Halaman

Rabu, 13 Juni 2012

BIOGRAFI KURSI TUA

Oleh : R Giryadi

Sebuah kursi tua tergantung. Pucat. Tapi angkuh! Seseorang dengan nada sekenanya menyanyi-nyanyi tanpa beban. Ia seorang pemuda. Dengan pakaian sekenanya. Tanpa menenteng apa-apa, selain megaphone. Tiba-tiba ia ngomong seperti orang meracu.

1. SESEORANG
Saudara-saudara, saya disini tidak akan melakukan orasi. Saya juga tidak melakukan provokasi. Ini tidak ada kaitannya dengan demo-demo, meski saya membawa megaphone. Ini alat untuk saya berbicara agar saudara-saudara mendengar. Karena sekarang sudah banyak orang yang telinganya pada budge! Bukan karena apa, tetapi sok mbudeg, alias ‘emang gue pikirin!’
Saya sengaja membawa alat ini agar suara saya didengar. Sebagai generasi masa depan suara saya harus didengar. Harus! Tidak bisa ditawar-tawar. Kalau mau nawar, asal harganya cocok ndak papa. Eh, jangan salah sangka lagi. Masalah harga tidak meski berhubungan dengan uang, tetapi harga diri juga bisa kan?
Ya, memang saya datang ke ruangan ini atau tepatnya di rumah bapak saya ini karena masalah harga diri. Harga diri saya dilemahkan. Suara anak tak pernah digubris oleh bapak yang sudah keenakan ongkang-ongkang di kursi goyang. Semakin dibiarkan, semakin mengakar. Ia tak pernah menghiraukan suara saya, sebagai anaknya. Sebagai manusia, harga diri saya merasa dilecehkan.
Berbagai cara sudah saya lakukan. Tetapi buntu. Karena telinga bapak sudah terlalu bebal untuk mendengar kritik, saran, apalagi permintaan. Ini penyakit orang sudah keenakan berkuasa. Tidak mau diusik.
Tetapi terus terang saudara, kehadiran saya di sini hanya ingin menggugat. Menggugat bapak yang semakin hari polahnya semakin menjengkelkan. Saya ingin ada perubahan pada diri saya, dan juga bapak saya yang selama ini hanya duduk ongkang-ongkan, memarahi saya dan ibu saya. Sementara ibu hanya diam. Tak pernah bersuara. Sekali bersura hanya tangisnya yang terdengar. Begitupun, bapak tak pernah merasa iba.
Karena ini ijinkan saya hari ini memulai perubahan itu. Dan ini kisah perjuangan saya, menggugat bapak!

Lighting Fade out-Fade in. Musik break in. Seseorang berdiri. Sebuah siluet besar tergambar di layar.

2. SESEORANG
Cerita ini aku awali dari cermin. Terus terang, sejak kecil aku muak sekali melihat cermin. Setiap kali berdandan, aku selalu pergi ke tengah pintu, menghadap halaman rumah. Di situlah tempat paling nyaman untuk berdandan. Tetapi kelakuanku itu sangat dibenci oleh ibu.
Ia selalu melarangku dan selalu aku jawab, “Aku bukan perempuan!” Ia tak pernah memperdulikanku. Diseretlah aku ke kamarnya lalu membenamkan wajahku ke cermin. “Sedari kecil belajarlah bercermin!”

3. SESEORANG
Dengan terpaksa aku mulai belajar bercermin, walaupun aku muak dengan benda aneh itu. Ketika melihat wajahku di cermin seakan ia bukan diriku yang kubayangkan selama ini. Aneh. Beratus-ratus cermin pemberian ibu akhirnya aku banting hingga kata-kata kasar ibu meruntuhkan isi rumah. “Anak durhaka!”

Seseorang duduk di kursi dengan angkuhnya.

4. SESEORANG
Aku gemetar di tengah pecahan cermin. Suara ibu menyambar-nyambar tubuhku yang sengsara. Suara itu bagai badai, memporak-porandakan seisi rumah, merontokkan seluruh keinginannku. Hanya bapak yang tetap tegar, duduk di kursi goyangnya. Ia hanya mengernyitkan kening. Menekuk lehernya 10 derajat, ke kiri. Matanya memicing. Kopi pahit kesukaannya diseruput, seperti menyeruput seluruh kemarahan ibu. Bagi ibu, itu sikap pengecut. Sementara, diam-diam aku tertarik dengan sikap bapak.
Persekutuanku dengan bapak, membuat ibu bosan menyeretku ke kamarnya lalu membenamkan wajahku ke cermin. Semakin lama aku telah melupakan ibu. Sementara, Ibu hanya mengawasiku dari jauh, dengan sorot mata yang turun naik. Ia memang sangat tunduk dengan bapak.

Suara gamelan jawa berkeleneng.

5. SESEORANG
“Bapak memang lelaki gagah!” Ia seperti raja Jawa dengan berpuluh-puluh garwa selir dan prajurit yang mengawalnya. Ia duduk dengan sikap yang agung. Anjing-anjing kesayangannya selalu setia menunggui di samping kursi.
Persekutuanku dengan bapak membuatku berpikir sederhana, bahwa kesukaan bapak adalah kesukaanku juga. Walaupun sementara ini aku hanya bisa membayangkan kenikmatan duduk di kursi goyang, nyruput kopi pahit, nyedot rokok kretek, dan berlagak seperti raja Jawa. Aku sudah merasa puas.

Meloncat dari kursi. Kursi naik ke atas.

6. SESEORANG
Tetapi ketika aku semakin dewasa, keinginanku untuk menikmati duduk di kursi bapak semakin tak terbendung. Tak sedetik pun si daun kering itu, lepas dari pandanganku. Aku begitu menikmatinya. Tetapi bapak tak pernah meng-gubrisku walaupun setiap hari aku menungguinya, persis seperti punggawa-nya. 

Berputar mengelilingi kursi yang tergantung.

7. SESEORANG
Hal itu membuat akar kesabaran ibu tercerabut. Maka pada suatu siang ia menyeretku ke kamar. Aku meronta.

Seseorang berdiri. Sebuah siluet di layar putih.

 “Aku tidak mau cermin!” Tak kusangka tangan ibu sekuat Gatutkaca. “Kau harus menatap wajahmu di cermin. Lihat kau sudah mulai berkumis. Kau sudah dewasa, Nak. Masa depanmu ada di kepala bukan pada bapakmu.”

8. SESEORANG
Braaang! Cermin pemberian Ibu aku banting, pecah berkeping-keping. “Aku anak laki-laki. Aku ingin seperti bapak!” seruku. Ibu diam dalam senyap. Air matanya mengalir seperti ngarai. Bapak berdehem. Asap rokok mengepul-ngepul. Anjing-anjingnya mengerang, lidahnya menjulur-julur mengejekku.

9. SESEORANG
Kedurhakaanku pada ibu, ternyata tak membuat bapak segera beranjak dari tempat duduknya. Membaca, minum kopi, makan, mandi, kencing, berak, memarahi ibu, bersetubuh dengan ibu, memberi makan anjing, semua dilakukan di tempat duduknya. Semua dilalui dengan senyumnya yang misterius.
Ia tak pernah memperhatikan keinginanku duduk di kursi goyangnya. Sontoloyo betul bapak itu. Kursi itu seakan sudah mendarah daging, tumbuh menjadi bagian tubuhnya. Aku harus berani matur padanya. Dengan gugup aku mencoba matur.

Menghadap seperti punggawa kerajaan.

10. SESEORANG
“Pada suatu saat saya ingin duduk seperti Bapak. Apakah hal itu berkenan?” Bapak tidak menyahut. Berarti, bapak masih tidak mau diganggu. Ketika pertanyaan itu aku ulangi berkali-kali, ia tetap seperti batu.
“Bapak!” seruku pada suatu hari menjelang musim semi, mengulangi permintaanku. “Kalau Bapak duduk saja berhari-hari bahkan bertahun-tahun, apakah tidak mengerti keinginan anaknya. Apakah Bapak tidak dobol. Saya ingin duduk bergoyang-goyang seperti, Bapak. Izinkanlah saya!” Bapak tetap mbegegeg seperti gunung.

11. SESEORANG
Didorong oleh keinginanku, suatu malam aku mencuri kesempatan. Aku mengendap-ngendap dalam gelap. Dengkur bapak menguasai ruangan. Anjing-anjing tidur dengan posisi siap terkam. Aku membayangkan, betapa amarah bapak dan anjing-anjingnya seperti lahar.
 “Ya, aku marah anak durhaka!,” serunya tiba-tiba.
“Houg! Houg! Geeeerrrr!” Aku terjengkang satu tindak.

Siluet anjing besar.

12. SESEORANG
“Anak kadal, badak, macan, anjing budugan, topeng monyet, tak tahu diuntung. Anak cindil tahu apa. Bisanya main belakang. Bisa tak gebug, kapok!” Aku membatu dalam gelap.

Seseorang lari tunggang-langgang.

13. SESEORANG
Tak kusangka, tangan lembut ibu meraihku dari amukan bapak. Aku merasakan hawa segar mengalir dalam dada. Aku tak pernah membayangkan keindahan kamar ibu yang ditatanya seperti surga. Sesuatu yang hilang dari ingatanku bahwa ibu menyukai keindahan dan kedamaian. Lantai kamarnya berkilau-kilau, bagai wajah ibu, yang teduh penuh kesabaran..
Ia tidak berkata sepatahpun. Cermin yang menggantung di dinding itu memantulkan wajahku yang coreng-moreng, penuh kebimbangan. Sementara di luar, angin pancaroba datang membadai, menggedor-gedor pintu, membuatku meronta-ronta dan lari dari kamar ibu.

14. SESEORANG
Kali ini niatku sudah bulat. Aku harus membuktikan pada ibu, bahwa aku anak laki-laki yang sudah dewasa. Tetapi ketika tanganku hampir menyentuh kursi bapak yang tidur mendengkur, anjing-anjingnya menyalak dan menyeretku ke tempat sampah.

15. SESEORANG
Sekali lagi, ibu datang dengan tangan yang lembut. Ia memandikanku seperti bayi. Ia mendandaniku. Aku melihat wajahku di cermin seperti anak ingusan.

Siluet ibu menimang anaknya.

16. SESEORANG
“Kau memang masih ingusan untuk mengerti bapakmu. Ia tak selalu seperti yang kamu kira. Kau masih harus banyak belajar, Nak.”
“Dengan cermin aku tak pernah seperti, bapak.”
“Memahami bapakmu sama sulitnya memahami dirimu.”

17. SESEORANG
Saran ibu tak pernah aku mengerti. Apakah dengan berpangku tangan, memandangi bapak dari kejauhan, ia akan mengerti kemauan anaknya?
Berhari-hari pertanyaan itu menggangguku. Akhirnya, untuk kesekian kali aku beranikan diri matur dengan sopan pada bapak yang asyik duduk ongkang-ongkang di kursi goyangnya. Dengan amat angkuh sekali ia hanya menjawab, “Anak kecil tahu apa?”

Siluet bapak tampak besar sekali.

18. SESEORANG
Ejekan bapak seakan menantangku. Itu gertakan yang membuatku semakin berani menantang bapak dan ingin membuktikan bahwa aku bukan anak ingusan, seperti yang ia duga selama ini. “Siapa bilang aku anak ingusan! Aku akan mengusikmu dari keangkuhan!” seruku.

19. SESEORANG
Aku ringkus bapak dan mengangkatnya dari kursi goyang. Astaga! Ternyata pantat bapak telah mengakar pada pori-pori kursi. Melihat napasku turun naik, bapak memandangku sinis. Tanpa dikomando, anjing-anjingnya yang setia menerkamku dan menyeretku ke tempat sampah. Bapak tertawa terbahak, tetapi tangis ibu merintih sedih.

Siluet bapak bertambah banyak. Banyak sekali.

20. SESEORANG
Kesedihan ibu membuatku semakin nekat. Anjing-anjing bapak aku keluh dengan daging. Ia begitu rakus. Ia melupakan bapak. Ini kesempatan emas. Dengan linggis, parang, gergaji, cangkul, akar bapak aku cabut satu persatu. Wajahnya mulai layu. Tubuhnya mengering. Kulitnya mengelupas dan berguguran di lantai. Ia pun roboh.

Siluet bapak hilang satu persatu.

21. SESEORANG
Aku berlonjak girang. Ibu menangis sedih. Bapak tertawa sinis, sambil mengepulkan asap rokoknya. Aku mengira itu kebiasaan bapak, walaupun menderita ia tetap tersenyum.

22. SESEORANG
Ternyata sangkaanku meleset jauh. Senyumnya bapak, tertawanya bapak adalah lambang keperkasaannya. Akar-akar yang tertinggal di kursinya, tumbuh menjadi beribu-ribu bapak. Beribu-ribu wajah bapak tertawa terbahak-bahak. Sementara wajah ibu yang pucat pasi, muncul dari pintu kamarnya. Tak bosan-bosannya ia mengulurkan tangan dan membimbingku ke kamarnya.

22. SESEORANG
“Benarkah aku anak durhaka, Ibu?”
Ibu tidak menjawab. Ia membuka jendela kamar. Angin di luar begitu kencang. Di luar, hutan belantara menghampar luas. Kemudian ibu berkata, “Dunia ksatria adalah di Amarta. Kamu harus membangun singgasanamu sendiri seperti para Pandawa. Di hutan sana kamu akan memulainya, Nak.”

Siluet hutan belantara.

23. SESEORANG
Setelah bertahun-tahun mengembara, aku datang menghadap ibu dan bapak yang sudah berkaki tiga. Lalu kutunjukan mereka sebuah kursi goyang mirip milik bapak. Ibu menepuk pundakku. Bapak tersenyum kecut.

Kursi turun.
Kini aku bisa duduk seperti bapak, ketika masih perkasa dulu. Duduk medhingkrang sambil nyruput kopi pahit, nyedhot rokok kretek, dan bergoyang-goyang, begitu nikmat.
“Ya, sekarang kamu bisa, Nak,” kata ibu bangga.
Tetapi bagi bapak, kelakuanku itu dianggap penghinaan. Ia tak mau duduk berdampingan denganku. Akhirnya bersama anjing-anjingnya yang setia ia meninggalkan kami tanpa permisi. Sementara beribu bayangan bapak menutupi wajahnya dengan topeng. Aku tertawa terbahak-bahak, persis tertawanya bapak yang kini pergi entah kemana.
Kepergian bapak tanpa permisi adalah sikap yang tidak ksatria. Itulah yang membuatku kecewa dan tidak bangga mempunyai bapak seperti itu.
Kini kursi goyang yang ditinggalkannya begitu saja, tak karuan jluntrungannya. Konon, kursi itu dicuri maling. Tetapi berita yang santer aku dengar, kursi itu dibawa lari bayangan bapak yang masih hidup bergentayangan seperti setan.

Manusia-manusia bertopeng memanggul mengendap-endap penuh curiga.

Sementara kursi tiruan yang aku buat waktu itu, kini semakin banyak tiruannya. Masing-masing orang berhak memiliki kursi dan duduk medingkrang seperti bapak, tersenyum sinis seperti bapak, dan berlagak seperti raja Jawa. (Dengan megaphone) Jadi sudah jelas sekarang, sayalah Raja!

Surabaya, 2001


Tidak ada komentar: