Halaman

Rabu, 20 Juni 2012

Percakapan dari Dalam Kulkas

Melihat Peradaban Baru dari Sumenep
Oleh: R Giryadi

Peradaban  yang  modern  menghasilkan kehidupan baru yang maju berkat ilmu pengetahuan dan teknologi. Tetapi  di  pihak  lain juga  mengakibatkan  kesengsaraan  dan penderitaan yang besar. Kapitalisme  menimbulkan  kesengsaraan  bagi  para  buruh  dan petani,  sedangkan  imperialisme  dan kolonialisme menyebabkan penderitaan yang parah  sekali  bagi  bangsa-bangsa  Asia  dan Afrika.
Karena itu terjadi reaksi terhadap kapitalisme berupa komunisme yang juga didasarkan materialisme dan yang  kemudian menyebabkan  Revolusi  Komunis  di  Rusia.  Reaksi  yang tidak se-ekstrim komunisme  adalah  sosialisme  yang  memperjuangkan kehidupan   yang  lebih  baik  bagi  kaum  buruh  dan  petani. Imperialisme dan  kolonialisme  mengakibatkan  persaingan  dan pertentangan   antara   bangsa-bangsa   Eropa   sendiri,   dan menimbulkan perang besar.

Yaitu perang dunia  ke-1  dan  ke-2. Rasionalisme  dan  individualisme  juga menimbulkan keangkuhan manusia yang berlebihan.  Berdasarkan  materialisme  dikatakan bahwa  Tuhan  itu  hanya  hasil dari otak manusia; dengan kata lain orang tidak percaya akan adanya Tuhan Yang Maha Kuasa.
Peradaban (baru) modern merupakan peradaban Barat  yang terbentuk  setelah  bangsa-bangsa  Eropa  melampaui  masa Abad Pertengahan. Perkataan "modern" di sini adalah "Eropa centris"atau  "Barat  centris"  karena  sepenuhnya bersangkutan dengan kehidupan bangsa-bangsa di Eropa bahkan di Eropa Barat.
Peradaban  modern adalah  peradaban  Barat yang terbentuk pada Zaman Modern itu. Oleh  karena  itu  sejak  abad  ke-16  dunia  Barat   berhasil melebarkan  sayapnya  ke  seluruh  dunia  dan  pada abad ke-20 berada pada zenith kemampuannya,  maka  pengaruh  atau  dampak peradaban  modern  itu terasa dimana-mana di dunia, baik dalam arti positif maupun negatif.
Alienasi
Sebagai akibat  dari  cara  berpikir  rasional,  maka  terjadi dorongan  untuk merubah posisi suatu individu dari masyarakat. Tadinya individu hanyalah suatu unsur  masyarakat  tanpa  arti tersendiri.  Pemikiran  rasional menuntut pembebasan diri dari kukungan masyarakat itu. Kemudian bahkan  memberikan  individu sebagai   nilai   tertinggi   dalam   masyarakat   itu.  Orang berpendapat  bahwa  hanya  dengan   individu   yang   memiliki kebebasan  penuh  akan terciptalah kemajuan. Lahirlah apa yang dinamakan  individualisme.
Bersamaan  dengan  itu,   timbulah pemikiran  bahwa  seluruh  orang  di  dunia  adalah  sama  dan bersaudara. Ini mendorong terjadinya Revolusi  Prancis  dengan semboyannya  Liberte,  Egalite,  Fraternite,  atau  Kebebasan, Persamaan, Persaudaraan. Inilah yang  menjadi  permulaan  dari liberalisme atau dalam bahasa Prancis dikatakan laissez faire, laissez passer. Individualisme  dan  liberalisme  menghasilkan kapitalisme.
‘Percakapan dari Dalam Kulkas’ karya teater Lentera STKIP-Sumenep merupakan citra manusia yang teralienasi akibat gelombang modernisme. Gelombang modernisme telah menciptakan manusia dalam diri yang terasing dengan dunianya. Manusia seperti kehilangan eksistensi. Bahkan dalam penggambaran yang paling tragis, ‘Percakapan dari Dalam Kulkas’, mencitrakan manusia yang tidak memiliki kepribadian bahkan tidak memiliki masa lalu.
Bagi masyarakat individualis individu adalah sesuatu yang nisbi, sesualu yang mengancam dan absolute. Karena itu setiap individu harus ‘dimusuhi’ bahkan dimusnahkan. Dan karena itu bangsa Eropa dengan pemikiran individualismenya, menyeberang sampai ke asia dan menguasai seluruh sumber daya alam, tanpa menghiraukan eksistensi manusia Asia.
Dari tekad  dan  keberanian  pada  penemuan  baru  itu memberikan  buah yang bukan main besarnya kepada mereka. Tidak saja mereka dapat sampai  ke  tanah  sumber  rempah-rempah  di Asia,  mereka  bahkan  dapat  menemukan  satu  tanah yang kaya sakali, yaitu Amerika. Maka  sejak  abad  ke-16  bangsa  Eropa semakin  kaya.
Kekayaan  itu dihubungkan dengan cara berpikir rasional, menimbulkan pandangan yang mementingkan  benda  atau materi.   Apalagi  ketika  ilmu  pengetahuan  dapat  mendorong berkembangnya teknologi yang  semakin  maju.  Maka  terjadilah Revolusi  Industri  di  Eropa Barat yang merubah produksi dari produksi rumah ke pabrik,  dan  dari  produksi  perorangan  ke produksi   massal.
Bagi Teater Lentera, peradaban baru telah menyisakan kegetiran yang permanent. Manusia malah tidak mampu berpikir rasional. Rasionalitas yang diagungkan oleh kaum modernisme malah telah merongrong eksistensi manusia. Manusia hanya menjadi angka-angka, bahkan manusia hanya sebentuk simulakara belaka. Hakekatnya modernisme yang mengagungkan rasionalisme di jagat masyarakat urban telah mengasingkan mereka dalam kehidupan yang absurd.
Cara Pandang yang Unik
Teater Lentera telah ‘menuding’ rasionalisme telah bobrok. Spritualitas, dan humanitas manusia telah diputar balikan menjadi materi, materi, dan materi. Manusia (barangkali) masih berharga dari sekaleng bir di dalam kulkas atau sekerat daging sapi yang membeku. Manusia telah benar-benar kehilangan manusia ketika berada di rimba produk kapitalisme.
Disaat seperti itu, manusia kembali pada kepekaan purbawinya, mencari lorong-lorong terjauh yang telah lama ditinggalkannya. Manusia mencari mimpi-mimpi masa kecilnya yang tertindas oleh berbagai citraan produk modernisme seperti TV, video games, handphone, internet, dan lain sebagainya. Dan disana, mimpi-mimpi itu mengendon menjadi sebuah harapan-harapan.
Percakapan dari Dalam Kulkas merupakan harapan-harapan yang bisa jadi hanya mimpi-mimpi masa kecil yang telah terkubur. Carut marut kehidupan telah menyebabkan kejadian, pikiran, perasaan, hanya sebuah impresi-impresi yang tak terbaca secara nyata. Manusia (modern) hanya menjadi pengigau yang paling mulia.
Sebuah proses pembacaan yang unik ini terjadi di tengah masyarakat yang sama sekali masih ‘mengugemi’ tradisi. Teater Lentera mencoba melompati ruang dan waktu tradisinya yang mengekal. Mereka mencoba mentransisikan sikap kritisnya itu ke dalam medium yang tidak asing bagi generasinya. Tradisi telah ditinggalkan sedemikian rupa dan mencoba membuka peradaban barunya cukup dari dalam kulkas.
Dari sanalah teater Lentera mengungkap berbagai ketergagapan tradisi dan bahkan masyarakat urban menterjemahkan sikap kritisnya terhadap budidaya modernisme itu. Dan uniknya mereka tidak mewakili masyarakat tertentu, tetapi mewakili dirinya sendiri yang merasa terasing dengan dunia teks yang meluber bagai buncahan laut yang mengikis sedikit demi sedikit hutan bakau sepanjang pantai.
Percakapan dari Dalam Kulkas mencoba merefleksikan ketergagapan teks modernisme dari berbagai dimensi. Dan kita tak akan menemukan cerita di sana selain keterasingan diri kita sendiri. Terasing sama sekali!

R Giryadi
Sutradara Teater Institut Unesa tinggal di Sidoarjo

Tidak ada komentar: