tangan dari semacam, Akhudiat, Bambang Sujiono, Wally Sardil, Hare Rumemper, Elysabet Luther, Bambang Ginting, Meimura, dll? Belum ada yang bisa menyelesaikan persoalan ini, bahwa orientasi generasi penerus teater di Surabaya merupakan bentuk usaha kreatif, atau ketergagapan generasi dalam membaca sejarahnya?&lt;br /&gt;Ketergagapan ini diikuti dengan semakin banyaknya penonton yang meninggalkan teater. Mereka lebih memilih gedung teater 21 dari pada berpanas-panas ria di Gallery DKS yang pertunjukkannya belum tentu memberikan mereka ‘katarsis’ (baca:kepuasan). Barangkali sedikitnya penonton, memang tidak bisa dijadikan tolok ukur sebuah tontonan teater. Tetapi kecenderungan teater semakin ditinggalkan penonton menjadi signifikan dengan kegairahan pekerja teaternya. Bagaimana tidak trenyuh bila telah berproses berbulan-bulan hanya ditonton oleh puluhan orang yang nota bone juga teman-temannya sendiri, yang sudah tahu prosesnya terlebih dahulu? Apakah ini bukan orgasme yang ironis. Sebuah kenikmatan yang menjemput kematian. &lt;br /&gt;Surabaya butuh Teater&lt;br /&gt;Namun demikian, Surabaya masih diuntungkan, ada Teater Api Indonesia (TAI), Ragil, Tobong, dan beberapa teater kampus yang tidak ada lelah-lelahnya, mencoba menghidupkan teater di Surabaya. Kelompok itulah –disamping kelompok teater kampus seperti Kusuma (Untag) –Institut (Unesa), yang menurut ingatan saya (maaf saya tidak pernah mencatatnya) secara periodik –tahunan- bisa mementaskan satu naskah drama, baik karya sendiri maupun naskah babon dari penulis lain.&lt;br /&gt;Paling tidak, ketiga arus itulah yang menjadi lampu kuning (baca : tanda-tanda) bahwa teater di Surabaya ‘masih ada’ namun masih membutuhkan eksistensi yang cukup kuat, dalam pengertian, teater tidak sekedar sebuah tontonan tetapi sebuah wacana yang bisa menghadirkan dialetika antar masyarakat pendukungnya –penonton, kritikus, media massa.&lt;br /&gt;Jadi Surabaya masih butuh teater yang tidak sekedar teater. Tetapi sebuah teater yang membuka wacana. Yang bisa memberikan keabsahan bahwa sebuah produk seni (budaya) adalah hasil dialektika dengan masyarkat pendukungnya dan memiliki wacana yang bisa ditlesik keberadaannya.&lt;br /&gt;Bila semua ini terjadi, kehendak untuk berteater memiliki peluang yang melegakan. Teater menjadi memiliki masa depan yang diciptakan atas dasar pemikiran yang terus hidup. Paling tidak kita memiliki budaya tanding untuk membendung derasnya budaya kicth, yang dihumbalangkan media massa –cetak dan elektronik- baik global maupun lokal. Kalau tidak terjadi, orang-orang akan mengunci rumah pada 19.00 WIB, menikmati dunianya sendiri, dunia maya, dan Surabaya menjadi sepi. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5346587717956970287-6922125992685995370?l=teaterapakah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teaterapakah.blogspot.com/feeds/6922125992685995370/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5346587717956970287&amp;postID=6922125992685995370' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/6922125992685995370'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/6922125992685995370'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teaterapakah.blogspot.com/2008/02/kota-tanpa-teater.html' title='KOTA TANPA TEATER'/><author><name>teaterapakah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14504659433822587521</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R4KW9fwvaJI/AAAAAAAAAAM/4MNOEFdRZSc/S220/giryadi+oke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R6-LiKy25sI/AAAAAAAAADA/rrsJ7o_DtPE/s72-c/blog-jalan+pencuri.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5346587717956970287.post-1619939490702781901</id><published>2008-02-04T19:47:00.000-08:00</published><updated>2008-02-04T20:31:39.306-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='naskah teater'/><title type='text'>Terompet Senjakala</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R6flGydg3BI/AAAAAAAAAC4/BbHQP-fASU0/s1600-h/blog-Terompet+Senjakala.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R6flGydg3BI/AAAAAAAAAC4/BbHQP-fASU0/s320/blog-Terompet+Senjakala.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5163347402591099922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;undefined&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh : R Giryadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babak I&lt;br /&gt;Sebuah panggung dengan setting sederhana. Dua kursi tua bergantung di atap, berwarna hitam kecoklatan (atau lebih baik berwarna hitam). Latar dan floor, berfarna putih bersih, tanpa ada asesoris yang menempel. Seorang lelaki tua dan perempuan tua yang sudah berumur ratusan tahun, atau barangkali ia adalah jasad yang bergentayangan sedang risau atau gembira, atau apa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kakek &lt;br /&gt;Sayangku…! Dimanakah engkau! Say….?Adakah engkau masih dalam desah nafas cinta, sebagaimana sering kau ucapkan padaku. Ah, Say, kau jangan memain-main, dan bersembunyai dalam kefanaan ini. Say…jawablah aku, di mana engkau. Kita sudah terlalu tua untuk saling berkejaran. Waktu kita hanya cukup untuk saling berpandangan. (berputar-putar di segala sudut) Apakah permainan kita cukup sampai di sini. Masih banyak yang bisa kita mainkan. Apakah kau sudah bosan dengan permainan ini. &lt;br /&gt;Ah, barangkali Say, ingin permainan yang lain. Coba saya buatkan, Say. (Bermain-main dengan cahaya senter)…dalam cahaya ini, aku berjalan menyusuri dunia hitam, mencari belahan jiwaku. Cahaya-cahaya ini menusuk-nusuk dinding gelap, mencari dirimu, tetapi kamu tetap membisu. Kamanakah kamu. Padahal, sudah sekian ribu kilo cahaya aku susuri, tetapi tak tampak wajahmu…Ah, bahasa apa ini. Tapi mungkin kamu pingin permaian yang lain. Tan, setan gundul temokna kekasihku, dimakah kau sembunyikan. (berulang-ulang) Ah, tapi dimana kamu? Sia-sia aku membuatkan mainan untukmu, kalau aku tidak tahu bagaimana kamu bergembira. Ya, minimal melihat senyumulah. Ayolah, Say. Jangan kau bermain-main dalam ketidaktahuan ini. Ini bukan saatnya kita menyepi. Kenapa tidak kita teruskan permainan kita. Apakah engkau lelah. Bukankah aku sudah menyediakan apa yang engkau inginkan. Di sana masih tersimpan harapan. Mengapa engakau begitu merisaukan masa depan kita. Ayolah say, jangan main petak umpet begini. Di sini gelap sekali. Aku hampir tidak bisa melihatnya. Cahaya ini terlalu muram, bagi kehidupan kita yang menyala-nyala.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Say, mengapa engkau masih saja diam. Bukankah kini waktunya kita bertemu. Lihatlah kursi kita masih bergoyang-goyang, pertanda masih beberapa waktu lalu kita berada disini. Tetapi mengapa kini kau tinggalkan aku sendiri. Disini masih muram, Say. Tanpa kehadiranmu, barangkali hidupku sepi. (berjalan terus, sambil menyalakan senter ke sisi-sisi yang lain)&lt;br /&gt;2. Nenek  &lt;br /&gt;Pandangan kita sudah kabur. (Nenek on stage. Ia berjalan tertatih-tatih, seakan jalanan begitu sulit). Kabut hitam, menghalangi mata kita yang rabun. Kita terlalu renta untuk menepisnya. Jarak pandang kita hanya tinggal beberapa jengkal dari lubang kematian. Oh, kabut itu, telah membuat kita tak berdaya. Say…jangan bermain-main seperti anak kecil. Hidup kita hanya cukup untuk saling memandang. Kenapa waktu kita begitu sedikit, untuk berbicara yang tak penah selesai. Oh, kabut. Kamu begitu mencemaskan. Kau membuat kami hidup pontang-panting, hanya untuk memaknai, kesenderian ini. Say…cepat ucapan sesuatu biar aku mendengarmu. Sejak kapan kamu berubah pikiran. Apa artinya kata-kata yang kau ucapkan, bahwa kita akan sehidup semati, aku belum mati malah kamu mati duluan. Lelaki kok tidak ada yang bisa dipegang hidungnya. Maunya dipegang apanya lagi? Ayo Say, kau jangan main-main, waktu kita hanya sesaat. Kita harus kembali di peraduan jangan sampai ketinggalan waktu.&lt;br /&gt;Apakah kau berselingkuh. Ah, aku tahu kau pasti berselingkuh dengan dirimu sendiri kan. Aku tahu itu kejelekanmu sejak kamu kenal dengan aku. Tapi, tidak apa-apa daripada selingkuh dengan wanita lain, itu lebih baik. Toh, aku tetap mencintaimu. Sayang, kini kau telah pergi untuk selamanya, tanpa memberi kabar padaku. Ini kekejaman ke dua setelah kau aku biarkan kau selingkuh dengan dirimu-sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kakek &lt;br /&gt;Say…berbicaralah. Jangan membuat suasana bertambah sepi. Aku rindu bau mulutmu. Aku tahu, kau sudah bosan dengan permainan ini semua. Barang kali kau sudah kehabisan permaian, sehingga kau berbuat konyol semacam ini. Bicaralah, kabut ini tak akan pergi bila kita diam saja. Kenapa begitu gelap, padahal kemarin-kemarin cahaya begitu terang memenuhi ruangan ini. Kegelapan ini membuat kita berputar-putar. Jangan-jangan kita kembali ke masa lampau. Masa ketika aku masih perjaka dan kau masih perawan. Ah, kegelapan akan muncul cahaya terang. (Menyanyi lagi ) tan setan gundul temokna kekasihku, dimana kau sembunyikan. (menyalakan cahaya senter tepat di wajah nenek). Seeetttaaaannn!!!!… (Berlari). Ah, ternyata kau ada disitu. Kalaupun toh saya tahu, kamu ada di situ aku tidak akan bicara macam-macam dan berputar-putar macam tadi.&lt;br /&gt;4. Nenek  &lt;br /&gt;Itulah kamu. Mau bicara aja berputar-putar. Selalu membuat keributan dalam rumah. Istrinya sendiri dikatai setan. Dasar dhemit.&lt;br /&gt;5. Kakek  &lt;br /&gt;Kau jangan begitu, Say. Rumah ini harus terus kita bikin ribut, biar kita tidak merasa kesepian. Rumah kita yang telah lama hampir saja runtuh, karena tubuh kita tak mampu menyangganya. Oh, betapa sepinya bila aku tak banyak bicara.&lt;br /&gt;6. Nenek  &lt;br /&gt;Mana ada manusia yang tak pernah merasa kesepian. Bukankah manusia harus hidup menyepi, karena kegaduhan diantaranya telah menyebakan kita berada dalam jurang kesepian. Inilah bibir terindah dari kehidupan. Bibir kesepian.&lt;br /&gt;7. Kakek  &lt;br /&gt;Ya, barangkali kita lebih terhormat dari mereka yang telah menciptakan kegaduhan yang berisi sampah dan tikus-tikus pemamah bangkai.&lt;br /&gt;8. Nenek  &lt;br /&gt;Hiiii, jijik.&lt;br /&gt;9. Kakek  &lt;br /&gt;Hiiii, menggelikan….&lt;br /&gt;10. Nenek  &lt;br /&gt;Kok menggelikan?&lt;br /&gt;11. Kakek  &lt;br /&gt;Ya, menggelikan. Apa yang barusan kita omongkan seperti busa, tak ubahnya teror kegaduhan itu. Itulah sampah. Banyak omong. Tong kosong..&lt;br /&gt;12. Nenek  &lt;br /&gt;Nyaring bunyinya. Apakah tidak boleh. Terkadang kita butuh omong kosong, dari pada berisi tapi membuat kita merasa terasing pada diri kita sendiri.&lt;br /&gt;13. Kakek  &lt;br /&gt;Ha..ha..ha..kekosongan itu, karena kita merasa terasing mengurai tubuh kita sendiri. Bukankah kita tidak tahu berapa usia kita, kapan kita mati, kapan kita hidup, kapan kita lahir kembali. Atau jangan-jangan kita sudah mati dan kita tidak merasakan karena, kita sudah terlalu terasing dengan tubuh kita?&lt;br /&gt;14. Nenek  &lt;br /&gt;Mati? Aku pernah mendengar kata-kata itu. Tapi di mana ya?&lt;br /&gt;15. Kakek  &lt;br /&gt;Lo?&lt;br /&gt;16. Nenek  &lt;br /&gt;Lo, di mana ya? Sayangku pernah mendengarnya?&lt;br /&gt;17. Kakek  &lt;br /&gt;Lo? Kenapa aku juga lupa mengingatnya?&lt;br /&gt;18. Nenek  &lt;br /&gt;Bodoh! Semestinya kita tahu. Kenapa?&lt;br /&gt;19. Kakek  &lt;br /&gt;Ya. Barangkali kita sudah mati…?&lt;br /&gt;20. Nenek  &lt;br /&gt;Mati rasa..maksudmu?&lt;br /&gt;21. Kakek  &lt;br /&gt;Mati rasa? Mati beneran…!&lt;br /&gt;22. Nenek  &lt;br /&gt;(Membahu tubuhnya) Belum? Aku tidak bau apa-apa.&lt;br /&gt;23. Kakek  &lt;br /&gt;(Mengendus) Aku merasakan sesuatu yang menyengat. Dan ini pasti bau kematian. Ah, bukan? Baunya lain sekali. Saya pernah merasakannya…. (Menutup hidung)&lt;br /&gt;24. Nenek  &lt;br /&gt;Itu bau kentutku…hi..hi..hi..&lt;br /&gt;25. Kakek  &lt;br /&gt;(Menutup hidung). Hup! Sayangku, mengapa kamu mengacaukan keadaan.&lt;br /&gt;26. Nenek  &lt;br /&gt;Angin terlalu keras. Aku masuk angin.&lt;br /&gt;27. Kakek  &lt;br /&gt;Ah itu tandanya kita masih hidup. Kamu bisa kentut dan saya masih bisa membahu bahu kentutmu.&lt;br /&gt;28. Nenek  &lt;br /&gt;Sembarangan. Kematian dan kehidupan tak setara dengan kentut.&lt;br /&gt;29. Kakek  &lt;br /&gt;Saat ini setara. Kita tahu dari mana kentut itu berada, tapi kita tidak pernah tahu warna, ujud, dan kemana perginya kentut itu…&lt;br /&gt;30. Nenek  &lt;br /&gt;Kentut lagi, kentut lagi…bosan. Apakah kehidupan tidak ada yang lebih berharga dari kentut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek tercenung sejenak. Ia membetulkan posisinya. Kemudian tarik napas dalam-dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31. Kakek  &lt;br /&gt;Barangkali, hanya kematian yang membuat hidup lebih hidup. Wah kayak iklan saja…&lt;br /&gt;32. Nenek  &lt;br /&gt;Kematian lagi, kematian lagi.&lt;br /&gt;33. Kakek  &lt;br /&gt;Lagi-lagi kematian.&lt;br /&gt;34. Nenek  &lt;br /&gt;Mati lagi, mati lagi.&lt;br /&gt;35. Kakek  &lt;br /&gt;Lagi-lagi mati.&lt;br /&gt;36. Nenek  &lt;br /&gt;Kapan hidupnya?&lt;br /&gt;37. Kakek  &lt;br /&gt;Setelah mati&lt;br /&gt;38. Nenek  &lt;br /&gt;Mati setelah hidup?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;39. Kakek  &lt;br /&gt;Hidup setelah mati?&lt;br /&gt;40. Nenek  &lt;br /&gt;Kok dibolak-balik?&lt;br /&gt;41. Kakek  &lt;br /&gt;Biar tidak gosong.&lt;br /&gt;42. Nenek  &lt;br /&gt;Bercanda!&lt;br /&gt;43. Kakek  &lt;br /&gt;Kalau gosong kita mampus. Antara hidup dan mati tidak ada bedanya, tidak ada artinya. Terus gimana..kalau kita tidak tahu beda antara hidup dan mati?&lt;br /&gt;44. Nenek  &lt;br /&gt;Emang ada bedanya? (Nadanya kenes sekali)&lt;br /&gt;45. Kakek   &lt;br /&gt;Saya tidak tahu!&lt;br /&gt;46. Nenek  &lt;br /&gt;Kenapa?&lt;br /&gt;47. Kakek  &lt;br /&gt;Saya belum pernah mati.&lt;br /&gt;48. Nenek  &lt;br /&gt;Kalau begitu!?&lt;br /&gt;49. Kakek  &lt;br /&gt;Kau menyuruhku mati?! &lt;br /&gt;50. Nenek  &lt;br /&gt;Jangan salah paham. Maksudku jangan bicara mati, melulu!&lt;br /&gt;51. Kakek  &lt;br /&gt;Ya, sebaiknya kita tidak usah bicara. Karena kita toh tidak tahu, saat ini apakah kita sedang menjalani hidup atau mati.&lt;br /&gt;52. Nenek  &lt;br /&gt;Bosan! Aku pergi saja. &lt;br /&gt;53. Kakek  &lt;br /&gt;Mau kemana?&lt;br /&gt;54. Nenek  &lt;br /&gt;Kamu bicara mati melulu…&lt;br /&gt;55. Kakek  &lt;br /&gt;Takut..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nenek diam saja. Ia terpaku. Keheningan memuncak ke ubun-ubun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;56. Nenek  &lt;br /&gt;Aku teringat masa kecil. Kini tiba-tiba kita merasa tua sekali. Padahal seperti kemarin saja aku merusakan boneka-boneka itu. Sepertinya es krim itu baru saja meleleh dari genggamanku. Masa lalu kita seperti baru kita lampaui sedetik yang lalu. Kenapa, waktu segera melesat, padahal kita belum mengerti apa yang kita maui.&lt;br /&gt;57. Kakek  &lt;br /&gt;Barangkali itulah kelemahan manusia. E, maksudku kelemahan kita.&lt;br /&gt;58. Nenek  &lt;br /&gt;Manusia memang lemah.&lt;br /&gt;59. Kakek  &lt;br /&gt;Itulah kita terus kalah.&lt;br /&gt;60. Nenek  &lt;br /&gt;Kenapa?&lt;br /&gt;61. Kakek  &lt;br /&gt;Karena kita manusia lemah!&lt;br /&gt;62. Nenek  &lt;br /&gt;Kenapa?&lt;br /&gt;63. Kakek  &lt;br /&gt;Karena kita diciptakan dari lemah.&lt;br /&gt;64. Nenek  &lt;br /&gt;Kenapa?&lt;br /&gt;65. Kekek  &lt;br /&gt;Kenapa! Kenapa!&lt;br /&gt;66. Nenek  &lt;br /&gt;Maksudku kenapa kita diciptakan lemah?&lt;br /&gt;67. Kakek  &lt;br /&gt;Biar tidak bawel seperti kamu.&lt;br /&gt;68. Nenek  &lt;br /&gt;Maksudmu?&lt;br /&gt;69. Kakek  &lt;br /&gt;Bodoh! Itulah manusia. Kalau kuat akan mengganggu.&lt;br /&gt;70. Nenek  &lt;br /&gt;Siapa?&lt;br /&gt;71. Kakek  &lt;br /&gt;Yang mencengkeram kita!&lt;br /&gt;72. Nenek  &lt;br /&gt;Siapa?&lt;br /&gt;73. Kakek  &lt;br /&gt;Tuhan!&lt;br /&gt;74. Nenek  &lt;br /&gt;Hus! Kuwalat! Dosa besar&lt;br /&gt;75. Kakek  &lt;br /&gt;Tidak. Tuhan tambah senang. Kalau mau tidak lemah, manusia harus berani bertanya. Protes. Sekali-kali juga menantangnya. Ini yang diinginkan-Nya.&lt;br /&gt;76. Nenek  &lt;br /&gt;Say, menyebutlah. Ini dosa besar. Kamu bisa kena kutukkan.&lt;br /&gt;77. Kakek  &lt;br /&gt;Manusia lemah. Ia, tidak suka seperti ini. Tuhan, menciptakan kita lemah, agar kita terus berusaha mencari kekuatan. Kalau kita lahir terus kuat, kita bertambah malas. Kalau sejak lahir manusia sudah tahu segalanya, ia akan sombong dan malas.&lt;br /&gt;78. Nenek  &lt;br /&gt;Pintar bersilat lidah.&lt;br /&gt;79. Kakek  &lt;br /&gt;Tidak percaya!&lt;br /&gt;80. Nenek  &lt;br /&gt;Tuhan itu Maha Sempurna. Mana mungkin sengaja menciptakan kita makluk lemah. Ini kan hanya akal-akalanmu agar kita tidak merasa lemah sekali. &lt;br /&gt;Itu kan hanya bahasanya orang kalah. Orang yang mau mati. Orang sekarat. Coba kalau sehat seperti waktu kita masih muda.&lt;br /&gt;81. Kakek  &lt;br /&gt;Kita akan hidup selamanya.&lt;br /&gt;82. Nenek  &lt;br /&gt;Mengigau?&lt;br /&gt;83. Kakek  &lt;br /&gt;Say, ayolah. Kenapa kamu minta cepat mati?&lt;br /&gt;84. Nenek  &lt;br /&gt;Aku tidak meminta. Kamu mulai melenceng dari pembicaraan.&lt;br /&gt;85. Kakek  &lt;br /&gt;Melenceng bagaimana?&lt;br /&gt;86. Nenek  &lt;br /&gt;La itu tadi. Yang dibicarakan mati melulu.&lt;br /&gt;87. Kakek  &lt;br /&gt;Siapa yang memulai.&lt;br /&gt;88. Nenek  &lt;br /&gt;Tidak ada yang memulai.&lt;br /&gt;89. Kakek  &lt;br /&gt;Nah berarti?&lt;br /&gt;90. Nenek  &lt;br /&gt;Stres!&lt;br /&gt;91. Kakek  &lt;br /&gt;Mikir?&lt;br /&gt;92. Nenek  &lt;br /&gt;…….?&lt;br /&gt;93. Kakek  &lt;br /&gt;Ah, sudahlah, Say. Waktu kita habis untuk berdebat. Kenapa kita tidak memikirkan yang lain saja, dari pada bersitegang yang tidak pernah kita mengerti? Manusia kok terus diperbudak oleh ketidakmengertian. Ruangan ini telah lama kita tempati. Tetapi kita tak pernah mengerti kapan kita akan pergi dari rumah ini. Ini penjara. Penjara bagi pikiran yang terbelenggu. Kenapa kita terus bersitegang, kalau hanya untuk menengok kejendela saja kita lupa?&lt;br /&gt;94. Nenek  &lt;br /&gt;Barangkali maut memang bukan apa-apa. Hanya kita saja yang takut, karena terlalu lama terlena duduk di singgasana kehidupan. Kita lupa, bahwa singgasana ini bukan milik kita. Kita harus beranjak. Tidak terus menerus bermain di atas kursi tua yang telah lama kita jadikan ajang pertaruhan antara hidup dan mati.&lt;br /&gt;95. Kakek  &lt;br /&gt;Aku ingat, betapa waktu itu aku seperti hero. &lt;br /&gt;96. Nenek  &lt;br /&gt;Kamu curang!&lt;br /&gt;97. Kakek  &lt;br /&gt;Kenapa?&lt;br /&gt;98. Nenek  &lt;br /&gt;Kamu hanya mengingat dirimu sendiri. Bukankah aku yang membuatmu menjadi hero. Apakah kau tidak ingat itu, Say. Kenapa laki-laki mesti egois ketika mengingat masa lalunya. Say, kau harus adil. Sejarah tidak boleh ditutup-tutupi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;99. Kakek  &lt;br /&gt;Tidak, aku tidak berusaha menutupi. Aku hanya terbiasa dengan diriku sendiri. Tetapi bukankah sejarahku adalah sejarahmu juga. Sudahlah, Say jangan ributkan masalah masa lalu. Lebih baik kita bergembira saja. Bukankah saat ini kita butuh bahagia. Mengingat masa lalu, hanya seperti mengkais-kais tong sampah saja, tidak ada gunananya. Kalau begitu, sekarang kau mau apa?&lt;br /&gt;100. Nenek  &lt;br /&gt;Apa-apa mau.&lt;br /&gt;101. Kakek  &lt;br /&gt;Kok serakah?&lt;br /&gt;102. Nenek  &lt;br /&gt;Maksudku, terserah kamu.&lt;br /&gt;103. Kakek  &lt;br /&gt;Bagaimana kalau kita menyanyi?&lt;br /&gt;104. Nenek  &lt;br /&gt;Suaramu jelek…&lt;br /&gt;105. Kakek  &lt;br /&gt;Tidak apa, yang penting terhibur…&lt;br /&gt;106. Nenek  &lt;br /&gt;Yang lain saja..hiburan kok jelek. Ya, harus menarik dong!&lt;br /&gt;107. Kakek  &lt;br /&gt;Ya, tetapi apa? Katakan dong..&lt;br /&gt;108. Nenek &lt;br /&gt;Kau sudah lupa ya dengan kesukaanku?&lt;br /&gt;109. Kakek &lt;br /&gt;Apa?&lt;br /&gt;110. Nenek  &lt;br /&gt;(Malu-malu)?&lt;br /&gt;111. Kakek  &lt;br /&gt;Apa, jangan diam begitu saja. Ayo katakan saja!&lt;br /&gt;112. Nenek  &lt;br /&gt;(Kemayu)&lt;br /&gt;113. Kakek  &lt;br /&gt;Alah kok centil amat..Say minta apa?&lt;br /&gt;114. Nenek  &lt;br /&gt;Kalau malam-malam begini minta apa?&lt;br /&gt;115. Kakek  &lt;br /&gt;Apa?&lt;br /&gt;116. Nenek  &lt;br /&gt;Saya minta seperti Surti dan Tejo…. &lt;br /&gt;117. Kakek  &lt;br /&gt;Say membingungkanku..maksudnya nyanyi itu?&lt;br /&gt;118. Nenek  &lt;br /&gt;Yang kayak lagunya..Jamrud itu…lo..&lt;br /&gt;119. Kakek  &lt;br /&gt;Lagunya Jamrud..Siapa itu?&lt;br /&gt;120. Nenek  &lt;br /&gt;Ah, itu waktu kita masih muda. Waktu itu, aku berteduh di gubuk sambil menunggui burung yang memakan padi. Tiba-tiba kau datang. Tidak tahu kau berdandan apa. Pokoknya seru banget deh. Aku tahu kamu baru pulang dari kota. Makanya dandanannya funky. Eh..terus..terus..terus…..&lt;br /&gt;121. Kakek  &lt;br /&gt;Terus bagaimana..?&lt;br /&gt;122. Nenek  &lt;br /&gt;Ah, kamu bego!&lt;br /&gt;123. Kakek  &lt;br /&gt;Aku memang tidak ingat?&lt;br /&gt;124. Nenek  &lt;br /&gt;Begitulah lelaki, kalau sudah berbuat lupa bertanggung jawab.&lt;br /&gt;125. Kakek  &lt;br /&gt;Kalau rasanya ingat…..Ah.. aku memang benar-benar lupa. Maksudmu bagaimana?&lt;br /&gt;126. Nenek  &lt;br /&gt;Kamu jangan bercanda. Waktu itu kamu terus kamu memegang tetekku. Kemudian terus meraba bawah pusarku. Aku menjerit. Kamu tambah meremas-remasnya. Aku melengking. Kamu tambah , menyingkap rokku. Aku terengah, kau malah…&lt;br /&gt;127.      Kakek &lt;br /&gt;Porno ah….!&lt;br /&gt;128.     Nenek &lt;br /&gt;Porno apanya? Memang begitu kok kejadiannya.&lt;br /&gt;129. Kakek  &lt;br /&gt;Ah aku ingat. Ternyata kau sudah bunting!&lt;br /&gt;130.     Nenek  &lt;br /&gt;Ya, tetapi kau yang melakukannya.&lt;br /&gt;131.      Kakek &lt;br /&gt;Suka sama suka kan?&lt;br /&gt;132.     Nenek  &lt;br /&gt;Tetapi setelah aku tua?&lt;br /&gt;133.     Kakek  &lt;br /&gt;Boleh. Kenapa tidak. Wong pekerjaan enak saja….&lt;br /&gt;134.    Nenek  &lt;br /&gt;Cihuiiiiii…. mari kita bikin video klip lagunya Jamrud!&lt;br /&gt;135. Kakek &lt;br /&gt;Lo, kok video klip? Katanya kita mau mainin kuda-kudaan&lt;br /&gt;136. Nenek &lt;br /&gt;Sama saja. Cuman beda istilah. Ayo..udah kebelet nih!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(lighting black out. Musik romantis mistis. Layar putih turun)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;137. Nenek   &lt;br /&gt;Say, kenapa lampunya kau matikan.&lt;br /&gt;138. Kakek  &lt;br /&gt;Saya tidak mematikan?&lt;br /&gt;139. Nenek  &lt;br /&gt;Lalu siapa?&lt;br /&gt;140. Kakek  &lt;br /&gt;Tidak tahu!&lt;br /&gt;141. Nenek  &lt;br /&gt;Cari tahu dong!&lt;br /&gt;142. Kakek  &lt;br /&gt;Pada siapa?&lt;br /&gt;143. Nenek  &lt;br /&gt;Pada siapa saja.&lt;br /&gt;144. Kakek  &lt;br /&gt;Di sini tidak ada orang selain kita.&lt;br /&gt;145. Nenek  &lt;br /&gt;Lalu kenapa lampunya dimatikan?&lt;br /&gt;146. Kakek  &lt;br /&gt;Aku malu.&lt;br /&gt;147. Nenek  &lt;br /&gt;Malu pada siapa?&lt;br /&gt;148. Kakek  &lt;br /&gt;Pada diriku sendiri.&lt;br /&gt;149. Nenek  &lt;br /&gt;Kenapa emang?&lt;br /&gt;150. Kakek  &lt;br /&gt;Aku kan sudah tua.&lt;br /&gt;151. Nenek  &lt;br /&gt;Kenapa, takut tidak mampu?&lt;br /&gt;152. Kakek  &lt;br /&gt;Bukan.&lt;br /&gt;153. Nenek  &lt;br /&gt;Lalu, kenapa?&lt;br /&gt;154. Kakek  &lt;br /&gt;Takut tidak bisa dua kali…&lt;br /&gt;155. Nenek  &lt;br /&gt;Ah, ngaco. Ayo kita mulai, begitu saja ribut. Nyalakan lampunya, kan tidak ada orang.&lt;br /&gt;156. Kakek  &lt;br /&gt;Aku suka lampunya padam.&lt;br /&gt;157. Nenek  &lt;br /&gt;Say, kita ini sudah tua. Mata kita sudah rabun, masak bisa begini. Nyalakan saja. Aku lebih suka yang terang.&lt;br /&gt;158. Kakek  &lt;br /&gt;Tidak enak. Mengganggu konsentrasi. Lebih baik begini.&lt;br /&gt;159. Nenek  &lt;br /&gt;Say kalau begini terus kapan kita mulai. Lagian siapa tahu, keliru memasukannya.&lt;br /&gt;160. Kakek  &lt;br /&gt;Hus, didengar tetangga.&lt;br /&gt;161. Nenek  &lt;br /&gt;Biarin, tetanga kita lagian pasti lagi beginian. Ya, sudah kalau tidak mau menyalakan, saya nyalakan sendiri.&lt;br /&gt;162. Kakek  &lt;br /&gt;Say, aku tidak bisa. Biar lebih adil, pakai lampu remang-remang ya. Romantis.&lt;br /&gt;163. Nenek  &lt;br /&gt;Ah sudahlah terserah kamu.&lt;br /&gt;164. Kakek  &lt;br /&gt;Say tidak boleh begitu. Bukankah kau tahu kebiasaannku. Ligtingman! Coba buat lampunya remang-remang. (pause) Ya, begitu. Terima kasih. He..jangan ingintip ya! Ini urusan orang tua.&lt;br /&gt;165. Nenek  &lt;br /&gt;Ah sudah. Kamu itu bicara dengan siapa. Ayo kita mulai.&lt;br /&gt;(Musik romantis. Lighting biru. Kakek nenek hanya kelihatan siluet. Kupu beterbangan. Burung-burung beterbangan. Matahari bercahaya terang saling berciuman dengan bulan yang tersenyum riang. Bintang berkedip-kedip, memberikan isyarat cinta. Kabut tipis membelai gemuai tubuh yang berpelukan. Suara nyanyian dari dewa-dewi cinta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Cinta&lt;br /&gt;Sungguh indah, kisah cinta&lt;br /&gt;Yang pernah aku rasa dan alami&lt;br /&gt;Indah dan menarik hati&lt;br /&gt;Tak kan ku lupa sampai akhir nanti&lt;br /&gt; Walau seribu tahun, tlah berlalu&lt;br /&gt; Kisah cintaku tak akan beku&lt;br /&gt; Andai kisah cinta sekuntum bunga&lt;br /&gt; Tak akan layu ditelan masa.&lt;br /&gt;Kisah cinta, kisah surga&lt;br /&gt;Yang pernah aku rasa dan alami&lt;br /&gt;Bergetar hati di dada&lt;br /&gt;Bagaikan hidup sribu tahun lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Lighting Break in)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babak II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sesosok tubuh hadir dengan berguling-guling dan berputar-putar)&lt;br /&gt;166. Nenek &lt;br /&gt;He, siapa kamu! Kenapa kamu menerombol, ketika kami sedang bersetubuh. Kamu tidak menghargai waktu. Semestinya kau tidak menerombol masuk seperti itu. Kamu harus tahu sopan santun. Masuklah dengan cara yang benar. Bukankah sudah kami bilang, jangan sekali-kali mengacaukan keadaan. Kenapa kamu tiba-tiba mengacaukan ketenangan ini. Tidak berbudaya!&lt;br /&gt;167. Kakek   &lt;br /&gt;Sudah aku bilang, aku tidak suka lampu menyala. Kini kita ketahuan.&lt;br /&gt;168. Nenek   &lt;br /&gt;Dia, memang kurang ajar.&lt;br /&gt;169. Kakek    &lt;br /&gt;Siapa dia?&lt;br /&gt;170. Nenek     &lt;br /&gt;Anakmu!&lt;br /&gt;171. Kakek   &lt;br /&gt;Anakmu juga!&lt;br /&gt;172. Nenek  &lt;br /&gt;Anakku? Anakmu? Kapan aku melahirkan?&lt;br /&gt;173. Kakek  &lt;br /&gt;Kapan kamu melahirkan?&lt;br /&gt;174. Nenek  &lt;br /&gt;Tidak ada tanda-tanda.&lt;br /&gt;175. Kakek  &lt;br /&gt;Tidak hamil? Aneh&lt;br /&gt;176. Nenek  &lt;br /&gt;Ngacau. Maksudku, kapan kita membuatnya. Bukankah kau tak pernah menghamiliku!&lt;br /&gt;177. Kakek  &lt;br /&gt;Gila. Kau menghinaku! Dikiranya aku mandul begitu? Kalau aku tidak menghamilimu, berarti kau telah dihamili orang lain.&lt;br /&gt;178. Nenek  &lt;br /&gt;Lancang! Menuduh seenaknya. Dikiranya aku suka berbuat begitu.&lt;br /&gt;179. Kakek  &lt;br /&gt;La buktinya saya tidak menghamili kamu kok punya anak.&lt;br /&gt;180. Nenek  &lt;br /&gt;Siapa punya anak. Ia bukan anakku!&lt;br /&gt;181. Kakek  &lt;br /&gt;Bukan anakmu?&lt;br /&gt;182. Nenek  &lt;br /&gt;Ya. Tetapi anak kita!&lt;br /&gt;183. Kakek  &lt;br /&gt;Lalu apa bedanya?&lt;br /&gt;184. Nenek  &lt;br /&gt;Kenapa semua ditimpakan kepadaku. Bukankah kamu yang maksa-maksa punya anak?&lt;br /&gt;185. Lanang  &lt;br /&gt;Aaaaaaaaddddddduuuuuuhhhhhhhhhh.Luuuuukkkkkaaaaa!!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;186. Kakek  &lt;br /&gt;SSSStttt. (Mengamati tubuh Lanang) Tubuhnya penuh luka?&lt;br /&gt;187. Nenek  &lt;br /&gt;Lelaki harus begitu!&lt;br /&gt;188. Kakek  &lt;br /&gt;Ini anak kita?&lt;br /&gt;189. Nenek  &lt;br /&gt;Kenapa ia tiba-tiba datang, sementara kita masih dalam separuh perjalanan.&lt;br /&gt;190. Kakek  &lt;br /&gt;Lanang, kenapa tubuhmu luka. Sudah aku bilang jalanan, masih penuh jurang, kau pergi juga. Apakah kau sudah menemukan jalan yang lapang. Kenapa kau kembali saat kami masih bersetubuh. Ini bukan saatmu hadir.&lt;br /&gt;191. Lanang  &lt;br /&gt;Tubuhku luka. Luka-lukaku, di tubuhku terluka-luka.&lt;br /&gt;192. Nenek  &lt;br /&gt;Adadakah kata-kata yang bisa aku mengerti.&lt;br /&gt;193. Kakek  &lt;br /&gt;Itu bahasa penyair.&lt;br /&gt;194. Lanang  &lt;br /&gt;Waktuku terluka, terluka-luka waktu-waktu di tubuh.&lt;br /&gt;195. Kakek  &lt;br /&gt;Mengerti? (pada nenek)&lt;br /&gt;196. Nenek   &lt;br /&gt;Luka sekali kelapa….eh kepalaku&lt;br /&gt;197. Kakek &lt;br /&gt;Hus…ngacau&lt;br /&gt;198. Lanang  &lt;br /&gt;(Bergerak berpusingan, seperti gangsingan) Tubuhku waktu. Luka tubuhku kehampaan waktuku berlalu. (Berputar-putar. Jatuh) Jatuh waktu hampa lalu di tubuhku. Menjadi waktu luka dalam waktu tubuhku. (Berterbangan) Seperti waktu angin luka. Awan luka. Matahari luka. Bulan luka. Bintang luka. Galaksi terluka. Planet terluka. Tuhan terluka. Lalu duka. (Melayang-layang) Mengawan waktu. Tubuhku kaku kelu lalu beku dalam waktu batu.&lt;br /&gt;199. Kakek  &lt;br /&gt;Omong apa?&lt;br /&gt;200. Nenek  &lt;br /&gt;Mengigau?&lt;br /&gt;201. Kakek  &lt;br /&gt;Edan&lt;br /&gt;202. Nenek  &lt;br /&gt;Gendeng&lt;br /&gt;203. Kakek  &lt;br /&gt;Koclok! Tidak waras!&lt;br /&gt;204. Nenek &lt;br /&gt;Idem.&lt;br /&gt;205. Lanang  &lt;br /&gt;Karena waktu. Lalu tubuhku waktukan. Jadilah batu, batu, dan batu.&lt;br /&gt;206. Kakek  &lt;br /&gt;Say, kita dikutuk jadi batu.&lt;br /&gt;207. Nenek  &lt;br /&gt;Kita manut saja. Ayo, kita jadi batu saja. &lt;br /&gt;208. Kakek  &lt;br /&gt;Seenaknya. Apakah kita nanti masih bisa bertemu, kalau jadi batu. Batu kan beku. Bisa-bisa kita dibuang di kali dan dijadikan tempat orang buang tai..hi..hi.&lt;br /&gt;209. Nenek  &lt;br /&gt;Kalau begitu kita lari saja!&lt;br /&gt;210. Kakek  &lt;br /&gt;Kemana?&lt;br /&gt;211. Nenek  &lt;br /&gt;Kemana saja.&lt;br /&gt;212. Kakek  &lt;br /&gt;Kok tidak punya tujuan.&lt;br /&gt;213. Nenek  &lt;br /&gt;Ini perjuangan. Ini kehormatan kita. Kita lari saja say, dari pada menjadi batu.&lt;br /&gt;214. Lanang &lt;br /&gt;Ibu. Jangan lalu. Karena luka waktu belum lalu. Aku anakmu. Ibu. Kenapa kau tidak tahu. Akulah anakmu!&lt;br /&gt;215. Nenek &lt;br /&gt;Dia menyebutku ibu?&lt;br /&gt;216. Kakek &lt;br /&gt;(mengangguk)&lt;br /&gt;217. Nenek &lt;br /&gt;Berarti anakmu juga!&lt;br /&gt;218. Kakek &lt;br /&gt;Belum tentu…&lt;br /&gt;219. Nenek &lt;br /&gt;Kok belum tentu. Kalau aku ibunya pasti kamu bapaknya.&lt;br /&gt;220. Kakek &lt;br /&gt;Tidak bisa disimpulkan begitu. Enak saja nuduh orang..&lt;br /&gt;221. Nenek &lt;br /&gt;Bukankah aku istrimu!&lt;br /&gt;222. Kakek &lt;br /&gt;Apakah seorang istri mesti mendapat anak dari suaminya?&lt;br /&gt;223. Nenek &lt;br /&gt;Lalu dari mana, kalau bukan dari lelakinya. Kamu mau mangkir. Dasar lelaki. Kalau begitu anak siapa dia?&lt;br /&gt;224. Kakek &lt;br /&gt;Lebih baik ditanya saja. Dari pada saling tuduh.&lt;br /&gt;225. Lanang &lt;br /&gt;Bapak! Kenapa kau berlagak, congkak. Dengan menistakan aku sebagai  kuntil anak!&lt;br /&gt;226. Kakek &lt;br /&gt;Mateng aku! Ia menyebut aku bapak!&lt;br /&gt;227. Nenek &lt;br /&gt;Begitu masih mau mangkir. Dasar, otak kadal. Semakin tua, tambah kayak brandal. Untung aku  masih sabar.&lt;br /&gt;228. Lanang &lt;br /&gt;Bapak! Kenapa kau biarkan badai merajam-rajam tubuhku.&lt;br /&gt;229. Kakek &lt;br /&gt;Aduh. Ia nyebut aku bapak lagi, bapak lagi. Bocah, kau sebenarnya bukan anakku. Kau lahir dari rahim ibumu. Kenapa kau terus menguntitku.&lt;br /&gt;230. Nenek &lt;br /&gt;Pengecut. Mana ada seorang ibu melahirkan tanpa bapak. Tanpa disentuh suaminya?&lt;br /&gt;231. Kakek &lt;br /&gt;Lanang coba ceritakan. Siapa dirimu sebenarnya.&lt;br /&gt;232. Lanang &lt;br /&gt;Aku dari sebuah harapan yang bertemu dalam dua arus. Kemudian menggumpal menjadi daging sebesar mundu. Tiba-tiba angin bertiup deras dari tempat yang gelap. Ia datang seperti kilat, meniupkan bau kasturi. Aku merasakan kehangatan wewangian itu. Aku bangun dan merasa berada dalam selimut. Selimut itu seperti sutra tetapi kuatnya, seperti baja. Aku hendak keluar. Tetapi suaraku menatap-natap dinding sutera itu. Aku terbelengu. Aku diam. Aku tidak tahu siapa ibuku. Aku hanya tahu, setiap wanita adalah ibuku dan setiap laki-laki adalah bapakku.&lt;br /&gt;233. Kakek &lt;br /&gt;Kalau begitu kau anaknya siapa?&lt;br /&gt;234. Nenek &lt;br /&gt;Pertanyaannya tidak boleh begitu. Itu, memojokkan. Beri pertanyaan yang demokratis. Bocah, kamu memang anak kami. Tetapi, kamu belum terdaftar. Apakah kamu mengakui kami orang tuamu?&lt;br /&gt;235. Lanang &lt;br /&gt;Kenapa semua orang tua selalu berdusta? Berilah aku jawaban yang pasti. Berilah aku hari esok yang terang benderang. Bukan yang gelap gulita. Aku hanya ingin itu. aku tidak mau berdebat siapa kamu. Tetapi akuilah aku anakmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Berguling-guling lagi, kemudian mlungker seperti trenggiling)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;236. Kakek&lt;br /&gt;Dia tertidur.&lt;br /&gt;237. Nenek&lt;br /&gt;Terlalu banyak omong. Dia kepayahan.&lt;br /&gt;238. Kakek&lt;br /&gt;Dia datang dari jauh sepertinya. Aku merasakan ia didatangkan oleh rasa kangen kita, akan wujud kita sendiri. Barangkali benar, ia adalah separuh perjalan kita. Semestinya kita tahu, bahwa ia adalah separuh perjalan diri kita. Ia benar. Ia anak kita!&lt;br /&gt;239. Nenek&lt;br /&gt;Rahimku bergetar ketika ia mengenduskan rasa dukanya. Ia pernah menorehkan luka di tubuhku. Barangkali ia benar, anak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dari sudut lain, seorang perempuan, berguling-guling dengan tubuh penuh luka)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;240. Wedok&lt;br /&gt;Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan.&lt;br /&gt;241. Kakek&lt;br /&gt;Aku pernah mendengar lagu itu.&lt;br /&gt;242. Wedok&lt;br /&gt;Sayang engkau tak duduk di sampingku, sayang.&lt;br /&gt;243. Kakek&lt;br /&gt;Jelas aku menyukai lagu ini.&lt;br /&gt;244. Wedok&lt;br /&gt;Banyak cerita yang mestinya kau saksikan.&lt;br /&gt;245. kakek &lt;br /&gt;Di tanah kering bebatuan.&lt;br /&gt;246. Nenek&lt;br /&gt;Hus ngacau….!&lt;br /&gt;247. Wedok&lt;br /&gt;Kekacauan terjadi dimana-mana. Aku berjalan seorang diri. Luka-luka ku bawa berlari. Berlari hingga hilang pedih peri.&lt;br /&gt;248. Kakek&lt;br /&gt;Wah dia bakat jadi penyair.&lt;br /&gt;249. Wedok&lt;br /&gt;Aku terluka. Jalanan penuh luka. Orang-orang terluka. Mereka terluka. Semua terluka. Aku terluka. Tiada bapa. Tiada mama. Luka-luka. Aku terluka. Terluka-luka aku.&lt;br /&gt;250. Nenek&lt;br /&gt;Say, apakah ia anak kita.&lt;br /&gt;251. Kakek&lt;br /&gt;(Geleng kepala)&lt;br /&gt;252. Wedok&lt;br /&gt;Ia tidak tahu. Ia membatu. Ia tidak tahu. Ia membatu. Kami terluka-luka. Ia membatu.&lt;br /&gt;253. Kakek&lt;br /&gt;Aku memang tidak tahu. Apakah mereka anak-anak kita. Mengapa mereka datang seperti hantu yang meneror kita. Oh, kehidupan ini….Mengapa ia terluka-luka. Aku tidak tahu…..say…&lt;br /&gt;254. Wedok&lt;br /&gt;Kakak. Mengapa engkau terdiam. Dimana arah mata angin. Apakah kita telah sampai pada neraka. Dimana surga?!&lt;br /&gt;255. Nenek&lt;br /&gt;Dia menyebut kakak.&lt;br /&gt;256. Kakek&lt;br /&gt;Mereka bersaudara. Bersaudara dalam suka dan duka.&lt;br /&gt;257. Wedok&lt;br /&gt;Kakak mengapa engkau diam seribu bahasa. Di mana surga?&lt;br /&gt;258. Kakek&lt;br /&gt;Di bawah telapak kaki Ibu..&lt;br /&gt;259. Wedok&lt;br /&gt;Ibu, mengapa surga kau sembunyikan di bawah kakimu? Mengapa kau serakah dengan kenikmatan. Kenapa penderitaan kau timpakan pada anak-anak luka?&lt;br /&gt;260. Nenek&lt;br /&gt;Saya tidak tahu kalau surga ada di bawah kakiku. Sampai aku menjelang ajal, aku tidak pernah merakan kenikmatan. Malah aku sering bertanya-tanya, mengapa manusia terus hidup dalam kubangan penderitaan. Aku benar-benar tidak tahu…Aku …tidak menyembunyikan apa-apa di dalam tubuhku. &lt;br /&gt;261. Wedok&lt;br /&gt;Kalau begitu dimana surgamu?&lt;br /&gt;262. Nenek&lt;br /&gt;Dibawa bapakmu. Dialah yang merebut segala kenikmatanku. Dialah yang menguasai segala kenikmatan. Dialah penghuni surga. Penguasa surga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;263. Wedok&lt;br /&gt;Bapak…&lt;br /&gt;264. Kakek&lt;br /&gt;Mateng aku….!&lt;br /&gt;265. Wedok&lt;br /&gt;Dimana surga. Kami anak-anak luka. Mengapa kau sembunyikan kenikmatan itu. Kami pingin mampir dalam perjalanan yang melelahkan penuh luka ini. Kakak, bangunlah dari luka aku telah melihat surga di bawah telapak kaki bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Lanang dan Wedok, bergerak berpusingan. Berguling-guling)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;266. Kakek : &lt;br /&gt;Baiklah-baiklah. Akan aku tunjukan dimana surga berada. Mari kita naik perahu.&lt;br /&gt;267. Nenek : &lt;br /&gt;Perahu? Perahu kita sudah hancur. Aku tidak tahu, kemana perginya puing-puingnya. Dermaga itupun telah aku hapus dari peta mataku. &lt;br /&gt;268. Kakek : &lt;br /&gt;Barangkali begitu… Tetapi apa salahnya kita membuat perahu demi anak-anak kita…(ragu-ragu)&lt;br /&gt;269. Nenek : &lt;br /&gt;Kok barangkali? Yang tegas dong…&lt;br /&gt;270. Kakek : &lt;br /&gt;Aku tak bisa menjawab pasti. Karena kepastian belum tentu memberikan jawaban yang benar. Lanang adalah kebenaran yang tidak bisa dipastikan. Lanang adalah sejarah kita yang hidup. Ia adalah waktu kita. Ia adalah anak jarum waktu yang terus bergerak menggantikan kita berjalan menyusuri waktu.&lt;br /&gt;271. Nenek : &lt;br /&gt;Saya tidak tahu?&lt;br /&gt;272. Kakek : &lt;br /&gt;Jangan belagu, lu!&lt;br /&gt;273. Nenek : &lt;br /&gt;Aku memang tidak tahu!&lt;br /&gt;274. Kakek : &lt;br /&gt;Ya, sudah kita pergi saja! Mari kita bersama-sama berlayar mencari surga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Berlayar. Panggung padam. Siluet kapal-kapal. Samudra berderai-derai. Angin berhembus tajam sekali. Perahu pontang-pantingan. Sementara luka semakin luka. Duka semain duka. Tubuh mereka melayang-layang. Terhempas di tengah gelombang besar. Badai. Mereka berlayar pantang menyerah, sampai jauh sekali)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;275. Nenek&lt;br /&gt;Pelan-pelan kek. Di sana ada karang..Lagian nanti kamu cepat kepayahan.&lt;br /&gt;276. Kakek&lt;br /&gt;Cerewet kamu. Lebih cepat lebih baik. Biar cepat sampai.&lt;br /&gt;277. Nenek&lt;br /&gt;Sampai dimana?&lt;br /&gt;278. Kakek&lt;br /&gt;Kita tadi menuju kemana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;279. Koor&lt;br /&gt;Surga?&lt;br /&gt;280. Kakek&lt;br /&gt;Betul!&lt;br /&gt;281. Nenek&lt;br /&gt;Emang disana ada surga?&lt;br /&gt;282. Kakek&lt;br /&gt;Say..kenapa pertanyaanmu begitu sulit, sementara perjalanan ini masih jauh sekali!&lt;br /&gt;283. Nenek&lt;br /&gt;Saya cuman butuh jawaban ada atau tidak?&lt;br /&gt;284. Kakek&lt;br /&gt;Itulah yang saya maksud. Saya tidak tahu..&lt;br /&gt;285. Nenek&lt;br /&gt;Jadi kamu sendiri tidak tahu? Lalu buat apa kita berlayar sejauh ini?&lt;br /&gt;286. Kakek&lt;br /&gt;Kamu jangan cerewet….! Nanti didengar anak-anak kita! &lt;br /&gt;287. Nenek&lt;br /&gt;Jadi kamu bohong?&lt;br /&gt;288. Kakek&lt;br /&gt;Saya sendiri tidak yakin di sana ada surga!&lt;br /&gt;289. Nenek&lt;br /&gt;Jadi kamu tidak yakin kalau surga ada?&lt;br /&gt;290. Kakek&lt;br /&gt;Untuk menyenangkan anak-anak, aku percaya.&lt;br /&gt;291. Nenek&lt;br /&gt;Jadi kamu menipu?&lt;br /&gt;292. Kakek&lt;br /&gt;Untuk kebaikan tidak apa-apa.&lt;br /&gt;293. Nenek&lt;br /&gt;Menipu kok untuk kebaikan! Menipu ya menipu. Kalau tidak ada surga, mengapa kita terus menempuh bahaya seperti ini?&lt;br /&gt;294. Kakek&lt;br /&gt;Sudah aku bilang dalang menyampaikan pertanyaan yang sulit di saat yang sulit. Ini menjadi blundeer…tidak akan selesai-selesai.&lt;br /&gt;295. Nenek&lt;br /&gt;Saya tidak mempersulit. Justru kamulah yang membuat kita sulit. Kalau tidak ada surga mengapa  kita menempuh penderitaan ini begitu panjang?&lt;br /&gt;296. Kakek&lt;br /&gt;Saya tidak mengatakan surga tidak ada. Tetapi saya tidak tahu…&lt;br /&gt;297. Nenek&lt;br /&gt;laki-laki kok tidak tegas. Jelaskan ada atau tidak, biar kita tidak pontang-pantingan seperti ini.&lt;br /&gt;298. Kakek&lt;br /&gt;Sudah saya bilang saya tidak tahu…!!!!&lt;br /&gt;299. Nenek&lt;br /&gt;Harus tahu!!!&lt;br /&gt;300. Kakek&lt;br /&gt;Kalau saya tahu, saya tidak sudi hidup seperti ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tiba-tiba ombak membesar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;301. Nenek&lt;br /&gt;Awas say, ombaknya semakin besar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ombak bertubi-tubi menghajar perahu mereka yang kecil)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;302. Kakek&lt;br /&gt;Semua berkonsentrasi. Sampan tetap terkendali. Jaga keseimbangan!&lt;br /&gt;303. Nenek&lt;br /&gt;Di depan itu karang atau perahu besar!&lt;br /&gt;304. Kakek&lt;br /&gt;Bukan itu ombak yang bergulung. Ayo semua berpegangan erat-erat jangan sampai terlepas. Awas berpegangan yang erat. Say kamu berpegangan di tempat yang salah…aduh sakit sekali!&lt;br /&gt;305. Nenek&lt;br /&gt;Say, kamu berjanda. Kita sedang menentang bahaya.&lt;br /&gt;306. Kakek&lt;br /&gt;Iya, tapi lebih berbahaya kalau ‘burungku’ tertimpa bencana!&lt;br /&gt;307. Nenek&lt;br /&gt;Ah sudahlah. Ombak semakin dekat!&lt;br /&gt;308. Kakek&lt;br /&gt;Anak-anaku berpeganglah. Kita akan digulung ombak besar. Jalan menuju surga memang tidak gampang. Berpeganglah erat-erat!&lt;br /&gt;309. Nenek&lt;br /&gt;Sssstttt…emang mereka anak kita?&lt;br /&gt;310. Kakek&lt;br /&gt;Say, kenapa kau ajukan pertanyaan sulit. Selagi menyongsong maut, anggaplah semua ini milik kita. Sekali lagi anak-anakku…ombak semakin dekat. Berpeganglah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ombak setinggi gunung menelan perahu. Mereka terpental berpencaran. Ombak semakin menggila. Angin membadai. Hujan membadai. Petir menyambar-nyambar. Teriakan mereka ditelan gelegar ombak. Badai berlalu. Sunyi. Angin tipis sekali)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babak III&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Lampu perlahan terang. Kakek nenek berada di suatu tempat. Sementara Lanang dan Wedok di tempat lain)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;311. Lanang&lt;br /&gt;Kita berada dimana. Apakah ini Surga?&lt;br /&gt;312. Wedok&lt;br /&gt;Pasti ini disurga. Tubuh kita yang terluka sudah sembuh. Dan aku merasa bahagia.&lt;br /&gt;313. Kakek&lt;br /&gt;Aduh punggungku sakit sekali. Encokku kumat..Say..bangun jangan tidur terus.&lt;br /&gt;314. Nenek&lt;br /&gt;Aduh punggungku sakit sekali. Encokku kumat..Say..bangun jangan tidur terus.&lt;br /&gt;315. Kakek&lt;br /&gt;Kok sama?&lt;br /&gt;316. Nenek&lt;br /&gt;Disurga kan tidak ada perbedaan…semua sama bahagia.&lt;br /&gt;317. Kakek&lt;br /&gt;Ya..tapi kita kan sakit!&lt;br /&gt;318. Nenek&lt;br /&gt;Wah jangan-jangan kita keblasuk ke nereka?&lt;br /&gt;319. Lanang&lt;br /&gt;Aku bahagia sekali. Ini tempat yang kita tuju. Tetapi dimana orang yang tadi…?&lt;br /&gt;320. Wedok&lt;br /&gt;Orang siapa?&lt;br /&gt;321. Lanang&lt;br /&gt;Orang yang mengantar kita kesini?&lt;br /&gt;322. Kakek&lt;br /&gt;Saya tidak tahu. Tapi kemana anak-anak tadi?&lt;br /&gt;323. Nenek&lt;br /&gt;Mengigau! Anak siapa?&lt;br /&gt;324. Kakek&lt;br /&gt;Anak yang bersama kita tadi?&lt;br /&gt;325. Nenek&lt;br /&gt;Ngacau sejak bertahun-tahun kita sendiri..kok anak…!&lt;br /&gt;326. Wedok&lt;br /&gt;Orang yang mengaku orang tua kita itu to…?&lt;br /&gt;327. Nenek&lt;br /&gt;O..saya ingat. Anak yang mengaku anak kita to..?&lt;br /&gt;328. Lanang&lt;br /&gt;Betul!&lt;br /&gt;329. Kakek&lt;br /&gt;Cocok. Dia tadi bersama dalam pelayaran ini!&lt;br /&gt;330. Nenek&lt;br /&gt;Berlayar kemana lagi? Wong sejak tadi kita tidur disini. Ngimpi kali..ye…?&lt;br /&gt;331. Lanang&lt;br /&gt;Dia kan yang mengajak kita berlayar sampai jauh…?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;332. Wedok&lt;br /&gt;Berlayar…ah. Sejak tadi kita tiduran disini…?&lt;br /&gt;333. Kakek&lt;br /&gt;Betul dia anak kita!&lt;br /&gt;334. Lanang&lt;br /&gt;Betul mereka orang tua kita..&lt;br /&gt;335. Nenek&lt;br /&gt;Kamu jangan menyindir saya. Meski saya tidak bisa beranak…kamu jangan mengungkit-ngungkit masa lalu. Bukankah kamu sudah berjanji?&lt;br /&gt;336. Wedok&lt;br /&gt;Kamu jangan menyindir saya. Meski saya bukan anak orang tidak jelas..kamu jangan mengungkit-ngukit masa lalu. Bukankah kamu sudah berjanji?&lt;br /&gt;337. Kakek&lt;br /&gt;Maksud saya bukan begitu. Saya benar-benar diikuti dua anak yang mengaku anak-anak kita.&lt;br /&gt;338. Lanang&lt;br /&gt;Maksud saya bukan begitu. Saya benar-benar ikut dua orang tua yang mengaku orang tua kita.&lt;br /&gt;339. Wedok &lt;br /&gt;Dasar Laki-laki!&lt;br /&gt;340. Nenek&lt;br /&gt;Dasar laki-laki!&lt;br /&gt;341. Kakek&lt;br /&gt;Saya ngomong sebenarnya, saya tadi melihat dua anak-anak. Saya tidak bohong. Kalau bohong buat apa saya katakan. Di surga tidak ada kata-kata bohong?&lt;br /&gt;342. Nenek &lt;br /&gt;Kalau begitu kita di neraka. Kalau disurga mengapa tiba-tiba encok kita kumat. Kan, di surga tidak ada rasa sakit yang ada hanya bahagia. Kita malah encok dan bertengkar melulu.&lt;br /&gt;343. Kakek&lt;br /&gt;Itu karena tingkahmu. Coba kalu kau merasa bahagia, dan tidak merasa sakit. Pasti terasa di surga.&lt;br /&gt;344. Nenek&lt;br /&gt;Mulai bersilat lidah. Bukankah kita sejak tadi tidak berajak kemana-mana. Sejak tadi, sejak kemarin, sejak kemarin lusa, sejak kemarin-marin, sejak seminggu, sejak sebulan, sejak setahun, sejak sewindu, sejak seabad-abad yang lalu, kita sudah berada disini. Baru beberapa detik yang lalu kita bersetubuh. Lalu engkau mengerang-ngerang karena rasa punggungmu seperti tertusuk-tusuk jarum suntik. Apakah ini surga? Kalau ini neraka saya percaya! Dasar pikun.&lt;br /&gt;345. Lanang&lt;br /&gt;Saya ngomong sebenarnya, saya tadi melihat dua orang tua. Saya tidak bohong. Kalau bohong buat apa saya katakan. Di surga tidak ada kata-kata bohong?&lt;br /&gt;346. Wedok&lt;br /&gt;Mulai bersilat lidah. Bukankah kita sejak tadi tidak berajak kemana-mana. Sejak tadi, sejak kemarin, sejak kemarin lusa, sejak kemarin-marin, sejak seminggu, sejak sebulan, sejak setahun, sejak sewindu, sejak seabad-abad yang lalu, kita bersama-sama. Terluka-luka. Berduka-duka. Bersuka-suka. Apakah kita pernah beranjak dari semua yang telah kita rasakan bersama. Apakah kita telah benar-benar menemukan bapak ibu kita. Kalau sudah, berarti kita benar di surga? Jangan-jangan rasa sakit yang telah berabad-abad ini terasa kita menjadi kenikamatan yang ektase. Apakah kita telah lupa dengan rasa sakit? &lt;br /&gt;347. Lanang&lt;br /&gt;Stoop…jangan kita melupakan rasa sakit. Rasa sakit membuat kita bisa merasakan kebahagiaan. Barangkali beginilah kenikmatan yang harus kita tempuh. Barangkali inilah surga?&lt;br /&gt;348. Kakek&lt;br /&gt;Ini memang bukan surga. Kalau di surga, tidak ada orang secerewet kamu. Sudah aku bilang, saya telah beralayar dengan dua anak yang terluka. Dia seperti saya ketika waktu muda, atau waktu kecil, atau waktu masih bayi. Saya merasakannya. Saya menggigil ketika dia menyebut saya bapak. Jangan mereka benar-benar anak kita.&lt;br /&gt;349. Nenek&lt;br /&gt;Mereka anak kita? Apakah disini neraka atau surga? Saya tetap tidak mengerti. Saya tidak bisa menduga-duga. Mengapa tiba-tiba saya terasa pikun?&lt;br /&gt;350. Kakek&lt;br /&gt;Sudah ku bilang….bahwa sebenarnya kita di neraka. Kita sudah pikun. Kita tidak pernah merasakan kebahagiaan lahir batin. Inilah waktu senjakala. Waktu malaikat maut itu mendekati kita, membisikan kata-kata yang membuat jantung kita terputus, organ-organ kita terlepas berhamburan, melayang-layang menjadi rebutan milyaran bakteri. Dan kita mati! &lt;br /&gt;351. Wedok&lt;br /&gt;Apakah kita sudah mati? Kita berada di surga? Mengapa kita mengatakan sedang di surga, kalau rasa sakit masih bisa menjemput kita. Ini bukan surga dan barangkali juga bukan neraka! &lt;br /&gt;352. Lanang&lt;br /&gt;Lalu dimana kita?&lt;br /&gt;353. Nenek&lt;br /&gt;Kita di kuburan?&lt;br /&gt;354. Kakek&lt;br /&gt;Di jagad maha luas. Jagad yang tiada batas oleh ruang dan waktu.&lt;br /&gt;355. Wedok&lt;br /&gt;Di jagad maha luas. Jagad yang tiada batas oleh ruang dan waktu.&lt;br /&gt;356. Koor&lt;br /&gt;Wooow…luas sekali.&lt;br /&gt;357. Koor&lt;br /&gt;Wooow..luuuuaaaasss sekaaaaallliiii…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Mereka beterbangan bagai burung-burung, menggapai angkasa. Bermain-main dengan matahari. Bermain dengan bulan. Bermain petak umpet di bailik awan. Berloncat-loncatan dari bintang ke bintang. Semua dilakukannya dengan perasaan riang gembira. Mereka tertawa-tawa. Mereka bernyanyi-nyanyi. Memetik rintik-rintik hujan. Melupakan keluh kesah.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;358. Kakek&lt;br /&gt;Say, aku merasakan bahagia.&lt;br /&gt;359. Nenek&lt;br /&gt;Saya, aku merasakan bahagia.&lt;br /&gt;360. Lanang&lt;br /&gt;Dinda, aku merasakan bahagia sekali.&lt;br /&gt;361. Wedok&lt;br /&gt;Kanda, aku juga merasakan hal yang sama.&lt;br /&gt;362. Kakek&lt;br /&gt;Ternyata surga tidak ada dimana-mana. Surga ada dalam diri kita sendiri-sendiri. Surga kita rasakan ketika kita merasakan kelapangan dada menerima segala yang dicobakan pada kita. Say, aku merasa bahagia. Karena kini aku tahu, senjakala itu adalah kebahagian yang menjemput. Ia bukan maut yang kita takutkan selama ini. Terompet itu, adalah musik surgawi yang dimainkan para malaikat, untuk menjemput para kafilah yang pulang setelah menempuh perjalanan maha lama dan menyakitkan. Say, aku merasa bahagia sekali. Say, apakah kau juga bahagia?&lt;br /&gt;363. Nenek&lt;br /&gt;Say, aku bahagia. Aku bahagia, meski aku tidak tahu, apa yang sedang aku rasakan. Apakah saya bahagia, atau saya merasa sedih. Aku telah berlapang dada. Kebahagiaan dan rasa sakit telah aku terima dengan lapang dada. Tetapi aku seperti tidak bahagia. Aku tidak mengerti. Sepertinya dalam diriku masih ada kabut. Kabut itu begitu menyesakan dada. Apakah ini yang disebut sebuah keniscayaan….?&lt;br /&gt;364. Lanang&lt;br /&gt;Dinda, kini aku tidak menyesal. Kita telah menuju alam untuk menuju ke alam yang lain. Penderitaan ini adalah untuk menuju kebahagiaan sejati. Meski tubuh kita telah terluka-luka, aku masih percaya bahwa kebahagian tidak bisa terluka. Aku bahagia dinda, meski perjalanan ini masih teramat panjang dan luka-luka kita masih terus menganga.&lt;br /&gt;365. Wedok&lt;br /&gt;Aku bahagia. Meski dalam perjalanan ini kita terluka-luka. Hatiku kini lapang menerimanya. Barangkali ini adalah titik awal untuk menuju kebahagiaan sejati. Dadaku terasa lapang sekali menerima nasib seperti ini. Itulah yang membuatku tidak merasa cemas lagi. Saya bahagia sekali kanda, meski kita adalah anak haram jadah.&lt;br /&gt;366. Kakek&lt;br /&gt;Say, kau jangan ragu-ragu menerima kenyataan ini. Ini bukan keniscayaan. Tapi kenyataan. Percayalah keniscayaan itu pasti akan segera menjadi realitas yang membahagiakan. Kita jangan terlalu takut dengan mimpi tua kita. Meski senjakala telah menjemput, kita harus tetap tersenyum dari rasa sakit yang tak bisa terobati selain dengan rasa bahagia itu.&lt;br /&gt;367. Nenek&lt;br /&gt;Ada kalanya kau berkata jujur dan pintar, sayangku. Itulah yang membuat aku semakin tak bisa meninggalkanmu dalam penderitaan ini.&lt;br /&gt;368. Kakek&lt;br /&gt;Ah, kau jangan merajuk lagi. Kalau ada maunya kau pasti memujiku seperti itu.&lt;br /&gt;369. Nenek&lt;br /&gt;Kamu mulai meledek. Begitulah kamu masih saja egois. (diam seribu kata wajahnya tampak suntrut)&lt;br /&gt;370. Kakek&lt;br /&gt;Waduh…ngondokan…Hei, kalau kamu marah tambah kelihatan cantikmu. Sayang cantik-cantik kumisan…ha ha..ha..ha ha….&lt;br /&gt;371. Nenek&lt;br /&gt;Hik..hik..s…say! (tertawa manja) ini aku serius. Kau jangan begitu….&lt;br /&gt;372. Kakek&lt;br /&gt;Tak ting tung-tak ting tung….hulik hulik…hulik. Gitu aja marah…eit…mbok jangan serius begitu.  Hi hi hi….Ayo. aku tahu maksudmu…camon..say! &lt;br /&gt;373. Nenek&lt;br /&gt;(malu-malu) Tidak! Aku di sini saja. Kamu sudah loyo begitu…&lt;br /&gt;374. Kakek&lt;br /&gt;Lo..lo..lo, meremehkan. Saya tadi sudah minum ramuan tangkur dinosaurus dicampur kaki gajah, direndam dalam darah macan kemudian di jus dengan daging kuda…kok. Ayo…mumpung tidak ada orang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Musik romantis. Lampu tipis sekali. Terdengar suara tangisan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;375. Lanang&lt;br /&gt;Apakah kau mendengar tangisan.&lt;br /&gt;376. Wedok&lt;br /&gt;Ya…saya mendengarnya.&lt;br /&gt;377. Lanang&lt;br /&gt;Seperti suara tangis kita ya…?&lt;br /&gt;378. Wedok&lt;br /&gt;Ya…saya juga merasakan begitu. Tapi dimana suara itu?&lt;br /&gt;379. Lanang&lt;br /&gt;Terasa dekat sekali ya?&lt;br /&gt;380. Wedok&lt;br /&gt;Betul..itu suara ku. Seperti menangis pilu. Tapi kok seperti nenek-nenek ya?&lt;br /&gt;381. Lanang&lt;br /&gt;Betul…suara itu dalam dada.. atau dalam tubuhku ini…ia menangis. Ia seperti suaraku. Tapi kok seperti kakek-kakek ya…?&lt;br /&gt;382. Wedok&lt;br /&gt;Jangan-jangan ia ibu yang kita cari?&lt;br /&gt;383. Lanang&lt;br /&gt;Jangan-jangan ia bapak yang kita cari?&lt;br /&gt;384. Wedok&lt;br /&gt;Kenapa mereka menangis dalam tubuh kita?&lt;br /&gt;385. Lanang&lt;br /&gt;Aku mengerti sekarang. Yang kita cari sudah ketemu. Kita sudah menemukan ibu dan bapak kita. Mereka ternyata mengeram dalam sanubari kita. Meski kita tidak tahu dimana mereka. &lt;br /&gt;386. Wedok&lt;br /&gt;Jadi, kita adalah orang tua kita sendiri? Aku ibu dan kau adalah bapak?&lt;br /&gt;387. Lanang&lt;br /&gt;Ya kita adalah orang tua diri kita sendiri.&lt;br /&gt;388. Wedok&lt;br /&gt;Aku tidak mengerti…mengapa jadi begini. Aku pingin tahu mereka ada. Mereka nyata ada di depan mataku…&lt;br /&gt;389. Lanang&lt;br /&gt;Percuma…kita lakoni saja, lakon hidup seperti ini. Bukankah kita telah berjanji, akan menerima semua apa yang terjadi apa yang harus terjadi dan menimpa kita. Kini anggaplah, aku bapakmu dan kau ibuku.&lt;br /&gt;390. Wedok&lt;br /&gt;Kau akan berjanji bersamaku sampai kita mati nanti…?&lt;br /&gt;391. Lanang&lt;br /&gt;Percayalah. Mari kita lanjutkan perjalanan kita, Ibu!&lt;br /&gt;392. Wedok&lt;br /&gt;Mari, Bapak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Mereka bergerak berpusingan seperti taupan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;393. Kakek&lt;br /&gt;Say, dadaku bergemeruh, ketika menyentuh tubuhmu…&lt;br /&gt;394. Nenek&lt;br /&gt;begitulah kau. Belum apa-apa pasti sudah KO…&lt;br /&gt;395. Kakek&lt;br /&gt;Bukan begitu, maksudku, aku merasakangetaran yang aneh dalam tubuhku. Aku merasakan kau adalah anakmu…!&lt;br /&gt;396. Nenek&lt;br /&gt;Anakmu?&lt;br /&gt;397. Kakek&lt;br /&gt;Begitulah sebenarnya. Kata hatiku, kau adalah anakku dan aku adalah anakmu jua…!&lt;br /&gt;398. Nenek&lt;br /&gt;Jadi kita adalah anak dari diri kita sendiri?&lt;br /&gt;399. Kakek&lt;br /&gt;Tiba-tiba, aku merakan begitu. Barangkali ini jalan terbaik dan terindah untuk melupakan kesendirian kita. Anggaplah aku anakmu dan kau anakku.&lt;br /&gt;400. Nenek&lt;br /&gt;(diam terpaku, seperti belum percaya dengan kata-kata Kakek). Begitu mudahkan kita menyimpulkan arti kesunyian, arti kesepian, arti kesendirian, arti semua penderitaan yang telah kita tempu berjuta lamanya? Aku masih belum bisa menerima…&lt;br /&gt;401. Kakek&lt;br /&gt;Anakku, pada suatu hari nanti, kamu pasti menerimanya. Karena ksunyian ini hanya kita yang bisa mebuatnya menjadi kegaduhan. Dan anak-anak kitalah yang membuat waktu menjadi terpecah belah. Kita meski menyatu, bahwa anak-anak kita ada dalam diri kita. Bukankah kau pingin punya anak?&lt;br /&gt;402. Nenek &lt;br /&gt;(Mengangguk. Tak terasa air matanya meleleh) &lt;br /&gt;403. Kakek&lt;br /&gt;Jangan menangis. Mari bermain lagi anakku? Kita lupakan kesedihan ini dengan bermain-main. Kamu mau aku maikan apa? Burung terbang? Atau aku bernyanyi…? Boleh aku bernyanyi? Apa membaca syair? Baiklah aku akan membaca syair, untuk menghibur anakku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Kakek membaca syair sekenanya, sampai nenek tertawa terpingkal-pingkal melihat polah tingkah kakek yang lucu saat membaca syair. Sementara tirai putih perlahan-lahan turun. Lampu-lampu gedung kembali dinyalakan. Senja memerah, pertanda malam akan menjelang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, Desember 2003&lt;br /&gt;(Naskah ini aku persembahkan pada istriku tercinta, sahabatku di Ngawi dan teman teman teater Institut Unesa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5346587717956970287-1619939490702781901?l=teaterapakah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teaterapakah.blogspot.com/feeds/1619939490702781901/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5346587717956970287&amp;postID=1619939490702781901' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/1619939490702781901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/1619939490702781901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teaterapakah.blogspot.com/2008/02/terompet-senjakala.html' title='Terompet Senjakala'/><author><name>teaterapakah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14504659433822587521</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R4KW9fwvaJI/AAAAAAAAAAM/4MNOEFdRZSc/S220/giryadi+oke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R6flGydg3BI/AAAAAAAAAC4/BbHQP-fASU0/s72-c/blog-Terompet+Senjakala.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5346587717956970287.post-5611360046140407735</id><published>2008-01-20T15:32:00.000-08:00</published><updated>2008-01-20T17:33:23.949-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai teater'/><title type='text'>Teater Kampus, Tantangan Masa Depan</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R5P2OPwvaXI/AAAAAAAAAB8/IkbQj8bKMxo/s1600-h/setan+(4).jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R5P2OPwvaXI/AAAAAAAAAB8/IkbQj8bKMxo/s320/setan+(4).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5157736722878916978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : R. Giryadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perhelatan Festival Seni Surabaya 2004 lalu, ada semacam gugatan dari aktivis teater kampus yang tidak setuju dengan pembedaan baik secara teknis maupun non teknis antara teater kampus dan teater non kampus. Sejauh yang saya pahami, dalam hal ini, (panita) memberikan ruang apresiasi terhadap teater kampus yang berkembang, baik, di Surabaya, Jawa Timur, bahkan Indonesia. Dalam hal ini, diharapkan, di Jawa Timur, muncul penggagas teater dari para mahasiswa, berdampingan dengan para tokoh teater yang bergiat di luar kampus. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun teater kampus harus menjadi tumpuan masa depan, perkembangan teater di tanah air. Tentu kita tahu, bahwa para pendekar-pendekar teater yang sekarang, seperti WS.Rendra, Putu Wijaya, Yudi Ahmad Tajudin (hanya sekedar menyebut nama), adalah mantan penggiat teater di kampusnya.&lt;br /&gt;Dikotomi teater kampus dan non kampus (sebenarnya) tidak perlu diperdebatkan lagi. Menurut saya, dikotomi itu justru akan menjebak proses kreatif yang sebenarnya tidak bisa dibatasi oleh terminologi kampus dan bukan kampus. Teater, di manapun prosesnya dan siapapun yang memroses, tetap teater. &lt;br /&gt;Terminologi teater kampus lahir ketika teater modern Indonesia pada jaman keemasannya (1960-1970) banyak dilakukan oleh para mahasiswa. Hal ini dikarenakan arus informasi berpusat di kampus. Maka wajar bila berbagai perkembangan kebudayaan termasuk di dalamnya teater, cepat diterima oleh kalangan mahasiswa. Pada saat itu memang di kampuslah teater modern Indonesia mulai diperkenalkan. &lt;br /&gt;Terminologi teater kampus yang melekat pada saat itu hanya sebuah identitas ( bukan genre ) untuk menyebut kegiatan teater yang pelaku-pelakunya adalah mahasiswa. Dari periodisasi perkembangan teater Indonesia bisa di pahami kedudukan teater kampus sederajat dengan teater yang berkembang di luar kampus. &lt;br /&gt;Pada Pasar  Teater ‘90 di Institut Teknologi Bandung (ITB) banyak saran yang menyatakan agar teater kampus mempertegas identitasnya dengan menekankan pada nilai-nilai intelektualitas. Putu Wijaya menyarankan agar teater kampus bersifat eksperimental. Alasannya, sifat eksperimental lebih dekat dengan proses berpikir mahasiswa. Selain itu juga untuk menyiasati waktu mahasiswa yang banyak dihabiskan untuk kuliah. Berbeda dengan Putu Wijaya, Ratna Sarumpaet menyarankan agar keterlibatan mahasiswa dengan peristiwa sosial lebih dekat. Karena selama itu kampus terkesan berada di menara gading dan seolah-olah enggan terlibat dengan peristiwa sosial. Oleh sebab itu dia berharap teater kampus bisa memberikan solusi sosial di tengah masyarakat, melalui medium teater. &lt;br /&gt;Siapakah yang baik diantara keduanya? Sampai hari ini kita masih bisa menyaksikan dua tawaran bentuk teater yang diidealkan oleh Putu Wijaya dan Ratna Sarumpaet. Hal ini membuktikan bahwa teater, apapun bentuknya, selalu berbicara tentang makna universalitas. Oleh sebab itu terminologi kampus menjadi tidak berguna ketika kita berbicara teater sebagai teater. &lt;br /&gt;Saat ini yang terpenting adalah bagaimana teater kampus memberlakukan proses teater tidak hanya sekedar berbicara persoalan teknis tetapi pada proses berpikir (dialektika) tentang konsep teater dan wacana social, politik, ekonomi, budaya. Sehingga para mahasiswa ( yang sudah dibekali berbagai ilmu ) bisa menyalurkan keilmuannya itu pada teater dan tidak hanya sekedar datang, ‘mabuk’, pulang, datang lagi, ‘mabuk lagi’ dan hanya menjadikan teater untuk menumpahkan kebosanannya pada perkuliahan. &lt;br /&gt;Teater kampus memang harus memiliki spirit yang berbeda dengan teater non kampus. Teater kampus memiliki banyak peluang menelorkan berbagai gagasan tentang persoalan teater, persoalan sosial, persoalan politik, dll. Eksperimen yang dimaksudkan Putu Wijaya, dari kampus diharapkan muncul para avant garde (perintis masa depan). Karena di dalam kampus sangat memungkinkan berbagai eksperimen bisa dilakukan. &lt;br /&gt;Persoalnya, mampukah teman-teman kampus memanajemen anggotanya yang secara periodik terus berganti? Sejauh yang saya alami banyak teater kampus gagal memanajemen anggotanya. Hampir setiap tahun anggota teater kampus mengalami pasang surut. Hanya beberapa orang saja yang bisa bertahan sampai akhir masa kuliahnya. Inilah yang menyebabkan teater kampus, secara manajemen, masih dipandang main-main. &lt;br /&gt;Hal ini dikarenakan, teater kampus, dalam setiap proses (pentas) masih berkutat dilingkungannya sendiri. Selain itu, tradisi menulis (kritik dan wacana) bagi para aktivisnya kurang terwadahi, karena memang tidak ada media yang representatif untuk mewadahinya. Akhibatnya, apapun yang dilakukan teman-teman teater kampus, seperti hanya main-main saja. Tak heran bila embel-embel kampus (belajar) tetap melekat di belakang nama teaternya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; (R. Giryadi, sutradara Teater Institut Surabaya, tinggal di Sidoarjo)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5346587717956970287-5611360046140407735?l=teaterapakah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teaterapakah.blogspot.com/feeds/5611360046140407735/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5346587717956970287&amp;postID=5611360046140407735' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/5611360046140407735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/5611360046140407735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teaterapakah.blogspot.com/2008/01/teater-kampus-tantangan-masa-depan.html' title='Teater Kampus, Tantangan Masa Depan'/><author><name>teaterapakah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14504659433822587521</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R4KW9fwvaJI/AAAAAAAAAAM/4MNOEFdRZSc/S220/giryadi+oke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R5P2OPwvaXI/AAAAAAAAAB8/IkbQj8bKMxo/s72-c/setan+(4).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5346587717956970287.post-6919758835901062161</id><published>2008-01-17T19:50:00.000-08:00</published><updated>2008-01-17T23:37:45.526-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai teater'/><title type='text'>Zaman Keemasan Teater di Surabaya Sudah  Berakhir</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R5BXD_wvaUI/AAAAAAAAABo/Hb63_3rNAgo/s1600-h/blog-siti+masitoh+3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R5BXD_wvaUI/AAAAAAAAABo/Hb63_3rNAgo/s320/blog-siti+masitoh+3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156717299506309442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Rakhmat Giryadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau boleh ekstrim, pada dasawarsa 90-an, Surabaya mengalami jaman keemasan  teaternya. Pada zaman itu, semangat para pekerja teater begitu tinggi. Pada tahun-tahun itu terasa sekali denyut kehidupan teater. Bahkan ada puluhan teater yang aktif, menghidupkan iklim perteateran Surabaya.&lt;br /&gt;Boleh diingat, pada waktu itu, ada teater Jaguar, Dua Lima, Pavita, Rajawali, Nol, Ragil, Sanggar Soeroboyo, Teater Api Indonesia, Bengkel Muda Surabaya, di tambah dengan aktivitas teater di beberapa kampus-kampus yang aktif berpentas. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pada masa itu, kegitan teater di Surabaya begitu marak, apalagi ditambah dengan adanya festival-festival yang representatif. Demikian juga banyak kritikus yang menyumbangkan pikirannya hingga menjadikan iklim teater Surabaya tidak hanya sekedar ramai di panggung-panggung tetapi juga di media massa. Akhudiat, Max Arifin, H. Bambang Ginting, Autar Abddilah, Zeinuri, L. Makali, adalah orang-orang yang sering menulis berbagai hal tentang teater.&lt;br /&gt;Hampir semua kelompok teater dan kritikus mendesakkan gagasan-gagasannya. Mereka memiliki spirit yang begitu kuat, seakan kehidupan teater di Surabaya memiliki masa depan yang cerah.&lt;br /&gt;Sayang, realitas itu tiba-tiba menjadi berbalik. Pada akhir dasawarsa 90-an, iklim teater di Surabaya yang tadinya gegap gempita tiba-tiba bagai lampu kekurangan minyak. Para pekerja yang tadinya menyorongkan berbagai hal wacana teater, tiba-tiba tak berdaya, melihat ‘teater’ dengan darah berceceran di jalan. ‘Teater’ berarak-arakan di jalan, sambil meneriakan yel-yel, menyumpah serapahi, menjarah, membakar, membunuh, menyeret-nyeret tubuh tanpa kepala, dan menjadikan kepala sebagai bendera kemenangan. Teater Surabaya seperti kehabisan darah segarnya. &lt;br /&gt;Barangkali kalau digambarkan, mereka yang memiliki spirit teater realis, terbengong-bengong melihat realitas di depan matanya yang mengharu-biru. Sementara itu, mereka yang memiliki spirit teater absurd, juga tak kalah bengongnya ketika melihat manusia tanpa kepala diseret-seret keliling kota. Memang, pada akhir dasawarsa itu, Surabaya tergagap-gagap menerima ‘arus deras’ pertikaian budaya (baca : politik, ekonomi, agama, dan ras), yang oleh Yasraf Amir Piliang (2003), digambarkan sebagai masyarakat yang mengalami hipersemiotika. Sebuah dunia, yang di dalamnya kebenaran tumpang tindih dengan kedustaan, keaslian silang-menyilang dengan kepalsuan, realitas bercampur aduk dengan ilusi, kejahatan melebur di dalam kemuliaan, sehingga di antara keduanya seakan-akan tidak ada lagi ruang pembatas.   &lt;br /&gt;Akhirnya apa yang terjadi? Sedikit demi sedikit, mereka yang tidak bisa melihat kenyataan, mengundurkan diri dari dunia teater. Intensitas pertunjukan menjadi berkurang. Bahkan, lebih ironis lagi, Surabaya lebih banyak dikunjungi oleh ‘tamu’ dari luar Surabaya dan Jawa Timur, dan tanpa bisa menyuguhi apapun, selalin rasa iri.&lt;br /&gt;Dan rujukan untuk menyebut teater Surabaya, menjadi kesulitan. Karena tak ada kelompok yang benar-benar fenomenal, macam teater teater Kubur (Dindon WS) di Jakarta, teater Payung Hitam (Rahman Sabur) Bandung, Gandrik (Heru Kesawamurti dan Butet Kertarejasa) dan Garasi (Yudi Ahmad Tajudin), Jogjakarta, Gapit (Bambang Widoyo SP), Gidak-Gidik (Hanindawan), Ruang (Joko Bibit) Solo. &lt;br /&gt;Mereka yang berada di balik nama-nama teater itu, telah menjadi ‘juru bicara’ bagi kelompoknya masing-masing, untuk menciptakan sejarah dan menciptakan ideologi, bagi perkembangan teater modern Indonesia. Sementara itu, Surabaya malah seperti kehilangan sejarah. Surabaya seperti tidak punya apa-apa dan siapa-siapa.&lt;br /&gt;Gagah tapi Miskin&lt;br /&gt;Meminjam istilah WS.Rendra, kegagahan dalam kemiskinan, tampaknya itulah yang sedang dihadapi teater Surabaya. Secara ringkas, wajah teater Surabaya, memiliki kendala yang sering diartikulasikan baik lewat tulisan, diskusi, dan pembicaraan sambil lalu adalah masalah miskin gedung yang representatif, stok aktor yang sedikit, sutradara yang langka, penata artistik yang langka, regenerasi yang terputus, masyarakat penonton yang semu.&lt;br /&gt;Sebagaimana telah diramaikan di media massa beberpa waktu lalu, bahwa Surabaya butuh gedung yang representatif untuk pertunjukan teater. Sementara ini, teater Surabaya tidak memiliki gedung yang jadi rujukan untuk pentas. Kalau di Jakarta ada Gedung Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Teater Untan Kayu, paling tidak Surabaya harus memiliki satu atau dua gedung yang memiliki arti representatif tersebut. Memang Surabaya ‘tidak memiliki’ gedung yang representatif.&lt;br /&gt;Belum lagi persoalan aktor yang konon tidak mudah ‘diciptakan’. Di Surabaya, meskipun antara tahun 70-90-an secara periodik dalam Lomba Drama Lima Kota (LDLK), telah memilih aktor dan aktris terbaik, juga tak memunculkan aktor yang kuat bertahan berteater. Kemanakah mereka yang pernah mendapat penghargaan aktor dan aktris terbaik LDLK?&lt;br /&gt;Sutradara dalam arti yang sebenarnya, tampaknya Surabaya sangat miskin. Bahkan kalau boleh ekstrim, Surabaya tidak memiliki sutradara, pasca generasi Akhudiat –hanya sekedar menyebut nama. Sejak digulirkanya LDLK-pun juga tidak memunculkan sutradara yang mewakili zamannya. Di Surabaya, sutradara hanya berlaku sebagai pemimpin arstistik dan pelatih. Merekalah yang memberikan intruksi keseluruhan artistik dan bentuk-bentuk latihan yang akan dipentaskan. Sutradara yang memiliki kemampuan literer, boleh jadi Surabaya tidak memiliki.&lt;br /&gt;Bahkan Surabaya dalam kasus perkembangan teaternya seperti a-historis. Dari generasi ke generasi seperti tidak memiliki benang merah. Apakah itu satu usaha kreatif, memberontak dari para suhunya, untuk tidak hanya sekadar perpanjangan tangan dari, Akhudiat, Bambang Sujiono, Wally Sardil, Hare Rumemper, Elyzabet Luther, Bambang Ginting, Meimura, dll? Belum ada yang bisa menyelesaikan persoalan ini, bahwa generasi penerus teater di Surabaya sedang mengalami ketergagapan membaca sejarahnya?&lt;br /&gt;Ketergagapan itu diikuti dengan semakin banyaknya penonton yang meninggalkan teater. Mereka lebih memilih gedung teater 21 dari pada berpanas-panas ria di Gallery DKS yang pertunjukkannya belum tentu memberikan mereka ‘katarsis’ (baca:kepuasan). Barangkali sedikitnya penonton, memang tidak bisa dijadikan tolok ukur sebuah tontonan teater. Tetapi kecenderungan teater semakin ditinggalkan penonton menjadi signifikan dengan kegairahan pekerja teaternya. Bagaimana tidak trenyuh bila telah berproses berbulan-bulan hanya ditonton oleh puluhan orang yang nota bone juga teman-temannya sendiri, yang sudah tahu prosesnya terlebih dahulu? Apakah ini bukan orgasme yang ironis. Sebuah kenikmatan yang menjemput kematian. &lt;br /&gt;Surabaya butuh Teater&lt;br /&gt;Namun demikian, Surabaya masih diuntungkan, ada Teater Api Indonesia (Luhur Kayungga dkk), Ragil (Meimura), Tobong (Dody Yan Masfa), dan beberapa teater kampus yang tidak ada lelah-lelahnya, mencoba menghidupkan teater di Surabaya. Kelompok itulah –disamping kelompok teater kampus, seperti Teater Kusuma (Untag), Teater Institut (Unesa), yang menurut ingatan saya secara periodik –tahunan- bisa mementaskan satu naskah drama, baik karya sendiri maupun naskah babon dari penulis lain.&lt;br /&gt;Paling tidak, kedua arus itulah yang menjadi lampu kuning (baca : tanda-tanda) bahwa teater di Surabaya ‘masih ada’ namun masih membutuhkan eksistensi yang cukup kuat, agar teater tidak sekedar menjadi tontonan tetapi benar-benar menjadi sebuah wacana yang bisa menghadirkan dialetika antar masyarakat pendukungnya (penonton, kritikus, media massa). Bila semua ini terjadi, kehendak untuk berteater memiliki peluang yang melegakan. Teater menjadi memiliki masa depan yang diciptakan atas dasar pemikiran yang terus hidup. (*)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5346587717956970287-6919758835901062161?l=teaterapakah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teaterapakah.blogspot.com/feeds/6919758835901062161/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5346587717956970287&amp;postID=6919758835901062161' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/6919758835901062161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/6919758835901062161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teaterapakah.blogspot.com/2008/01/zaman-keemasan-teater-di-surabaya-sudah.html' title='Zaman Keemasan Teater di Surabaya Sudah  Berakhir'/><author><name>teaterapakah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14504659433822587521</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R4KW9fwvaJI/AAAAAAAAAAM/4MNOEFdRZSc/S220/giryadi+oke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R5BXD_wvaUI/AAAAAAAAABo/Hb63_3rNAgo/s72-c/blog-siti+masitoh+3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5346587717956970287.post-7047473632750021700</id><published>2008-01-16T20:08:00.000-08:00</published><updated>2008-01-20T17:54:59.414-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai teater'/><title type='text'>Jawa Timur  dalam Konstelasi Peta Teater Indonesia</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R5P7XfwvaYI/AAAAAAAAACE/Yawz8Iia2NA/s1600-h/blog-gidag-gidig+(3).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R5P7XfwvaYI/AAAAAAAAACE/Yawz8Iia2NA/s320/blog-gidag-gidig+(3).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5157742379350845826" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : R Giryadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam peta teater Indonesia, Jawa Timur selalu mendapatkan peran yang kurang menonjol. Kenyataan ini barangkali benar. Tetapi meski demikian, kalau kita melihat-lihat sejarah, Jawa Timur memiliki andil terhadap perkembangan teater Indonesia. Catatan yang saya kumpulkan dari data yang berserak ini barang kali bisa dijadikan bayangan keberadaan teater Jawa Timur dalam peta teater Indonesia hingga tahun 1980-an. Sehingga pertanyaan tentang jejak teater Jawa Timur bisa terjawabkan.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Memang benar yang dikatakan Faishal dalam tulisannya di Jawa Pos Minggu 12 Desember 2004, bahwa pada masa kejayaan kelompok sandiwara Orion, di Sidoarjo pada tanggal 21 Juni 1926 berdiri kelompok sandiwara Dardanella. Sandiwara yang didirikan oleh Willy Klimanoff alias A. Piedro ini bertujuan menyaingi kepopuleran Orion. Kalau Orion menjadi terkenal karena bintang panggungnya Miss Riboet, maka di Dardanella yang terkenal adalah Tan Tjeng Bok. Tan Tjeng Bok dikenal sebagai pemain pedang yang tangguh, sehingga banyak digemari penonton. Dia sangat dikenal sebagai pengejawantahan bintang film Amerika, Dauglas Fairbank. Memang, dalam pertunjukan Dardanella selalu didahuli dengan reportoar film-film barat (Amerika)  dan film-film roman yang banyak mengetengahkan adegan permainan pedang.&lt;br /&gt;Dua kelompok ini bersaing secara ketat. Mereka melakukan ‘perang teater’ melalui promosi besar-besaran lewat poster-poster yang dipasang di surat-surat kabar, majalah, dan propaganda di jalan-jalan. Dalam persaingan ini Orion harus menyerah pada Dardanella. Bahkan pada perkembangan selanjutnya, Nyoo Cheong Seng penulis naskah Orion bersama istrinya, menyeberang ke Dardanella.&lt;br /&gt;Mengapa Dardanella lebih bisa bertahan dari Orion? Kelompok Dardanela boleh dikatakan pembaharuan dari Orion. Dardanella berani memasukan cerita-cerita yang problimatik dan pendukung-pendukungnya rata-rata para kum terpelajar. Masa kejayaan kelompok Dardanella selama 10 tahun. Setelah mereka berhasil keliling ke Cina, Siam, Burma, India, Tibet, dan Eropa, kelompok ini pecah.  Kelompok yang telah bekerja secara professional ini berakhir sampai masa penjajahan Jepang.&lt;br /&gt;Di luar grup profesional seperti Dardanella, kaum terpelajar di Surabaya memiliki kelompok teater amatir ‘Bintang Surabaya’. Bintang Surabaya pada jaman Jepang ini lebih mementingkan aspek estetik teater modern. Bintang Surabaya banyak belajar pada konsep pertunjukan teater modern yang berkembang di Eropa. Inilah yang membedakan Dardanella yang cenderung ngepop bila di bandingkan dengan Bintang Surabaya yang lebih menekankan pada estetika pertunjukan.&lt;br /&gt;Sejak masa itu kegiatan teater di Jawa Timur tidak surut. Ini terbukti pada masa pusat pemerintahan Indonesia berpindah ke Yogyakarta 1946, dalam catatan  buku Kepingan Riwayat Teater Kontemporer di Yogyakarta 1950-1990 seniman teater kontemporer aktif menjalin komunikasi dengan seniman teater di Surabaya salah satunya bernama Djamaludin. Bahkan pada sekitar tahun 1952-1954, di Surabaya berlangsung Festival Seni Drama Surabaya. Festival yang berifat amatur ini dikritik oleh Sukarno Hardian dengan mengatakan bahwa para pemain drama amatir belum paham tentang teknik bermain drama. Kritik ini didasarkan pada kekuatan naskah yang dibuat oleh kelompoknya sendiri. Festival ini dinilai olehnya telah merusak apresiasi penonton.&lt;br /&gt;Meski dimikian perkembangan teater modern mau tidak mau terus berkembang ditangan kaum terpelajar. Dalam konggres kebudayaan I di Magelang tahun 1950, para peserta konggres bersepakat untuk membentuk pendidikan khusus teater dan film. Maka terbentuklah Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (ASDRAFI) di Yogyakarta pada tahun 1954. Akademi ini bertujuan untuk meningkatkan apresiasi teater modern di Indonesia.&lt;br /&gt;Sejak munculnya akademi ini, perkembangan teater Indonesia mengalami kemajuan. Pada masa itu, Indonesia mengalami zaman kemasan teater I. Penulis-penulis naskah bermunculan, di Surabaya sendiri Suparta Brata telah menjadi salah seorang penulis yang berhasil menjadi pemenang sayembara penulisan naskah di Jogjakarta 1958 dengan naskah berjudul Cinta dan Penghargaannya.&lt;br /&gt;Dalam catatan-catatan yang saya miliki, beberapa tokoh teater di Jawa Timur pada masa tahun 1960-1970an telah dikenal dilingkungan para teatrawan di Jogjakarta yang pada masa itu dikenal gudangnya tokoh teater Indonesia. Tokoh Jawa Timur yang terkenal waktu itu, Sunarto Timur yang pernah memainkan Suara-Suara Mati (Dode Klanken) karya Manuel Van Logem dengan para pemain Deddy Sutomo, Neny Kusumawardani, dan Suparto Prajitno.  Pementasan itu diselenggarakan oleh Lingkar Drama Mahasiswa UGM. Selain Sunarto Timur dalam acara itu WS. Rendra memainkan Kereta Kencana yang diadaptasi dari karangan Ionesco.&lt;br /&gt;Dalam catatan buku itu, pada tahun 60-an Surabaya sudah memiliki Paguyuban Teater 60-Surabaya. Ini artinya pada masa itu di Surabaya –meski masih amatir- sudah banyak terdapat kelompok teater. Pada tahun 1976, ketika masa jayanya Bengkel Teater Rendra, sempat memainkan naskah Tuan Kondektur karya Emil Sanosa (penulis Malang) di Auditorium IKIP Malang. Bahkan ditahun yang sama, tanggal 20 Agustus, dramawan muda Yogyakarta, Untung Basuki, Yoyok, dan Merit Hendra yang hendak memainkan naskah Bui karya Akhudiat (dramawan Surabaya), dicekal polisi dengan alasan yang tidak jelas.&lt;br /&gt;Pada tahun 1977, Sanggar Bambu Yogyakarta mengadakan ‘Duel Teater’ dua kota Yogyakarta dan Surabaya, di Senisono dengan mengangkat naskah yang sama, Bui karya Akhudiat. Yogyakarta diwakili Untung Basuki, Yoyok, dan Merit Hendra dan Surabaya diwakili oleh teater Merdeka Surabaya dengan sutradara Anang Hanani.&lt;br /&gt;Pada Pertemuan Teater 80 di Jakarta, Akhudiat bersama teater Bengkel Muda Surabaya (BMS)  mementaskan Syair, Bunga, dan Koran karya Akhudiat. Catatan ini menegaskan, bahwa sampai pada dasawarsa 80-an teater di Surabaya masih memiliki peran yang cukup berarti di peta teater Indonesia. Catatan selanjutnya pada masa 90-an, sudah banyak diketahui, teater Surabaya sedikit demi sedikit menghilang dari peta perteateran Indonesia. Sementara para generasi sebelumnya tidak sempat memikirkan regenerasi. Catatan yang barang kali tidak penting ini, hendaklah bisa menjadi bayangan betapa pada masa sebelumnya, Surabaya (Jawa Timur) telah memiliki tokoh dan kelompok teater yang tangguh. Lalu bagaimana generasi 90-an. Mampukah kita meneruskan catatan ini?&lt;br /&gt;R. Giryadi,  Penggiat teater tinggal di Sidoarjo &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5346587717956970287-7047473632750021700?l=teaterapakah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teaterapakah.blogspot.com/feeds/7047473632750021700/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5346587717956970287&amp;postID=7047473632750021700' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/7047473632750021700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/7047473632750021700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teaterapakah.blogspot.com/2008/01/jawa-timur-dalam-konstelasi-peta-teater.html' title='Jawa Timur  dalam Konstelasi Peta Teater Indonesia'/><author><name>teaterapakah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14504659433822587521</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R4KW9fwvaJI/AAAAAAAAAAM/4MNOEFdRZSc/S220/giryadi+oke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R5P7XfwvaYI/AAAAAAAAACE/Yawz8Iia2NA/s72-c/blog-gidag-gidig+(3).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5346587717956970287.post-8389932250742159651</id><published>2008-01-15T13:09:00.000-08:00</published><updated>2008-01-15T13:22:58.164-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='naskah teater'/><title type='text'>Hikayat Perlawanan Sanikem : NYAI ONTOSOROH</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R40iaPwvaPI/AAAAAAAAABA/yC3ugJv4VPE/s1600-h/blog-ontosoroh+10.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R40iaPwvaPI/AAAAAAAAABA/yC3ugJv4VPE/s320/blog-ontosoroh+10.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5155814982711994610" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : R Giryadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dramatic Person&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Nyai Ontosoroh   : Istri (gundik) TB Mellema, berusia 35 tahun.&lt;br /&gt;2. Tuan Besar Mellema  : Tuannya Nyai, berusia 50 tahun.&lt;br /&gt;3. Robert Mellema  : Anak Nyai berusia 18 tahun.&lt;br /&gt;4. Annelies   : Anak Nyai berusia 16 tahun&lt;br /&gt;5. Minke    : Putra bupati Brojonegoro berusia 18 tahun.&lt;br /&gt;6. Mauritz Mellema  : Putra TB Mellema berusia 25 tahun&lt;br /&gt;7. Darsam   : Pengawal setia Nyai dari Madura berusia 40 th.&lt;br /&gt;8. Sastrotomo   : Ayah Sanikem berusia 45 tahun&lt;br /&gt;9. Istri Sastrotomo  : Ibu Sanikem berusia 35 tahun&lt;br /&gt;10. Sanikem   : Nama kecil Nyai berusia 14 tahun&lt;br /&gt;11. Babah Ah Tjong  : Germo pelacuran berusia 50 tahun&lt;br /&gt;12. Minem    : Salah satu buruh pabrik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemain Pendukung : Buruh Pabrik, Pelacur, Penduduk, Dua Utusan, Meiko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diadaptasi dari novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer penerbit Hasta Mitra Jakarta, cetakan kelima Februari 1981.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BABAK I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setting : Dekat Pabrik Gula Tulangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADEGAN 1&lt;br /&gt;Orang-orang sedang bekerja, hilir mudik, membawa karung-karung (gula) dan juga batangan tebu dengan geledekan. Mereka bertelanjang dada. Tubuhnya hitam. Ada yang kekar. Tetapi ada juga yang kurus kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADEGAN 2&lt;br /&gt;Seorang Juragan (Mandor), dikawal oleh dua budaknya. Dengan berkacak pinggang, Mandor itu menuding-nuding, bahkan terkadang menendang para budak. Sementara di tempat yang berbeda anak-anak perempuan yang masih remaja, berlarian. Ibunya, mengikuti dengan isak tangisnya. Seorang laki-laki dengan kasar menangkap satu di antara mereka yang melarikan diri. Anak itu meronta-ronta. Tak ada yang berani melawan. Mereka hanya bisa menyaksikan dengan sedih. Laki-laki kasar itu itu menyerahkan anak itu kepada seorang Mandor. Dengan imbalan seketip dua ketip,  mereka melepaskan anak itu dibawa Mandor, entah kemana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADEGAN 3&lt;br /&gt;Upacara menjadi dewasa. Sanikem meronta-ronta, ketika Sastrotomo, menyeretnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sastrotomo&lt;br /&gt;(Menyeret Sanikem) Kamu sekarang sudah dewasa, sudah saatnya nasibmu berubah. Hari ini akan datang orang yang membawa nasibmu lebih baik dari sekarang. Maka bersucilah, agar kemelaratanmu menjadi cambuk masa depanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunya Sanikem hanya bisa tersedu. Ia menggayung air bercampur bunga tujuh macam, dari genthong. Sanikem  diam terpaku ketika air bunga tujuh macam mulai membasahi tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sanikem&lt;br /&gt;Sejak saat itu, nama Sanikem, sedikit-demi sedikit luntur oleh kemauan keras orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua orang datang membawa pakaian dan tikar pandan. Sanikem telah berganti ujud menjadi perawan. Kemudian dia tidur terlentang di atas tikar pandan. Ibunya kemudian melangkahinya tiga kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Istri Sastrotomo&lt;br /&gt;Tabahkan hatimu, Nak. Usiamu sudah 14 tahun. Kau sudah haid. Tidak baik kau dikatakan perawan kaseb. Maka relakan hari mudamu ini.&lt;br /&gt;4. Sanikem&lt;br /&gt;Betul, saya sudah dewasa, tetapi saya punya hak untuk menentukan pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Sastrotomo&lt;br /&gt;Tak ada kata pilihan! Pemuda-pemuda melarat dan kampungan, tak patut untuk dipilih. Yang ada sekarang kau dipilih untuk menjadi istri seorang yang kaya raya. Siapapun orangnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastrotomo  menyeret Sanikem.  Sanikem meronta. Ibunya membuntut dengan hati yang meronta. Ia membawa sekopor pakaian anaknya yang kumal. Sementara di tempat lain para budak menerima upah, Sastrotomo muncul dengan hati riang. Di belakangnya ada Sanikem. Ibunya yang kelihatan renta, hanya bisa tertunduk lesu meratapi nasib anaknya. Di sudut lain, Tuan Besar Mellema berdiri tegak, angkuh dan sombong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Sastrotomo&lt;br /&gt;Betul, saya akan jadi Juru Bayar, Tuan? Ah, saya senang sekali. Juru Bayar adalah pekerjaan yang sudah sayaimpikan bertahun-tahun. Bertahun-tahun! Sebagai penggantinya, terimalah persembahan saya. Ini anak saya, Tuan Besar Mellema. Terimalah. (Kepada Sanikem) Sanikem, mendekatlah, Nak. Dia adalah Tuan Besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Istri Sastrotomo&lt;br /&gt;Jangan, Pak, jangan! Kenapa Ikem, kau serahkan kepada laki-laki raksasa itu? Oh, Pak, Pak. Kenapa kau tega, Pak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Tuan Besar Mellema&lt;br /&gt;Jadi ini anakmu? Bagus, bagus. Kowe, pintar… (Tertawa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan Besar Mellema pergi bersama dua pengawalnya, membawa Sanikem tanpa perlawanan. Sementara Istri Sastrotomo, terisak melihat anaknya dibawa Tuan Besar Mellema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Sastrotomo&lt;br /&gt;(Tertawa girang) Akhirnya saya jadi Juru Bayar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Istri Sastrotomo&lt;br /&gt;Sampeyan menjadi Juru Bayar, tetepi sampeyan harus membayar mahal, dengan mengorbankan masa depan Sanikem. Dia darah daging kita. Tetapi sampeyan tega menjual untuk menjadi gundik, demi ambisi sampeyan, Pak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Sastrotomo&lt;br /&gt;Kamu jangan banyak omong. Saya telah memperjuangkan anak saya untuk menjadi wanita terhormat. Istri Tuan Besar. Tuan Besar di Tulangan yang sangat kaya raya dan terhormat. Sanikem akan terhormat. Dan kita akan terhormat, karena Sanikem akan menjadi kaya raya dan tidak menjadi gelandangan bersama pemuda-pemuda kampung yang tidak berpendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Istri Sastrotomo&lt;br /&gt;Buat apa harta benda, kalau hatinya terpenjara. Hidupnya terkerangkeng dalam genggaman, seorang laki-laki. Kita sudah kehilangan segalanya, Pak. Kamu lebih memilih sekeping Golden dan jabatan palsu. Tetapi sampeyan telah mengorbankan segalanya yang telah kita miliki dan telah kita rawat bertahun-tahun.&lt;br /&gt;Anak-anak kampung yang dengan tulus memberikan cintanya, tetapi sampeyan tolak. Sementara dia yang datang dengan membawa segerobak kepalsuan sampeyan terima dengan tangan terbuka. Sampeyan telah mengadu nasib itu menjadi tidak menentu, Pak…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Sastrotomo&lt;br /&gt;Diamlah. Saya punya rencana lain untuk Ikem. Rencana ini pasti akan mengubah hidup kita. Dan tidak ada urusannya dengan lamaran pemuda-pemuda kampung yang pada gudhikan itu. Apa mau kamu hidup melarat, dan hanya mengandalkan dari penghasilan saya sebagai Juru Tulis? Saya ini, sebentar lagi akan naik pangkat jadi Juru Bayar. Kedudukan yang lebih tinggi dari sekedar Juru Tulis. Jabatan lebih tinggi akan lebih memudahkan segala urusan. Apalagi Juru Bayar.&lt;br /&gt;Ikem telah mendapatkan laki-laki yang pantas. Mulai saat ini Sanikem tidak boleh keluar rumah. Tidak boleh memandang ke laki-laki yang berkeliaran dan tidak jelas itu. Ah, saya senang sekali. Juru Bayar adalah pekerjaan yang sudah saya impikan bertahun-tahun. Bertahun-tahun!&lt;br /&gt;Hehe..he..he..Juru Bayar. Saya akan jadi Juru Bayar. Semua orang di Pabrik Gula itu akan tunggu saya berderet-deret. Harus tunggu uang dari tangan saya. He..he…he..Saya akan jadi kasir. Bertumpuk-tumpuk uang di jari-jari saya. Semua orang akan berurusan dengan saya, Si Juru Bayar! Mereka harus datang ke saya. Harus ambil uang dari tangan saya dengan membubuhkan cap jempol. Para buruh, pedagang, akan bungkuk-bungkuk di depan saya. Tuan Totok, Peranakan, akan beri tabik pada saya. Guratan pena saya berarti uang. Saya akan masuk golongan penguasa di pabrik. Mereka harus dengar kata-kata saya : ‘Hei! Tunggu kau, disitu! Tunggu kau, disitu! He..he…Kalian akan berderet antri tunggu uang dari tangan saya…!’&lt;br /&gt;Kemarilah istriku. Kau harus ikut senang, suamimu ini akan jadi Juru Bayar! Berpakaianlah yang pantas, selayaknya istri orang terpandang. Kamu jangan bersedih. Ikem akan lebih terhormat kawin dengan laki-laki kaya. Dia akan menghuni rumah besar. Kita bisa diundang ke sana sewaktu-waktu. Ayo istriku kita songsong kehidupan yang lebih baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri Sastrotomo terpaku. Ligting meremang. Out Stage. Disudut lain, Mellema sedang memandang Sanikem yang bongsor dan kelihatan cantik. Beberapa pembantu jalan jongkok, menyediakan minum dan buah-buahan. Sanikem hanya berdiri terpaku di pojok ruang, Tuan Besar Mellema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Tuan Besar Mellema&lt;br /&gt;Kowe sudah 14. Kowe sudah besar dan cantik, seperti bunga di Tulangan atau seperti mawar dari Surabaya. Kowe jangan takut dengan saya. (Kepada Sastrotomo). Sastrotomo! Ini berisi 25 golden. Kelak, setelah kowe lulus dalam pemagangan selama dua tahun, kowe akan jadi Juru Bayar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Sastrotomo&lt;br /&gt;(On stage) Terimakasih Tuan Besar. Saya jamin Ikem sangat penurut. (Kepada Sanikem) Ikem anggap saja ini rumahmu yang baru. Kau tidak boleh keluar rumah ini tanpa ijin Tuan Besar Kuasa. Kau juga tidak boleh kembali ke rumah tanpa seijin Tuan dan seijin Bapakmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastrotomo meninggalkan panggung. Lighting meremang biru. Tirai menurun pelan-pelan. Percintaan di balik tirai. Dua penari karonsih/tayub menari dengan lembut. Tetapi isak tangis jelas terdengar dari ibu Sanikem. Lighting semakin temaram. Penari karonsih menghilang di balik tirai. Di sudut yang lain, Nyai Ontosoroh berdiri kokoh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Nyai Ontosoroh&lt;br /&gt;Kini, Sanikem telah lenyap. Hilang untuk selama-lamanya. Sekarang, saya adalah Nyai Boerderij Buiternzorg. Orang-orang memanggil saya Nyai Ontosoroh. Hidup menjadi Nyai terlalu sulit. Dia Cuma seorang budak belian yang kewajibannya hanya memuaskan tuannya. Dalam segala hal! Sewaktu-waktu Nyai harus siap dengan kemungkinan Tuannya sudah mersa bosan, untuk dicampakan kembali, menjadi kere, tanpa hak perlawanan sedikitpun. Salah-salah, bisa badan diusir dengan semu anak-anaknya sendiri. Atau bahkan dengan tangan kosong. Ya, mereka telah membikin saya jadi Nyai begini. Maka saya harus jadi Nyai, jadi budak belian yang baik, Nyai yang sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;Mang, Mbok, ke sini kalian semua. (4 pelayan laki-laki dan 3 pelayan perempuan on stage). Dengar mulai saat ini kalian tidak usah kerja di sini. Kalian pasti sudah tahu saya adalah Nyai rumah ini sekarang. Saya tidak ingin ada saksi atas kehidupan saya sebagai Nyai di rumah ini. Kalian lebih berharga dari pada saya. Kalian kerja di sini, sedangkan saya, hina dina tanpa harga, tanpa kemauan sendiri berada di rumah ini.&lt;br /&gt;Semua pekerjaan rumah biar saya kerjakan sendiri. Tetapi jangan kuatir, kalian akan pergi dengan membawa bekal. Lagi pula, di lain tempat pasti kalian akan bisa memburuh atau apa saja, karena kalian merdeka. Kecuali kau Darsam, tetaplah di sini. Jagalah saya!&lt;br /&gt;Baiklah kalian berkemas, beresi barang-barang kalian. Kau Darsam, siapkan bekal secukupnya buat mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka out stage. Tuan Mellema on stage.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. Tuan Besar Mellema&lt;br /&gt;Nyai, kenapa kau mengusir semua Bujang dan Mbok? Pekerja-pekerja itu harus disewa untuk menjalakan usaha susu ternak rumah ini. Mulai saat ini kaupun harus mulai mengurusi semua urusan usaha. Satu hal yang harus kau ingat, majikan mereka adalah penghidupan mereka. Majikan penghidupan mereka adalah kau! Jadi kau harus jadi majikan yang baik, yang tahu bagaimana mengurus pekerjaannya.&lt;br /&gt;Nyai, bacalah majalah-majalah itu selalu. Juga buku-buku itu akan membawamu kepada dunia yang maha luas. Dengan begitupun, bahasa melayu dan Belandamu akan terus maju dan Nyai akan semakin menguasai berbagai bidang dan pengetahuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. Nyai Ontosoroh&lt;br /&gt;Ya, saya akan menjalankan semua tugas sebaik-baiknya. Akan saya kerahkan seluruh tenaga dan perasaan yang ada di diri saya untuk Tuan. Sebaik-baiknya. Karena itulah tugas saya, sebagai Nyai Tuan. Apakah wanita Eropa diajar sebagaimana saya diajar sekarang ini, Tuan? Sudahkan saya seperti wanita Belanda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19. Tuan Besar Mellema &lt;br /&gt;Ha..ha..ha..tak mungkin kau seperti wanita Belanda. Juga tidak perlu. Kau cukup seperti sekarang. Kau lebih mampu dari rata-rata mereka, apalagi yang peranakan. Kau lebih cerdas dan lebih baik dari mereka semua. Tapi kau juga harus selalu kelihatan cantik, Nyai. Muka yang kusut dan pakaian yang berantakan juga pencerminan perusahaan yang kusut dan berantakan….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darsam,  masuk panggung (on stage) bersama Sastrotomo dan Istrinya datang dengan berjalan jongkok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20. Darsam&lt;br /&gt;Tuan, maaf Tuan, ada orang tua Nyai datang, Tuan. Mereka menunggu di depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21. Nyai Ontosoroh&lt;br /&gt;Katakan kepada mereka, bahwa Sanikem tidak ada sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22. Tuan Besar Mellema&lt;br /&gt;Temuilah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23. Nyai Ontosoroh&lt;br /&gt;Kalau saya menemuinya, berarti Tuan telah mengembalikan saya kepada pemiliknya semula. Apakah saya harus pergi dari sini? Bakal jadi apa kalau saya tidak sanggup bersikap keras. Luka terhadap kebanggaan dan harga diri tak jua mau menghilang. Bila teringat kembali bagaimana terhinannya saya dijual kepada Tuan. Saya tak mampu mengampuni kerakusan Ayah saya dan kelemahan Ibu saya. Sekali dalam hidup kita meski menentukan sikap. Sudahlah, biar semua putus sudah terhadap masa lalu. Itu sudah sebaik-baiknya yang saya bisa lakukan. Suruh mereka pulang atau Tuan akan kehilangan sapi-sapi dan pabrik susu itu…?  Saya telah menjadi telor yang jatuh dari petarangan. Pecah. Bukan telor yang salah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24. Tuan Besar Mellema&lt;br /&gt;(Pause) Kau terlalu keras Nyai…Temui Ayahmu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25. Nyai Ontosoroh&lt;br /&gt;Saya memang ada ayah, dulu. Sekarang tidak. Kalau dia bukan tamu Tuan, sudah saya usir!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26. Tuan Besar Mellema&lt;br /&gt;Jangan…!(Memberi kode pada Darsam). Darsam beritahu mereka…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27. Darsam&lt;br /&gt;Nyai bilang…Di rumah ini tidak ada orang bernama Sanikem. Pergilah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana hening. Sastrotomo dan istinya beringsut pergi. Wajahnya penuh duka. Sastrotomo beringsut terus, seperti menapaki nasibnya yang tak berujung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADEGAN 4&lt;br /&gt;Orang-orang sedang mengusung karung. Ada juga yang mengusungnya dengan gledekan. Suasana begitu sibuk. Nyai Ontosoroh, Tuan Besar Mellema, Annelise, Robert Mellema, dan Darsam, seperti bersiap-siap hendak mau pergi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28. Nyai Ontosoroh&lt;br /&gt;Kami harus pindah ke Wonokromo, karena kontrak perusahaan gula tidak memperpanjang jabatan Tuan Besar. Kami pindah ke Surabaya. TB Mellema membeli tanah luas di Wonokromo, penuh semak belukar dan dekat rumpun-rumpun hutan muda. Sapi yang dibeli dari Australia dipindahkan kemari.&lt;br /&gt;Segala yang saya pelajari selama hidup bersama TB Mellema, telah sedikit mengembalikan harga diri saya. Tetapi sikap saya tetap, mempersiapkan diri untuk tidak akan lagi tergantung pada siapapun. Tentu saja sangat berlebihan seorang perempuan Jawa bicara tentang harga diri, apalagi, orang seperti saya yang masih begitu muda untuk berkeluarga.&lt;br /&gt;Begitulah akhirnya saya mengerti, saya tidak tergantung pada TB Mellema. Sebaliknya dia sangat tergantung pada saya. Saya telah bisa mengambil sikap untuk ikut menentukan perkara. Tuan tidak pernah menolak. Bahkan ia sangat memaksa saya untuk terus belajar. Dalam hal ini ia seorang guru yang keras tetapi baik, saya seorang murid yang taat dan juga baik. Saya tahu, apa yang diajarkan oleh TB Mellema kelak akan berguna bagi diri saya dan anak-anak saya, kalau TB pulang ke Nederland.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para buruh bergerak bersama-sama, mengikuti tuan mereka. Mereka membawa barang-barang pindahan. Darsam berjalan di depan. Musik. Lighting fide out.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babak II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADEGAN 1&lt;br /&gt;Siang hari. Suasana pesta pora perayaan pengangkatan Sri Ratu Wilhelmina di Surabaya. Bendera triwarna (Merah, putih, biru) berkibar di mana-mana. Terpampang foto besar Sri Ratu Wilhelmina. Suara musik hingar bingar. Orang-orang berlarian mengibarkan bendera merah putih biru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29. Minke&lt;br /&gt;Modern! Modern! Modern! Dengan cepatnya kata itu menyebar, dan membiak seperti bacteria di Eropa sana. Jaman modern ini, potret sudah dapat diperbanyak sampai puluhan ribu sehari dengan alat cetak. Juga ada seorang dara, cantik, kaya, berkuasa, gilang gemilang, seorang pribadi yang memiliki segala, kekasih para dewa. (Memandangi poto Sri Ratu)&lt;br /&gt;Tapi ah, betapa tingginya tempatmu. Jauh pula, sebelas atau dua belas ribu mil dari tempat saya di Surabaya ini. Kekasih para dewa ini seumur dengan saya : 18 tahun. Kami berdua dilahirkan pada tahun yang sama. Hari dan bulan sama. Kalaupun ada perbedaannya hanya jam dan kelaminnya. Bila negeri saya diselimuti kegelapan malam, negerinya dipancari surya. Bila negerinya dipeluk oleh kehitaman malam, pulau saya gemerlapan di bawah surya katulistiwa. (Minke memandangi foto Sri Ratu dengan takjub)&lt;br /&gt;Oh, ya (kepada penonton) perkenalkan nama saya Minke. Saya punya sahabat bernama Robert Suuhrof. Dia selalu memanggil saya, Philogynik Minke, Si Mata Keranjang kita, Si Buaya Darat, busyet..! Dialah yang menghantarkan saya pada seorang gadis cantik, yang bersembunyi di balik loji besar, anak Tuan Besar dari seorang Nyai. Dia bukan saja cantik parasnya, tetapi cantik pula budi bahasanya.&lt;br /&gt;Tetapi di balik semuanya itu ada peran seorang perempuan yang lebih berharga. Dialah orang yang menjadi ‘tuan besar’ di rumah besar itu. Orang-orang memanggilnya Nyai Ontosoroh. Pada dasarnya saya sangat rikuh berada di tengah-tengah orang kulit putih. Tetapi sekali lagi, Robert Suuhrof-lah yang membuat saya percaya diri. &lt;br /&gt;Katanya, menjadi orang putih dihormati. Bagaimanapun mereka lebih mempunyai peluang-peluang. Kalau kau betul jantan. Akan saya hormati kau lebih dari pada guru saya sendiri. Kalau kau kalah, awas, untuk seumur hidup kau akan jadi tertawaanku. Ingat-ingat itu Minke, katanya, “Siapa tahu pada suatu kali kau akan menjadi bupati, Minke. Mungkin kau akan mendapat kedipaten tandus. Akan saya doakan kau mendapat kadipaten yang subur. Kalau dewi itu kelak akan mendampingimu jadi Raden Ayu, aduhai, semua Bupati di Jawa akan demam kapialu karena iri.”&lt;br /&gt;Sahabat saya yang satu ini cita-citanya terlalu tinggi. Saya merasa dia terlalu bernafsu untuk menjadi orang berkulit putih. Dia malah mengejek saya, sebagai orang Jawa yang tidak beradap. Katanya semua Bupati Jawa, tidak beradab. Semuanya buaya darat. Sementara saya, untuk datang ke rumah orang kulit putih saja, badan ini terasa bergetar. Apalagi kalau benar-benar bertemu dengan gadis yang diceritakan sahabat saya itu. Betapa tidak, katanya, semua pemuda lajang di Surabaya, mengidolakan. Semua mengharapkan undangannya.&lt;br /&gt;Tetapi yang tidak saya suka dalam gedung itu adalah anaknya tuan Mellema. Dia sahabat Suuhrof juga. Namanya Robert Mellema. Dia putra Mellema yang tidak ingin disebut pribumi. Padahal dari perut pribumilah dia dilahirkan di bumi ini. Robert Mellema memang membenci pribumi. Kepada saya, matanya selalu menyelidik. Bahkan kepada nama saya dia mengejek hanya karena nama saya tidak ada dalam kamus, bahasa Belanda maupun Inggris. &lt;br /&gt;Robert Mellema lebih mencerminkan sifat Tuan Besar. Tetapi gadis cantik yang bernama Annelies, adiknya, lebih mencerminkan seorang wanita yang memang pantas menjadi pujaan remaja di Surabaya.&lt;br /&gt;Sampai sejauh ini orang hanya mengenal nama Tuan Mellema. Orang yang sekali-kali saja atau sama sekali tak pernah melihatnya lagi. Sebaliknya orang lebih banyak menyebut-nyebut gundiknya : Nyai Ontosoroh, gundik yang banyak dikagumi orang, rupawan, berumur tigapuluhan, pengendali seluruh perusahaan pertanian besar itu. Dari nama Buitenzorg itu ia mendapatkan nama On-to-so-roh, sebutan orang Jawa yang lidahnya suka kesleo. (tersenyum) &lt;br /&gt;Saya bahagia sekali, karena akhirnya bisa berkenalan dengan gadis pujaan para jejaka di Surabaya ini. Dia sangat manja pada Nyai. Dia sangat mencintai Nyai. Begitupun dia lebih suka diakui sebagai anak Nyai. Dia memanggil Nyai, Mama. Sayapun sering memanggil Nyai, Mama. Nyai lebih suka memanggil saya Nyo Minke.&lt;br /&gt;Oya, saya putera Bupati Brojonegoro. Beliau seorang yang sangat feodal. Dia sangat bangga dengan gelar ke-Jawaannya. Anak-anaknya diberlakukan seperti punggawa-nya. Orang Jawa harus sujud dan berbakti kepada yang lebih tua, kepada yang lebih berkuasa. Meski ajaran itu tetap saya indahkan, tetapi inilah kekeliaruannya. Orang yang lemah, akan terus diinjak oleh yang kuasa.   &lt;br /&gt;Atas sikap dan sifat Ayah inilah saya tetap merahasikan status saya. Mereka tidak pernah tahu kalau saya adalah putra Bupati Brojonegoro…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyai Ontosoroh  on stage&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30. Nyai Ontosoroh&lt;br /&gt;Akhirnya kau datang juga, Nyo. Betapa lamanya Annelies harus menunggu. Urus tamumu itu, Ann. Mama masih banyak kerja, Nyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31. Annelies&lt;br /&gt;Lama betul kami harus menunggu kau?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;32. Minke&lt;br /&gt;Banyak pelajaran, Ann. Saya harus berhasil. Tahun depan saya harus tamat. (pause)Ann, saya selalu terkenang padamu. Kau gadis luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;33. Annelies&lt;br /&gt;Suka kau disini?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;34. Minke&lt;br /&gt;Saya suka sekali tempat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;35.  Annelies&lt;br /&gt;Mengapa kau sembunyikan nama keluargamu? Nanti disangka kau tak diaku oleh ayahmu. Saya juga bisa menjadi teman, seperti siswa HBS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;36. Minke&lt;br /&gt;Tak ada yang saya sembunyikan tentang diri saya. Saya memang tak punya …(Ragu-ragu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;37. Annelies&lt;br /&gt;Oh..maafkan saya. Tak punyapun baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;38. Minke&lt;br /&gt;Saya juga bukan Indo…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Robert Mellema dan Darsam On stage. Memandang dengan penuh curiga. Darsam menunjukkan kebolehannya bermain pencak silat.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;39. Annelies&lt;br /&gt;Tidak. Oh mengapa kau pucat? Pribumi juga baik. Ibu saya juga pribumi. Pribumi Jawa. Abang saya, Robert Mellema lebih senang disebut Indo atau Eropa, meski dia dilahirkan dari rahim orang Jawa. Darsam adalah pengawal Mama saya yang setia. Kau tamu saya, Minke. Juga tamu Mama.&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini Mama sibuk sekali. Mama kerja sangat keras. Semua buku dagang, surat menyurat, perusahaan kami luas, juga pemerahan susu. Saya yang menjadi Mandor….(Mengulang)..Ya..Mandor..Mengapa? Usaha rumah ini cukup banyak, Mama saya yang mengajari semua. Semuanya seratus delapan puluh hektar. Sawah dan ladang, hutan dan semak belum termasuk. Hutan-hutan itu hanya untuk sumber kayu bakar. Ada dua rawa kecil di dekatnya.&lt;br /&gt;Disana ada kandang sapi yang sangat panjang dan juga kuda-kuda. Sepanjang hari saya bergelut dengan bau busuk. Saya harus mengawasinya dengan kuda-kuda itu. Setiap hari Tuan Domschoor memeriksa sapi. Tetapi sekarang semua ditangani sendiri oleh Mama.&lt;br /&gt;Tanah disini sangat bagus, bisa menghasilkan kacang tanah kering glondongan tiga ton setiap hektar. Kalau tidak membuktikan sendiri boleh jadi orang tidak akan percaya. Tanahnya sangat baik. Menguntungkan. Rendengnya pun baik buat pupuk dan buat ternak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pekerja perempuan melintas. Mereka membawa ember-ember seng berisi susu hasil perahan. Sementara yang laki-laki memanggul karung kacang tanah dan juga ada yang menggeledeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;40. Annelies&lt;br /&gt;Disini ada pekerja wanita. Hanya tidak berbaju kerja. Mereka sangat merdeka. Mereka juga sangat akrab dengan saya. Minem…! (Memanggil seseorang gadis pekerja pribumi). &lt;br /&gt;Berapa ember perahanmu…? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;41. Minem&lt;br /&gt;Ngapunten, Ndoro Putri. Dereng mindak-mindak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;42. Annelies &lt;br /&gt;Kalau pekerjaanmu tidak pernah meningkat, apakah bisa menjadi mandor-perah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;43. Minem&lt;br /&gt;Bilih Ndoro Putri berkenan, saget mawon..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;44. Annelies&lt;br /&gt;Sebagai mandor harus kerjanya baik. Memberi contoh yang lain. Kalau hasil perahanmu tidak lebih banyak dari yang lain tidak akan bisa menjadi mandor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;45. Minem&lt;br /&gt;Ngapunten Ndoro Putri, para buruh menika dereng gadah mandor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;46. Annelies&lt;br /&gt;Saya kan Mandormu. Ah..lupakan soal Mandor, kembalilah bekerja. (Kepada Minke) Di sana ada kandang kuda dan disimpan beberapa kereta.  Luasnya satu gedung pendapa kabupaten. Keretanya berwana kuning keemasan dan berlampu karbit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;47. Minke&lt;br /&gt;Pernah kau melihat gambar Sri Ratu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;48. Annelies&lt;br /&gt;Tentu saja. Cantiknya bukan main.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;49. Minke&lt;br /&gt;Ya..kau tidak salah. Tetapi kau lebih dari padanya. Kau adalah gadis cantik yang pernah saya temui. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;50. Annelies&lt;br /&gt;(Tersipu malu) Terimakasih Minke… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Annelies berlari hendak meninggalkan Minke. Minke hendak menangkapnya, tetapi terhadang Tuan Besar Mellema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;51. Tuan Besar Mellema&lt;br /&gt;Siapa kasih kowe ijin datang kemari, monyet? Kowe kira, kalau sudah pake kain Eropa, bersama Eropa, bisa sedikit bicara Belanda lantas jadi Eropa? Kowe tetap monyet!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyai Ontosoroh muncul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;52. Nyai Ontosoroh&lt;br /&gt;Tutup mulutmu! Ia tamu saya! Tak ada hak apa-apa kau di rumah ini. Kau tahu mana kamarmu sendiri! (Menunjuk satu arah. Tuan Besar Mellema masih berdiri) Atau saya panggil Darsam? (Tuan Mellema bergegas pergi) Bedebah! Diam kau Ann. Maafkan kami Minke, Nyo. Duduklah kembali, jangan bikin pusing, Ann. Duduk kau di kursimu.&lt;br /&gt;Kau, tak perlu malu pada Sinyo. Dan kau, Nyo, memang Sinyo takkan mungkin dapat lupakan. Saya takkan malu, jangan Sinyo kaget atau ikut malu. Jangan gusar. Semua sudah saya letakkan pada tempatnya yang benar. Anggap dia tidak ada, Nyo.&lt;br /&gt;Dulu saya memang Nyainya yang setia, pendampingnya yang tangguh. Sekarang dia hanya sampah tanpa harga. Lebih menyukai bersarang di rumah plesiran (pelacuran). Papapmu, orang yang hanya bisa bikin malu pada keturunannya sendiri. Itulah Papamu, Ann.&lt;br /&gt;Kalau saya tidak keras begini, Nyo…maafkan saya harus membela diri sehina ini,  akan jadi apa semua ini? Anak-anaknya, perusahaannya, semua sudah akan menjadi gembel. Jadi saya tak menyesal sudah bertindak begini di hadapanmu, Nyo. Jangan angap saya biadab. Semua untuk kebaikan dia sendiri. Dia telah saya berlakukan sebagaimana dia kehendaki. Itu yang dia kehendaki, begini, Minke. Orang-orang Eropa sendiri tidak disekolahkan di dalam kehidupan ini.&lt;br /&gt;Sinyo Minke, Annelies tak punya teman. Dia senang Sinyo datang kemari. Kau memang tak punya banyak waktu, itu saya tahu. Biar begitu, usahakan sering datang kemari. Tak perlu kuatir pada Tuan Mellema. Itu urusan saya. Kalau sinyo suka, kami akan senang. Apalagi kalau Sinyo suka bekerja dan berusaha, kau cukup di sini saja bersama kami. Itu kalo Sinyo suka.&lt;br /&gt;Darsam! Darsam! (Darsam masuk) Tuan muda ini tamu saya, tamu Non Annelies. Antarkan pulang dan jangan sampai terjadi apa-apa di jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;53. Minke&lt;br /&gt;Terima kasih, Mama. Semuannya itu baik dan menyenangkan, namun harus sayapikir-pikir dulu. Apalagi banyak sudah pekerjaan dan janji dengan sahabat-sahabat saya yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;54. Nyai Ontosoroh&lt;br /&gt;Itu baik. Manusia yang wajar, meski mempunyai sahabat, persahabatan tanpa pamrih. Tanpa sahabat, hidup akan terlalu sunyi. Seka air matamu, Ann, biar tamumu pulang dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;55. Annelies&lt;br /&gt;Maafkan kami, Minke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang kembali sibuk bekerja. Minke dan Darsama menyelinap di antara orang-orang yang lalu lalang. Annelies memandangnya dengan penuh harap. Mereka melambaikan tangan. Annelies membisikan sesuatu pada Nyai. Tiba-tiba Nyai berteriak.&lt;br /&gt;(Minke! Minke!....Minke !) Sebuah musik cinta mengalun merdu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADEGAN 2&lt;br /&gt;Annelies duduk di kursi dengan murung. Hatinya berdegub kencang, ketika mendengar suara kuda meringkik. Annelies merindukan Minke. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;56. Nyai Ontosoroh&lt;br /&gt;Tak pernah Mama melihat, Ann, semurung ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;57. Annelies&lt;br /&gt;Apakah Mama suka pada Minke?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;58. Nyai Ontosoroh&lt;br /&gt;Tentu Ann, dia anak yang baik. Bagaimana mama takkan suka kalau kau sendiri sudah suka? Orang tua tentu bangga punya anak seperti dia. Dan wanita siapa takkan bangga jadi istrinya nanti? Istri syah? Mamapun bangga punya menantu dia. Karena itu kau tak perlu kuatirkan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;59. Annelies&lt;br /&gt;(Masih tidak yakin) Tetapi apakah dia juga mencintai saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;60. Nyai Ontosoroh&lt;br /&gt;Pemuda siapa yang tak kan tergila padamu? Totok, Indo, Pribumi. Semua menginginkanmu. Mama mengerti, Ann. Tak akan ada gadis secantik kau, di Wonokromo ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;61. Annelies&lt;br /&gt;Kalau orang tuanya melarang, bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;62. Nyai Ontosoroh&lt;br /&gt;Jangan kau pikirkan apa-apa. Mama akan mengatur semua. Dan kau berhak menentukan pada akhirnya. Semua terserah kamu, Ann. Tidak seperti Mamamu dulu. Saya tidak punya hak untuk menentukan masa depan saya. Semua telah ditentukan oleh ayah saya. &lt;br /&gt;Mamamu hanya bisa menunggu datangnya seorang laki-laki yang akan mengambilnya dari rumah, entah kemana, entah sebagai istri nomor berapa, pertama atau ke empat. Ayah saya dan hanya ayah saya yang menentukan. Apakah yang mengambil seorang laki-laki tua atau muda, seorang perawan tidak berhak tahu. Sekali peristiwa itu terjadi, perempuan harus mengabdi dengan seluruh jiwa dan raganya pada laki-laki tak dikenal itu, seumur hidup, sampai mati atau sampai dia bosan dan mengusirnya.&lt;br /&gt;Tak ada pilihan. Boleh jadi mereka yang datang seorang penjahat, penjudi, atau pemabuk. Orang takkan bakal tahu sebelum jadi istrinya. Akan beruntung bila yang datang itu seorang budiman dan belum beristri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;63. Annelies&lt;br /&gt;Kapan Mama merasa sangat bahagia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;64. Nyai Ontosoroh&lt;br /&gt;Biarpun pendek dan sedikit, setiap orang pernah, Ann. Ada banyak tahun setelah saya ikut TB Mellema, Ayahmu. Yang sekarang ini saya tak tahu. Yang ada hanya kekuatiran, hanya ada satu keinginan. Tak ada sangkut paut dengan kebahagiaan yang kau tanyakan. Apa peduli diri ini berbahagia atau tidak? Kau yang saya kuatirkan. Saya ingin lihat kau berbahagia. Saya didik kau secara keras untuk bisa bekerja, biar kelak tidak harus tergantung pada suami.&lt;br /&gt;Ya, Mama ingin melihat kau berbahagia untuk selama-lamanya. Tidak mengalami kesakitan seperti saya dulu. Tak mengalami kesunyian seperti sekarang ini : Tak punya teman, tak punya kawan, apalagi sahabat yang tiba-tiba datang membawa kebahagiaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;65. Annelies&lt;br /&gt;(Memeluk Mamanya) Saya sayang sekali sama Mama. Saya bahagia sekali Mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musik mengalun lirih. Lampu fide out. Menuju Babak III.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BABAK III&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musik cinta itu berubah menjadi kacau dan amarah. Robert dan Annelies bertengkar. TB Mellema tidak memperdulikannya. Nyai memandang dengan perasaan geram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;66. Robert Mellema&lt;br /&gt;Aku bukan pribumi! Aku bukan Pribumi! Aku anak Papa…wek!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;67. Annelies&lt;br /&gt;Mama, Annelies anak Mama, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyai Ontosoroh mengangguk ragu. Mereka masih saling mengejek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;68. Nyai Ontosoroh&lt;br /&gt;Tak terasa Robert dan Annelies sudah besar. Sebaiknya kita ke pengadilan untuk mendaftarkan kita, sehingga anak-anak kita diakui sebagai anak-anak sedarah, anak syah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;69. Tuan Besar Mellema&lt;br /&gt;Itu sudah saya pikirkan sejak semula. Kemarin aku datang ke pengadilan untuk meminta pengakuan. Ternyata dengan campur tangan hukum, justru Robert dan Annelies tetap dianggap anak tidak syah dan hanya diakui sebagai anakku, anak tuan Mellema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;70. Nyai Ontosoroh&lt;br /&gt;Bukankah saya Ibunya? Saya yang mengandung dan melahirkannya. Saya yang merewat dan membesarkannya…? Ini adalah fakta…? Hukum tuan tidak mengakui saya sebagai Ibu anakku sendiri, hanya karena saya pribumi dan tidak kawin secara syah dengan Tuan. Ya, saya mengerti. Seharusnya saya tidak bertanya-tanya ini. tetapi, syah atau tidak menurut hukum Tuan, saya tetaplah Ibu dari anak-anak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;71. Robert Mellema&lt;br /&gt;(Berteriak keras) Aku bukan pribumi! Aku tidak peduli sapi-sapi. Aku tidak perduli pribumi. Aku mau berlayar ke negeri jauh. Ke Eropa. Aku bukan pribumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;72. Nyai Ontosoroh&lt;br /&gt;Robert, masihkan sedikit punya kesopanan terhadap Ibumu? Buatmu, tidak ada yang lebih agung dari pada menjadi Eropa? Dan kau menginginkan semua pribumi untuk tunduk padamu yang mengurus diri sendiri saja tidak mampu. Pergi sana. Jadilah orang Eropa yang kau agungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;73. Robert Mellema&lt;br /&gt;Papaku bukan pribumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;74. Nyai Ontosoroh&lt;br /&gt;Dan saya ibumu. Saya yang melahirkan kau…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Robert menyingkir sedikit lalu pergi dan berteriak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;75. Robert Mellema&lt;br /&gt;Papaku bukan pribumi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Annelies berdiri di sudut ruang. Kepalanya tertunduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;76. Nyai Ontosoroh&lt;br /&gt;Kau boleh ikut abangmu…(Hendak pergi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;77. Annelies&lt;br /&gt;(Mencegahnya) Tidak, Ma. Annelies anak Mama…Mamaku sayang. Engkau mempunyai cinta yang agung. Tetapi betapa diri ini juga merasa lelah. Lelah harus terus bekerja siang malam, mengikuti Mama yang kadang seperti mesin. Terus dan terus. Dan di sana ada kemurungan. Ya, kemurungan yang tak terungkap, meskipun cinta Mama juga telah memberiku kekuatan….Ah..Mama, Mamaku sayang. Engkaulah kebesaran dan kekuasaan satu-satunya yang kukenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Darsam on stage&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;78. Darsam&lt;br /&gt;Ada tamu, Nyai!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;79. Nyai Ontosoroh&lt;br /&gt;Siapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darsam belum menjawab Mauritz Mellema on stage.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;80. Mauritz Mellema&lt;br /&gt;(Masuk tanpa permisi) Mana Tuan Mellema!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;81. Nyai Ontosoroh&lt;br /&gt;Bisa saya bantu, Tuan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;82. Mauritz Mellema&lt;br /&gt;Hanya tuan Mellema yang kuperlukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;83. Nyai Ontosoroh&lt;br /&gt;Saya Nyai Ontosoroh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;84. Mauritz Mellema&lt;br /&gt;Hanya tuan Mellema yang kuperlukan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyai meninggalkan dengan perasaan marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;85. Tuan Besar Mellema&lt;br /&gt;Oh, silahkan duduk Mauritz. Kau sudah segagah ini?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;86. Mauritz Mellema&lt;br /&gt;Aku datang tidak untuk duduk di kursi ini. Ada sesuatu yang lebih penting dari pada duduk. Dengarlah, tuan Mellema! Ibuku, Mevrow Amelia Mellema-Hermes, setelah tuan tinggalkan secara pengecut, harus membanting tulang untuk menghidupi aku, menyekolahkan aku sampai aku berhasil menjadi insinyur.&lt;br /&gt;Tuan telah tinggalkan Mevrow Amelia Harmers, Ibuku, dengan satu tuduhan berbuat serong. Aku anaknya, ikut merasa terhina. Tuan tak pernah mengajukan soal ini ke pengadilan. Tuan tidak memberi kesempatan kepada Ibuku untuk membela diri. Tuan seenaknya saja menggantungkan perkara Ibuku, sehingga Ibuku susah karenanya. Seharusnya Ibuku bisa kawin lagi dan hidup bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;87. Tuan Besar Mellema&lt;br /&gt;Dari dulu dia bisa datang ke pengadilan kalau membutuhkan cerai. Kalau aku yang mengajukan perkara, Ibumu akan kehilangan semua haknya atas semua perusahaan susuku di sana. Kalau ibumu sejak dulu tak ada keberatan sekandal itu diketahui umum, tentu aku telah pergi ke pengadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;88. Mauritz Mellema&lt;br /&gt;Jangan berlagak menjadi seorang humanis, Tuan Mellema. Tahu apa Tuan tentang hak? Mengapa mesti Mevrow Melllema Harmers ke pengadilan, kalau yang menuduh Tuan? Kalau tuan yakin Ibuku serong, mengapa tuan tidak mengajukan tuntutan cerai saat itu ke pengadilan?&lt;br /&gt;Dahulu Ibuku belum mampu menyewa pengacara. Sekarang anaknya sanggup, bahkan yang semahal-mahalnya. Tuan bisa buka perkara. Tuan juga cukup kaya untuk membiayai semua.&lt;br /&gt;Aku tahu apa saja yang ada dalam setiap kamar rumah ini, berapa pekerja, berapa sapimu, berapa ton hasil padi dan palawija dari ladang dan sawahmu, berapa penghasilannmu setiap tahun, berapa depositomu.&lt;br /&gt;Dan yang terhebat dari semua itu, Tuan Mellema, yaitu sesuatu yang menyangkut azas hidup, bahwa Tuan telah meninggalkan dakwaan seorang kepada istri Tuan, Ibuku. Apa kenyataannya sekarang? Tuanlah yang justru telah mengambil seorang perempuan pribumi sebagai teman tidur, tidak untuk sehari dua hari, bahkan sudah bertahun-tahun!! Siang dan malam. Tanpa perkawinan yang syah. Tuan sudah menyebabkan lahirnya dua anak haram jadah!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyai Ontosoroh masuk sambil marah, mendengar kalimat Mauritz. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;89. Nyai Ontosoroh&lt;br /&gt;Jaga mulutmu. Ini rumah kami. Kami berhak mengusirmu. Ucapanmu hanya patut didengarkan di rumahmu sendiri!! Tak ada hak padamu bicara tentang keluarga saya. Ini rumahku. Bicaralah di sana di pinggir jalan sana, bukan di sini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;90. Mauritz Mellema&lt;br /&gt;Hemm…o..o..o..ini tidak ada urusannya dengan kowe, Nyai. Tuan Mellema, biarpun tuan kawini Nyai, gundik ini, dengan perkawinan syah, dia tetap bukan Kristen. Dia kafir! Sekerinya dia Kristen pun, Tuan tetap lebih busuk dari Mevrow Amellia Mellema Hamers, lebih busuk dari semua dari kebusukan yang pernah Tuan tuduhkan kepada Ibuku. Tuan telah lakukan dosa darah, pelanggaran darah! Mencampurkan darah Kristen Eropa dengan darah kafir pribumi berwarna! Dosamu tak terampuni, Tuan!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;91. Nyai Ontosoroh&lt;br /&gt;Tuan Insinyur yang saya hormati. Ternyata otakmu lebih kotor dari mulutmu. Lebih baik segeralah pergi. Bikin kacau rumah tangga orang. Mengaku insinyur, tetapi tak punya sopan santun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mauritz memandangi Nyai dengan jijik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;92. Mauritz Mellema&lt;br /&gt;Seorang gundik juga punya sopan santun? Tuan Mellema, jadi tuan tahu sekarang siapa sesunguhnya Tuan? Sssssttttt! (Memberi isyarat kepada Nyai Ontosoroh untuk tidak berbicara) Diam kamu gundik….! (Out stage) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana hening&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;93. Nyai Ontosoroh&lt;br /&gt;Seperti itukah peradaban Eropa yang kau ajarkan pada saya? Kau angungkan setinggi langit? Siang dan malam? Menyelidiki rumah atangga dan penghidupan orang, menghina, untuk pada suatau kali bisa datang untuk kemudian memeras? Apalagi kalau bukan memeras? Untuk apa mencampuri urusan orang lain? &lt;br /&gt;Begitukah adab orang Eropa yang kau agungkan. Apa guna ilmu pengetahuan yang kau miliki? Apa guna kau jadi orang eropa yang dihormati semua orang pribumi? Apa guna kau jadi tuan ku dan guruku sekaligus dan dewaku, kalau membela dirimu saja tak mampu….?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;94. Tuan Besar Mellema&lt;br /&gt;Mauritz…Mauritz…Mauritz…(Out stage)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;95. Nyai Ontosoroh&lt;br /&gt;(Tetap Terpaku)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;96. Annelies&lt;br /&gt;Ada apa…Ma…?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;97. Nyai Ontosoroh&lt;br /&gt;(Menggelengkan kepala. Memeluk Annelies)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musik mengalun lirih. Orang-orang hilir mudik, bekerja tanpa gairah. &lt;br /&gt;BABAK IV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADEGAN 1&lt;br /&gt;Sederet pelacur sedang berpasang-pasangan dengan lelakinya. Beberapa centeng berjalan kesana-kemari. Seorang pemabuk melintas. &lt;br /&gt;ADEGAN 2&lt;br /&gt;TB Mellema datang disambut gembira oleh Babah Ah Tjong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;98. Babah Ah Tjong&lt;br /&gt;Aya…Tuan Besal mau ada yang balu. Di sana Tuan tinggal pilih-pilih. Ada lima yang balu-balu oi datangkan dari negeri Tiongkok. Yang local juga ada, oi datangkan dari Blitar dan Dampit. Tuan Besal pasti senang. Tinggal pilih, tinggal pilih. Meleka masih gadis-gadis…Meleka juga pada pandai menali. &lt;br /&gt;Mau pilih yang mana tuan? (Tuan Besar Mellema memilih orang yang berpakaian Jawa). Oi…oi…masih kulang puas juga dengan olang Jawa, Tuan. Tapi tidak apa, dia pandai sekali melawat tubuhnya, makanya kelihatan sintal, kayak Nyai, hemmm. Silahkan Tuan. Pelalis, pelalis…!(Tuan Besar Mellema out stage).&lt;br /&gt;(Robert Mellema on stage). Oh..tabik Sinyo Lobet. Hali bagus, Nyo. Hali pelesil sekalang. Ayoh, Nyo, mampil. Ada yang baru. Tinggal pilih, tinggal pilih, Nyo!&lt;br /&gt;Oh mungkin Sinyo tidak suka. Oi sediakan yang lain. Nah ini Meiko. Oi datangkan khusus buat Nyo, dari Jepun. Sinyo juga boleh pakai kamal mana saja Sinyo suka. Tinggal pilih, tinggal pilih. Ayo, Meiko bawa Sinyo Lobet ke dalam. Layani baek-baek. &lt;br /&gt;Pelalis…pelalis… (Robert Mellema out stage) Aya…anak belanak sama saja. Tinggal kilim tagihannya ke lumah Buitenzorg itu, ke Nyainya. He…he…selamat belsenang-senang, Nyo…Tuan Besar…eh…besal…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADEGAN 3 : Setting : Sekitar rumah Nyai Ontosoroh&lt;br /&gt;Musik berdentang. Di tempat lain, Minke sedang melamun sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;99. Minke &lt;br /&gt;Sesuatu yang tak pernah kubayangkan sebelumnya, saya jatuh cinta pada Annelies. Mimpipun tidak. Saya bahkan telah tinggal bersama-sama penghuni Buitenzorg itu. Anak dan Ibunya begitu mengesankan. Suatu sosok yang berbeda, tetapi alangkah kuatnya mereka itu. Apa yang ada dalam pendapat umum tentang Nyai-Nyai yang sering di sas-suskan, terbalik dengan apa yang saya lihat. Saya telah jatuh cinta.&lt;br /&gt;Tak pernah akau jatuh cinta. Tetapi memang dara itu, Annelies, sangat menarik dan cantik tiada banding, Bahkan sang Ratu di Nederland sana kalah. Annelies sangat menarik, menawan. Tetapi Ibunya, Nyai Ontosoroh, tak kalah menariknya. Ia adalah perempuan yang sangat kuat, bahkan mengendalikan seluruh usahnya di rumah yang sering disebut-sebut seram, bahkan ia bisa membentak tuannya. Jadi pendapat umum tentang Nyai-Nyai itu keliru. Ah, apakah saya benar-benar jatuh cinta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;100. Robert Mellema&lt;br /&gt;Hei, Minke! Betul kau suka pada adikku? Adikku memang gadis yang baik dan pandai bekerja, juga cantik. Sayang sekali kau hanya pribumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;101. Minke&lt;br /&gt;Apa salahnya dengan pribumi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;102. Robert Mellema&lt;br /&gt;Kau tidak tahu diri Minke! Kau tak akan pernah mendapatkan apa yang kau impikan. Tidak Minke. Kau seorang kafir! Engkau seorang pribumi yang tidak pantas mengawini Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;103. Minke&lt;br /&gt;Tetapi Ibumu seorang pribumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;104. Robert Mellema&lt;br /&gt;Dia bukan ibuku. Dia lonthe!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;105. Minke&lt;br /&gt;Keterlaluan kau Robert!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;106. Robert Mellema&lt;br /&gt;Kau yang keterlaluan. Tidak tahu diri. Bedebah kau! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Robert Mellema Out stage. Minke berdiri seperti patung. Nyai dan Annelies on stage. Dikawal Darsam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;107. Nyai Ontosoroh&lt;br /&gt;Kau Nyo. Dari mana saja…? Annelies sakit merindukanmu, Nyo. Hanya kau yang bisa menyembuhkan penyakitnya. Minke, Nyo. Jagalah buah hatiku ini. Kau jangan sampai sakit. Ayo sayang mendekatlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;108. Annelies&lt;br /&gt;Selimuti saya, Mas, mendekatlah kemari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;109. Minke&lt;br /&gt;Kau manja sekali Ann…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;110. Annelies&lt;br /&gt;Kepada siapa lagi aku bermanja, kalau bukan padamu? Sekarang ceritai aku, Mas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minke dan Annelies melepas rindu. Nyai segera menyeret Darsam pergi (out stage)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;111. Minke&lt;br /&gt;Cerita apa, Ann? Jawa atau Eropa? Bahasa Jawa tau Belanda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;112. Annelies&lt;br /&gt;Terserah Mas. Saya merindukan suaramu, kata-katamu, yang diucapkan dekat kuping, sampai terdengar nafasmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;113. Minke&lt;br /&gt;Di suatu negeri yang jauh, jauh sekali. Kau tak diganggu nyamuk? Juga tidak ada cicak merangkak pada dinding untuk menyambarnya. Bersih, negeri itu sangat bersih. Negeri itu subur dan hijau. Segala yang ditanam jadi. Hama juga tak pernah ada. Tak ada penyakit dan kemiskinan. Semua orang hidup senang dan bahagia. Setiap orang pandai dan suka menyanyi, gemar menari. Orang punya kudanya sendiri: putih, merah, hitam, coklat, kuning, biru, jambu, kelabu. Seekorpun tak ada yang belang….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;114. Annelies&lt;br /&gt;Ah..Mas ceritanya kacau…masak ada kuda kuning, biru, merah jambu…ada-ada saja…tentu tidak ada kuda belang. Yang ada kan kucing….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;115. Minke&lt;br /&gt;Gurau Ann….(pause) Ann..saya mau bertanya…e…e…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;116. Annelies&lt;br /&gt;Apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;117. Minke&lt;br /&gt;Apakah saya bukan laki-laki yang pertama, Ann?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba wajah Annelies berubah total. Bahkan kemudaian air matanya menetes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;118. Annelies&lt;br /&gt;Saya tahu, semua laki-laki akan selalu bertanya seperti itu. Apakah kau menyesal, Mas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;119. Minke&lt;br /&gt;Tidak. Maafkan atas pertanyaan yang tidak pada perlunya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;120. Annelies&lt;br /&gt;Akan kau peristri aku, Mas…?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;121. Minke&lt;br /&gt;Ya………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;122. Annelies&lt;br /&gt;(Tambah menangis sesenggukan)  Kau bukan lelaki yang pertama, Mas. Tetapi itu bukan kemauankau. Bukan kehendakku. Kecelakaan itu sungguh tak bisa saya elakan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;123. Minke&lt;br /&gt;Kecelakaan? Tidak, Ann. Kau sangat menderita. Boleh saya tahu, siapa yang telah melakukannya Ann?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;124. Annelies&lt;br /&gt;Memalukan! Dia binatang! Binatang! Binatang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;125. Minke&lt;br /&gt;Kalau boleh saya tahu, binatang itu siapa? (Pause) Robert! Suuhroff? Atau…?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;126. Annelies&lt;br /&gt;(Pause) Dia Robert Mellema! (Menangis sejadinya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;127. Minke&lt;br /&gt;Robert Mellema! Abangmu sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;128. Annelies&lt;br /&gt;Terkutuklah aku. Terkutuklah aku. Apakah kau menyesal….?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;129. Minke&lt;br /&gt;(Menggeleng) Ann…kau tetap sayangku. Kau akan jadi istriku. Kemarilah puspitaku. Kau adalah bunga Surabaya. Apakah kakau tahu, Iskandar Zulkarnain, Napoleon-pun akan berlutut memohon kasihmu? Untuk dapat menyentuh kulitmu, mereka akan bersedia mengorbankan seluruh bangsa dan negerinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;130. Annelies&lt;br /&gt;Engkau pangerankau. Terima kasih Minke, engkau telah datang, mengisi hati dan hari-hariku. Mengusir kesunyian hidup. Engkau  memberi warna pada detik-detikku. Kini sepiku menjelma menjadi gairah tak terbendungkan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minke dan Annelies berpelukan. Tiba-tiba hujan bunga-bunga. Annelies dan Minke menari-nari. Seorang buruh dengan takjim membersihkan bunga-bunga itu setangkai demi setangkai. Perlahan-lahan lampu fide out.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BABAK V&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah pelacuran Babah Ah Tjong, Tuan Mellema sedang mabuk berat. Dia sempoyongan. Tiba-tiba terhuyung dan jatuh ke lantai. Para pelacur berhamburan mendekat. Darsam muncul tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;131. Darsam&lt;br /&gt;Tuan! Tuan Mellema..! (Menggoyang-goyang tubuh. Mendengar napas) Tuan Mellema mati! (Para pelacur segera berhamburan menjauh) Nyai…! Nyai…! Tuan Mellema Nyai…! (Berteriak keras sekali)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyai Ontosoroh, Annelies, Minke datang secara bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;132. Darsam&lt;br /&gt;Nyai, Noni, Tuan Mellema mati!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;133. Nyai Ontosoroh&lt;br /&gt;(Mendekat) Bau minuman keras. Baunya seperti bau mulut anaknya Robert Mellema. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Robert Mellema muncul dari tengah-tengah pelacur. Kemudian pergi begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;134. Darsam&lt;br /&gt;Nyo…! Nyo..! Jangan lari!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;135. Nyai Ontosoroh&lt;br /&gt;Sudah-sudah, jangan teruskan gila-gilaan seperti ini. Dia anak saya. Darsam, urus tuanmu itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;136. Darsam&lt;br /&gt;Baik Nyai! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayat itu kemudian ditutup dengan jarit sidomukti. Minke, Annelies duduk di dekat mayat TB Mellema. Para pelacur dan orang-orang juga duduk dengan ta’jim. Musik mengalun lirih sekali. Terdengar lamat-lamat tembang megatruh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh…duh…aduh..&lt;br /&gt;Ambok uwis, ing pamecut&lt;br /&gt;Tiba deresing kepati&lt;br /&gt;Kinarpakna, dadi lakon&lt;br /&gt;Kang tumiba, ing awakku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;137. Nyai Ontosoroh :&lt;br /&gt;Kalian lihat sendiri kelakuan TB Mellema. Diurus di rumah dengan baik, dia malah memilih diurus orang lain, Babah Ah Tjong. Dia telah berbuat sedheng karena tekanan yang begitu berat dari anaknya Mauritz Mellema, Robert Mellema, dan tentunya hukum Eropa yang telah dipahaminya, tetapi tak pernah bisa ia tolak kenyataan yang akan terjadi. &lt;br /&gt;Perlu tuan-tuan ketahui (Kepada penonton) Sejak kematian TB Mellema, saya lalui hari demi hari dengan penuh gunjingan. Semua orang membicarakan TB Mellema. Surat kabar tak habis-habisnya mengabarkan kematian TB Mellema yang memalukan ini.&lt;br /&gt;Berita demi berita tak ada yang benar. Simpang siur, dibumbu-bumbui. TB Mellema dikabarkan mati diracun, entah oleh siapa. Tetapi sesaat sebelum kematiannya, dia tampak mabuk. Dari mulutnya bahu alcohol, persis yang disukai anaknya Robert Mellema. Robert Mellema sendiri tampak berada di rumah plesiran Babah Ah Tjong. Tetapi dia lari. Babah Ah Tjong sendiri tiba-tiba raib.&lt;br /&gt;Para tetangga, berbicara semaunya sendiri. Kami maklum, karena mereka semua tidak bisa membaca. Koran-koran yang ada kebanyakan berbahasa Belanda. Tetapi yang pasti. Koran-koran Eropa jelas memihak TB Mellema dan memojokan keluarga kami. Tidak berbeda jauh, orang-orang Eropa dan pribumi yang memandang Nyai sangat buruk, menuduh Nyai lah yang telah menyebabkan tewasnya TB Mellema.&lt;br /&gt;Darsam dan Minke telah banyak membela saya. Darinyalah orang-orang pribumi itu akhirnya tahu, bahwa saya tidak bersalah. Namun  ujian tidak berhenti di sini. Ujian terberat adalah hari-hari menghadapi persidangan. Saya sangat pesimis, seorang pribumi seperti saya, apalagi sudah dicap sebagai gundiknya, tidak akan menang di penggadilan Eropa. Pengadilan kulit putih. Tidak akan menang! Tulisan-tulisan yang dibuat Minke di surat kabar, seperti angin lalu saja. Ketika di pengadilan, saya diperlakukan diskriminatif. Saya tidak boleh menggunakan bahasa Belanda meski saya mampu melafalkan dengan baik dan benar. Katanya : ‘Nyai tidak diperkenankan menggunakan bahasa Belanda. Nyai pribumi. Nyai harus memakai bahasa Jawa, bahasa bangsamu.’&lt;br /&gt;Kepada Tuan Hakim saya katakan, saya tidak pernah kenal dengan Babah Ah Tjong. Yang saya tahu, setiap bulan datang tagihan dari rumah plesirannya untuk TB Mellema dan anaknya Tuan Robert Mellema. Setiap bulan TB Mellema menghabiskan 45 gulden. Sedang anaknya 60 gulden. Mereka harus membayar mahal karena mereka hanya mau pelacur-pelacur asing seperti Meiko dari Jepang itu.&lt;br /&gt;Namun persoalan ini terus melebar. Minke dilibatkan. Mereka menanyakan hubungannya Minke dengan Annelies. Saya katakan kepada Tuan Hakim dan jaksa, bahwa kematian TB Mellema tidak ada kaitannya dengan Minke dan Annelies. Mereka tidak pernah memperdulikannya. Sepertinya telah terjadi persekongkolan untuk merampas semua yang kami miliki.&lt;br /&gt;Tetapi baik, saya akan jawab agar tuan-tuan tahu: Tuan Hakim yang terhormat, Tuan Jaksa yang terhormat, kalian telah memulai membongkar keadaan rumah tangga saya. Saya Sanikem, gundik Tuan Besar Mellema. Sanikem memang hanya seorang gundik. Dari gundiknyalah lahir Annelies dan Robert Mellema. Perlu tuan ketahui, selama ini tak pernah ada yang menggugat hubungan saya dengan mendiang. Kenapa? Apakah karena Tuan Besar Eropa Totok. Mengapa hubungan anak saya kalian persoalkan? Mengapa? Hanya karena Minke pribumi?&lt;br /&gt;Tuan-tuan yang terhormat. Antara saya dan TB Mellema ada ikatan perbudakan yang tidak pernah digugat oleh hukum Eropa. Antara anaku dengan Tuan Minke ada cinta mencintai yang sama-sama tulus, bahkan mereka sudah diikat dalam perkawinan yang syah. Sekali lagi tuan, orang Eropa dapat membeli perempuan pribumi seperti diri saya ini, tetapi tak seorangpun memprotesnya. Apakah pembelian ini lebih benar dari pada percintaan yang tulus dari kedua insan ini? Kalau orang Eropa boleh berbuat karena keunggulan dan kekuasaannya, mengapa kalau pribumi jadi ejekan, justru karena cinta yang tulus?&lt;br /&gt;Apa karena Annelies indo, tuan Minke anak bangsawan? Jadi Annelies punya kedudukan seperti orang berdarah Eropa? Tetapi Annelies, sayalah yang melahirkan, membesarkan dan mendidiknya, tanpa bantuan satu sen pun dari Tuan-tuan yang terhormat.&lt;br /&gt;Siapa yang menjadikan saya gundik? Siapa yang membikin mereka jadi Nyai-nyai? Tuan-tuan,  bangsa Eropa yang dipertuan! Mengapa kami ditertawakan dan dihinakan? Apakah tuang-tuan menghendaki anak saya juga jadi gundik? Kalianlah yang membuat saya menjadi Nyai, menjadi gundik!  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;138. Minke&lt;br /&gt;Tuan-tuan saya menyakal semua keputusan Tuan Hakim dan Tuan Jaksa. Saya suami Annelies. Saya mencintainya. Cinta setulusnya. Apakah perlu saya jelaskan kapan dan di mana kami kawin? Saya dan Annelies sudah menikah secara Islam, kami punya saksi.&lt;br /&gt;Meski hukum Tuan menyatakan perkawinan kami tidak syah, kami adalah duan insan yang telah diikat tali perkawinan yang syah. Tak akan ada yang bisa memisahkan.&lt;br /&gt;Hadirin sekalian, apakah ini pengadilan yang adil? Annelies dengan mudah akan dibawa pulang ke Nederland, negeri leluhurnya dengan alasan perkawinan saya tidak syah, karena dia Indo saya pribumi. Apakah ini yang dinamakan hukum?&lt;br /&gt;Annelies, Mas akan lawan semua yang berusaha memisah kita. Mama dan saya akan tetap berusaha sekuat tenaga, biarpun begitu sulit. Kita akan melawan Annelies. Biarpun hanya dengan tulisan atau dengan teman-teman yang masih mempunyai rasa simpati kepada kita. Pengadilan itu sudah tidak lagi menyoal kematian Tuan Mellema. Mereka berusaha memisahkan kita.&lt;br /&gt;Mama, kita akan melawannya. Akan saya tulis peristiwa persidangan kematian Tuan Mellema itu. Akan saya ungkap sejelas-jelasnya di koran-koran, surat-surat juga akan saya tulis dan akan saya kirim kepada teman-teman di Eropa. Apabila tak ada yang mendengarkan, tahulah saya, omong kosong saja segala ilmu pengetahuan Eropa yang diagung-agungkan. Omong kosong!&lt;br /&gt;Pada akhirnya ilmu pengetahuan itu akan berarti hanya alat untuk merampasi segala apa yang kami sayangi dan kami punyai : Kehormatan, hak, bahkan juga anak dan istri.&lt;br /&gt;Sekarang semua sangat jelas. Mauritz Mellema telah bersekongkol dengan pengadilan Amsterdam untuk menyingkirkan kita, merampas semua yang ada. Ah Eropa, semua yang saya kagumi, runtuh dalam sekejap.&lt;br /&gt;Ah, istriku tinggal berapa lama lagi kita berkumpul. Kau akan berangkat kekasihku. Apa yang bakal terjadi nanti dengan dirimu, kekasihku? Ann, bagaimana dengan diriku? Apakah kau akan seperti kilat jatuh jauh di sana, mengerjap sekejap, untuk kemudian hilang buat selama-lamanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;139. Annelies&lt;br /&gt;Mas, tubuhku lemah tak berdaya. Tak berdaya, melawan sakit ini semua. Dikala sakit seperti ini aku terkenang dengan cerita-cerita yang Mas ceritakan tentang negeri Belanda menurut cerita Multatuli. Katamu, nun jauh di sana ada negeri di tepi laut utara. Tanahnya rendah, maka dinamai negeri Tanah Rendah, Nederland atau Holand. Mereka mengembara keseluruh pelosok bumi karena mereka bosan membuat tanggul-tanggul dan lebih mengagumi negeri yang jauh, bergunung-gunung, tanahnya subur, penuh laut dan pantai, kemudian menguasainya. Aku lebih menyukai tanah yang bergunung dan pantai-pantai daripada Nederland. Tetapi persekongkolan hukum ini telah membuat aku tidak punya pilihan apa-apa.&lt;br /&gt;Mama, masih ingatkah dengan cerita tentang kopor itu. Aku akan pergi dengan kopor yang membuat Mama bertekat menjadi seperti ini. Dengan kopor itu dulu Mama pergi dan bertekad tak akan kembali lagi. Kopor itu terlalu memberati kenangan Mama. Biar aku bawa, Mama, beserta kenangan berat di dalamnya. Aku tidak akan membawa apa-apa, kecuali kain batik dari Mama dan pakaian pengantinku. Semua akan menjadi kenangan, Mama. Aku pasti merindukan kalian semua…&lt;br /&gt;Suamiku, jangan menangis. Aku tetap mencintai suamiku selamanya. Sembah sungkemku untuk Mama, Mas…aku akan pergi. Jangan kenangkan yang dulu-dulu. Yang sudah lewat, biarkan berlalu, Mamaku sayang, suamiku tercinta, jangan menangis. Kenanglah yang baik dan lupakan yang buruk. Aku hanya minta kepada Mama dan suamiku, buatkan aku adik kecil yang tidak merepotkan sepertiku. Rawatlah dia sebaik-baiknya sampai Mama, tak merasa lagi pernah ada Annelies di sisi Mama…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;140. Dua Orang Utusan&lt;br /&gt;Waktu kurang dua menit. Kapal akan segera berangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang membawakan kopor besar dari dalam. Annelies memeluk Minke dan Nyai Ontosoroh. Dua Orang Utusan dan Annelies out stage.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana hening. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;141. Minke &lt;br /&gt;Mama, putramu kalah. Sebegini lemah kita di hadapan orang Eropa. (Pause) Kau yang saya kagumi telah merampas segalanya. (Menggumam) Maafkan suamimu Ann.&lt;br /&gt;(Kepada Nyai Ontosoroh) Kita kalah, Ma…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;142. Nyai Ontosoroh&lt;br /&gt;Kita telah melawan, Nak Nyo. Sebaik-baiknya. Sehormat-hormatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musik. Lampu fide out. Layar menurun. Pertunjukan selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, Maret-Desember 2006&lt;br /&gt;R. Giryadi&lt;br /&gt;(Sutradara Teater Institut)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah ini pernah diadaptasi oleh Faiza Mardzoeki dalam bentuk drama yang sangat panjang. &lt;br /&gt;Naskah ini diadaptasi dari novel Bumi Manusia karya Pramudya Ananta Toer, penerbit Hasta Mitra cetakan ke lima 1981.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5346587717956970287-8389932250742159651?l=teaterapakah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teaterapakah.blogspot.com/feeds/8389932250742159651/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5346587717956970287&amp;postID=8389932250742159651' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/8389932250742159651'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/8389932250742159651'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teaterapakah.blogspot.com/2008/01/hikayat-perlawanan-sanikem-nyai_15.html' title='Hikayat Perlawanan Sanikem : NYAI ONTOSOROH'/><author><name>teaterapakah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14504659433822587521</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R4KW9fwvaJI/AAAAAAAAAAM/4MNOEFdRZSc/S220/giryadi+oke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R40iaPwvaPI/AAAAAAAAABA/yC3ugJv4VPE/s72-c/blog-ontosoroh+10.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5346587717956970287.post-5710661453527411669</id><published>2008-01-10T20:59:00.000-08:00</published><updated>2008-02-10T16:03:39.503-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='naskah teater'/><title type='text'>ORDE MIMPI</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R6-QxKy25tI/AAAAAAAAADI/dmQ4XU-VN9I/s1600-h/blog-monolog+peperangan+1.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R6-QxKy25tI/AAAAAAAAADI/dmQ4XU-VN9I/s320/blog-monolog+peperangan+1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5165506472002905810" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;OLEH : R Giryadi&lt;br /&gt;(Teater Apakah Surabaya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drama ini dimulai dengan suara berdentang tanda kehidupan dimulai. Musik ritmis mengiringi dentang yang berdenyut seperti detak nadi. Ligthing perlahan menyala menyinari orang-orang dalam tabung besar. Mulut dan mata mereka tertutup rapat. Seperti sedang menjalani sebuah proses kelahiran. Di luar tabung besar, dua orang sedang bercakap-cakap serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;01.PAKARWAN:&lt;br /&gt;(Modar-mandir, gelisah) Aku belum menemukan jawaban.&lt;br /&gt;02.RIBAWAN&lt;br /&gt;Apa perlu rumus-rumus?&lt;br /&gt;03.PAKARWAN&lt;br /&gt;(Berpikir sejenak) Sebenarnya tidak perlu. Tetapi aku ragu, kerena mereka penuh dengan rumus-rumus yang telah diformalasikan. Lihat kepala mereka terlalu besar. Di dalamanya segebok rumus-rumus hidup siap digunakan.&lt;br /&gt;04.RIBAWAN&lt;br /&gt;Jadi, masih diperlukan perhitungan yang tepat?&lt;br /&gt;05.PAKARWAN&lt;br /&gt;Bukan perhitungan tetapi kesepakatan. Jangan sampai kehadirannya menjadikan suasana kacau.&lt;br /&gt;06.PAKARWAN&lt;br /&gt;Tetapi mereka kan berdiri dari rumus-rumus. Kita siap mengendalikan.&lt;br /&gt;07.RIBAWAN&lt;br /&gt;Jadi apakah harus kita delete tanda formulasi?&lt;br /&gt;09.PAKARWAN&lt;br /&gt;Mana mungkin bisa? Tanda-tanda itulah yang mungkinkan mereka hidup. (Mencoba berpikir lagi) Ah….buntu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musik irama dengus laboratorium terdengar perlahan. Kedua orang sedang mengamati hasil eksperimenya. Mereka membicarakan sekutu tetapi tidak terdengar. Mereka begitu serius. Dan dari sudut lain datang seseorang yang dikawal orang berpakaian aneh.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;10.TUAN JABAT&lt;br /&gt;Selamat apa saja!&lt;br /&gt;11.KOOR&lt;br /&gt;Selamat apa saja!&lt;br /&gt;12.PAKARWAN&lt;br /&gt;Oh, Tuan Jabat. Selamat datang di laboratorium Rekayasa Gene kami. Silahkan, silahkan. Kami sudah menunggunya sejak tadi. Mengenai pesanan itu, mohon diperiksa dulu.&lt;br /&gt;13.TUAN JABAT&lt;br /&gt;(Melihat-lihat tabung besar) Good, good. Apakah sudah bisa?&lt;br /&gt;14.PAKARWAN&lt;br /&gt;(Diam sejenak. Klincutan) E…..e…..begini ….e&lt;br /&gt;15.RIBAWAN&lt;br /&gt;Sudah, tuan…e…ee…tetapi&lt;br /&gt;16.TUAN JABAT&lt;br /&gt;Oh..no. Kok, pakai tetapi segela!&lt;br /&gt;17.RIBAWAN&lt;br /&gt;Be..be..be benar Tuan. Kita masih perlu waktu untuk berpikirlebih matang.&lt;br /&gt;18.TUAN JABAT&lt;br /&gt;Ah, teori&lt;br /&gt;19.PAKARWAN&lt;br /&gt;Tepat sekali, Tuan. Kita memang masih butuh teori untuk menterjemahkan kelahirannya. Kita masih punya sisa benyak generasi yang nggangur. Bahkan dari informasi pihak Badan Pemerhati Generasi (BPG), ternyata masih banyak yang ingin memperpanjang hidupnya. E..e kalau tidak salah, menurut mereka, Tuan termasuk di dalamnya. Benarkah, Tuan?&lt;br /&gt;20.TUAN JABAT&lt;br /&gt;Ah, kamu itu tahu saja.&lt;br /&gt;21.RIBAWAN&lt;br /&gt;Menurut kabar angin. Kalau itu benar, Tuan sedang merehap rumah dan mengganti segala perabotannya. E, termasuk kursi kesayangan Tuan. Katanya sekarang kursi Tuan semakin tinggi. Begitukah?&lt;br /&gt;22.TUAN JABAT&lt;br /&gt;Wah, wah, wah. Ternyata kabar itu lebih santer dari kenyataan yang salah alami. No, no, saya merenofasi beberapi bagian saja. Itu kan, hanya menuruti istri dan anak-anak saja. Wah, wah, wah semakin tinggi kekuasaan semakin tinggi banyak angin yang menamparinya…haa…haaa..haa. I don’t now, mengapa mereka begitu menginginkanya?&lt;br /&gt;23.RIBAWAN&lt;br /&gt;Ingin menduduki kursi itu?&lt;br /&gt;24.TUAN JABAT&lt;br /&gt;Bukan, ingin membelinya. (Mereka bersam-sama tertawa cekikikan). Ah, lupakan saja. Terus, bagaimana ini, apakah perlu ada surat keputusan.&lt;br /&gt;25.PAKARWAN&lt;br /&gt;Tidak perlu formal-formalnya begitu. Mereka sudah dilengkapi dengan sistem pengendali otomotis yang menyatakan kelahirnya. Pada saatnya mereka akan keluar sendirinya sesuai dengan rencana kita. Yang perlu kita siapkan saat ini hanya, kesediaan kita menerima mereka di tengah-tengah kita.&lt;br /&gt;26.TUAN JABAT&lt;br /&gt;Teori lagi!&lt;br /&gt;27.PAKARWAN&lt;br /&gt;Kerena mereka terdiri dari rumus-rumus baru. Bisa-bisa kita habis oleh rumus-rumusnya . Kita tidak bisa berimprovisasi saja. Kita herus lebih pintar darinya.&lt;br /&gt;28.TUAN JABAT&lt;br /&gt;Apakah itu, yang menyebabkan keterlambatan kelahiran mereka.&lt;br /&gt;29.RIBAWAN&lt;br /&gt;Mungkin. Atau memang kita belum siap?&lt;br /&gt;30.PAKARWAN&lt;br /&gt;Bukan, kita belumterlalu membutuhkan kehadiranya.&lt;br /&gt;31.TUAN JABAT&lt;br /&gt;Itu ketakutan kita.&lt;br /&gt;32.PAKARWAN&lt;br /&gt;Bisa  juga begitu.&lt;br /&gt;33.TUAN JABAT&lt;br /&gt;Ah, sudahlah jangan risau. Apakah kalian lupa dengan dua mesin disampingku ini. He, kalian ngomong. Jangan diam saja. Masak ngomong saja menunggu perintah.&lt;br /&gt;34.KOOR&lt;br /&gt;(M16DAN AK47) Siap Tuan!&lt;br /&gt;35.TUAN JABAT&lt;br /&gt;Ayo ngomong!&lt;br /&gt;36.M16&lt;br /&gt;Siap melaksankan tugas!&lt;br /&gt;37.AK47&lt;br /&gt;Siap melaksanakan tugas!&lt;br /&gt;38.TUAN JABAT&lt;br /&gt;Apa? Tugas apa ?&lt;br /&gt;39.KOOR&lt;br /&gt;(M16 DAN AK47) Siap, keamanan Tuan!&lt;br /&gt;40.TUAN JABAT&lt;br /&gt;Saya kira kalaian sudah mendengar sendiri. Saya tidak perlu berlama-lama di sini. Saya masih ada tugas jawabnya. Saya pergi dulu. Selama apa saja.&lt;br /&gt;41.KOOR&lt;br /&gt;Selamat apa saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan jabat, M16, Ak47. Out stage. Pakarwan dan ribawan saling pandang, seperti membuat kesempakatan, kemudian out stage. Lighting perlahan meredup. Mesik mengiring keras seperti benda yang bergesek-gesekan, berbenturan. Musik berhenti, ketika mendengar suara dari spiker berkoar-koar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;42.SPIKER&lt;br /&gt;Perhatian! Perhatian! System Pengendalian Pusat (SP2) memerintahkan agar mengendali-mengendali cabang siaga penuh. Gene 1, 2, dan 3, akan membuka sisitem sementara. Kepada gene1, 2, dan 3, kita akan masuk tanda formulasi plus (+), tanda kehidupan dimulai. (Tekan tombol) Selamat datang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga gene yang berada dalam tabung plasktik, mulai bergerak perlahan-lahan. Tubuhnya otot-otot mulai meregak, kaku, dan kejang –kejang. Kejangan tubuhnya semakain lama semakin keras diikuti suara mengerang-ngerang , suara jerit, dan tangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;43.SPIKER&lt;br /&gt;Perhatian, kepada seluruh Sistem Pengendalian Cabang (SPC), kita menuju formula samadengan (=). Kepada masyarakat luas, mohon memperhatikan datangnya generasi baru gene 1, 2, dan 3. Semua cabang sudah siaga. Okey! Berpisah untuk meluncur melaksanakan tugas. Hitungan mundur : 10,9,8,7,6,5,4,3,2,1, go…!&lt;br /&gt;Ketiganya meluncur melalui papan luncur. Musik berdendang keras. Lighting berkilat-kilat. Mereka meluncur cepat sekali, hingga bertemu pada sudut yang ditetentukan. Mereka saling pandang, saling mengamati, saling meraba seluruh tubuh. Mereka ingin saling sapa. Tetapi mulutnya tidak mengeluarkan suara. Mereka mengunakan bahasa isyarat yang tidak ada artinya. Dan membuat mereka bertambah bingung akhirnya mereka tidak meneruskan bicara. Tiba-tiba dikejutkan oleh suara dari spiker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;44.SPIKER&lt;br /&gt;Halo, halo, SP2 memanggil. (Ketiga orang yang sedang melamun terperanjat, kemudian mencari sumber suara). E, maaf. Eror, eror, ada gangguan teknis. Maaf kita lupa menekan tombol kode bahasa. Tunggu sebentar, ada sesuatu (Sumber suara menjauh dan terdengar lirih. Speker tendengar sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan) –sebentar sayang, saya sedang serius, jangan ganggu saya. Nanti sajalah puaskan dirimu, kalu sudah selesai semuanya- (Suara kembali terdengar jelas) SP2 memanggil! Kode sudah ditekan, silahkan dicoba! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mulai menggerakana mulutnya. Kata yang mulai diucapkannya adalah: Aku, saya, dan kamu. Masing-masing menyebut dirinya dan saling menyebut yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;45.ORANG I&lt;br /&gt;Aku…..aku…. aku..(menunjuk dua temanya)&lt;br /&gt;46.ORANG II&lt;br /&gt;Aku? (menunjuk dirinya) Aku…A-k-u.&lt;br /&gt;47.ORANG III&lt;br /&gt;(Menunjuk dirinya) Aku…A-K-U&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang I Tidak mengerti, dua temanya juga menyebut sama: Aku. Kemudian dari spiker terdengar suara. Mereka terkejut dan mencoba bersama-sama mendegarkanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;48.SPIKER&lt;br /&gt;Benar dan bagus. Kalian sudah mengenal kata. Untuk itu dari pengendalian dari pengendalian kata-kata yang telah dibuat sesempurna dan sebaik mungkin. Untuk itu gunakan bahasa itu sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya. Bahasa itu akan kalian gunakan untuk percakapan sehari-hari, agar kalian saling mengenal. &lt;br /&gt;E..mohon perhatian, selain kalian akan diberi tanda pengenal yang disebut nama masing-masing, maka kata AKU harus ditanggalkan. Yang harus kalian gunakan adalah gene 1 mempunyai nama Pekerti. Ingat Pa-ker-ti. Gene 2 mempunyai arti Panarut. Ingat Pa-nu-rut, dan gene 3 mempunyai nama Panrimo. Ingat Pa-nri-mo.&lt;br /&gt;Kali terakhir, larangan yang harus dipatuhi adalah (1). Dilarang berbicara terlalu keras .(2). Dilarang berpikir yang aneh-aneh. (3). Dilarang melihat sengaja maupun tidak sengaja. (4). Dilarang mengajukan pertanyaan dan usul. &lt;br /&gt;SP2 akan mengambil tindakan preventif bila salah satu larangan kalian langgar. Disana ada M-16 dan Ak47. Kalau mereka tidak bisa mengatasi, maka akan diambil tindakan penangan khusus dengan merubah formula tanda kurang(-) bila memperlambat aktifitas anda dan tanda bagi (:) akan mengentikan aktifitas anda. Demikian mohon diperhatian dan selamat menempuh hidup baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sooosssssssss, suara spiker mengilang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;49.PAKERTI&lt;br /&gt;He, jangan pergi! (sesaat, ia tidak sadar kalau sudah bisa berbicara. Mulutnya diraba seakan tidak seakan tidak percaya) Apa yang terjadi. Apa artinya ini? He, jangan pergi! Lo..apa ini? lagi-lagi aku..&lt;br /&gt;50.PANURUT&lt;br /&gt;(Memandang dengan penuh heran) Apa itu? (Ia terkejut dengan kalimat yang diucapkan).&lt;br /&gt;51.PANRIMO&lt;br /&gt;(Plenggang-plenggong, tidak mengerti apa-apa. Ia mendekati kedua orang temannya. Yang sedang meraba-raba mulutnya.ia ikut meraba mulutnya dan juga meraba mulut tamanya) Kenapa kamu? (Terkejut).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka saling pandang. Kemudia saling meraba mulutnya sendiri dan mulut temannya. Sesekali burusaha melihat dalam mulut dengan rasa kagum, cemas, dan tak mengerti mereka duduk termenung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;52.PAKERTI&lt;br /&gt;(Menunjuk) Siapa kalian?&lt;br /&gt;53.PANRIMO&lt;br /&gt;Kalian itu loh? (Tidak sadar)&lt;br /&gt;54.PANURUT&lt;br /&gt;Apa maksudmu!? (Berteriak)&lt;br /&gt;56.PANRIMO.&lt;br /&gt;Apa? (Juga tidak mengeti)&lt;br /&gt;57.PEKERTI&lt;br /&gt;A-p-a, Apa.&lt;br /&gt;58.PANURUT&lt;br /&gt;(Manggut-manggut)&lt;br /&gt;59.PANRIMO&lt;br /&gt;Kenapa? (Memandang dengan heran)&lt;br /&gt;60.PENURUT&lt;br /&gt;(Mengelengkan kepala)&lt;br /&gt;61.PANRIMO&lt;br /&gt;Lho…? (Tamabah tidak mengerti)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka kembali saling memandang dengan ekspresi tak menetu. Dan tak seorang pun mengerti apa maksudnya. Mereka saling tatap bahkan saling meraba wajah mereka masing-masing dan juga saling meraba tubuh mereka. Pada puncaknya, mereka merasa geli. Gerakan tubuhnya kejang-kejang. Menggeliat-menggeliat. Tertawa kecil. Cekikikaan. Dan meledehkan tawa mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;62.KOOR.&lt;br /&gt;Haaa, ha, ha, ha, ha, ha, ha, ha. (Terpingkal-pingkal).&lt;br /&gt;63.PEKERTI.&lt;br /&gt;Cukup, cukup, berhenti! (Berteriak)&lt;br /&gt;64.PENURUT&lt;br /&gt;Apa lagi itu? Hik…hik..Hik..ha..ha haaaaaaaa!&lt;br /&gt;65.KOOR&lt;br /&gt;(Tertawa terbahak-bahak. Semakin keras. Semakin terpingkal-pingkal).&lt;br /&gt;66.TUAN JABAT.&lt;br /&gt;(Dari dalam, muncul tiba-tiba) Pekerti. Panurut. Panrimo! &lt;br /&gt;(Mereka berhenti tertawa, memandang kagum kepala Tuan Jabat dan dua pengawalnya) O, ternyata kalia sudah ada disini. (Mereka saling memandang, tidak mengerti). Maafkan saya dan dua pengawal setia saya ini, datang tidak tepat pada waktunya. (Tak kuat menahan tawa. Akhirnya tertawa bersama. Tetapi tiba-tiba mereka berhenti)&lt;br /&gt;67.M-16 DAN AK-47&lt;br /&gt;(Bersama-sama mengokang senjata)&lt;br /&gt;68.TUAN JABAT&lt;br /&gt;Pengawal janangan terlalu agresif. Biarkan mereka. Mungkin ada kesalahn. O, ya , saya lanjutkan. Jalanan macet, lagi pula informasi yang saya peroleh kurang akurat. Jadi maklum, tetapi untunglah akhirnya kita bisa bertemu. (Memandangi ketiganya) Oh, sungguh hasil yang memuaskan. &lt;br /&gt;Tentunya kalian sangat beruntung  dan bahagia terlahir di sini. Tempat ini begitu tentram dan damai. (Pause) Lo, kenapa kalian tampak murung. Jangan diam saja. Ayo coba katakan kegembiraanmu Pakerti. O, ya, siap yang namanya Pakerti. (Tidak ada yang mengangkat tangan). Lho? Yang namanya Panurut yang mana? (Tidak ada yang mengangkat tangan). Lho?! Panrimo yang mana?  (Juga tidak ada  yang mengangkat tangan). Lho!!!?? (Lebih keras). &lt;br /&gt;Tidak apalah, tetepi berbahagialah, karena kamu mamasuki era  baru kehidupan. Tidak gemen-gemen lo. Kalian sudah merdeka. Ini merdeka betul, tidak hanya dibibir saja. Lihat di sana ada gedung bertingkat. Ah, nanti kalian akan tahu, bagaimana rasanya merdeka. (Pause)  Kenapa? O, ini? Jangan takut, mereka juga manusia seperti kalian. Ayo, pengawal mendekatlah, kenalkan mereka. &lt;br /&gt;(M-16 DAN AK-47 menjulurkan tangan, tetapi mereka tetap diam, tidak mengerti maksudnya). Balaslah salamnya. Begini (Mengangkat tangan masing-masing, kemudian saling bersalaman). Ini namanaya M-16 dan yang satunya namanya AK-47. Mereka berdua bertugas sebagai pengawal dan juga penjaga keamana. (Pause) Apa kalian sakit to, kok diam saja?&lt;br /&gt;69.KOOR&lt;br /&gt;Apa??&lt;br /&gt;70.TUAN JABAT&lt;br /&gt;Apa? Jadi kalaian…?&lt;br /&gt;71.KOOR&lt;br /&gt;Apa….?&lt;br /&gt;72.TUAN JABAT&lt;br /&gt;Oh, Tuhan. Pasti ada yang tidak beres ini. No….berbahaya ini. Jangan kawatir. Pengawal! Lakukan sesuatu!&lt;br /&gt;73.KOOR PENGAWAL&lt;br /&gt;Siap, melaksanakan tugas!!(Bersama-sama mengokang senjata)&lt;br /&gt;74.TUAN JABAT&lt;br /&gt;Stop! Stop! Jangan terlalu reaktif to. Ini belum tingkat yang membahayakan. Maksudku bawalah mereka, dan karantina dulu. Jangan boleh menemui orang lain dulu. Mereka masih telanjang. Belum mengerti apa-apa.&lt;br /&gt;75.KOOR PENGAWAL&lt;br /&gt;Siap melaksanakan perintah! (Menggiring ketiga manusia baru)(Meraka bersama-sama menolak ajakan pegawal)&lt;br /&gt;76.PEKERTI&lt;br /&gt;Apa? (Tidak mau dibawa pergi)&lt;br /&gt;77.TUAN JABAT&lt;br /&gt;Tidak, apa-apa. Jangan takut. Kalaian hanya akan dibawa ketempat yang lebih aman. Ayo, pengawal bawa mereka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa membantah sekatapun, mereka menurut digiring pengawal. Out stage. Musik terdengar lirih, menggiringi lagu kebisuan. Black out&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BABAK 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu Kebisuan&lt;br /&gt;Aku dilahirkan di padang sunyi.&lt;br /&gt;Ilalang-ilalang menari-nari bercumbu dengan bulan.&lt;br /&gt;Burung-burung meniup seruling, mendayu, seperti angin.&lt;br /&gt;Tubuhku berlumur lumpur sawah.&lt;br /&gt;Hidupku seperti pagi diirama desir air ngarai dan lembah-lembah.&lt;br /&gt;Inilah nyanyiaku.&lt;br /&gt;Simponinya teruntai oleh tetes keringatku.&lt;br /&gt;Ibu…oh, ibu ku. Tanah dan air ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stage lenggang. Black out. Tirai putih turun, lighting mengarah pada sudut panggung. Tepat mengenai tempat ari-ari ditanam, terdiri kurungan kecil dan lumpu teplok. Disana sudah berdiri seorang perempuan sedang menggendong boneka bayinya. Ia menimang-nimangnya. Irama musik menggantung sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;78.PARTIWI&lt;br /&gt;Cepat besar ya, nak. Cepat bisa berlari dan bicara. Kamau harus kuat seperti Gatutkoca. Kamu harus perkasa seperti Bima. Dan kamu harus cerdik seperti Bathara Ksena. Siapa lagi Ibu yang diharapkan, kecuali kamu anak ibu satu-satunya. Cepat besar ya, nak. Biar cepat bisa menggarp sawah dan mencarikan rumput sapi-sapi kita. Siapa lagi, ayahmu setiap hari bekerja sendirian. Kau harus cepat besar. Nanti Ibu sekolahkan sampai sarjana, biar tidak dibodohi orang lain. Cepat besar nak, jaman sudah maju. kita sudah merdeka. Dimana-mana orang bekerja, membangun negeri ini. Cepat besar nak, tanah kita menanti uluranmu. (Menimang-nimang lagi).&lt;br /&gt;79.NENEK&lt;br /&gt;(Dari dalam, bersama Kakek membawa buku besar) Partiwi..Partiwi..Partiwi, di mana kau, Nak. Oh, Partiwi sudahlah. Tak baik begitu. Masukalah, tak baik dilihat orang lain. Lihatlah mereka seakan mengejek kita. Tak apalah. Tetapi kau jangan menyesali nasibmu seperti itu. Pada suatu saat nanti alam pasti , merubah nasib kita. Percayalah, ia mempunyai kekuatan yang maha dasyat. Kamu jangan menyesal. Kalau sekarang kita hanya bisa melahirkan bayi saja, dan tak bisa membesarkan, terimalah itu sebagai takdir.&lt;br /&gt;80.PARTIWI.&lt;br /&gt;Tetapi  takdir tidak harus seperti ini…&lt;br /&gt;81.NENEK.&lt;br /&gt;Kenapa kamu menyesali takdir?&lt;br /&gt;82.PARTIWI.&lt;br /&gt;Sawah kita luas. Tanah kita subur, akankah digarap oleh generasi yang menyesal. Setiap hari minta ditimang-timang, minta dinana bobokan, minta disuapin, minta dimandikan. Kapan ia lekas dewasa?&lt;br /&gt;83.NENEK.&lt;br /&gt;Anakku, alam tak akan membiarkan dirinya terlunta-lunta. Pada suatu saat mereka berbicara, dan yakinlah ia akan berbicara lebih keras. Alam mengerti akan dirinya. Nenek sudah sering diombang-ambingkanya. Nenek dan Kakek adalah prasasti alam yang  sewaktu-waktu membelamu. Janganlah kelewat menyesal.&lt;br /&gt;84.PARTIWI.&lt;br /&gt;(Menimang-nimang lagi) Cepat besar, Nak. Cepatlah kau bisa berlari. Jaman seperti roket.&lt;br /&gt;85.NENEK dan KAKEK.&lt;br /&gt;(Geleng-geleng kepala, sambil membuka-buka buku besaar)&lt;br /&gt;86.KAKEK.&lt;br /&gt;Kau harus kembali buku besarmu ini, Partiwi.&lt;br /&gt;87.PARTIWI.&lt;br /&gt;Kau harus mencoba kembali buku besarmu ini, Partiwi&lt;br /&gt;88. PARTIWI&lt;br /&gt;Aku sudah berulang kali membaca, tetapi selalu gagal.&lt;br /&gt;89.KAKEK&lt;br /&gt;Tidak, kau tidak gagal. Kau harus ulangi sekali lagi! Kau tidak boleh menyerah.&lt;br /&gt;90.PARTIWI.&lt;br /&gt;Cepat besar, Nak. Lihatlah matahari sudah tinggi. Jangan tidur dipangkuan ibumu. Kini saatnya kau bangkit, mengakat cangkul dan sabit. Jangan sampai tanah ini direbut orang lain. Kau harus menjaganya. Cepatlah besar, nak. Jangan membisu saja. Dengarkan Ibumu….ya…&lt;br /&gt;91.NENEK&lt;br /&gt;Partiwi, air matamu menetes?&lt;br /&gt;92.KAKEK&lt;br /&gt;Kita belum pernah lihatnya sesedih ini.&lt;br /&gt;93.NENEK.&lt;br /&gt;Jangan menangis Partiwi, malu dilihat tetangga.&lt;br /&gt;94.KAKEK&lt;br /&gt;Kita ini keluarga besar. Kau harus bisa menghadapi kesedihan ini. Kemarin-kemarin, kau tidak menangis. Bahkan begitu tabah. Lihatlaha catatan buku harian ini (Membuka buku besar) Tak ada kata tangis disni. Ayo, Partiwi kita harus  mengadapi semua ini.&lt;br /&gt;95.PARTIWI&lt;br /&gt;Apakah Kakek dan Nenek lupa, bahwa kemarin memang tidak ada yang harus ditangisi?&lt;br /&gt;96.KAKEK&lt;br /&gt;Saya tahu.&lt;br /&gt;97.NENEK&lt;br /&gt;Saya pun juga tahu&lt;br /&gt;98.PARTIWI.&lt;br /&gt;Buku besar kita ini tidak pernah mengisi kata hatiku. Dulu aku tidak menangis kerena, yang tertanam dalam perutku adaalah bunga-bunga yang wangi. Disana akau dibuatkan taman begitupun aku. Tetapi sayang….(Pause)&lt;br /&gt;99.KOOR&lt;br /&gt;Tetapi sayang?&lt;br /&gt;100.PARTIWI&lt;br /&gt;(Mengis, sesenggukan)&lt;br /&gt;101.KAKEK&lt;br /&gt;Lho….menangis lagi.&lt;br /&gt;102.NANEK&lt;br /&gt;Tetapi apa, Partiwi?&lt;br /&gt;103.PARTIWI&lt;br /&gt;Itulah yang tidak pernah kita cacat. Kita sudah terlalu dininabobokan oleh taman dan kebun kita. Tetapi kita tak pernah tahu, selama ini perutku telah dibuangi sampah dan bangkai-bangkai tak berguna!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar suara bel berdentang-dentang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;104.KAKEK&lt;br /&gt;Kelihatan ada yang datang? (Menghapiri pintu besar out stage)&lt;br /&gt;105.NENEK&lt;br /&gt;Lembaran baru kita akan tulis, Partiwi!&lt;br /&gt;106.PARTIWI&lt;br /&gt;Sudah beribu kali kita menulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek masuk bersama tuasn jabat. AK-47, M-16, Partiwi, panrimo dan panurut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;107.KAKEK&lt;br /&gt;Mari, silahkan masuk Tuan….&lt;br /&gt;108.TUAN JABAT&lt;br /&gt;Kami menghadap Juru Catat.&lt;br /&gt;109.KAKEK&lt;br /&gt;Denagn senang hati. Kabar apa kiranya yang dibawa, kok kelihatan gembira sekali.&lt;br /&gt;110.TUAN JABAT&lt;br /&gt;Begitulah kiranya. Hari ini kita harus bergembira, menyambut kehadiran generasi baru, hasil produksi dalam negeri. Wah, hasil yang menggaumkan. 60% kandungan lokal selibihnya rekayasa belaka. Oh, maaf bila tampaknya begitu mendadak. Biasa era Teknologi. Kita hasur segera mengejar itu.&lt;br /&gt;111.KAKEK&lt;br /&gt;Tuan Jabat, to the point, saja&lt;br /&gt;112.TUAN JABAT&lt;br /&gt;O…o…o., baik. Tepatnya, meraka adalah generasi baru yang telah kita ciptakan untuk memimpin generasi ini. Dalam buku besarmu, bahwa era baru kita untuk ingat menjadi negara yang disegani. Catat itu! Oya..mari. Lihatlah mereka! (Kakek membatu) Canggih dan bermutu. Ini bukan lagi kerajinan tangan atau dari bim sala bim. Tetapi benar-benar dari kemajuan ilmu pengetahuan kita yang berkembang pesat. Apa kalian tidak bangga. &lt;br /&gt;Catatlah! Biar suatu saat nanti, kita bisa membukanya bersama-sama. Lho, lho… Partiwi kok diam saja toh. Jangan mbesengut begitu. Mbok ya ikut bergembira. Ini hari gembira, tidak sewot begitu! Negara-negara besar saja belum tentu bisa berbuat begini. Ini harus kita sambut dengan lapang dada. Siapa lagi kalau bukan mereka yang membaangun negeri besar ini kalau bukan generasi baru. Bukan begitu, Partiwi?!&lt;br /&gt;113.KAKEK.&lt;br /&gt;Tuan….kiranya, Partiwi masih belum berkenan.&lt;br /&gt;114. TUAN JABAT&lt;br /&gt;Ah…mokal,  impossible. Kemarin-kemarin ia bergembira.  Ah, sudahlah.  O…ya, mereka adalah Panurut,  Panrimo,  Pakerti. Sangat sederhana sekali. Partiwi, aku berbuat ini demi kepentingan kita bersama. Kita harus menyiapkan generasi yang canggih.  Dan itulah mereka.  Partiwi,  tersenyumlah.  Aku ingin melihat kau bahagia.&lt;br /&gt;115.  PARTIWI&lt;br /&gt;Tuan Jabat, indah sekalui kelihatannya.  Seandainya ini bukan mimpi,  aku tidak akan bersedih.&lt;br /&gt;116.  TUAN JABAT&lt;br /&gt;Oh…mimpi ?&lt;br /&gt;117.  PARTIWI&lt;br /&gt;Tuan Jabat,  mimpi yang kemarin hanya menjadi sampah dalam perutku.  Tidakkah kau mengerti itu.  Dan mimpi itu dalam buku besar hanya menjadi lembaran hitam. Lihatlah janin yang terkapar ini , beribu-ribu bahkan berjuta-juta  kau terlantarkan.  Tidak lihatkah engkau.  Buanglah mimpi besarmu itu Tuan Jabat !&lt;br /&gt;118  TUAN JABAT&lt;br /&gt;No… impossible.  Juru Catat !  Adakah itu tertera dalam buku besarmu.&lt;br /&gt;119  KAKEK&lt;br /&gt;(MEMBUKA BUKU BESAR , MENCARI-CARI KEMUDIAN MENGGELENGKAN KEPALA)&lt;br /&gt;120.  TUAN JABAT&lt;br /&gt;Nah.. You now ?  Mana mungkin ini mimpi ?&lt;br /&gt;121.  PARTIWI&lt;br /&gt;Tuan Jabat! Anda boleh tidak percaya.  Silahkan,  itu hak Tuan.  Catat itu Kek. Saya, Partiwi akan undur dari mimpi ini. Saya sudah tak sanggup lagi.  Selamat tinggal.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partiwi out stage. Musik melantun lirih. Tuan jabat dan ketiga generasinya bergeming. Kakek dan Nenek tidak berkata-kata. Lighting temaram biru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;122  KAKEK&lt;br /&gt;Saya tak pernah melihat Partiwi semurka ini.  Pertanda Tuan Jabat.  Ini pertanda.  Tuan Jabat harus menahan diri.&lt;br /&gt;123.  NENEK&lt;br /&gt;Partiwi sudah terlalu lelah.  Tuan Jabat harus paham itu. Sudah terlalu banyakn yang dikorbankan.  Tuan Jabat harus paham.  Dalam buku besar ini ,  kami sudah terlalu sering membuat catatan kesedihan dan kami tidak bisa menutup-nutupi.&lt;br /&gt;124.  TUAN JABAT&lt;br /&gt;Sudalah.  Jangan meracu begitu Juru Catat.  Aku bosan dengan petuah-petuah.  Sekarang aku butuh persetujuanmu,  bukan petuahmu !  (Duduk di kursi goyang)&lt;br /&gt;125.  KAKEK&lt;br /&gt;Kami hanya bisa mencatat Tuan.  Itulah tugas kami.  Kalau Tuan ingin membuat dan melahirkan generasi baru lagi, itu hak Tuan.  Silahkan.  Kami nanti  yang mencatatnya.  Biarlah Partiwi,  nanti kami yang membujuk.  Bukankah Partiwi selalu  menurut jika Tuan memaksa. Kalau semua ini Tuan anggap baik dan benar.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partiwi on stage dengan membawa sekeranjang bayi. Ia menebarkan (menanam bayi-bayi itu) ke tanah dengan penuh takjim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;126. KAKEK&lt;br /&gt;Sebagai pemimpin tidak boleh ragu-ragu.  Dalam kondisi perang komando harus tegas. Tuan Jabat  adalah  orang  nomor  satu  disini,  sebagai pusat komando.  Mengapa harus berunding segala. Toh segala  sesuatu demi kepentingan Tuan.  Beribu bahkan berjuta  manusia disekitar Tuan yang telah Tuan buat sebagai budak-budak tuan,  yang sekarang sudah afkiran,  tidak ada salahnya  tuan mencoba semua itu.  &lt;br /&gt;Tuan harus berani.  Nantri kami yang mencatat.  Partiwi akan mengerti.  Ketika waktu bergerak maka pikiran manusia akan melesat menyusulnya.&lt;br /&gt;127.  NENEK&lt;br /&gt;Tetapi sasmita Partiwi tidak setuju itu harus Tuan Jabat perhatikan.  Itu berarti Partiwi tahu waktu.  Paham akan siklus alam. Mungkin Partiwi hanya hanya ingin proses semacam ini  mbok yao dibatasi.  Perut Partiwi mengembung  hanya oleh bangkai sia-sia.  Sepanjang hari ia  hanya menimang-nimang kekalahannya.  Manusia  memang serakah ,  terkadang  singapun dibuat malu olehnya. &lt;br /&gt;Tetapi Tuan Jabat,  Semuanya berpulang kepada Tuan.  Mungkin,  sasmita Partiwi itu hanya sebagai ujian saja.  Seperti biasanya.  Silahkan Tuan. Kami hanya bisa mencatat.&lt;br /&gt;128.  KOOR  (KAKEK DAN  NENEK)&lt;br /&gt;Silahkan Tuan, kami hanya bisa mencatat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berulang-ulang sampai suara menghilang. Partiwi terus menari. Tubuh bayi berserakan keseluruh ruang. Tirai-tirai turun, seperti pilar-pilar gedung besar. &lt;br /&gt;Suasana Hening. Hanya terdengar dengkur Tuan Jabat yang tampak lelah dan renta.  Tiba-tiba dentang jam berbunyi, entah berapa kali.  Tuan Jabat terperanjat, seperti bangun dari tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;129.  TUAN  JABAT&lt;br /&gt;Pakerti,  Panurut,  Panrimo….!!! &lt;br /&gt;130.  M-16  DAN  AK-47&lt;br /&gt;Siap melaksanakan tugas ! (KOOR)&lt;br /&gt;131.  TUAN  JABAT&lt;br /&gt;Lo,  kemana Pakerti,  Panurut,  dan  Panrimo ? &lt;br /&gt;132.  M-16&lt;br /&gt;Siap !  Tidak tahu yang Tuan maksud.&lt;br /&gt;133.  AK-47&lt;br /&gt;Siap !  Idem.  Tuan !&lt;br /&gt;134.  TUAN  JABAT&lt;br /&gt;Idem,  idem.   Idem bagaimana to kamu itu. Tiga manusia yang kamu kawal tadi lo.  Pakerti,  Panurut  dan  Panrimo ?&lt;br /&gt;135.  KOOR&lt;br /&gt;Siap,  tidak tau Tuan !&lt;br /&gt;136.  TUAN  JABAT&lt;br /&gt;Goblok jadi mereka kamu biarkan liar begitu.  Saya kan sudah bilang jaga mereka semua. Mereka harus terus diawasi.  Kalau tidak…Wah pengawal goblok.  Bisanya hanya tunggu perintah. Apakah kamu tidak bisa berpikir.  Kamu ini manusia.  Bukan kerbau cunguk,  kalau tidak dikeluh tidak bergerak. Mau jadi apa kalian. Perang itu pakai otak bukan otot saja.  Pengawal goblok. Kemana mereka ! ?&lt;br /&gt;137.  RIBAWAN&lt;br /&gt;(DARI  LUAR)  Hallooo. Eny body home ? Oh,  Selamat apa saja Tuan Jabat.  Kiranya Tuan Jabat sudah bangun .  Kebetulan sekali.  Berhari-hari saya menunggu tuan bangun tidur.  Kata Tuan Pakarwan,  Tuan tidak boleh diganggu.  Wah,  begitu sibuknya pejabat,  sampai tidurnya berhari-hari. &lt;br /&gt;138.  TUAN  JABAT&lt;br /&gt;Bicaralah yang lebih sopan.  Katakan apa perlunya?.&lt;br /&gt;139.  RIBAWAN&lt;br /&gt;Okey.  Tanggal pelunasan hutang-hutang sudah waktunya Tuan Jabat.&lt;br /&gt;140.  TUAN  JABAT&lt;br /&gt;Tagihan?  Aku belum dapat hasilnya, dari kerjamu itu.&lt;br /&gt;141.  RIBAWAN&lt;br /&gt;Tapi ini sudah jatuh tempo, Tuan.&lt;br /&gt;142.  TUAN  JABAT&lt;br /&gt;Diroll over dulu saja.&lt;br /&gt;143.  RIBAWAN&lt;br /&gt;Enak saja. Dulu kan Tuan sendiri yang maksa-maksa. Saya kan juga hasil pinjaman. Ini juga sudah jatuh tempo. Enak saja kalau ngomong. Memangnya duit, Emakmu.&lt;br /&gt;144.  TUAN  JABAT&lt;br /&gt;Kamu jangan ngomong begitu. Saya belum punya uang. Kalau memang butuh sekarang, ambilah barang-barangku.&lt;br /&gt;145.  RIBAWAN&lt;br /&gt;Saya butuh uang kontan, Tuan! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ribawan Mencengkeram leher Tuan jabat kemudian melempakan ke kursi goyang. Tuan jabat marah besar. Dengan bahasa isyarat ia mengomando M-16 dan AK-47.  Mereka mengokang senjata dan mengarahkan ke Ribawan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;146.  TUAN  JABAT&lt;br /&gt;Kalau yang kamu maksud uang aku tidak punya. Tetapi kematian yang aku punya. Tunggulah di neraka, nanti aku lunasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberi isyarat tembakan. Suara tembakan beruntuh merubuhkan tubuh Ribawan. Musik berderap-derap. Suara gendering, terompet, dan teriakan orang-orang membahana.Pakarwan masuk dengan tergopoh-gopoh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;147.  PAKARWAN&lt;br /&gt;Gawat tuan! Gawat! Pengendali pusat telah dikuasai massa. Mereka mengobrak-abrik sistem pengendali. Mereka begitu buas. Kami Kualahan. Mereka seperti banteng ketaton sistem pengendali sudah tidak berfungsi lagi. Gawat tuan!.&lt;br /&gt;148.  TUAN  JABAT&lt;br /&gt;(Melirik dua pengawal) Selesaikan dengan caramu sendiri. Laksanakan !&lt;br /&gt;149.  KOOR&lt;br /&gt;Siap melaksanakan tugas ! (Out Stage).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang besar terjadi. Orang-orang mengamuk, membakar, membunuh, menjarah apa saja. Tak ada yang bisa mencegah. Suara rentetan tembakan terdengar dimana-mana. Satu persatu orang-orang yang beringas berjatuhan. Sepi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;150.  M-16 dan AK-47&lt;br /&gt;(On stage) Siap. Tugas tugas telah dilaksanakan1&lt;br /&gt;151.  TUAN  JABAT&lt;br /&gt;Good! Sekarang, kau harus bekerja keras lagi Pakarwan. Jangan mengecewakan aku. Buatkan yang lebih canggih. Aku ingin yang lebih Panurut, yang lebih Panrimo, juga yang lebih Pakerti. Kita harus mempersiapkan yang lebih matang. Kau harus mengerti Pakarwan dan Pengawal, hanya engkau yang aku percaya. Maka laksanakan tugas ini sebaik-baiknya. Kamu mengerti Pakarwan ?&lt;br /&gt;152.  PAKARWAN&lt;br /&gt;Berpuluh-puluh tahun yang lalu kita bersepakat, berjalan bersama-sama demi masa depan kita bersama. Tetapi jalan kita selalu berseberangan. Saya telah merasa mengkhianati kesepakatan itu.Orde-orde yang kita bangun selalu kandas di tengah jalan. Berpuluh-puluh tahun yang lalu, kita bersepakat. Tetapi sekarang, tidak!?&lt;br /&gt;153.  TUAN  JABAT&lt;br /&gt;Artinya, kau menolak? (Pause) Okey. Kalau itu pilihanmu, silahkan!&lt;br /&gt;154.  PAKARWAN&lt;br /&gt;Saya sudah terlalu tua untuk berpikir.&lt;br /&gt;155.  TUAN  JABAT&lt;br /&gt;Tugas pemikir adalah berpikir. Bukan begitu, Pakarwan ?&lt;br /&gt;156.  PAKARWAN&lt;br /&gt;Benar.  Tetapi saya ingin memikirkan kehidupan saya.&lt;br /&gt;157.  TUAN  JABAT&lt;br /&gt;Lho, Selama ini kamu berpikir untuk siapa ?&lt;br /&gt;158.  PAKARWAN&lt;br /&gt;Saya telah mencurahkan tenaga dan pikiran saya untuk semua yang ada di sini.&lt;br /&gt;159.  TUAN  JABAT&lt;br /&gt;Jangan mbulet, Pakarwan.&lt;br /&gt;160.  PAKARWAN&lt;br /&gt;Ya, saya ingin istirahat&lt;br /&gt;161.  TUAN  JABAT&lt;br /&gt;Jelasnya kamu sudah tidak mau lagi bekerja sama dengan aku. Okey, kalau itu maumu. Silahkan tuan Pakarwan yang aku hormati. Aku mengucapkan terimakasih atas jasa-jasamu selama ini. Maafkan jika aku banyak kesalahan. Sekali lagi aku ucapkan terimakasih, semoga kau bisa menikmati hari tuamu. Selamat tinggal, sampai bertemu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakarwan out stage.  Tuan Jabat memberi isyarat kepada dua pengawal. Dua pengawal membuntut Pakarwan. Tuan Jabat menyeka peluhnya dan menyalakan rokoknya. Tiba-tiba terdengar suara tembakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;162.  KOOR&lt;br /&gt;Siap. Tugas telah dilaksanakan ! (Out stage)&lt;br /&gt;163.  TUAN  JABAT&lt;br /&gt;Habis sudah. Aku harus memulainya dari nol lagi. Kalau hadirin sekalian ingin mendaftar jadi karyawan saya silahkan tulis lamaran. Alamatnya, terserah anda alamatkan kemana saja. Kemanapun ingin mengabdi kepada tanah airnya. Rela berkorban untuk tanah airnya. &lt;br /&gt;Aku butuh orang-orang yang bener-bener ingin mengabdi kepada tanah airnya.Rela berkorban untuk tanah airnya. Aku butuh orang-orang, bukan para pengkhianat. Silahkan kalau ada hadirin yang berminat, tulislah lamaran. Daripada Ijazah sarjana tuan-tuan tidak berguna dan habis dimakan ngengat. &lt;br /&gt;Ini kesempatan emas. Ada yang ingin yang melamar.  Anda mungkin (Menunjuk salah seorang penonton) O, Tidak. Hanya lulusan SD katanya. Ya sana pergi jadi buruh-buruh, di negeri orang. Tetapi ingat, kirimlah uang keluargamu yang di sini, jangan mayat. &lt;br /&gt;Oh tuan yang dipojok sana mungkin. Lulusan apa? Sarjana pendidikan. Well, Anda bisa mengajar? Tidak!  Terus bagaimana dengan ijazah Anda ? Digadaikan !? Masya’Allah.&lt;br /&gt;Ayo-ayo siapa yang ingin melamar pekerjaan menjadi pegawaiku. Lowongan! Lowongan!. Lowongan! Lowongan! Lowongan! Lowongan! Tidak berijazah tidak apa-apa. Lowongan! Lowongan! Siapa mau lowongan. Lowongan, lowongan!. (Seperti bernyanyi) Lowongan tuan lowongan. Aku butuh orang bukan pengkhianat. Lowongan. Anda mungkin (Kepada penonton. Tak ada jawaban. Out stage) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stage remang-remang. Partiwi memunguti boneka-boneka plastik dan memasukannya ke dalam keranjang. Kakek dan Nenek terseok-seok membawa buku besar. Kemudian ia membuka lembaran buku besar itu dan menulis sesuatu. Kakek menulis dengan penuh perasaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;164.  KAKEK&lt;br /&gt;Kesaksian: Hari ini, hari yang ke 10590, kami menulis kesaksian di atas lembar hidup dengan tinta kejujuran. Bumi dan langit adalah saksinya. Waktu adalah hakimnya. Halaman tiga puluh lembar terakhir dari kehidupan Tuan Jabat: Tercatat, mimpi-mimpinya telah berakhir, tetapi kerakusan masih mengejarnya. Dihari terakhirnya ia lari dari kursi goyangnya, yang selama ini untuk memuja mimipi-mimpinya. Ia lari meninggalkan kekalahan yang menyedihkan. Ia terus berlari mengejar mimpinya. &lt;br /&gt;Bila hadirin sekalian bertemu, terimalah dengan wajar. Jangan lupa sedikit menyanjungnya, maka ia akan bergembira seperti anak kecil. Hari ini Tuan Jabat telah mencari dirinya yang dulu, hilang entah kemana. Dan hari ini kerajaan mimpinya, hanya tinggal lembaran hitam, yang perlu Anda ketahui. Di sana tercatat prasasti besar : Kekuasaan Bukan Dunia Imajinasi dan Bukan Dunia Rekayasa. Sekian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partiwi menyanyi lagu buaian. Lighting perlahan meredup. Suara lonceng, entah berapa kali. Lihting black out. Penonton tepuk tangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya, 1994&lt;br /&gt;R Giryadi&lt;br /&gt;(Sutradara teater)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB : &lt;br /&gt;1. Naskah ini, kali pertama ditulis tahun 1994 dan dikembangkan terus sampai tahun 1998. Diketik ulang dengan sedikit perubahan tahun 2004. Sampai sekarang naskah ini belum pernah dipentaskan.&lt;br /&gt;2. Jika ada yang berminat mementaskan, silahkan mementaskan tanpa dipungut royalty (Asal untuk kepentingan teater, bukan komersial).&lt;br /&gt;3. Naskah ini bisa dikembangan dengan berbagai pendekatan.&lt;br /&gt;4. Bahkan naskah ini memungkinkan dikembangkan dialog-dialognya.&lt;br /&gt;5. bagi kelompok yang mementaskan hanya diwajibkan memberitahukan hasilnya dengan mengirimkan, data apapun (catalog, berita, resume, foto) kepada penulis.&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5346587717956970287-5710661453527411669?l=teaterapakah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teaterapakah.blogspot.com/feeds/5710661453527411669/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5346587717956970287&amp;postID=5710661453527411669' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/5710661453527411669'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/5710661453527411669'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teaterapakah.blogspot.com/2008/01/orde-mimpi.html' title='ORDE MIMPI'/><author><name>teaterapakah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14504659433822587521</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R4KW9fwvaJI/AAAAAAAAAAM/4MNOEFdRZSc/S220/giryadi+oke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R6-QxKy25tI/AAAAAAAAADI/dmQ4XU-VN9I/s72-c/blog-monolog+peperangan+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5346587717956970287.post-3389820644895048170</id><published>2008-01-08T20:00:00.000-08:00</published><updated>2008-01-15T13:40:08.227-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kritik teater'/><title type='text'>Kabuki Terbukti (Kisah Cinta yang Akrobatik)</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R40n8_wvaQI/AAAAAAAAABI/y1j37z6iKRQ/s1600-h/kabuki+oke+(9).jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R40n8_wvaQI/AAAAAAAAABI/y1j37z6iKRQ/s320/kabuki+oke+(9).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5155821077270587650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : R Giryadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh hanyalah yang terbaik dari objek yang dimiliki,dimanipulasi, dipakai secara fisik.-Jean P. Baudrillard.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adagium Freudian yang menyatakan bahwa “wanita menginginkan cinta, laki-laki menginginkan seks” agaknya sudah tidak berlaku lagi dalam masyarakat modern. Tubuh, mengalami suatu fase revolusioner dalam masyarakat modern jika dibandingkan periode sebelumnya. Berjalan seiring dengan ledakan seksual, tubuh mengalami transformasi makna sekaligus penampakan.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Selama ini pengekangan terhadap tubuh yang dilakukan oleh konstruksi budaya dan agama tertentu cukup efektif menutup celah pengumbaran tubuh. Tetapi, di sisi lain beberapa identitas budaya tertentu memiliki konstruksi makna yang bertolakbelakang dengan identitas budaya lainnya. Secara khusus, tubuh wanita mendapat apresiasi yang berlebih jika dibandingkan dengan pria. Ada apa dengan tubuh wanita?&lt;br /&gt;Polemik tentang tubuh sulit dirangkai dan dipertemukan dalam belantara ideologi. Antara ideologi yang mengagungkan spiritualitas (platonis) dan ideologi yang mengagungkan tubuh (Freudian). Ada perbedaan cukup tajam di antara keduanya. Ideologi spiritualis cukup gencar melancarkan kritik terhadap ideologi tubuh yang sangat esploitatif memanfaatkan wanita untuk kepentingan pasar. Tetapi di sisi lain, wanita bisa saja memandang pembebasan tubuh dan seksualitasnya tidak bersifat eksploitatif, tetapi upaya menunjukkan sikap emansipasi dan perlawanan wanita.&lt;br /&gt;Kini semuanya tergantung dalam arena pertarungan diskursus. Kemenangan suatu diskursus tidak serta merta disebabkan oleh penilaian benar salah oleh subjek penilai, tetapi tergantung kemampuan setiap bentuk diskursus melakukan negosiasi dengan subjek. Fenomena  inilah yang ditawarkan dalam pertunjukan Kabuki Terbukti, Maka Tuhan Menciptakan Perempuan oleh Kelompok Teater Respectlines dari Bandung di gedung Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur (TBJT), 23 Desember 2006 lalu.&lt;br /&gt;Namun sebenarnya apa yang diungkapkan oleh sutradara bukan hanya pertanyaan tetapi juga pernyataan. Dalam ungkapan sutradara, kehadiran perempuan tidak saja sebagai obyek, tetapi subjek yang melengkapi eksisntensi laki-laki. Karena itu kehadiran perempuan dalam dunia laki-laki tidak melulu sebagai patner (seks) tetapi sebagai bagian dari eksistensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara Freudian dan Platonis&lt;br /&gt;Kabuki Terbukti, Maka Tuhan Menciptakan Perempuan, yang ditulis Yukino Ayuku yang juga bertindak sebagai sutradara merupakan, kisah yang menggambarkan cinta, kesakitan, penghianatan, perebutan, amarah, benci, tertekan, perselisihan, pertentangan, penyiksaan, dan segala bentuk kekerasan yang masih terjadi dalam kehidupan, mulai wilayah yang kecil (dalam kehidupan sehari-hari/rumah tangga) sampai dengan wilayah yang besar… (Katalog pertunjukan).&lt;br /&gt;Drama ini bermula dari kehidupan dua insan yang penuh dengan cinta kasih. Tiba-tiba datang perempuan penggoda. Dengan segala cara, ia berusaha merebut perhatian si laki-laki. Laki-laki itu pun jatuh ke pelukan perempuan penggoda dan mencampakkan kekasihnya. Dalam kesakitan, kesal, dan benci, perempuan yang dicampakkan kekasihnya itu mencoba bangkit. Segala pergumulan dengan batin dan orang-orang yang ia temui dilewatinya dengan tegar.&lt;br /&gt;Dalam hal ini Ayuku seperti ingin memperlihatkan (mempertentangkan) antara cinta freudian (birahi) dan cinta platonis (idea). Antara yang ‘palsu’ dan yang sejati. Dalam konflik ini, tampaknya Ayuku lebih memilih laki-laki tetap sebagai subyek yang dominan. Dengan kekuatan (kekuasaannya) laki-laki memilih pada cinta pertamanya (idea). Sementara perempuan penggoda (birahi) harus mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.&lt;br /&gt;Tidak jelas benar konflik yang terjadi, mengapa pada akhirnya sang laki-laki kembali pada cinta pertamanya. Apakah ini gejala eros? Alias cinta yang penuh nafsu, kecemburuan, dan otoritas kaum laki-laki. Apakah ini sudah kodrat laki-laki atau lemahnya posisi perempuan? Tidak jelas betul alasan laki-laki itu memilih cinta pertamanya dan mengorbankan cinta perempuan penggoda hingga mengakhiri hidupnya.&lt;br /&gt;Dalam cinta platonis, cinta, tidak terbatas pada persoalan seksualitas belaka. Cinta platonis lebih menghidupkan kodrat manusia sebagai makluk sosial yang saling berinteraksi dan saling membutuhkan tanpa memandang status kelamin. Karena itu, cinta platonis tidak memihak pada eros atau birahi. Kalau perempuan, seperti diidealkan Ayu, bagian dari subyek yang melengkapi laki-laki, ini merupakan perwujudan dari konsep platonisnya.&lt;br /&gt;Namun dalam hal ini kehadiran perempuan, oleh Ayuku masih dilihat dari sisi perbedaan seksual yang merujuk pada kondisi biologis dan anatomi ragawi, namun tidak menukik pada pemahaman konstruksi sosial yang terus berproses. Pemberontakan dan sikap oposan kaum perempuan untuk lepas dari jeratan dominasi kekuasaan patriarki, sebagaimana ditiupkan oleh kaum feminisme kurang dinyatakan secara eksplisit. Dalam hal ini Ayuku justru seperti mengamini dominasi patriaki itu, dengan menyingkirkan sikap platonisnya.&lt;br /&gt;Dengan demikian sikap freudianlah yang sangat menonjol dalam pertunjukan ini. Karena itu, bunuh diri yang dipertontonkan oleh perempuan penggoda menjadi tidak tragic, melainkan malah mencerminkan sikap konyol. Bunuh diri itu tidak dalam rangka pembelaan atas sikap kritisnya terhadap cinta, tetapi justru bagian dari sikap tidak berdayaanya menghadapi cinta itu sendiri.&lt;br /&gt;Dalam hal ini, Ayuku lebih condong melihat persoalan cinta dari sudut pandang Freudian. Dikotomi struktur anatomi tubuh merupakan takdir yang menempatkan posisi maskulin lebih kuat dan aktif ketimbang feminin yang lemah dan pasif. Makna emansipasi sebagai wujud kesetaraan sosial, yang ingin lepas dari jebakan format pikiran yang memandang tubuh perempuan dikaitkan secara kultural dengan sistem selera dan representasi patriarki, terabaikan. Bahkan tak mampu diberontaknya.&lt;br /&gt;Tampaknya Ayuku masih kebingungan menempatkan jiwa keperempuannannya. Pemberontakan yang ewuh pekewuh itu menjadi ciri khas sikap perempuan timur terlihat jelas. Sebenarnya, sebagai pilihan sikap feminismenya, Ayuku bisa menyelesaikan kisah itu, menjadi kisah cinta yang kompromis. Yang memaklumi adanya perbedaan dan tidak memaksakan diri untuk merobohkan garis demarkasi kedua wacana itu. Atau mengakhiri dengan harapan mendapat cinta sejatinya, tanpa penyatuan fisik, tetapi lebih pada rohani. Atau, membiarkan cinta bersenyawa dengan keabadian dan tidak mudah bertekuk lutut oleh waktu. Pecinta platonis mempunyai sikap kebertahanan yang luar biasa pada kesunyian dan pada kesendirian. Inikah sikap orang timur (Jawa)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabuki Tak Terbukti&lt;br /&gt;Kebingungan Ayuku itu menjadi lengkap ketika Ayuku dan beberapa pemainnya tidak mampu membahasakan teks verbal (konsep) menjadi bahasa tubuh, maupun dalam pertunjukan kabuki yang penuh dengan ketrampilan teknik yang mengagumkan. Tampaknya, kabuki yang dimaksud Ayuku hanya merujuk pada pemain yang didominasi laki-laki. Dari sana, Ayuku mencoba menganalogikan antara laki-laki dan perempuan punya peran yang sama. Hal itu –menurut Ayuku- tergambarkan dalam kesenian kabuki, seorang aktor laki-laki bisa memerankan perempuan.&lt;br /&gt;Karena itu, pertunjukan itu tidak mencerminkan pertunjukan kabuki yang sebenarnya. Dalam pertunjukan itu, tak ada orang yang berpakaian yang tidak umum dan tarian yang kelihatan aneh. Minim trik panggung (kérén) seperti yang terjadi di kabuki yang syarat dengan ketrampilan trik panggungnya. Tak ada suasana takjub. Tak ada kejutan, sehingga penonton ‘merasa’ dalam dunia ‘ajaib.’ Tidak. Dalam pertunjukan itu, kabuki tak terbukti.&lt;br /&gt;Meski demikian, gerakan pemain laki-laki yang akrobatik, merupakan penawaran tersendiri. Namun, tawaran ini pun masih sebatas garak akrobatik yang disusun sedemikian rupa, tanpa menimbulkan pesan apa-apa. Hal ini terlihat unsure-unsur gerak yang banyak diulang-ulang, sehingga gerak itu sendiri tidak timbul berdasarkan struktur dramaticnya.&lt;br /&gt;Gerak ketika mengekspresikan kesenangan, bahagia, keceriaan, dan percintaan hampir memiliki bobot yang sama dengan gerak-gerak ketika drama mencapai konflik. Dalam hal ini gerak tidak mengikuti struktur dramatiknya, sehingga efek yang ditimbulkan dari gerak itu adalah, suasana yang mekanik, tidak sublime, dan terkesan monoton.&lt;br /&gt;Untuk mengembalikan makna yang lebih utuh, tampaknya Ayuku perlu mengembalikan pada konsep dasarnya, tentang pertentangan tema cinta itu sendiri, dan konsep kabuki sebagai spirit pertunjukan sekaligus pusat eksplorasi gerak tubuh. Dengan demikian, kita berharap tubuh tidak lagi sebagai pusat orientasi fisik –akrobatik- belaka sebagai mana seperti diungkapkan Jean P. Baudrillard di atas, tetapi tubuh sebagai pusat orientasi makna (idea).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R Giryadi&lt;br /&gt;Pekerja teater, pemerhati seni pertunjukan, tinggal di Sidoarjo-Jawa Timur &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5346587717956970287-3389820644895048170?l=teaterapakah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teaterapakah.blogspot.com/feeds/3389820644895048170/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5346587717956970287&amp;postID=3389820644895048170' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/3389820644895048170'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/3389820644895048170'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teaterapakah.blogspot.com/2008/01/kabuki-terbukti-kisah-cinta-yang.html' title='Kabuki Terbukti (Kisah Cinta yang Akrobatik)'/><author><name>teaterapakah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14504659433822587521</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R4KW9fwvaJI/AAAAAAAAAAM/4MNOEFdRZSc/S220/giryadi+oke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R40n8_wvaQI/AAAAAAAAABI/y1j37z6iKRQ/s72-c/kabuki+oke+(9).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5346587717956970287.post-1764549990754292626</id><published>2008-01-07T13:23:00.000-08:00</published><updated>2008-01-10T21:26:08.107-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku'/><title type='text'>Tubuh yang Berkata-kata</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R4KbOPwvaLI/AAAAAAAAAAY/LVEJNq6ylpo/s1600-h/koper_artaud_ok_1[1].jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5152851592716708018" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R4KbOPwvaLI/AAAAAAAAAAY/LVEJNq6ylpo/s320/koper_artaud_ok_1%5B1%5D.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Rakhmat Giryadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku&lt;br /&gt;Antonin Artaud Ledakan dan Bom&lt;br /&gt;Judul Asli&lt;br /&gt;Blows and Bombs&lt;br /&gt;Penulis&lt;br /&gt;Stephen Barber&lt;br /&gt;Penerjemah&lt;br /&gt;Max Arifin&lt;br /&gt;Penerbit&lt;br /&gt;Dewan Kesenian Jakarta&lt;br /&gt;Tahun Terbit I&lt;br /&gt;Agustus 2006&lt;br /&gt;Tebal&lt;br /&gt;200 + xxiv halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antonin Artaud lahir dengan nama Antoine Marie Joseph Artaud, pada 4 September 1896, di dekakat kebun binatang Marseilles, Perancis. Artaud sendiri dalam berbagai kesempatan sering mengganti dan merusak namanya. Ia pernah mengganti namanya menjadi Eno Dailor untuk beberapa naskah awal Surrealisnya. Bahkan dalam satu periode ia mengumumkan ‘My name must disappear’ (namaku harus lenyap). Bahkan ia tak bernama sama sekali awal penahanannya di azilum. Usai pembebasannya di azilum ia memakai nama samaran ‘le Momo’ (bahasa slang Marseilles yang berarti si idiot, bodoh, atau ndeso).&lt;br /&gt;Kehidupan Artaud merupakan tragedy besar, kegagalan dahsat datang silih berganti, dan tekanan demi tekanan. Tetapi ia memiliki semacam kekuatan magis dan kemapuan monumental untuk bangkit aktif dan merekontruksi kembali kegelisahannya. Karya Surrealisnya pada tahun 1920-an mencoba bereksperimen tentang kesadaran lewat atau melalui karya sinematik dan puitik. Setelah projek-projek Surrealismenya berantakan pekerjaannya terlibat dalam ruang teatrikal.&lt;br /&gt;Bahasa yang dipaki Artaud dalam tulisa-tulisannya bercampur aduk bagai terikan atau jeritan-jeritan yang menuju ke kecabulan yang ekstrim dan murni. Menulis bagi Artaud adalah suatu penumpahan atau pengeluaran semua substansi yang berisfat fisikal, baik yang berdampak liar maupun yang bersifat interogratif. Tulisannya merupakan luapan ekspresi yang kasar dan berterus terang dari reflek-reflek yang bersifat indrawi, menentang control social.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Buku Blows and Bombs karya Stephen Barber ( Faber and Faber Limited London 1994) yang diterjemahkan oleh oleh Max Arifin menjadi Ledakan dan Bom (DKJ Agustus 2006 ) ini banyak mengisahkan proses perjalanan Antonin Artaud. Buku ini membeberkan kisah Artaud mulai dari gerakannya di seni sastra Surrealisnya sampai pada konsepsi teater kejamnya (The Theatre of Cruelty).&lt;br /&gt;Artaud dikenal sebagai seorang penulis yang karya-karyanya sangat provokatif dan mendatangkan banyak malapetaka. Gerakannya yang provokatif dan bahkan ekstrim itu membuatnya ditolak dalam lingkungannya sendiri terutama oleh teman-temannya sendiri para Surrealis, di Paris. Penolakannya itu bahkan justru membuahkan hasil yang sangat produktif setelah ia juga mengalami serententan perjalanan dan perawatannya di rumah sakit jiwa.&lt;br /&gt;Karya-karyanya menggali isu-isu tentang kebebasan, pengurungan, dan kreatifitas, dengan menghasilkan imaji-imaji yang begitu krusial tentang penyadaran bahasa dan kehidupan. Dalam jejak-jejak karyanya, kita akan menemukan serpihan-serpihan kemauan yang keras kepala dan garang.&lt;br /&gt;Ia meninggalkan Prancis –ia mengembara ke Mexico dan Irlandia- setelah mengalami kegagalan besar dalam meluncurkan mimpinya tentang Theatre of Cruelty, suatu proyek artistic yang didesain untuk menumbangkan kebudayaan dan membakarnya untuk dikembalikan pada kehidupan ini, sebagai suatu laku yang langsung menentang masyarakat.&lt;br /&gt;Theatre of Cruelty, menawarkan tiga konsepsi dasar teater, tari, rupa, dan film. Theatre of Cruelty merupakan pertemuan dari setumpuk kegelisahan dan penderitaannya dengan pertunjukan teater tari Bali tahun 1931. Bagi Artaud teater Bali berisi semua unsur yang telah ia masukan pada Alfred Jarry Theatre, sebagai satu strategi perlawanan terhadap tekstual yang begitu berkuasa dan teater psikologikal Eropa. Titik pusat utamanya adalah gesture dan tekstual merupakan suatu yang berbeda di bahwahnya; teaternya memiliki disiplin dan magis.&lt;br /&gt;Peristiwa kedua yang memberikan inspirasi dan memberikan kontribusi pada theatre of cruelty terjadi pada bulan September 1931, ketika Artaud menyaksikan lukisan Leyden dari abad 15 berjudul The Daughters of Lot di museum Louvre. Artaud merasakan adanya kesamaan antara lukisan itu -yang menggambarkan bencana dan seksualitas- dengan teater Bali. Artaud mempergunakan arsitektur keruangan yang menyimpang dari lukisan tersebut dan perhatiannya terhadap incest dan bencana sebagai pusat perhatiaannya dalam bentuk dan material yang ia inginkan dalam teater barunya.&lt;br /&gt;Artaud memandang lukisan tersebut sebagai hasil dari arah kreatif yang diuraikan secara indah, seperti layaknya penguasaan atas suatu tontonan yang teatrikal yang digubah, disusun di atas pentas, diwujudkan di atas pentas, tanpa dialog atau teks. Artaud juga melihat lukisan itu sebagai suatu paduan, assembling dan penyampaian eksplosi-eksplosi (ledakan-ledakan) suara untuk memperjelas pengaruh visualnya (its visual impact).&lt;br /&gt;Artaud juga memasukan tanggapannya terhadap film Marx Brothers yang berjudul Monkey Business dalam teks ‘Direction an Methaphysics.’ Dari film itu Artaud menambahan pemahaman tentang humor yang sebenarnya dan tentang kekuatan yang bersifat fisikal dan dissosiasi yang anarkis dalam gelak tawa. Film itu menurut Artaud memiliki pembebasan yang lengkap dan perobekan (penghancuran) terhadap realitas. Peristyiwa itu menurut Artaud memiliki potensi untuk menimbulkan ledakan yang merusak. Artaud memandang dengan kagum terhadap kekuatan gelak tawa (the power of laughter) yang bisa menimbulkan transformasi secara tiba-tiba. Ia menekankan kualitas pemberontak yang terdapat pada ledakan, keributan, dan gerakan (movement) dalam film-film Marx Brothers.&lt;br /&gt;Respon Artaud terhadap film tersebut memang menambahkan suatu unsur pembertontakan yang vital terhadap kemunculan kegelisahan-kegelisahan teatrikal. Dan keberhasilan dari semua itu terletak pada apa yang disebut kegembiraan yang meluap-luap, yang visual dan nyaring (merdu secara serempak).&lt;br /&gt;Theatre of Cruelty melalui perjalanan yang sangat panjang. Selama 30 tahun, teater ini dianggap mustahil untuk diwujudkan. Bahkan teatrawan Polandia Jerzy Grotowski menganggapnya, tanpa memahami konsepsi Artaud secara baik dan benar, hanya akan menurunkan derajat teaternya dan tidak punya arti apa-apa selain hanya gaya (action) belaka. Dan memang, selama itu pula Artaud (sendiri) menemui kegagalan demi kegagalan, sampai menjelang akhir hayatnya (4 Maret 1948) sebagai seniman yang keras kepala dan miskin.&lt;br /&gt;Periode akhir kemunculan Artaud merupakan intensifikasi sekaligus kristalisasi terhadap karya-karya sebelumnya. Karya-karya terakhirnya memiliki kejelasan yang final, yaitu terkontrol dan liar atau brutal. Inilah projek teater kejamnya ( Theatre of Cruelty) Artaud. Gema atau gaung pengaruh Artaud terhadap seni inovatif dan eksperimental berkembang ke berbagai arah dan luas. Pengaruh itu membentang dari seni visual sampai ke seni vocal dan yang bersifat teoritik.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Hadirnya buku Artaud ini menambah perbendaharaan buku-buku terjemahan yang membahas tentang konsepsi-konsepsi besar teater dunia yang selama ini terasa amat kurang, meski Max Arifin sendiri telah menerbitkan (menerjemahkan) karya-karya Bertolh Breach, Konstantin Stanislavsky, dan Jerzy Grotowsky. Seandainya buku Artaud ini terbit akhir tahun 1980-an, maka akan menemukan konteksnya dengan perkembangan teater kontemporer di Indonesia.&lt;br /&gt;Seperti kita ketahui konsep Artaud telah menjadi pemicu dalam pertunjukan-pertunjukan teater di Indonesia menjelang akhir tahun 1980-an. Teatrawan yang biasa disebut memiliki kegelisahan sama dengan Artaud adalah Budi S Otong dengan teater SAE, kemudian juga teater Kubur, Dindon WS. Pada pertengahan tahun 1990-an teater ini ‘mewabah’ sampai Jawa Timur, Bali, dan Makasar. Tetapi meski begitu buku ini tetap menarik disimak sebagai bahan telaah teoritik maupun kesejarahan, bagi para peminat teater. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R. Giryadi, Pekerja teater tinggal di Sidoarjo&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5346587717956970287-1764549990754292626?l=teaterapakah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teaterapakah.blogspot.com/feeds/1764549990754292626/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5346587717956970287&amp;postID=1764549990754292626' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/1764549990754292626'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/1764549990754292626'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teaterapakah.blogspot.com/2008/01/tubuh-yang-berkata-kata.html' title='Tubuh yang Berkata-kata'/><author><name>teaterapakah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14504659433822587521</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R4KW9fwvaJI/AAAAAAAAAAM/4MNOEFdRZSc/S220/giryadi+oke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R4KbOPwvaLI/AAAAAAAAAAY/LVEJNq6ylpo/s72-c/koper_artaud_ok_1%5B1%5D.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5346587717956970287.post-1179074278216231380</id><published>2008-01-02T20:44:00.000-08:00</published><updated>2008-01-15T13:46:07.090-08:00</updated><title type='text'>Masa Depan Teater Jawa Timur</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R40pHvwvaRI/AAAAAAAAABQ/ZX_sYf-Dq-Y/s1600-h/gir+wartawan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R40pHvwvaRI/AAAAAAAAABQ/ZX_sYf-Dq-Y/s320/gir+wartawan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5155822361465809170" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Rakhmat Giryadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara problematik teater di Jawa Timur atau bahkan di Indonesia, kalau mau kita sederhanakan, sejak jaman Usmar Ismail dengan Sandirwara Mayanya, adalah hampir memiliki kesemaan. Sejak jaman Usmar Ismail sampai generasi teater Indonesia terkini teater masih bernasib sama, diperjuangkan sampai tetes darah terakhir.&lt;br /&gt;Cerita tentang jual-menjual harta benda untuk sebuah pementasan terjadi sejak jaman itu, hingga sekarang. Ekonomi dan infrastruktur yang minim juga masih berlangsung hingga saat ini. Teater dijauhi penonton juga terjadi turun temurun. Teater termarjinalkan juga seperti kutukan, hinggap dalam tubuh teater hingga saat ini pula.&lt;br /&gt;Memang berbicara teater selalu menyulut kemarahan, kesedihan, dan keputusasaan. Tetapi di balik kemuraman itu juga tersimpan harapan dan impian yang coba terus disusun meski kemudian runtuh lagi, persis seperti Sisipus. Teater masih tumbuh pada wilayah-wilayah lokal yang sempit di antara para individu yang saling kenal, meski kalau diibaratkan patah tumbuh hilang berganti.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Selama rentang 365 hari ini, apa yangg terjadi dengan teater di Jawa Timur? Kalau kita jujur, selama setahun ini tidak ada yang patut kita catat, meski ada letupan-letupan kecil, tapi itu hanya peristiwa yang muncul sesaat dalam lingkaran area kecil.&lt;br /&gt;Letupan-letupan kecil itu seperti, beberapa performing art Ilham J Badai di berbagai forum, Pesta Pencuri garapan Zaenuri dari Bengkel Muda Surabaya, Percakapan Dari Dalam Kulkas sanggar Lentera STKIP Sumenep, Nyai Ontosoroh teater Institut Unesa, Satu Malam 3 Cerita Teater Nol Surabaya, Monumen-Monumen komunitas Jadul Surabaya, dan beberapa letupan lainnya. Namun letupan itu hanya berlalu begitu saja, kemudian sunyi.&lt;br /&gt;Selebihnya kita kemudian berganti menyaksikan segala peristiwa keseharian yang ternyata lebih mengoyak kesadaran dan emosi kita. Kisah tentang lumpur Lapindo, pabrik narkotika, bencana alam, kriminalitas, korupsi, carut marut politik, lebih memiliki kekuatan dramaturgi dengan adegan-adegan yang lebih teatrikal.&lt;br /&gt;Disaat seperti itu, teater (kita) hanya mampu berdiri di pojok panggung besar kehidupan ini sembari merasa sedih karena hampir potensi dalam dirinya ‘dimanfaatkan’ pihak lain. Lahan teater semakin menyempit, karena telah kehilangan momentum. Teater menjadi gagap menilai tanda bahkan gagap mengidentifikasi dirinya. Akibatnya ia merasa menjadi makluk yang terasing dalam pranata sosial dan budaya. Padahal sejak jaman bahula, teater hidup dalam pranata itu.&lt;br /&gt;Karena itu (mungkin benar) tengara Radhar Paca Dahana bahwa dalam dekade terakhir teater mengalami stagnasi. Artinya, selama dekade terakhir ini pekerja teater tidak mampu memperlihatkan diri sebagai entitas yang kukuh. Sebenarnya, seratus tahun perjalanan teater (modern) adalah modal sejarah dan modal budaya yang pantas dimanfaatkan untuk menempatkan teater dalam posisi kultural yang lebih baik&lt;br /&gt;Tanpa menafikan beberapa pencapaian sporadis, dalam dekade belakangan ini, pada umumnya teater maupun teaterawan, terasa inferior ketika berhadapan dengan lembaga-lembaga lain di luar dirinya. Teater menjadi lembaga yang klepto. Teater perlu seni rupa. Teater perlu tari. Teater perlu film. Teater perlu musik. Teater perlu pencanggihan estetika pertunjukan yang sekaligus merayakan pembunuhan aktor-aktornya.&lt;br /&gt;Teater menjadi semacam subordinasi. Padahal sejak jaman bahula, teater merupakan entitas budaya yang melebur dalam kehidupan masyarakat. Karenanya teater tidak saja sebuah pertunjukan, tetapi bagian dari ritual, bahkan baian dari pandangan hidup tersendiri. Namun di tengah kebudayaan modern (baca : barat), teater menjadi subordinasi kebudayaan, bahkan semakin menyempit menjadi subordinasi seni.&lt;br /&gt;Padahal seperti diungkapkan Jakob Sumardjo bahwa teater Indonesia telah ada ribuan tahun yang lalu. Dengan berbagai upacara yang menjadi ikon masyarakat, secara tidak langsung, teater telah menjadi bagian dari proses kehidupan masyarakat kita. Upacara-upacara yang digelar masyarakat kita, percakapan-percakapan soal hidup, soal cinta, telah masuk menjadi bagian dari ritus teater kita.&lt;br /&gt;Memahami problim saat ini sebenarnya kita tengah membaca masa depan teater kita. Nasib teater di Jawa  Timur ke depan, tergantung dari cara kita mengolah persoalan yang terjadi saat ini.&lt;br /&gt;Letupan-letupan kecil yang terjadi dalam komunitas-komunitas  mungkin akan menjadi amunisi yang dahsyat ledakannya, jika mampu kita kelola secara bersama-sama. Sementara ini, masing-masing masih terksesan berjalan sendiri-sendiri, sehingga upaya- menjadikan teater sebagai proses budaya secara utuh sulit tercapai.&lt;br /&gt;Berteater memang berbeda dengan berseni rupa atau bersastra. Teater membutuhkan ikatan komunal. Berteater tidak bisa bekerja sendiri, meski harus diakui di dalam ikatan komunal itu ada stake holder yang menonjol, sebagai penggerak.&lt;br /&gt;Karena itu, saya sepakat pada Goenawan Mohamad, saat deklarasi Federasi Teater Indonesia di Jakarta tahun 2004 lalu, agar aktivis teater membentuk semacam ‘gilda’ atau kelompok kerja menurut bidang masing-masing. Pembentukan gilda ini, sebagai tempat tukar pikiran para pekerja teater. Gilda-gilda juga berfungsi untuk tukar pengalaman dan memberikan masukan ke beberapa lembaga teater.&lt;br /&gt;Pembentukan kelompok kerja ini, agar semua aktivis teater bisa tertampung. Karena tidak semua orang punya bakat main teater, tetapi mungkin ia punya bakat di organisasi. Inilah perlunya menampung semua orang yang punya minat di dunia teater.&lt;br /&gt;Namun apakah ide itu efektif atau tidak, sebernanya bergantung dari upaya pekerja teater untuk melakukan perubahan. Sejauh ini saya melihat kelemahan teater (di Jawa Timur) terletak pada kerja kolektifnya yang sering saya sebut ‘civitas akademika teater’ yang terdiri dari pekerja teater, kritikus teater, dramaturg, media massa, dan penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakhmat Giryadi, pekerja teater tinggal di Sidoarjo.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5346587717956970287-1179074278216231380?l=teaterapakah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teaterapakah.blogspot.com/feeds/1179074278216231380/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5346587717956970287&amp;postID=1179074278216231380' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/1179074278216231380'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/1179074278216231380'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teaterapakah.blogspot.com/2008/01/masa-depan-teater-jawa-timur.html' title='Masa Depan Teater Jawa Timur'/><author><name>teaterapakah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14504659433822587521</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R4KW9fwvaJI/AAAAAAAAAAM/4MNOEFdRZSc/S220/giryadi+oke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R40pHvwvaRI/AAAAAAAAABQ/ZX_sYf-Dq-Y/s72-c/gir+wartawan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5346587717956970287.post-5162623915173219955</id><published>2008-01-02T20:40:00.000-08:00</published><updated>2008-01-16T19:45:14.324-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kritik teater'/><title type='text'>Butet Kertaredjasa dan Tanda-tanda Jaman</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R47OovwvaTI/AAAAAAAAABg/9o5OxOldUmw/s1600-h/blog-butet+kertaredjasa.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R47OovwvaTI/AAAAAAAAABg/9o5OxOldUmw/s320/blog-butet+kertaredjasa.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156285822796785970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Rakhmat Giryadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konsep drama tragedi terdapat monolog, soliloque, dan aside. Masing-masing memiliki peran dan fungsi yang berbeda-beda. Monolog merupakan perenungan terhadap peristiwa yang sedang menimpa sang tokoh. Dalam drama tragedi misalnya, sang tokoh biasanya berujar sendiri terhadap nasib yang menimpanya. Seperti Hamlet ketika berbicara sendiri setelah mendapat bisikan dari roh bapaknya, yang ternyata dibunuh oleh pamannya.&lt;br /&gt;Dalam drama tragedi, monolog muncul disaat tokoh sedang mengalami krisis. Dalam hal ini sang tokoh berusaha menemukan kembali (discovery) kenyataan-kenyataan yang dia hadapi. Disaat penemuan kembali itulah nasibnya dipertaruhkan (peripetia). Sang tokoh menemukan titik baliknya, apakah akan menuju tragedi atau katarsis, hanya nasiblah yang tahu.&lt;br /&gt;Kemunculan Butet Kertaredjasa, ketika puncak kekuasaan Orde Baru berada dalam krisis adalah sangat tepat. Pada saat itu, kehidupan sosial politik mengalami ketegangan. Dalam struktur drama tragedi disebut peripetia (titik balik) tadi. Dalam konsep itu terkandung pengertian, terjadi karena adanya penemuan kembali (discovery) dari avidya menjadi vidya, dari cinta menjadi benci, atau dari beruntung ke nasib buruk. (Bakdi Sumanto : 2001: 245). &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun Butet Kertaredjasa bukanlah tokoh utama. Dia tokoh yang berada dipinggir panggung kekuasaan yang bersama ratusan juta rakyat Indonesia mengalami nasib yang sama. Dimana kehidupan demokrasi dikekang. Disaat seperti itu, ia muncul dengan tepat lewat naskah Lidah Pingsan (Agus Noor dan Indra Tranggono, 1997).&lt;br /&gt;Sebagai bagian dari drama tragedi, monolog Butet melibatkan orang-orang dalam istana kekuasaan. Melalui tokoh-tokoh besar itulah drama tragedi bisa berlangsung. Monolog Butet merupakan ketegangan antara rakyat dan kekuatan kekuasaan.&lt;br /&gt;Dalam ketegangan itulah, harapan dan kecemasan saling bersinggungan. Karena pada saat itu jarak antara hidup dan mati, antara nasib baik dan buruk, menjadi sangat nisbi. Antara kebenaran dan keburukan juga sangat rentan. Kemunculan Butet menjadi penanda irama tragika itu sedang menuju yang dinamakan peripetia tadi.&lt;br /&gt;Dengan sangat cerdik, kemudian Agus Noor dan Indra Tranggono mencobakan kembali naskah monolognya, pada tahun 1998, ketika masa ketegangan itu mencapai puncaknya. Lidah Masih Pingsan (1998) menjadi pertunjukan yang satiris sekaligus tragis untuk mencari sebuah katarsis.&lt;br /&gt;Namun sebagaimana alur drama tragedi, penemuan kembali (discovery) dan titik balik (peripetia) akan menjadi tidak berdaya, ketika nasib berbicara lain. Dan nasib itu bisa terbaca saat musim reformasi berlangsung. Saat itu penguasa dengan menggunakan kekuatan militernya mampu ‘memukul’ kekuatan rakyat. Inilah sumber konflik batin, yang menampilkan seorang tokoh besar menjadi megah sekaligus jalan menuju kehancurannya. Dan kita sudah melihat sendiri, korban politik berjatuhan.&lt;br /&gt;Dalam konseb drama tragedi situasi semacam ini dinamakan harmatia (salah pilih). Sumber harmatia adalajh free will, yaitu kemerdekaan melakukan sesuatu (Bakdi Sumanto: 2001:254). Seperti diketahui penguasa memilih represif pada kekuatan rakyat. Mereka memilih membunuh, menghilangkan, dan menculik kaum reformis. Inilah masa akhir drama tragedi itu. Agus Noor dan Indra Tranggono menandainya dengan pentas monolog Butet, Mayat Terhormat (1999).&lt;br /&gt;Matinya Toekang Kritik (Agus Noor, 2006) adalah masa jeda yang panjang setelah musim reformasi yang tak menemukan jawabannya. Selama masa jeda itu agenda reformasi hanya diisi dengan ‘debat kusir’ yang tak ada ujung pangkalnya. Banyak politisi karbitan. Banyak kritikus gadungan. Dan banyak pula penguasa-pengusa dadakan yang diuntungkan oleh nasib baik. Maka selama jeda panjang ini yang terjadi adalah sebuah rekayasa demokrasi, untuk melanggengkan kekuasaan.&lt;br /&gt;Saya mencatat, Matinya Toekang Kritik adalah babak akhir –kalau boleh saya sebut- dari tetralogi monolog yang dibuat Agus Noor dan Indra Tranggono (Lidah Pingsan (1997), Lidah Masih Pingsan (1998), Mayat Terhormat (1999)) yang diperankan oleh Butet tersebut.&lt;br /&gt;Bisa jadi, bagian akhir ini juga menandai berakhirnya sebuah harapan tentang demokrasi yang sehat. Matinya Toekang Kritik bukan mencerminkan sebuah kekuasaan yang telah berlaku adil dan tanpa celah untuk kritik, namun justru menggambarkan situasi membuncahnya kritik yang tanpa didasari oleh semangat demokratisasi.&lt;br /&gt;Dalam hal ini saya teringat dengan cerpen Budi Darma, Kritikus Adinan, dan juga Pengarang Rasman. Kritik yang baik dan benar, telah terkubur hidup-hidup oleh kekuatan ‘rezim anti kritik.’ Kalau tukang kritik sudah mati (dibunuh), apa yang akan terjadi? Apakah mereka (kita) menyerah?&lt;br /&gt;Ternyata Agus Noor dan Indra Tranggono tidak kehabisan (akal) energi. Mereka malanjutkan dengan naskah monolog Sarimin (2007) yang telah dipentaskan pada Art Summit (Jakarta 17-19 November), Purna Budaya (Yogjakarta, 26-27 November), dan di gedung Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur (14-15 Desember).&lt;br /&gt;Saya kira Sarimin bagian dari akibat salah pilih (membunuh kritik). Hukum tidak ditegakkan. Yang benar diganjar (dihukum), yang salah disembah. Logika menjadi terbolak-balik, tergantung kepentingannya. Karena itu dialog yang sangat menarik dan patut direnungkan dalam Sarimin, adalah ‘Karena benar, maka kamu salah.’&lt;br /&gt;Begitulah, ketika kritik buntu, kejujuran menjadi sesuatu yang sangat mahal. Agus Noor, Indra Tranggono, Butet Kertaredjasa, mengajak kita untuk merenung di tengah hukum yang carut marut. Monolog-monolognya menjadi penanda, sekaligus renungan kala kekuasaan (hukum) tidak berlaku adil.&lt;br /&gt;Penanda itu semakin jelas, ketika seorang petinggi kepolisian di Surabaya, mengancam monolog Butet akan dicekal karena terlalu kritis mengkritik intitusinya. Meski tidak jadi dicekal, kenyataan ini menegaskan bahwa tengara ‘empat jagoan’ (Agus Noor, Indra Tranggono, Butet Kertaredjasa, dan Jaduk Ferianto) menemukan jawabannya, bahwa yang benar (jujur) bisa menjadi ajur (salah) ketika kekuasaan (hukum) berkata salah.&lt;br /&gt;Maka akhir drama tragedi bangsa ini tergantung dari hasil negoisasi antara kekuasaan dan rakyat. Tragedi ini akan berakhir indah, jika demokrasi ditegakan. Demokrasi bisa tegak kalau hukum berlaku adil. Jika tidak, maka negeri ini menjadi negeri Sarimin. Negeri komedi kera. Rakyat hanya dikeluh (diperintah) kesana-kemari, jungkir balik (berakrobat) demi nasib sang majikan. Dengan cerdik, kita telah ditunjukan oleh ‘empat jagoan’ dari Jogjakarta, bahwa kita tidak lebih baik dari kera, eh Sarimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakhmat Giryadi, pekerja teater tinggal di Sidoarjo.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5346587717956970287-5162623915173219955?l=teaterapakah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://teaterapakah.blogspot.com/feeds/5162623915173219955/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5346587717956970287&amp;postID=5162623915173219955' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/5162623915173219955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5346587717956970287/posts/default/5162623915173219955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://teaterapakah.blogspot.com/2008/01/butet-kertaredjasa-dan-tanda-tanda.html' title='Butet Kertaredjasa dan Tanda-tanda Jaman'/><author><name>teaterapakah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14504659433822587521</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R4KW9fwvaJI/AAAAAAAAAAM/4MNOEFdRZSc/S220/giryadi+oke.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_FSIlZWBXgNY/R47OovwvaTI/AAAAAAAAABg/9o5OxOldUmw/s72-c/blog-butet+kertaredjasa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
