Halaman

Jumat, 13 Februari 2009

Dari ‘Festival Panggung Realis’

Mencari Teater Realis rasa Madura
Konsep teater realis belum banyak dipahami. Meski demikian Sanggar Lentera STKIP Sumenep menggelar festival teater bergenre realis.

Serangkaian dengan Pekan Seni Madura, pada 30 Desember lalu, Sanggar Lentera STKIP PGRI Sumenep, mengadakan Festival ‘Panggung Teater Realis’ se Madura. Sebanyak 20 peserta mengikuti festival ini. Panitia memberikan arahan, setiap peserta wajib menampilkan lakon drama realis dengan basik tradisi. Setiap peserta hanya diberi waktu 30 menit lengkap dengan penataan setting dan lightingya.
Hasilnya dapat ditebak, dari 20 peserta tak satupun yang bisa secara total memainkan drama realis. Bahkan hampir semua peserta tidak memainkan drama yang bergenre realis. Hal ini bukan tanpa sebab. Sebab utamanya adalah minimnya informasi tentang konsep drama realis. Sebab ke dua teater di Madura tidak memiliki tradisi realisme seperti di Barat, tempat kelahiran genre drama realis.

Ponari



Oleh : Rakhmat Giryadi
Wartawan Surabaya Post

Ponari anak usia 10 tahun duduk di bangku kelas 3 SD tiba-tiba menjadi bintang. Ia digeruduk massa. Tiga minggu ia harus melayani ribuan orang yang percaya dengan ‘kesaktiannya’. Mereka meminta usada.
Ponari si dukun tiban dari Megaluh, Jombang, pada suatu hari bisa menyembukan tetangganya yang sakit. Padahal ia tidak menyuntiknya. Ia juga tidak memberinya resep obat. Porani juga tidak memberikan keterangan Si pasien sedang sakit apa. Ponari hanya menyelupkan batu –konon turun dari langit yang dibawa oleh halilintar- di gelas berisi air. Kemudian gluk!. Satu tegukan air batu dari Ponari, konon (lagi), penyakit yang diderita tetangganya sembuh.

Kabar itu tiba-tiba menyentil bawah sadar ribuan massa dari berbagai daerah. Dalam hitungan hari, ribuan massa menyemut ke rumah Ponari yang reot. Mereka berbondong-bondong demi mendapatkan kesembuhan. Mereka datang dari berbagai kalangan. Mereka juga rela antre berjam-jam, bahkan berhari-hari hanya ingin dapat air batu dari Ponari. Tak kalah dahsyatnya mereka rela meregang nyawa demi itu.
Ini histeria massa. Mereka adalah masyarakat ‘mengambang’ yang tidak memiliki pegangan rasionalitas yang kukuh. Mengapa mereka rela datang dari jauh hanya untuk mendapat air batu dari Ponari. Sementara ada dokter yang bisa menjelaskan secara nalar medis tentang penyakit yang diderita?
Tindakan irasional memang berada diluar nalar. Orang mudah saja mengikuti arus, meski ia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Inilah histeria massa. Histeria massa yang muncul selalu tak memiliki identitas. Karena itu pula histeria tersebut tidak bisa dipertanggung-jawabkan atas segala akibat dan konsekwensi yang ditimbulkannya.
Histeria menimbulkan irasionalitas pada seseorang. Orang atau segerombolan massa akan bertindak apa saja meski tindakannya itu di bawah kemampuannya. Sudah banyak contoh fenomena semacam ini. Ketika booming handphone, banyak orang ingin memilikinya. Tak peduli seberapa perlunya seseorang memiliki handphone. Bahkan, ketika ada hanphone lain yang menawarkan fitur yang lebih canggih, kehendak untuk memilikinya juga besar. Tak jarang seorang bisa memiliki lebih dari 1 hanphone.
Tak kalah menariknya, ketika booming tanaman hias beberapa waktu lalu, orang-orang ramai membeli tanaman hias dengan harga miliaran rupiah. Ketika booming ikan arwana yang konon ikan keberuntungan, orang-orang membeli arwana dengan harga selangit. Ketika booming lukisan, para juragan tembakau di Magelang, misalnya, memborong lukisan dengan harga diluar batas nalar.
Masyarakat tak bisa menjangkaunya hanya bisa bermimpi. Ketika mimpi itu ingin diwujudkan berubahlah menjadi tindakan fisik. Masyarakat atau seseorang mengalami proses perubahan dari gejala psikologis menjadi manifestasi fisiologis. Dalam hal ini Sigmund Freud meyakini gangguan histeria tak hanya disebabkan oleh kelainan organik, namun juga gangguan emosional yang dialaminya. Artinya, orang-orang yang secara kejiwaan sehat bisa saja mengalami histeris.
Histeria massa sebagai pandangan irasional atau perilaku tidak wajar yang menyebar luas pada sejumlah orang sebenarnya bukanlah sebentuk tindakan sosial tiada arti yang diarahkan kepada orang lain sebagaimana tindakan para fans artis, penyanyi, film, sinetron, dan lain sebagainya.
Namun bila dicermati histeria massa bisa menjadi sebentuk tindakan sosial bila individu yang dihisteria massa tersebut sudah diketahui ke'penyimpang'annya dalam suatu komunitas masyarakat karena kehumanistisan yang ada melihat individu tersebut yang berusaha untuk mendapatkan status yang diberikan padanya. Remaja-remaja membentuk geng. Orang-orang membentuk aliran sempalan dari agama-agama besar.
Mereka yang merasa senasib akan terjalin solidaritas. Sikap dan wujud solidaritas tersebut akan berakumulasi menjadi sebuah “semangat” namun semangat yang berkadar “massa” yang tak jelas identitasnya. Dia bisa berubah menjadi amuk yang destruktif dan menyesatkan serta akhirnya justru malah merugikan kepentingan orang lain. Demo anarkis menuntut pemekaran provinsi di Medan salah satu contohnya.
Dan hal ini sedang dialami pada Ponari. Massa yang tidak ingin pratik Ponari ditutup, memaksa dibuka. Massa tidak peduli Ponari sakit. Begitulah, histeria menimbulkan irasionalitas. Irasionalitas bisa menggiring orang betindak ‘aneh tetapi nyata.’ Dan hal itu dibawah kontrol rasionalitas. Jadi harap maklum!

Senin, 08 September 2008

Problematik Teater Remaja (SMA)


(Dialog Jambore Teater Remaja 2008)
Pendopo TBJT, 2 Agustus 2008
Pemateri :
Eko ‘Ompong’ Santoso (Yogjakarta)
AGS Arya Dwipayana (Jakarta).
Pemandu :
R Giryadi (Surabaya)

Kendala Aktualisasi
Kendala utama yang banyak ditanyakan dalam forum dialog oleh para peserta Jambore Teater Remaja 2008, adalah sulitnya mengaktualisasi diri. Aktualisasi diri ini disebabkan kesalahan persepsi orang tua terhadap kegiatan teater. Rata-rata orang tua menganggap kegiatan teater tidak bermanfaat.
Hal ini seperti diungkapkan peserta dari Teater Lab 56 SMAN 1 Kalisat Jember. Dikatakannya bahwa problem utama berteater adalah tidak adanya kepercayaan orang tua terhadap kegiatan ini. Padahal menurutnya teater banyak manfaatnya. “Saya kesulitan mendapatkan ijin dari orang tua. Bagaimana bisa menjelaskannya?” katanya,
Dipihak lain ada juga yang menanyakan manfaat teater. Penanya dari teater Hitam Putih SMAN 1 Tuban ini lebih detail ingin menanyakan manfaat teater. “Kata Pembina saaya teater itu manfaatnya sangat luas. Apa yang dimaksud dengan luas?” tanyanya.

Minggu, 07 September 2008

SEBELUM DEWA-DEWI TIDUR

Oleh : R Giryadi

Catatan : naskah ini pernah diikutkan lomba naskah teater (bukan drama?) remaja Taman Budaya Jawa Timur 2008.

DEWI MASUK DENGAN WAJAH DITEKUK. IA MELEMPARKAN TUBUHNYA DI TEMPAT TIDUR. IA MENGGELEPAR SEPERTI IKAN DALAM KULKAS. DEWI MENGHIDUPKAN TV. DARI LUAR TERDENGAR SUARA IBU, MENGOMEL. ENTAH APA YANG DIOMELKAN. DEWI MENUTUP KUPING DENGAN BANTAL.

TETAPI SUARA IBU MALAH SEMAKIN KERAS. IBU BERBICARA DENGAN PENGERAS SUARA. DEWI SEMBUNYI DI KOLONG TEMPAT TIDUR. SUARA IBU MALAH SEMAKIN MENEROR.

TIBA-TIBA TERDENGAR PINTU DI KETUK. DEWI BERGEMING. KETUKAN SEMAKIN KERAS. SEIRING DENGAN SUARA KETUKAN, HP DEWI BERBUNYI.