Halaman

Kamis, 17 Januari 2008

Zaman Keemasan Teater di Surabaya Sudah Berakhir


Oleh : Rakhmat Giryadi

Kalau boleh ekstrim, pada dasawarsa 90-an, Surabaya mengalami jaman keemasan teaternya. Pada zaman itu, semangat para pekerja teater begitu tinggi. Pada tahun-tahun itu terasa sekali denyut kehidupan teater. Bahkan ada puluhan teater yang aktif, menghidupkan iklim perteateran Surabaya.
Boleh diingat, pada waktu itu, ada teater Jaguar, Dua Lima, Pavita, Rajawali, Nol, Ragil, Sanggar Soeroboyo, Teater Api Indonesia, Bengkel Muda Surabaya, di tambah dengan aktivitas teater di beberapa kampus-kampus yang aktif berpentas.

Pada masa itu, kegitan teater di Surabaya begitu marak, apalagi ditambah dengan adanya festival-festival yang representatif. Demikian juga banyak kritikus yang menyumbangkan pikirannya hingga menjadikan iklim teater Surabaya tidak hanya sekedar ramai di panggung-panggung tetapi juga di media massa. Akhudiat, Max Arifin, H. Bambang Ginting, Autar Abddilah, Zeinuri, L. Makali, adalah orang-orang yang sering menulis berbagai hal tentang teater.
Hampir semua kelompok teater dan kritikus mendesakkan gagasan-gagasannya. Mereka memiliki spirit yang begitu kuat, seakan kehidupan teater di Surabaya memiliki masa depan yang cerah.
Sayang, realitas itu tiba-tiba menjadi berbalik. Pada akhir dasawarsa 90-an, iklim teater di Surabaya yang tadinya gegap gempita tiba-tiba bagai lampu kekurangan minyak. Para pekerja yang tadinya menyorongkan berbagai hal wacana teater, tiba-tiba tak berdaya, melihat ‘teater’ dengan darah berceceran di jalan. ‘Teater’ berarak-arakan di jalan, sambil meneriakan yel-yel, menyumpah serapahi, menjarah, membakar, membunuh, menyeret-nyeret tubuh tanpa kepala, dan menjadikan kepala sebagai bendera kemenangan. Teater Surabaya seperti kehabisan darah segarnya.
Barangkali kalau digambarkan, mereka yang memiliki spirit teater realis, terbengong-bengong melihat realitas di depan matanya yang mengharu-biru. Sementara itu, mereka yang memiliki spirit teater absurd, juga tak kalah bengongnya ketika melihat manusia tanpa kepala diseret-seret keliling kota. Memang, pada akhir dasawarsa itu, Surabaya tergagap-gagap menerima ‘arus deras’ pertikaian budaya (baca : politik, ekonomi, agama, dan ras), yang oleh Yasraf Amir Piliang (2003), digambarkan sebagai masyarakat yang mengalami hipersemiotika. Sebuah dunia, yang di dalamnya kebenaran tumpang tindih dengan kedustaan, keaslian silang-menyilang dengan kepalsuan, realitas bercampur aduk dengan ilusi, kejahatan melebur di dalam kemuliaan, sehingga di antara keduanya seakan-akan tidak ada lagi ruang pembatas.
Akhirnya apa yang terjadi? Sedikit demi sedikit, mereka yang tidak bisa melihat kenyataan, mengundurkan diri dari dunia teater. Intensitas pertunjukan menjadi berkurang. Bahkan, lebih ironis lagi, Surabaya lebih banyak dikunjungi oleh ‘tamu’ dari luar Surabaya dan Jawa Timur, dan tanpa bisa menyuguhi apapun, selalin rasa iri.
Dan rujukan untuk menyebut teater Surabaya, menjadi kesulitan. Karena tak ada kelompok yang benar-benar fenomenal, macam teater teater Kubur (Dindon WS) di Jakarta, teater Payung Hitam (Rahman Sabur) Bandung, Gandrik (Heru Kesawamurti dan Butet Kertarejasa) dan Garasi (Yudi Ahmad Tajudin), Jogjakarta, Gapit (Bambang Widoyo SP), Gidak-Gidik (Hanindawan), Ruang (Joko Bibit) Solo.
Mereka yang berada di balik nama-nama teater itu, telah menjadi ‘juru bicara’ bagi kelompoknya masing-masing, untuk menciptakan sejarah dan menciptakan ideologi, bagi perkembangan teater modern Indonesia. Sementara itu, Surabaya malah seperti kehilangan sejarah. Surabaya seperti tidak punya apa-apa dan siapa-siapa.
Gagah tapi Miskin
Meminjam istilah WS.Rendra, kegagahan dalam kemiskinan, tampaknya itulah yang sedang dihadapi teater Surabaya. Secara ringkas, wajah teater Surabaya, memiliki kendala yang sering diartikulasikan baik lewat tulisan, diskusi, dan pembicaraan sambil lalu adalah masalah miskin gedung yang representatif, stok aktor yang sedikit, sutradara yang langka, penata artistik yang langka, regenerasi yang terputus, masyarakat penonton yang semu.
Sebagaimana telah diramaikan di media massa beberpa waktu lalu, bahwa Surabaya butuh gedung yang representatif untuk pertunjukan teater. Sementara ini, teater Surabaya tidak memiliki gedung yang jadi rujukan untuk pentas. Kalau di Jakarta ada Gedung Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Teater Untan Kayu, paling tidak Surabaya harus memiliki satu atau dua gedung yang memiliki arti representatif tersebut. Memang Surabaya ‘tidak memiliki’ gedung yang representatif.
Belum lagi persoalan aktor yang konon tidak mudah ‘diciptakan’. Di Surabaya, meskipun antara tahun 70-90-an secara periodik dalam Lomba Drama Lima Kota (LDLK), telah memilih aktor dan aktris terbaik, juga tak memunculkan aktor yang kuat bertahan berteater. Kemanakah mereka yang pernah mendapat penghargaan aktor dan aktris terbaik LDLK?
Sutradara dalam arti yang sebenarnya, tampaknya Surabaya sangat miskin. Bahkan kalau boleh ekstrim, Surabaya tidak memiliki sutradara, pasca generasi Akhudiat –hanya sekedar menyebut nama. Sejak digulirkanya LDLK-pun juga tidak memunculkan sutradara yang mewakili zamannya. Di Surabaya, sutradara hanya berlaku sebagai pemimpin arstistik dan pelatih. Merekalah yang memberikan intruksi keseluruhan artistik dan bentuk-bentuk latihan yang akan dipentaskan. Sutradara yang memiliki kemampuan literer, boleh jadi Surabaya tidak memiliki.
Bahkan Surabaya dalam kasus perkembangan teaternya seperti a-historis. Dari generasi ke generasi seperti tidak memiliki benang merah. Apakah itu satu usaha kreatif, memberontak dari para suhunya, untuk tidak hanya sekadar perpanjangan tangan dari, Akhudiat, Bambang Sujiono, Wally Sardil, Hare Rumemper, Elyzabet Luther, Bambang Ginting, Meimura, dll? Belum ada yang bisa menyelesaikan persoalan ini, bahwa generasi penerus teater di Surabaya sedang mengalami ketergagapan membaca sejarahnya?
Ketergagapan itu diikuti dengan semakin banyaknya penonton yang meninggalkan teater. Mereka lebih memilih gedung teater 21 dari pada berpanas-panas ria di Gallery DKS yang pertunjukkannya belum tentu memberikan mereka ‘katarsis’ (baca:kepuasan). Barangkali sedikitnya penonton, memang tidak bisa dijadikan tolok ukur sebuah tontonan teater. Tetapi kecenderungan teater semakin ditinggalkan penonton menjadi signifikan dengan kegairahan pekerja teaternya. Bagaimana tidak trenyuh bila telah berproses berbulan-bulan hanya ditonton oleh puluhan orang yang nota bone juga teman-temannya sendiri, yang sudah tahu prosesnya terlebih dahulu? Apakah ini bukan orgasme yang ironis. Sebuah kenikmatan yang menjemput kematian.
Surabaya butuh Teater
Namun demikian, Surabaya masih diuntungkan, ada Teater Api Indonesia (Luhur Kayungga dkk), Ragil (Meimura), Tobong (Dody Yan Masfa), dan beberapa teater kampus yang tidak ada lelah-lelahnya, mencoba menghidupkan teater di Surabaya. Kelompok itulah –disamping kelompok teater kampus, seperti Teater Kusuma (Untag), Teater Institut (Unesa), yang menurut ingatan saya secara periodik –tahunan- bisa mementaskan satu naskah drama, baik karya sendiri maupun naskah babon dari penulis lain.
Paling tidak, kedua arus itulah yang menjadi lampu kuning (baca : tanda-tanda) bahwa teater di Surabaya ‘masih ada’ namun masih membutuhkan eksistensi yang cukup kuat, agar teater tidak sekedar menjadi tontonan tetapi benar-benar menjadi sebuah wacana yang bisa menghadirkan dialetika antar masyarakat pendukungnya (penonton, kritikus, media massa). Bila semua ini terjadi, kehendak untuk berteater memiliki peluang yang melegakan. Teater menjadi memiliki masa depan yang diciptakan atas dasar pemikiran yang terus hidup. (*)

Tidak ada komentar: